
"Kamu keterlaluan sekali, Riska. Tanpa Jessy ternyata kamu memang sudah jahat." kata Andre ketus.
"Sebenarnya apa sih salah Clara padamu? Kenapa kamu sampai begitu menbencinya?" tanya Andre.
"Saya minta maaf, Pak. Saya benar-benar khilaf waktu itu, saya sakit hati karena orang-orang begitu mengagungkan Clara." jawab Riska tertunduk malu.
"Aku tidak bisa mengampunimu, kalian berdua harus masuk penjara." kata Andre, tegas.
"Saya mohon maafkan saya, Pak. Saya akan melakukan apa saja yang Bapak suruh, asal jangan masukkan saya ke penjara. Kasihan orang tua saya, mereka tidak ada yang mengurus," kata Riska memohon, netranya makin banjir air mata.
Andre menghela napas dalam, memang kesalahan Riska tidak sebesar Jessy. Namun tentu saja ia tidak dapat di benarkan, ia juga harus mendapatkan pelajaran.
"Ok, aku tidak akan membuatmu di buih. Tapi untuk tetap mempekerjakanmu di sini aku belum bisa menjamin. Tapi kamu harus membantu ku menjebak Jessy. Kamu ajak dia bertemu agar polisi bisa menyergapnya. Apa yang dilakukannya sangat berbahaya. Ini menyangkut nyawa manusia, bukan hanya masalah biasa." jelas Andre.
"Kamu pura-pura saja mau membantunya lagi atau apa, terserah padamu. Jangan sampai dia tahu rencana ini, dia harus benar-benar percaya padamu. Nanti kita akan mengikutimu dari belakang." jelas Andre tentang rencananya.
"Baik, saya akan membantu Bapak. Saya akan menebus kesalahan saya. Saya akan menghubunginya sekarang," jawab Riska, lalu terlihat menghubungi Jessy.
Andre juga segera menghubungi pihak kepolisian, ia segera melaporkan kejahatan Jessy. Karena Andre bukan orang sembarangan dan telah mempunyai nama di kepolisian, mereka bersedia membantu menyergap Jessy.
Sekitar 20 menit kemudian terlihat Riska berhenti di sebuah kafe tak jauh dari kantornya. Ia terlihat datang lebih dulu karena Jessy belum terlihat. Andre dan beberapa anggota polisi melihat dari kejauhan, dua orang anggota polisi berpakaian bebas berpura-pura menjadi pengunjung kafe. 10 menit kemudian tampak Jessy telah tiba, ia segera menghampiri Riska. Polisi yang menyamar sudah menyiapkan perekam. Riska di tugaskan untuk mengorek keterangan dari Jessy, agar segala kejahatannya terekam dengan jelas.
"Aku tidak menyangka kamu membantuku kembali, apa kamu takut Andre tahu rahasiamu?" tanya Jessy.
"Tidak juga, hanya saja aku memang tidak suka kepada Cindy dan adiknya Clara makanya aku berada di pihakmu," jawab Riska.
"Bagus kalau begitu, aku sudah tidak sabar untuk mengingkirkan gadis itu! Jika aku tidak bisa bersanding dengan Mas Andre maka gadis lain pun tidak boleh, apalagi gadis kampung seperti Cindy itu," kata Jessy kesal.
"Tapi rencanamu selalu gagal, apa rencana mu selanjutnya?" tanya Riska.
__ADS_1
"Tenang saja, uang bisa melancarkan segalanya. Buktinya masalah kecelakaan itu tidak ada yang tahu jika aku tak mengaku sendiri. Pengirim paket itu juga aman-aman saja kan," ucapnya dengan sombong.
"Kalau besok dia benar mulai ke kantor lagi, aku pastikan kali ini dia takkan bisa selamat.Hahaha..." imbuhnya sambil tertawa congkak.
"Mau kamu apakan dia?" tanya Riska penasaran.
"Aku akan menyuruh seseorang untuk menyiram seluruh tubuh dan wajahnya dengan air keras, sehingga walaupun dia berhasil selamat, ia takkan pernah mau menampakkan wajahnya lagi di depan umum. Ia pasti sangat malu," jelas Jessy berbisik pada Riska.
Degh...
Semua orang yang mendengar bergidik ngeri, ternyata Jessy benar-benar sadis. Riska tak menyangka Jessy benar-benar wanita yang sangat berbahaya. Ia merasa menyesal pernah mengenal Jessy, ia sangat memberi pengaruh buruk. Hanya karena cintanya tak mendapat respon yang sama ia tega mencelakai bahkan berniat membunuh orang lain.
Merasa bukti yang telah terkumpul telah cukup, polisi segera akan menangkap Jessy. Namun ketika akan berdiri Jessy lebih dulu pamit ke toilet sehingga polisi memperlambat langkahnya.
"Berhenti, jangan bergerak," perintah seorang polisi dengan menodongkan senjata ke arah Jessy.
"Hei, jangan lari," hardik polisi itu.
"Akh..." jerit Jessy, ia terjatuh karena menabrak seseorang.
Polisi tidak berani menembak karena takut melukai pengunjung lain.
"Pegang wanita itu," perintah polisi yang mengejarnya.
"Lepaskan aku, auw... lepaskan, jangan ikut campur," kata Jessy menatap nanar pria yang memegangnya.
"Maaf, tapi polisi itu menyuruhku memegangmu," jawabnya.
Jessy berusaha melepaskan diri, namun pria itu mencengkeramnya dengan erat sehingga susah di lepas. Akhirnya polisi berhasil menangkapnya tanpa perlawanan berarti. Andre, Riska serta anggota polisi yang lainnya pun berkumpul.
__ADS_1
"Kurang ajar kamu Riska, beraninya kamu mengkhianatiku! Aku pasti membalasmu nanti. Akan ku beritahukan kepada Mas Andre tentang rahasiamu. Awas kamu ya, wanita ul4r," kata Jessy memaki Riska.
"Aku sudah mengaku pada Pak Andre, kamu tak perlu mengancam lagi. Aku sudah tidak ingin berurusan dengan wanita sadis sepertimu lagi. Penjarakan dia Pak Polisi, jangan pernah di bebaskan," kata Riska.
"Tolong adili dia, Pak. Hukum seberat-beratnya sesuai perbuatannya. Semua bukti sudah saya serahkan, saya siap di panggil setiap saat jika di butuhkan," ujar Andre tegas.
"Mas Andre kenapa kamu tega sekali, mbk Sandra pasti sedih melihat aku kamu penjarakan," kata Jessy mulai terisak.
Andre tak menggubris ucapan Jessy, ia menyuruh polisi segera membawanya. Ia enggan menoleh walaupun Jessy terus berteriak memakinya lalu mengiba kepadanya.
"Ternyata kamu bekerja di kafe ini ya, Jhon. Terima kasih sudah membantu menangkap wanita itu ya," kata Andre menghampiri Jhony.
"Iya sama-sama. Ada apa dengan wanita tadi?" tanya Jhony.
"Dia sudah 2x mencelakai Cindy," jelasnya.
"Oh jadi wanita itu yang di ceritakan Clara, aneh-aneh saja cinta di tolak malah mencelakakan orang lain. Padahal dia cantik, pasti masih banyak pria yang mau dengannya. Sayang sekali ya karena perbuatannya masih muda harus hidup dalam terali besi." kata Jhony.
"Makanya aku juga heran Jhon. Seharusnya wanita punya harga diri tinggi bukannya malah menjatuhkan harga diri hanya untuk seorang pria. Semoga ia segera sadar dan dapat hidayah," ucap Andre, bijaksana.
"Amin..." jawab Jhony mengamini perkataan Andre.
"Ya sudah aku tinggal ke kantor polisi ya Jhon, lain kali aku pasti mampir kesini buat ngopi," kata Andre berpamitan.
"Siap," jawab Jhony senang.
Semua berkas, barang bukti dan saksi sudah di serahkan kepada penyidik. Tinggal menunggu jalannya sidang saja. Semua berharap mendapat putusan yang terbaik.
Riska tidak di berhentikan dari Adi Jaya Group, tapi Andre memindah tugaskan dia ke perusahaan cabang. Jabatannya juga di turunkan, ini semua sebagai efek jera untuknya. Sebagai pembelajaran harus hati-hati dalam bersikap untuk kedepannya. Akhirnya Cindy pun bisa kembali bekerja dengan tenang, karena ancaman sudah berhasil di takhlukkan.
__ADS_1