
"Kenapa diam, apa kamu keberatan aku suruh lembur?" tanya Sandra.
"Tidak, Bu. Akan segera saya kerjakan," jawab Cindy sembari mengambil laporan yang Sandra pegang.
Sandra lalu melenggang pergi menyisakan mereka berdua bersama helaan napas yang berat. Clara memandang kakaknya dengan iba, sepertinya Sandra berusaha membuatnya tidak betah di kantor ini.
"Kak, biar aku bantu ya," ucap Clara.
"Clara, lebih baik kamu pulang saja. Cindy sudah lama libur jadi biarkan dia kerjakan tugas itu sendiri, dia sudah besar jadi jangan terlalu memanjakannya," ucap Sandra tiba-tiba sudah berada di belakang mereka.
Baru saja Cindy mau menjawab Clara, Sandra datang mengagetkan mereka. Dia memang tidak berteriak saat mengatakannya, namun dia bicara penuh penekanan seolah tidak mau ada bantahan.
"Bu Sandra benar, kamu pulang saja biar aku kerjakan sendiri. Ini hanya sedikit kok pasti akan segera selesai," ucap Cindy.
"Ya sudah, aku pulang dulu ya Kak," pamit Clara.
Cindy mengangguk. Sandra belum beranjak dari sana, sepertinya ia memastikan jika Cindy benar-benar mengerjakannya sendiri. Cindy segera menyelesaikan tugasnya agar bisa pulang cepat. Karena mengantuk ia memutuskan membuat kopi sebentar. Di lantai ini ternyata masih banyak karyawan lain, jadi dia merasa sedikit tenang. Selama Ini mereka memang jarang lembur karena Andre melarang karyawannya bekerja terlalu di forsir.
Setelah membuat kopi ia kembali ke ruangannya dan melanjutkan pekerjaannya. Ia heran melihat laporan itu, sepertinya tadi sudah terselesaikan lebih dari separuh tapi mengapa kok masih banyak di mejanya. Ia tidak menaruh curiga dan terus mengerjakannya.
Waktu sudah menunjukkan pukul 19.00, itu tandanya ia sudah lembur 2,5 jam di kantor. Ia merasa sangat lelah, ia harus segera menyelesaikan tugasnya yang tinggal sedikit lagi. untuk merenggangkan otot-ototnya yang kaku ia memutuskan untuk melihat karyawan lain di luar. matanya awas menoleh kesana kemari, namun tidak satu orang karyawan pun ia temui. Ruangan Bu Sandra pun tampak lengang, sepertinya dia sudah pulang lebih dulu.
Tiba-tiba bulu judulnya merinding, membayangkan di lantai ini sendirian. Ia segera masuk kembali ke ruangannya dan melanjutkan pekerjaannya agar cepat selesai. Setengah jam kemudian semua sudah selesai, Cindy bernapas dengan lega. Ia segera bersiap-siap untuk pulang.
"Oh akhirnya selesai juga, cacing-cacing di perut ku sudah bernyanyi dari tadi minta di isi," ucap Cindy.
Ia merogoh saku nya untuk menghubungi Clara, tapi ternyata ponselnya mati sepertinya lowbat.
"Yah aku lupa nge charge tadi, lebih baik aku segera pulang," kata Cindy lalu bergegas keluar.
__ADS_1
Baru sepuluh langkah keluar dari ruangannya tiba-tiba lampu kantor padam. Cindy panik bukan main, sekarang ia tidak bisa melihat apa-apa, yang terlihat hanya kegelapan. Ia meraba untuk mencari jalan, berbekal ingatannya ia terus berjalan agar bisa turun ke bawah. Ia berhasil sampai ke lift, namun lift juga tidak bisa beroperasi. Akal sehatnya saat ini telah tertutup oleh rasa takutnya.
"Ya Allah tolong aku, hiks, hiks..." ucap Cindy mulai menangis.
Badannya bergetar seiring dengan tangisannya yang semakin keras, ia bingung harus bagaimana. Ia berharap Clara mengerti dan datang menyelamatkannya. Saat terduduk di dekat lift sayup-sayup ia mendengar suara kursi bergerak di susul tangisan lirih seorang wanita. Ia semakin ketakutan tak berani menoleh, wajahnya ia benamkan ke kedua lututnya lebih dalam.
"Clara, aku ingin pulang. Segera jemput aku," ucapnya di sela-sela tangis.
Di tengah ketakutannya ia baru ingat jika ada tangga darurat untuk menuju ke lantai bawah. Ia mulai berusaha mengingat letak tangga itu, setelah berhasil ia mulai berjalan pelan ke arah tangga.
"Tolong beri aku kekuatan, Tuhan. kenapa hari pertama kembali bekerja justru mengalami hal ini," ucap Cindy.
Setelah cukup lama ia berhasil menemukan pintu tangga darurat, ia mencoba membuka sekuat tenaga. Ia berhasil membuka walau memerlukan tenaga ekstra. Ia berjalan perlahan menuruni anak tangga. Sampai di tangga lantai tiga tiba-tiba terdengar suara besi yang di pukul-pukul, Cindy ketakutan setengah mati hingga tak sadar ia berlari dan terjatuh. Lututnya terluka, namun ia tidak mempedulikan rasa perih yang kian menjalar di kakinya.
Ia berjalan terus sampai tiba di lantai dua, ia beristirahat sejenak. Setelah berhasil mengumpulkan tenaga ia memutuskan untuk lanjut. Namun ketika mencoba membuka pintu itu bergeming, walaupun sekuat tenaga berusaha pintu itu tidak terbuka. Cindy menangis lebih keras, ia merasa sangat putus asa. Tiba-tiba ia melihat sosok putih menggantung di atas tangga.
***
Di apartemen Clara sangat mengkuatirkan kakaknya. Harusnya Dia pulang sudah sejak tadi tapi sampai malam belum juga kembali. Ia sempat melihat laporan itu dan ia prediksi paling lama 2 jam sudah bisa selesai. Ini sudah pukul 20.30 namun Cindy belum juga kembali, ponselnya juga tidak bisa di hubungi. Peraturan dari Pak Andre karyawan lembur paling lama pukul 19.00 Karena setelah itu lampu dan peralatan lainnya akan di matikan secara otomatis. Clara tidak bisa menahan diri lagi, ia takut terjadi apa-apa dengan kakaknya. Segera ia menelepon Juan.
"Halo, Sayang kamu dimana?" tanya Clara panik sampai tak mengucap salam.
"Aku sedang di jalan tadi ada urusan, memang ada apa? Kenapa kamu terlihat panik?" tanya Juan.
Clara segera bercerita tentang kejadian di kantor, sampai kejadian Cindy belum juga pulang. Ia tidak berhenti menyeka air matanya, ia sangat kuatir dengan keadaan kakaknya.
"Ya sudah tunggu aku segera kesana," ucap Juan.
Clara segera bergegas ke bawah, ia menunggu Juan di lobi. Beberapa menit kemudian Juan datang. Clara segera menghambur memeluk kekasihnya dan menangis.
__ADS_1
"Sudah jangan menangis lagi, kita akan mencarinya sampai ketemu," ucap Juan sembari menyeka air mata Clara.
Mereka segera bergegas menyeberang ke kantor Cindy. Dari luar kantor itu terlihat lengang, tidak tampak aktivitas apapun di sana. Juan segera masuk menemui satpam.
"Pak, apa Cindy yang bekerja di lantai lima sudah keluar ya?" tanya Juan.
"Oh Nona Cindy kakaknya Nona Clara ya, Pak?" tanya satpam itu.
Juan mengangguk, Clara hanya menyimak obrolan mereka.
"Sepertinya saya belum melihatnya, memang kenapa ya, Pak Juan?" tanyanya penasaran.
"Hari ini dia di suruh lembur, tapi sampai sekarang belum pulang," jelas Juan.
"Tolong nyalakan semua lampu, kita harus mencarinya sekarang," pinta Juan.
"Tapi bu Sandra tidak memberi info apapun tadi. Biasanya jika ada yang lembur beliau info ke saya, jadi saya selalu cek sebelum mematikan lampu. Saya takut kena marah, Pak" ucap satpam itu.
"Sudah cepat lakukan, ini menyangkut nyawa seseorang. Aku yang tanggung jawab, toh ini perusahaan sahabatku," paksa Juan.
Akhirnya satpam menurut. Mereka mulai mencari, mereka mulai dengan ruangan Cindy namun kosong. Mereka menyisir seluruh lantai lima tapi tidak menemukan siapa pun.
"Jika lampu mati kemungkinan orang akan memilih lewat tangga darurat, Pak. coba kita kesana," ucap satpam memberi saran.
"Ah benar, ayo kita kesana," balas Juan.
Mereka menuruni tangga satu persatu. Mereka mulai putus asa karena sampai mencapai pintu lantai tiga tidak ada apa-apa. Mereka mulai menuruni lantai tiga, langkah mereka terhenti. Mereka sangat terkejut ketika pandangannya tertuju pada pintu lantai dua.
"Astagfirullah Hal adzim," ucap Clara sembari menutup mulutnya.
__ADS_1