
"Apa yang dikatakan ibunya pak Juan Clara?" tanya Cindy tiba-tiba sudah di sampingnya, membuyarkan lamunan Clara.
"Eh Kakak, ya begitulah. Aku mandi dulu ya Kak, sebentar lagi pasti Juan datang," kata Clara mengalihkan pembicaraan.
"Ok," kata Cindy, mengerti jika adiknya sedang sedih dan tak ingin bercerita.
Clara mengguyur tubuhnya perlahan, air menyatu dengan tetesan air matanya. Setidak berharga inikah menjadi orang tak punya? Selalu dihina dan diremehkan, pikirannya menerawang jauh. Air keran sengaja ia nyalakan untuk meredam isak tangisnya. Ia teringat orang tuanya di desa, membuatnya terisak semakin keras. Segera ia hapus air matanya, ia tidak ingin semua orang tahu kesedihannya.
"Assalamualaikum...." seseoarang memberi salam.
"Waalaikumsalam, eh Pak David silahkan masuk," kata Cindy mempersilahkan tamunya.
"Oh ya, terimakasih Cindy. Apa Clara ada?" tanyanya sambil melirik kesekitar.
"Ada, saya panggilkan dulu ya, Pak." kata Cindy seraya berlalu ke belakang.
"Clara, ada pak David di depan tuh. Dia nyari kamu," kata Cindy sembari duduk di dekat Clara yang sedang memoles dirinya.
"Ada apa dia kesini ya, Kak?" tanya Clara sambil terus berdandan.
"Ya tidak tahu, sungkan mau nanya ada perlu apa gitu," kata Cindy mengernyitkan dahi.
"Yaudah aku keluar dulu Kak, semoga saja Juan tidak segera datang. Aku takut mereka bertengkar lagi," kata Clara lalu bergegas menemui David.
"Ada angin apa nih, tiba-tiba kesini?" tanya Clara dengan ramah. Ia memilih duduk agak jauh dari David.
David tidak segera merespon. Dia terpana melihat penampilan Clara. Gadis itu memakai kemeja panjang motif kotak-kotak di padu dengan celana denim, dengan rambut panjang yang diikat tinggi, tak lupa poni lurus yang membuatnya bak boneka barbie yang tomboi.
"Clara bolehkah aku meminta nomor ponselmu, agar jika ada sesuatu aku mudah menghubungimu," kata David memulai obrolan, setelah berhasil menguasai dirinya.
"Aku tanya Juan dulu ya, karena dia yang memberikannya jadi aku merasa tidak enak jika memberikannya begitu saja. Maaf...." kata Clara beralasan.
"Baiklah, bagaimana keadaanmu? Keluarga Juan tidak mengganggumu lagi, bukan?" tanya David lagi.
"Aku baik-baik saja, terima kasih untuk perhatiannya. Mereka tidak mengganggu kok," jawab Clara, ia enggan menceritakan kedatangan nyonya Danuarta.
"Syukurlah kalau begitu, aku tenang," ujar David.
__ADS_1
Clara terlihat gelisah, sedikit-sedikit menatap ke arah pintu. Dia takut Juan datang dan terjadi salah paham lagi, namun tidak nyaman menyuruh David segera pulang.
"Apa kamu sedang menunggu seseorang, Clara?" tanya David yang melihat gerak gerik Clara dari tadi.
"Juan akan segera menjemput, kita diundang ke acara teman kak Cindy. Aku takut kalian bertengkar lagi jika bertemu," jelas Clara terus terang.
"Baiklah, aku pergi saja kalau begitu," kata David, mengerti.
"Maaf ya," ucap Clara, merasa bersalah.
"Tidak apa-apa, sampai ketemu lagi," ujar David, terlihat dia sangat kecewa namun berusaha untuk tetap tenang.
Belum juga Clara beranjak dari teras, mobil Juan tiba. Mereka pasti berpapasan saat David keluar tadi.
"Untuk apa David kesini?" tanyanya langsung saat baru turun dari mobilnya, terlihat sekali kekasihnya emosi.
"Juan masuk dulu, kita bicara di dalam," katanya manja.
Juan menurut saja saat Clara menarik tangannya ke dalam rumah. Cindy, Jhony dan Januar telah bersiap-siap untuk pergi. Mereka menyalami Juan dengan hormat, karena walaupun dia kekasih Clara, dia tetap atasan mereka.
"Tidak mungkin dia kesini hanya menanyakan kabar, Clara," kata Juan begitu cemburu.
"Dia tadi meminta nomor ponsel ku, lalu aku mengatakan akan bertanya kepadamu dulu." kata Clara berterus terang.
Juan tersenyum, ia merasa Clara sangat menghargainya.
"Bolehkah aku memberikannya?" tanya Clara hati-hati, dia tidak ingin kekasihnya salah paham.
"Jangan berurusan dengannya Clara, aku takut dia menjadi kaki tangan Papa." jawab Juan.
"Baiklah, aku mengerti," kata Clara tidak bertanya lagi.
Mereka berangkat bersama memenuhi undangan Bima. Juan tak hentinya memandangi Clara. Karena bertemu David membuatnya emosi, sampai tak sadar ada bidadari di di dekatnya.
Bima menyambut mereka dengan gembira. Semua sangat menikmati keseluruhan acara yang ditampilkan. Jhony dan Januar memilih pulang lebih awal karena masih ada acara lain. Clara pergi jalan-jalan dengan Juan karena Cindy akan diantarkan Bima pulang, nanti.
Di bawah temaram bulan dan taburan bintang, Bima menggenggam tangan Cindy. Ini saat yang tepat untuknya untuk mengutarakan perasaannya.
__ADS_1
"Cindy... aku memang jauh dari sempurna, aku tidak menjanjikanmu emas permata, tapi percayalah aku akan melakukan apapun untuk membuatmu bahagia. Maukah kamu menjadi calon istriku? Melahirkan keturunan-keturunanku? Menemani sampai akhir usiaku?" kata Bima serius, menatap jauh kedalam netra Cindy.
Cindy terharu, bulir-bulir air mata kebahagiaan memenuhi mata sipitnya. Dadanya berdegup kencang, tidak menyangka pria gagah seperti Bima bisa berkata se puitis itu. Dunia seakan berhenti berputar, waktu bagaikan tak berjalan turut larut dalam kebahagiaan.
"Benarkah semanis itu hidup yang kamu tawarkan, Bima?" tanya Cindy.
"Tentu saja, aku akan segera mengenalkanmu kepada orang tuaku. Aku akan segera menyelesaikan kuliahku yang sempat terbengkalai, dan segera menyunting separuh nyawaku ini." jawab Bima sungguh-sungguh.
"Baiklah, aku akan menunggu saat-saat itu," jawab Cindy serius.
"Benarkah? Apa artinya kamu menerimaku, Cindy?" tanya Bima, memperjelas maksud Cindy.
"Yes!" kata Bima setelah melihat Cindy mengangguk.
Pria itu tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya, dari tadi lompat-lompat kegirangan seperti baru saja mendapat lotre. Cindy tertawa terbahak-bahak melihat tingkah Bima yang seperti anak kecil. Mereka berdua sangat bahagia.
***
"Sayang, temanku sedang butuh 2 orang wanita untuk mengisi posisi administrasi di kantornya. Kalau kamu memang ingin bekerja aku rekomendasikan ya, kamu dan kakakmu. Bekerja di pabrik sangat melelahkan, lebih baik dibagian kantor saja," kata Juan.
"Aku dan kakak? Tapi apa kita bisa di posisi itu? Kita hanya tamatan SMP," tanya Clara, merasa ragu dengan keterampilannya.
"Selama kita mau berusaha, pasti ada jalan. Nanti juga ada yang mengajari, jadi kamu jangan kuatir ya. Kalau kamu setuju, hari senin besok kita kesana," kata Juan, menyemangati kekasihnya.
"Aku sih setuju, nanti aku tanyakan kak Cindy juga ya, bagaimana baiknya." jawab Clara bersemangat.
"Nanti aku kontrakin rumah dekat kantormu ya. Tidak jauh dari sini kok tempatnya, jadi kamu masih bisa bersilaturahmi dengan sahabat-sahabatmu itu," kata Juan.
"Tapi aku merasa tidak nyaman denga mereka, Juan. Jhony yang membawa kami ke kota, menjaga kami, memulai semuanya dari nol. Bagaimana mungkin meninggalkannya sendiri," jawab Clara, wajahnya terlihat sedih.
"Bukan meninggalkannya, Sayang. Aku juga akan membantunya nanti. Hanya saja kalian itu kan bukan muhrim, sebaiknya tinggal terpisah. Demi menjaga nama baik kalian juga." jelas Juan perlahan, agar Clara tidak salah paham.
Clara mulai mencerna kata-kata kekasihnya, menurutnya memang ada benarnya. Dia percaya Juan tak ada maksud lain. Tapi tetap saja dia merasa sungkan.
"Besok aku akan kesana, aku akan bicara dengan mereka semua. Mereka yang telah menemanimu selama ini, aku akan meminta izin mereka juga tentunya," kata Juan seoalah mengerti kegelisahan Clara.
"Kamu memang sangat pengertian, Juan." kata Clara manja, membuat Juan gemas mencubit pipi Clara. Mereka tertawa bahagia.
__ADS_1