Menggapai Harapan

Menggapai Harapan
Bab 96 Mencari Keberadaan Clara


__ADS_3

"Cepat bawa dia ke rumah sakit," perintah Juan.


Anak buahnya segera membawa Jhony ke rumah sakit, sementara ia dan Bagas terus menyisir area sekitar untuk menemukan Clara. Namun hingga tengah malam mereka tidak mendapatkan berita apa-apa tentang Clara. Juan sangat shock, ia menyayangkan tindakan Clara yang terlalu gegabah.


Dua orang sedang terluka parah, bahkan Clara belum juga ketemu. Juan tidak bisa tidur semalaman di rumah sakit menjaga Jhony bersama Bagas. Setelah Bagas membujuk agar besok ia punya tenaga untuk mencari Clara kembali barulah Juan mau tidur.


***


Sementara itu Clara telah berhasil sampai di pemukiman, ia pingsan tepat di depan rumah seorang penduduk. Karena hari telah malam mereka membawa Clara ke dalam rumah dan mengobatinya. Sepanjang malam Clara mengingau, badannya panas sekali. Mereka memberikan obat herbal untuk mengurangi rasa sakitnya. Setelah beberapa saat panasnya turun, ia bisa istirahat lagi dengan tenang.


Saat matahari mulai terbit, Clara membuka mata. Ia berusaha mengingat kejadian yang menimpanya dan berusaha bangkit dari tempat tidur.


"Kamu sudah sadar Nak? Bagaimana keadaan mu sekarang?" tanya seorang ibu kepadanya.


"Saya baik-baik saja, apa Ibu yang telah menolong saya?" tanya Clara.


"Iya, kamu tadi pingsan di depan rumah. Panggil saja saya bu Siti," jawabnya.


"Terima kasih Bu Siti. Saya harus segera pergi Bu, teman saja masih ada di atas dengan orang-orang jahat, saya harus meminta bantuan," ucap Clara.


"Jangan Nak, kamu masih lemah. Beristirahatlah dulu, biar ibu menyuruh para pria di sini untuk membantu mu yang masih di atas," cegah Bu Siti.


"Tapi Bu, saya kuatir dengan keadaan sahabat saya," ucap Clara.


"Kamu tunggu di sini, aku akan memanggil orang-orang untuk naik ke atas," balas bu Siti.


Beberapa menit kemudian datang sekerumunan orang membawa segala macam peralatan untuk menyerang. Ternyata mereka telah di beritahu bu Siti tentang Jhony yang masih terjebak di atas.


"Kamu tidak perlu ikut, keadaan mu sangat lemah. Beristirahatlah di ru mah Bu Siti ini, Bapak akan membawa teman mu kesini," ucap bapak yang paling depan.


"Mereka berbahaya Pak, mereka punya pistol," balas Clara.


" Kita akan hati-hati, kamu jangan kuatir, tolong doakan kami semua agar selamat," ucapnya lagi.

__ADS_1


Clara mengangguk lemah, kepalanya masih terasa berdenyut, sekujur tubuhnya terasa sakit. Selama pelarian mencari pemukiman ia terus berlari tanpa istirahat karena takut terkejar.


Setelah para pria pergi untuk menolong Jhony, bu Siti membantu menyeka tubuh Clara serta menggantikannya baju dengan miliknya. Ia iba melihat keadaan Clara, ia teringat dengan almarhumah anak gadisnya yang telah tiada karena bunuh diri setelah di nodai seseorang.


"Bu, terima kasih sudah baik sekali mau menolong saya. Saya ingin menghubungi keluarga saya agar menjemput, apa Ibu ada ponsel?" tanya Clara.


"Sama-sama Nak, itu sudah kewajiban kami sebagai sesama manusia untuk saling tolong menolong. Tapi maaf, kami hanya orang biasa tidak punya benda mahal seperti ponsel," jawab bu Siti.


"Setelah Jhony berhasil di tolong kami harus segera pulang Bu, keluarga kami pasti sangat kuatir sekali," ucap Clara.


"Tentu Nak, kami akan mengantarkan kalian ke keluarga kalian. Oh ya nama kamu siapa?" tanya bu Siti.


"Panggil saja Clara, Bu. Sekali lagi, terima kasih," jawab Clara.


"Istirahatlah dulu ini masih pagi, ibu tinggal buat sarapan dulu ya," ucapnya.


Clara mengangguk pelan, menit kemudian matanya telah terpejam menandakan ia telah tertidur. Entah berapa lama ia tidur namun badannya sudah terasa segar saat bangun. Ia berjalan ke arah belakang, bermaksud menemui bu Siti.


"Bu, apa bapak-bapak tadi belum pulang?" tanya Clara.


"Alhamdulillah kalau begitu, semoga saja tidak terjadi apa-apa terhadap teman saja Jhony," ucap Clara.


"Tunggu bapak pulang dari sawah sebentar lagi ya, dia akan segera mengantarkan mu pulang," balas bu Siti.


"Terima kasih, Bu. Maaf Saya sudah merepotkan," ucap Clara.


"Tidak merepotkan kok, ayo makan dulu. dari tadi kamu belum makan apa-apa," ajak bu Siti.


Clara awalnya tidak berselera, ia kepikiran kakaknya dan juga Juan yang pasti mengkuatirkan dirinya. Apalagi kondisi Jhony juga juga belum di ketahui, mana mungkin ia selera makan. Namun setelah di bujuk bu Siti akhirnya ia mau makan walau hanya sedikit.


***


Sementara itu Bagas dan Juan sudah mencari Clara kemana-mana, mereka menyisir tempat mereka di sekap kemarin hingga menyisir lereng gunung sekitarnya, namun masih nihil.

__ADS_1


"Mas, coba kita tanya penduduk di desa situ. mungkin mereka pernah melihat Clara," ucap Bagas memberi saran.


Juan melihat pemukiman penduduk di bawah mereka yang di tunjuk Bagas dengan penuh harapan.


"Bagaimana jika Clara tidak di temukan, Gas? Bagaimana jika Indra berhasil menangkapnya lagi?" tanya Juan tiba-tiba meneteskan air mata.


"Sabar Mas, kita akan berjuang sampai titik darah penghabisan untuk menemukannya. Clara gadis yang kuat, ia pasti baik-baik saja," hibur Bagas.


"Semoga saja kita segera bisa menemukannya, dia pasti ketakutan setelah apa yang terjadi," ucap Juan.


"Ayo, Mas masih kuat? Kalau lelah kita istirahat saja dulu," tanya Bagas melihat Juan terlihat letih.


"Aku tidak apa-apa, kita jangan membuang waktu. Clara harus segera di temukan, jika tidak aku akan melibatkan polisi untuk mencarinya," jawabnya.


Bagas tidak menjawab, ia mengerti perasaan Juan yang pasti sangat kuatir. Apalagi melihat kondisi Bella dan Jhony yang terluka parah, bagaimana mungkin ia bisa tenang.


Mereka menempuh jalan yang cukup sulit untuk sampai ke pemukiman penduduk.


"Permisi Pak, saya sedang mencari calon istri saya. Kemarin dia berhasil kabur dari orang yang berniat jahat, mungkin dia tersesat di desa ini," jelas Juan.


"Ciri-cirinya bagaimana Mas?" tanya bapak itu.


"Dia cantik, rambutnya panjang, usianya sekitar 17 tahunan," jawab Juan.


"Oh sepertinya gadis itu yang ada di tempat bu Siti, dia minta tolong warga desa untuk menolong temannya yang masih ada di atas, tapi setelah kita kesana temannya sudah tidak ada," jelas bapak itu.


"Kami sudah membawa temannya ke rumah sakit, apa bisa bapak antar kami ke rumah bu Siti itu?" tanya Juan tak sabar.


"Boleh, ayo saya antar," jawabnya.


Mereka berjalan sekitar 500 meter, lalu berhenti di sebuah rumah bercat hijau.


"Assalamualaikum, Bu Siti ini ada yang mencari gadis yang Ibu temukan," panggil bapak itu setengah berteriak.

__ADS_1


"Loh, baru saja Nak Clara pergi," ucap Bu Siti tergopoh-gopoh keluar rumah.


__ADS_2