Menggapai Harapan

Menggapai Harapan
Bab 111 Menasehati Clara


__ADS_3

"Apa tadi itu bapaknya Juan ya, Bu?" tanya pak Jarwo.


"Memangnya siapa lagi, Pak. Kasihan anak kita, walaupun Juan itu sangat baik, ibunya juga ramah tapi ayahnya begitu membenci keluarga kita," jawab bu Dina sedih.


"Sabar Bu, kita harus menguatkan Clara. Ini pasti sangat sulit baginya, semoga saja dia bisa bertahan sampai akhir," ucap Pak Jarwo.


"Amin,"


Ibu Clara lalu masuk ke dalam toilet, di sana ia mulai menangis. Hatinya sangat sakit mendengar ucapan ayah Juan yang menganggap Clara serta keluarganya sebagai benalu yang hanya memanfaatkan putranya. Sehina itukah orang tidak punya seperti mereka di mata orang kaya?


Bu Dina menyeka air matanya, namun kembali mengalir di pipinya. Ia berusaha kuat di depan suaminya karena tidak ingin ia juga ikut bersedih. Namun sebenarnya kata-kata calon besannya itu telah meninggalkan luka dalam di hatinya. Setelah merasa cukup tenang ia membasuh wajahnya agar tidak kelihatan jika telah menangis.


"Ibu kok lama sekali di toilet, apa buang hajat?" tanya pak Jarwo ketika melihat istrinya keluar.


"Iya, Pak," jawabnya.


Pak Jarwo melihat mimik wajah istrinya berubah, walau kelihatan segar setelah membasuh muka namun tidak bisa membohongi matanya yang kelihatan memerah pasti karena habis menangis.


"Ya sudah ayo kita kembali, Juan dan Clara pasti sudah menunggu dari tadi," ajak pak Jarwo.


Pak Jarwo tidak ingin menanyakan hal itu sekarang, biarlah ia akan bertanya saat sudah sampai di apartemen. Ia tidak ingin mengganggu kebersamaan mereka saat ini.


"Kok lama sekali, Bu?" tanya Clara.


"Iya, tadi antri," jawab pak Jarwo mewakili istrinya.


"Ya sudah ayo di habiskan makannya Pak, Bu. Setelah ini kita kembali pulang ke apartemen agar bisa istirahat sebelum di antar sopir pulang ke desa," ucap Juan.

__ADS_1


"Iya, Nak" jawab mereka.


Setelah menghabiskan makanan mereka kembali ke apartemen, Juan tidak masuk karena ada pekerjaan yang harus segera dia urus.


"Pak, Bu, saya pamit dulu ya, maaf nanti tidak bisa kesini lagi tapi jangan kuatir nanti sopir yang akan mengantar pulang ke desa," pamit Juan.


"Tidak apa-apa, kita bisa naik bus kok Nak," jawab pak Jarwo.


"Jangan Pak, nanti biar sopir yang mengantar. Ini untuk adik-adik sekolah ya Pak," Juan menyerahkan amplop berisi uang.


"Tidak Nak, jangan. Kamu sudah memberi terlalu banyak untuk kami, kami tidak ingin orang tua mu salah paham dan mengira kami memanfaatkan mu karena uang," tolak ibu Dina, mengembalikan amplop yang Juan berikan di tangan suaminya.


"Tidak Bu, tolong jangan menolak. Ini uang yang saya peroleh dari hasil kerja saya sendiri, apapun yang ibu dengar yang bersifat negatif tolong jangan di masukkan hati ya. Saya janji 6 bulan lagi akan menikahi Clara," ucap Juan.


"Ambil saja, Bu. Tidak apa-apa, Juan pasti ikhlas kok," ucap Clara.


Karena tidak ingin memperpanjang akhirnya mereka menerima pemberian Juan. Setelah meletakkan barang-barang belanjaan dan membersihkan diri, mereka istirahat di ruang tv sembari mengobrol.


"Aku juga tidak tahu, Bu. Tempo hari mereka mengundang ku datang ke rumah mereka dan makan siang. Sikap ibunya sudah jauh lebih baik dan ramah, tapi ayahnya masih tidak mau menyapa dan mengobrol dengan ku," jawab Clara.


"Itu karena ayahnya tidak akan pernah merestui hubungan kalian," ucap bu Dina serius.


"Bu, tolong jangan membuat dia lebih sedih lagi," ucap Pak Jarwo.


"Darimana ibu tahu?" tanya Clara.


Pak Jarwo dan juga Clara menatap lurus ke arah bu Dina, wanita itu menunduk, bulir-bulir air bening terlihat menetes dari kedua matanya yang sayu. Ia tidak tahu kalau sebenarnya Clara sudah terbiasa menerima hinaan dari ayah Juan, hanya saja Clara enggan bercerita kepada siapapun termasuk keluarganya dan juga Juan.

__ADS_1


"Tadi kami bertemu ayah Juan saat di toilet, dia mengatakan kalau..." bu Dina tidak bisa melanjutkan ucapannya karena menangis.


"Bu, sudah jangan membuat Clara semakin sedih. Biarlah takdir yang menjawab semua, biarlah semua berjalan seperti air mengalir. Kita hanya bisa berusaha dan berdoa, selebihnya kita serahkan kepada Yang Maha Kuasa," ucap Pak Jarwo.


"Kenapa Bu? Apa beliau menghina Ibu dan Bapak?" tanya Clara.


"Bukan hanya kita, kamu dan keluarga kita juga. Katanya kita hanya memanfaatkan Juan saja, dia tidak akan pernah merestui kalian sampai kapanpun juga," jawab bu Dina masih terisak.


"Dia memang seperti itu Bu, setiap bertemu selalu menghina. Ibu dan Bapak jangan masukkan di hati, biarkan saja dia berkata apa saja tidak perlu di dengarkan," ucap Clara.


"Apa dia juga berkata begitu setiap bertemu dengan mu, Nak?" tanya pak Jarwo.


"Ya Pak, dia selalu menghina ku dan keluarga kita karena miskin. Katanya aku hanya menginginkan uang Juan, tapi aku tidak pernah cerita kepada Juan," jawab Clara.


"Lalu sampai kapan kamu akan bertahan, Nak?" tanya pak Jarwo lagi.


"Aku mencintai Juan, begitupun dengannya. Kami masih berusaha untuk meluluhkan hati ayahnya walaupun itu sangat sulit," jawab Clara.


"Apa Bapak dan Ibu akan merestui kita untuk menikah walaupun tanpa restu ayahnya?" tanya Clara.


Bu Dina dan pak Jarwo saling berpandangan. Mereka tahu Clara dan Juan saling mencintai, berdosa bagi mereka jika mereka tidak mengizinkan adanya pernikahan. Kejadian kepada Cindy sudah cukup sebagai pembelajaran, mereka tidak ingin hal tersebut juga menimpa Clara dan Juan. Walaupun pasti sulit menikah tanpa restu orang tua, namun jauh lebih baik dari pada melakukan zina.


"Kalau Ibu tetap akan merestui kalian. Kalian sudah dewasa, menikah jauh lebih baik agar mencegah dari perbuatan zina. Kalian sudah dewasa dan saling mencintai, akan lebih baik jika kalian menikah setidaknya menikah sesuai ajaran agama," jawab bu Dina.


"Tapi Bu, pernikahan diri bukankah hanya akan merugikan kaum wanita jika ke depannya terjadi apa-apa?" tanya pak Jarwo.


"Iya Pak, tapi sejauh ini aku melihat Nak Juan benar-benar tulus kepada Clara. Rasanya tidak mungkin dalam waktu dekat mereka menikah secara hukum karena terhalang restu ayahnya. Atau Bapak punya solusi yang lebih baik lagi?" tanya bu Dina.

__ADS_1


Pak Jarwo menghela napas, ini pilihan yang sulit baginya. Menikah siri atau secara agama memang lebih banyak merugikan kaum wanita, namun jika tidak ada pilihan lain harus bagaimana lagi. Orang tua hanya berharap yang terbaik untuk kehidupan anaknya.


"Bapak juga akan setuju jika memang itu pilihan yang terbaik untuk saat ini Nak, yang penting kalian saling percaya satu sama lain. Namun sebagai orang tua pasti kita berharap suatu saat kamu dan Juan bisa menikah secara hukum negara," jawab pak Jarwo.


__ADS_2