
"Sudah Kak, tidak apa-apa kalau belum mau cerita. Aku tahu kakak harus benar-benar memikirkan dengan matang keputusan ini," ucap Clara.
"Terima kasih, Clara. Ayo kita tidur," balas Cindy.
Mereka pun berusaha memejamkan mata. Masalah yang tidak hentinya datang silih berganti membuat mereka semakin dewasa. Memang ada kalanya manusia tidak akan tahan menghadapi ujian itu sendirian, kita mahkluk sosial yang selalu membutuhkan bantuan orang lain. Beruntung mereka berdua di lahirkan dalam keluarga yang hangat, yang selalu mendukung satu sama lain. Walaupun mereka miskin harta tapi mereka kaya hati.
***
Keesokan harinya, saat mentari mulai mengintip dari ufuk timur kedua gadis itu bangun dari tidur lelapnya. Setelah beribadah mereka membersihkan apartemen dan memasak. Clara tengah bersiap-siap mengenakan pakaiannya ketika melihat kakaknya juga telah rapi.
"Kakak mau kemana? Bukannya sudah keluar dari kantor ya?" tanya Clara.
Cindy tersenyum, ia menatap Clara dengan lembut.
"Aku akan mencari kerja, Clara. Sudah terlalu lama aku terpuruk, aku harus bangkit dan melanjutkan hidup ku," jawab Cindy.
"Aku senang mendengarnya, Kami akan selalu mendukung Kakak. Terima kasih sudah menjadi kuat untuk kita semua," ucap Clara lalu memeluk Cindy.
"Aku juga terima kasih ya, sudah mendukung ku dalam semua hal. Aku tidak menyangka kamu sampai nekad ke rumahnya dan menghajarnya, lain kali jangan seperti itu, aku takut justru kamu yang kenapa-kenapa," balas Cindy.
"Iya, Kak. Itu karena aku sangat kesal kepadanya, tega sekali berbuat begitu padahal Kakak sangat baik," ucap Clara.
"Namanya manusia, Clara. Pasti tidak pernah luput dari kesalahan. Sudahlah ayo segera bersiap," balas Cindy.
"Kok sepertinya Kakak berubah, apa Kakak akan memaafkannya?" tanya Clara menyernyitkan dahinya.
"Allah saja Maha Pemaaf, masa manusia tidak. Tapi mungkin aku tidak akan pernah melupakannya seumur hidup ku, sikap ku juga sudah pasti tidak akan sama lagi," jawab Cindy dengan sorot mata sedih.
Setelah selesai bersiap mereka pun berangkat ke tujuan masing-masing. Clara melihat kakaknya menuju ruko-ruko di sebelah kanan apartemen mereka. Mungkin kakaknya akan mencari kerja yang tidak jauh dari tempatnya, ia merasa kasihan melihatnya.
Masih teringat jelas saat dulu awal datang ke kota bersama Cindy dan Jhony, mereka harus berhemat bahkan menumpang di tempat Januar. Oh iya sudah lama Clara tidak menjenguknya, terakhir kali mereka datang saat pembukaan usaha taylor Januar yang berhasil di dirikan atas bantuan modal dari kekasihnya. Mungkin nanti dia akan mengajak Cindy bersilaturahmi kesana, bagaimanapun Januar sangat berjasa untuk hidup mereka.
Clara melanjutkan langkahnya saat Cindy sudah tidak terlihat lagi.
"Selamat pagi, Bu Sandra," sapa Clara ketika melihat wanita itu baru turun dari mobil.
"Pagi juga, Clara. Ternyata benar ya kata Andre, kamu gadis yang rajin," pujinya kepada Clara.
__ADS_1
"Ah Pak Andre itu terlalu berlebihan, Bu. Kan ini memang kewajiban Saya sebagai karyawan di sini," ucap Clara merendah.
"Aku pikir orang desa itu bodoh, kampungan dan semacamnya, tapi setelah bertemu kamu pandangan ku berubah. Kamu sudah cantik, baik, good attitude lagi, pantas Juan sampai tergila-gila, hehehe," ucap Sandra.
"Hehehe, ibu bisa saja membuat saya besar kepala," balas Clara.
"Apa ibu tahu kabar Pak Andre sekarang?" tanyanya menyelidik.
"Dia baik, kita masih sering ngobrol tentang kerjaan, tentang keluarga dan juga lainnya," jawab Sandra.
"Syukurlah kalau begitu, saya duluan ya Bu," pamit Clara.
"Ok, Clara," balasnya.
Clara bersyukur jika Andre baik-baik saja, karena ia juga kuatir dengan keadaannya. Selama ini ia sudah menganggapnya sebagai kakak, karena ia sangat perhatian seperti seorang kakak yang selalu melindungi adiknya.
"Assalamualaikum, Sayang," sapa Clara.
"Waalaikum salam, pagi-pagi sudah telepon, pasti kangen ya," goda Juan.
"Ya pasti dong, siapa coba yang tidak kangen sama orang sebaik kamu," ucap Clara.
"Ish, ish, percaya diri sekali sih," ucap Clara sambil tertawa.
"Oh iya, bagaimana kabar Cindy, apa sudah baikan?" tanya Juan.
"Alhamdulillah, aku senang sekali kakak sudah mau keluar. Tadi dia ke arah ruko sebelah apartemen, dia mau mencoba melamar kerja di dekat-dekat situ," jelas Clara.
"Loh kenapa mencari kerja lagi, kenapa tidak masuk ke kantor Andre lagi saja," ucap Juan.
"Ya tidak mungkinlah, kakak kan sudah di pecat sama bu Sandra waktu itu. Sebenarnya sih kasihan lihat kakak jalan sendiri, dia tidak sekuat aku. Aku takut dia di jahati orang lagi, tapi mau bagaimana lagi kasihan kalau harus diam di apartemen saja. Itu justru akan membuatnya selalu ingat dengan apa yang sudah ia alami," balas Clara.
"Ya sudah gampang, nanti aku atur," ucap Juan.
"Maksudnya gimana, Sayang?" tanya Clara tidak paham.
"Sudahlah, nanti juga kamu tahu. Sudah dulu ya Sayang, aku harus menyelesaikan laporan. Assalamualaikum," ucap Juan.
__ADS_1
"Ya sudah, waalaikum salam," jawab Clara.
***
Sepulang kantor Clara bergegas pulang, ia ingin segera mengetahui keadaan kakaknya. Ia senang sekali ketika sampai ternyata kakaknya tengah beribadah, perasaannya lega mendapati kakaknya baik-baik saja. Setelah membersihka badan ia segera bergabung dengan Cindy yang sedang nonton tv. Tak berapa lama ponselnya berdering.
"Waalaikum salam," jawab Clara saat mengangkat teleponnya.
"Tumben kamu telepon, bagaimana keadaan ibumu apa sudah membaik?" tanyanya.
"Alhamdulillah, tapi masih perlu kontrol lagi karena kadang suka kambuh. Jadi aku belum bisa kembali dan mencari pekerjaan lagi," jawab Jhony.
"Semoga ibu kamu cepat sembuh ya Jhon, maaf kita masih belum bisa pulang, terlalu banyak masalah yang terjadi setelah kamu pulang kampung," ucap Clara sedih.
"Justru itu tujuan aku meneleponmu, apa benar semua kejadian itu?" tanya Jhony.
"Maksudnya bagaimana aku tidak mengerti, Jhon?" tanya Clara.
"Ehm, maksud ku apa benar kejadian yang menimpa Cindy? tanya Jhony.
"Hah, kamu tahu dari mana?" tanya Clara dengan mata membulat.
"Baru saja Bima dan keluarganya menemui orang tua kalian, mereka berbicara serius. Karena aku penasaran dengan kedatangan mereka, aku menguping," jelas Jhony.
"Siapa saja yang tahu, Jhon?" tanya Clara kuatir.
"Aku lihat tadi hanya mereka dan keluargamu, tidak ada orang lain di sana," jawab Jhony.
"Apa saja yang kamu dengar tadi?" tanya Clara.
"Intinya mereka meminta maaf karena anak mereka telah menodai Cindy, mereka juga mengutarakan maksudnya untuk melamar Cindy sebagai bentuk tanggung jawab karena kesalahan putranya itu," jelas Jhony.
"Lalu bapak jawab apa, Jhon?" tanyanya lagi.
"Awalnya mereka sangat marah, ibumu bahkan melempar Bima dengan tisu dan mau menghajarnya. Ibu mu sedih dan menangis, untung Pak Jarwo lebih bisa bijaksana,"
"Pak Jarwo berkata kalau..."
__ADS_1
Jhony diam tidak melanjutkan ucapannya.