
Mendengar penjelasan suaminya, wanita itu langsung terdiam. Wajahnya tampak memerah karena malu telah menfitnah Clara, apalagi ternyata orang yang tadi dia hina adalah orang yang sudah menyelamatkan anaknya.
"Tuh kan benar, sudah aku bilang mbak Clara itu wanita baik-baik," ucap Yuni ketus.
"Tadi sudah saya jelaskan kepada istri mu, jika Nak Clara itu memang sudah menikah karena aku saya kenal betul dengan pak Iman yang membawanya kemari. Tapi istri mu tetap saja mengfitnahnya," sahut pak Kholil.
Wajah wanita itu makin menunduk, kemudian mulai terisak. Entah pura-pura atau sungguhan ia merasa sedih, hanya Tuhanlah yang tahu. Tiba-tiba ia menghampiri Clara, dan membungkuk akan menyentuh kaki Clara namun ia menghindar. Walaupun wanita ini tadi sangat keterlaluan tapi tetap ia lebih tua darinya, tidak pantas rasanya bersimpuh di kakinya.
"Mbak tolong maafkan saya, saya memang salah sudah menuduh sembarangan karena terbakar api cemburu. Mbak boleh membalasnya," katanya.
"Saya tidak mau membalas karena Allah pasti akan membalasnya. Kalau masalah memaafkan itu perkara mudah tapi luka yang sudah ibu torehkan tidak akan bisa begitu saja sembuh. Ibu sudah mempermalukan saya di depan orang banyak," ucap Clara.
"Anda harus bertanggungjawab membersihkan nama baik mbak Clara di depan semua warga," ucap Yuni.
"Baik, saya akan segera melakukanya," jawab wanita itu.
"Aduh, akh..." Clara mengadu kesakitan sembari memegang perutnya.
"Mbak, sebaiknya kita ke dokter," ucap Yuni kuatir.
Clara hanya mengangguk sambil terus meringis. Saat ini sudah hampir tengah malam jadi Clara di bawa ke klinik terdekat. Semua ikut mengantar Clara karena kuatir terjadi apa-apa dengan kandungannya.
Pasangan yang tadi bertengkar dengannya sangat merasa bersalah, karena mereka Clara harus di bawa ke rumah sakit. Sakit di perutnya semakin menjadi ketika dalam perjalanan, ia merasakan ada sesuatu yang mengalir di area bawahnya.
"Yuni, sepertinya ada sesuatu mengalir pada itu ku," tunjuk Clara pada area bawahnya.
"Kita ke toilet dulu nanti Mbak, biar aku antar," ucap Yuni.
Setelah beberapa menit mereka sampai di klinik terdekat, Yuni segera membantu Clara ke toilet. Tangis Clara pecah membuat Yuni yang menunggu di depan pintu menjadi panik.
"Mbak, ada apa?" tanya Yuni kuatir.
__ADS_1
"Aku takut Yuni, ada bercak darah di ****** ***** ku," jawab Clara di sela tangisnya.
Clara segera membuka pintu toilet, ia langsung memeluk Yuni dan menangis.
"Bagaimana jika bayi ku tidak selamat, Yun?"
"Sabar mbak, kita harus berpikiran positif. Ayo kita segera periksa," ajak Yuni.
Dengan perlahan Yuni menemani Clara, administrasinya telah di urus pak Kholil jadi Clara tinggal masuk saja. Karena kondisi Clara termasuk darurat, ia segera di bawa ke UGD. Dokter segera melakukan pemeriksaan, ia mendengarkan cerita Yuni untuk mencocokkan diagnosanya. Rasa sakit di perutnya telah berkurang, dokter masih menyuruhnya berbaring sambil memberi pengarahan.
"Ini kehamilan pertama jadi harus benar-benar di jaga, alhamdulillah tidak apa-apa. Ini saya beri vitamin dan penguat kandungan dan keperluan lainnya untuk jabang bayi, tolong nanti di tebus semua ya," ucap dokter itu.
Mereka tenang saat dokter mengatakan kandungannya tidak apa-apa. Clara beristirahat sembari menunggu Yuni menebus resep dokter tadi.
"Mbak, sekali saya saya minta maaf ya," ucap wanita yang menuduhnya itu.
"Iya mbak, tolong maafkan kami ya," pinta suami wanita itu.
Clara menghela napas, bayinya baik-baik saja jadi tidak ada alasan untuknya memperpanjang masalah ini.
"Terima kasih mbak, saya janji tidak akan mengulangi lagi,"
Mereka pun segera berpamitan kepada Clara dan pak Kholil. Sembari menunggu Yuni, pak Kholil mengajak Clara mengobrol.
"Apa benar sudah tidak terasa sakit, Nak?" tanya pak Kholil perhatian.
"Alhamdulillah hanya sedikit saja, Pak," jawab Clara.
"Kasihan jika kamu sendirian dalam keadaan hamil begini, jika masih mungkin sebaiknya hubungi keluarganya," ucap pak Kholil.
"Insyaallah saya kuat Pak, nanti jika memang di perlukan pasti saya hubungi. Sebenarnya saya sudah memberi tahu orang tua saya tentang ini, namun untuk saat ini saya masih tidak ingin mereka tahu tempat saya," balas Clara.
__ADS_1
Pak Kholil sangat menghargai keputusan Clara, karena sesuai info dari pak Iman masalah Clara memang rumit jadi gadis itu pasti sudah memikirkannya dengan matang. Ia memandang wajah Clara dengan iba, gadis semuda ini sudah mempunyai banyak sekali tekanan hidup.
Setelah Yuni kembali mereka segera pulang ke kos. Clara segera memakan roti lalu meminum semua obat yang diberikan dokter, lalu istirahat. Ia sangat lelah sehingga begitu cepat tertidur pulas.
♥︎♥︎♥︎
Di tempat lain, Juan yang masih belum merelakan kepergian Clara terlihat memandangi foto pernikahan mereka. Di tengah malam yang sunyi terdengar ponselnya berdering.
'Siapa telepon malam-malam begini' batin Juan. Dengan malas ia mengambil ponselnya.
"Andre," sapa Juan.
"Wah kirain kemana saja tidak pernah menghubungi ku, ternyata sudah melepas masa lajang ya. Selamat ya, kamu jahat sekali tidak mengabari ku. Walaupun hanya menikah agama harusnya kamu memberi tahu ku," ucap Andre.
Juan tersenyum getir mengingat pernikahannya, dia memang lupa mengabari Andre. Sayang sekali kebahagian mereka begitu singkat, istrinya telah meninggalkannya tanpa kabar. Juan mulai menangis tertahan, seberapa kuat ia untuk tidak terlihat cengeng namun ternyata kalah oleh kesedihannya. Andre mendengar sayup-sayup tangisan sahabatnya itu.
"Hei, kamu kenapa menangis? Apa ada kata-kata ku yang salah tadi?" tanya Andre bingung.
"Dia pergi meninggalkan ku Dre, di saat pernikahan kami baru beberapa hari," jawab Juan sambil menyeka air matanya.
"Siapa? Clara pergi?" tanya Andre lagi.
"Iya,"
"Tidak mungkin,"
"Itu benar Dre, rasanya aku tidak ingin hidup lagi,"
"Aku tidak percaya, dia begitu mencintai mu. Mana mungkin dia pergi,"
"Aku juga menyangka begitu, tapi nyatanya dia meninggalkan aku. Aku sudah hampir gila mencarinya kemana-mana. Dia seperti hilang di telan bumi," ucap Juan begitu sedih.
__ADS_1
"Aku yakin dia pergi karena alasan yang kuat, aku tahu dia wanita yang sangat baik. Dia tidak akan menyakiti orang apalagi pria yang di cintainya tanpa sebab yang jelas. Beberapa hari lagi aku akan kembali ke Indonesia, akan aku bantu mencarinya. Aku akan mengurus semuanya dulu di sini ya, kamu yang sabar dan harus kuat," ucap Andre.
Juan merasa bersemangat mendengar kata-kata Andre. Ia benar, pasti ada alasan kuat di balik menghilangnya istrinya. Satu-satunya cara mengetahuinya adalah dengan menemukan keberadaannya. Rasa optimis kembali mengalir di dalam jiwanya yang nyaris runtuh.