
"Loh Bima kok ada di sini?" tanya Cindy saat keluar dari pabrik.
"Iya, sudah tidak kuat menahan rindu," jawab Bima membuat pipi Cindy merona.
"Gombal banget sih. Ngomong-ngomong Jhony kok lama banget belum keluar ya?" tanya Cindy sambil terus melihat ke dalam pabrik.
"Loh dia sudah duluan dari tadi, makanya dia menyuruhku menunggu di sini. Dia kuatir takut kejadian seperti tempo hari," jelas Bima.
"Oh, dia kemana ya? Kok tadi dia tidak pamit ya?" tanya Clara lagi.
"Tadinya dia mau menunggu kamu. Mengantarmu pulang, baru dia pergi. Kebetulan aku datang jadi aku suruh duluan saja, sepertinya dia buru-buru. Katanya mau bertemu Bos yang memberinya pekerjaan," jawab Bima.
"Oh... ya sudah ayo pulang," ajak Cindy lalu duduk di motor Bima.
***
"Jadi nama kamu Jhony?" tanya pria berpenampilan parlente itu.
Tatapannya seakan menelanj*ngi Jhony. Dari bawah ke atas, setiap inci tubuh Jhony tak luput dari pandangannya. Tubuh Jhony cukup tinggi dan berisi, dengan kulit sawo matang khas orang indonesia. Matanya tajam, dengan bibir tipis dan sedikit kumis yang membuatnya sangat maskulin.
"Iya benar, Pak," jawabnya singkat.
"Mulai hari ini kamu ku beri nama Sebastian! Kamu akan selalu menemaniku." perintah lelaki itu.
"Panggil saja aku Om Dion. Ambil hp ini, aku akan menghubungimu jika di butuhkan. Di kartu ini ada cukup uang, belilah baju yang lebih bagus dan kebutuhanmu yang lain. Pergilah, besok akan ku hubungi." kata Om Dion.
"Baik Om, terimakasih." jawab Jhony kemudian berlalu.
"Bagaimana Jhon? Apa kata Om Dion?" tanya Doni, temannya yang mengenalkannya dengan Om Dion.
"Dia memberikanku ini semua," kata Jhony menunjukkah ponsel dan kartu debit.
"Wah brarti dia menyukaimu." jawab Doni senang.
Seketika Jhony menangis, ia merasa jijik dengan dirinya sendiri. Entah mengapa ia menyetujui ide gila ini. Kala itu ia hanya ingat ibunya di desa yang sedang sakit dan membutuhkan uang yang tidak sedikit untuk berobat.
"Sudahlah Jhon, jangan menangis. Ini hanya sebentar." kata Doni mencoba menenangkan.
"Aku akan mengembalikan semua ini, aku mau pulang saja." ucap Jhony sambil menyeka air matanya.
"Kamu yakin? Tidak ada sentuhan fisik Jhon, hanya menemaninya beberapa hari saja, dan kamu akan menerima banyak uang," kata Doni membuatnya ragu.
__ADS_1
Batinnya bergolak, namun bujuk rayu iblis begitu kuat. Ia tak mampu menepisnya. Dalam kontrak memang telah di sebutkan tidak ada sentuhan fisik, maka itu ia nekad menerimanya.
Akhirnya ia membeli pakaian untuk keperluannya kerja, serta sedikit oleh-oleh untuk orang di rumah. Ia merasa senang bisa memberi orang-orang terdekatnya, keraguan itu seketika menghilang.
***
Sementara itu, di Adi Jaya Group Andre menemani Clara lembur.
"Ah tinggal sedikit lagi, sebentar lagi bisa pulang" ucap Clara merasa senang.
"Ternyata kamu rajin juga ya Clara, hanya setengah jam saja sudah mau selesai," puji Andre yang tiba-tiba datang.
"Eh Pak Andre, kebetulan tidak terlalu banyak pekerjaannya," ucap Clara merendah.
"Juan sudah meneleponku berkali-kali menyuruhku agar kamu cepat pulang, berisik sekali dia. Begitu perhatiannya dia kepadamu, bikin aku iri saja, hahaha." cerita Andre dengan nada bercanda.
"Dia memang begitu Pak, saya mau naik angkot saja tidak boleh. Tapi mungkin itu cara dia menunjukkan perhatiannya, walau kadang menurutku agak aneh sih. Hehehe," cerita Clara membuat keduanya terkekeh.
"Maaf ya Pak Andre, membuat Bapak harus menemani saya lembur." ujar Clara merasa bersalah.
"Sudahlan ini bukan salahmu, tadi Bella sudah menjelaskan kepadaku. Sepertinya aku harus lebih memantau perusahaanku ini, bahkan CCTV harus segera di aktifkan agar tidak ada kejadian seperti tadi lagi," kata Andre diucapkan dengan keras, agar semua karyawan yang ada di ruangan itu mendengar. Termasuk Riska, tersangka yang saat itu juga sedang lembur.
"Aku tunggu di ruanganku ya, Clara." kata Andre lalu pergi.
"Heh kamu anak baru," kata Riska mentoel bahu Clara.
"Namaku Clara, Kak," jawab Clara sopan.
"Terserahlah, kamu jangan terlalu senang dekat dengan Bos perusahaan ini. Banyak yang tidak menyukaimu di sini, mereka pasti akan segera menyingkirkanmu." ujar Riska dengan sinis.
"Memang aku salah apa? Aku tidak pernah menyakiti siapa-siapa kan?" tanya Clara dengan polos.
"Tidak perlu berpura-pura, dasar bermuka dua. Awas saja kamu jika macam-macam," ancam Riska kemudian pergi.
Clara hanya bisa menyebut di dalam hati. Dia merasa tidak membuat masalah tapi kenapa dia mengancamnya begitu. Ia merasa wanita itu tidak menyukainya, entah apa alasannya. Ia segera membereskan pekerjaannya dan pulang bersama Andre.
"Terima kasih ya Pak. Tidak mampir dulu, Pak?" tanya Clara.
"Lain kali saja Clara. Aku ada janji dengan keluarga untuk makan malam bersama." tolak Andre halus.
"Baiklah, hati-hati di jalan," kata Clara seraya melambaikan tangan.
__ADS_1
"Eh Kak Bima, udah tadi Kak?" sapa Clara melihat Bima duduk di teras.
"Dari tadi sepulang Cindy bekerja," jawab Bima.
"Kak Cindy mana Kak?" tanya Clara.
"Sedang salat mungkin," jawabnya.
"Yaudah, Clara ke dalam dulu ya Kak," kata Clara lalu segera masuk.
"Memang yang lain kemana, Kak?" tanya Clara kepada Cindy yang sedang melipat sajadahnya.
"Januar kan memang selalu pulang di atas yang 9 malam, Clara," jawab Cindy.
"Maksudnya Jhony, kemana dia Kak?" tanyanya.
"Kata Bima tadi dia bilang mau menemui bosnya yang akan mempekerjakannya," jawab Clara.
"Apa? Jhony sudah tidak bekerja di pabrik, Kak? Tapi kenapa?" tanya Clara beruntun.
"Jadi tadi dia cerita kalau hari ini dia terakhir kerja di sana, besok dia sudah di tempat yang baru. Sepertinya bayarannya lumayan, ibu Tini sakit. Dia membutuhkan uang yang banyak untuk biaya berobat." cerita Cindy.
"Oh sakit apa Kak? Pasti Jhony sangat kuatir, kasihan ya," ujar Clara turut sedih.
"Tadi belum sempat ngobrol banyak, keburu jam istirahat habis. Rencanya pulang kerja mau tanya, eh malah orangnya sudah pergi duluan." jawab Cindy.
"Sudah sana mandi dulu terus salat, keburu magribnya habis," kata Cindy pada Clara.
"Iya Kak, kakak cepat keluar kasihan Kak Bima sendirian nungguin," ujar Clara.
"Iya," jawabnya singkat.
"Maaf, lama ya," kata Cindy menghampiri Bima di teras.
"Tidak apa-apa, sebenarnya mau mengajak kamu keluar. Tapi kasihan nanti Clara sendirian di rumah," kata Bima mengutarakan maksudnya.
"Bagaimana kalau besok saja, hari ini aku agak lelah, di rumah juga kan Clara sendiri." kata Cindy agak manja.
"Iya Sayang aku mengerti, kamu istirahat saja ya. Besok aku jemput di pabrik. Aku pulang dulu ya," kata Bima.
"Ok, hati-hati di jalan ya. Jangan ngebut-ngebut loh," kata Cindy mesra.
__ADS_1
"Iya, Sayang," jawab Bima seraya mencubit pipi Cindy, gemas.
Sinar mentari telah meredup berganti malam. Suara burung sayup-sayup terdengar. Menemani Clara dan Cindy bercengkrama melepas penat setelah seharian bekerja.