
"Sepertinya kejahatannya sangat terorganisir dan rapi, Mas. Dia pasti bukan orang biasa, karena agar terhindar dari hukum dia membutuhkan uang banyak untuk menutup mulut mereka," ucap Bagas.
"Lalu bagaimana caranya agar teman ku itu bisa lepas darinya, Gas?" tanya Juan.
"Kita harus bisa mencari sela, di saat dia lengah. Tapi sebenarnya aku curiga teman mu bukan di jadikan anak buahnya, tapi jadi mainannya Mas," jawab Bagas.
"Maksudnya mainan bagaimana, Gas?" tanya Juan yang kurang paham.
"Ehm, tapi ini hanya perkiraan ku saja loh Mas. Indra itu g*y, kemungkinan temannya Mas di jadikan alat pemu*s nafs*nya," jelas Bagas.
"Astafirullah, apa benar itu, Gas? Bagaimana nasib Jhony jika benar itu yang terjadi?" tanya Juan sangat kuatir.
"Sabar ya Mas, semoga kita segera di beri petunjuk untuk membantu Jhony," hibur Bagas.
"Amin, semoga saja begitu," balas Juan berharap yang terbaik.
"Ya sudah nanti jika ada perkembangan kamu hubungi aku, aku mau mampir ke apartemen dan langsung pulang," ucap Juan.
"Apel terus," goda Bagas.
"Hahaha, biarinlah suka-suka aku. Makanya jangan sendirian saja, cari kekasih sana," ucap Juan balas meledek Bagas.
"Iya deh yang sudah ketemu jodoh, sepertinya sudah lupa ya kalau pernah jadi jomblo abadi. Kalau aku sih masih muda, lah situ hampir 30 tahun baru punya gandengan, hahaha," ucap Bagas tertawa puas meledek Juan.
"Oh dasar, Bagas si*lan," maki Juan lalu menutup panggilan karena kesal Bagas menang mengolok-ngoloknya.
Begitulah mereka yang sering bercanda walau terkadang keterlaluan, namun tidak pernah membuat mereka bertengkar. Dua orang yang selalu bisa mengerti Juan selama ini adalah Bagas dan Andre, teman yang selalu bisa diandalkan dan dapat dipercaya. Teman dari sejak ia kecil sampai sebesar ini belum pernah sekalipun mereka bertengkar.
***
Sementara itu Clara dan Cindy sudah pulang dari kantor dan tengah bersantai, menonton tv sembari makan kue dengan segelas teh hangat manis. Topik pembicaraan mereka masih seputar membantu Jhony.
"Bagaimana ini jika sampai terlalu lama tidak menemukan cara, takutnya Jhony akan kembali seperti dulu bahkan bisa lebih parah," ucap Cindy merasa kuatir.
"Menurut Kakak mengapa Indra tidak mau melepasnya?" Clara bertanya balik.
__ADS_1
"Tentu saja dia menginginkan Jhony, mencari pasangan ses*ma j*nis itu pasti sulit karena itu menyimpang. Dia melihat kelemahan Jhony sehingga memanfaatkannya, kasihan nasib Jhony," jawab Cindy.
Saat tengah asyik mengobrol, ponsel Cindy berdering. Ternyata ayahnya yang menghubunginya.
"Assalamualaikum, Pak," ucap Cindy memberi salam.
"Waalaikum salam, bagaimana kabar kalian di sana?" tanya ayahnya.
"Alhamdulillah, keluarga di sana bagaimana Pak?" Cindy bertanya balik.
"Alhamdulillah juga baik, ini bapak mau menyampaikan tentang pernikahan kalian," ucap Pak Jarwo.
"Ya, apa sudah dapat tanggalnya Pak?" tanya Cindy.
"Begini Nak, ini terserah kamu percaya apa tidak karena bapak cuma menyampaikan pendapat keluarga besar kita dan juga saran pak Kyai. Kalau dalam hitungan jawa hari lahir kamu dengan Bima tidak cocok ketemunya di angka 27 yang artinya pegat atau pisah dalam bahasa indonesia," jawab Pak Jarwo.
"Sebenarnya bapak juga tidak terlalu percaya namun dalam adat jawa cara ini selalu di gunakan untuk perhitungan jodoh. Namun manusia tidak boleh mendahului takdir karena yang mengetahui jodoh, mati dan rejeki hanyalah Allah SWT," imbuh pak Jarwo.
"Lalu bagaimana menurut Bapak?" tanya Cindy mulai bimbang.
"Kalau bapak terserah kamu saja, karena ini kan kalian yang akan menjalani. Coba nanti kamu diskusikan ini dengan Bima dan keluarganya," jawab Pak Jarwo bijaksana.
"Wah dekat sekali, apa tidak terlalu cepat, Pak?" tanya Cindy.
"Jika memang sudah mantap lebih baik di segerakan, agar tidak terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan. Bukannya bapak tidak percaya dengan kalian, namun siapa yang tahu apa yang akan terjadi di masa depan, Nak," jawab pak Jarwo.
"Iya, Bapak benar. Nanti aku akan membicarakannya dengan Bima, jika sudah di ambil keputusan, nanti bapak akan Cindy telepon," balas Cindy.
"Baiklah, Bapak tunggu kabarnya ya. Assalamualaikum," ucap Pak Jarwo.
"Waalaikum salam," jawab Cindy.
Cindy menghela napas, membuat Clara segera menoleh ke arahnya. Cindy memang tidak me-loudspeaker ponselnya ketika tengah berbicara dengan ayahnya sehingga Clara tidak tahu persis yang mereka bicarakan.
"Ada apa Kak, kenapa terlihat sedih begitu?" tanya Clara.
__ADS_1
"Clara, apa kamu percaya dengan perhitungan jodoh dalam adat jawa?" Cindy balik bertanya.
"Perhitungan seperti itu memang di pakai masyarakat jawa untuk mencocokkan jodoh sebelum pernikahan, namun itu hanyalah adat turun temurun karena bagaimanapun jodoh adalah rahasia Tuhan. Mengapa tiba-tiba tanya hal itu Kak?" tanya Clara setelah menjelaskan pendapatnya.
"Setelah di hitung weton kita kata bapak tidak cocok, ketemunya pegat atau cerai. Sebenarnya aku juga tidak percaya tapi tentu saja hal ini membuat ku berpikir kembali," jawab Cindy.
"Iya sih, pasti kepikiran walau hanya sedikit. Coba langsung diskusi sama Kak Bima dan keluarganya," ucap Clara.
"Apa sopan aku bicara lewat telepon?" tanya Cindy.
"Tidak apa-apa Kak, agar cepat tahu apa pendapat mereka," jawab Clara.
Cindy akhirnya menelepon Bima, hanya dalam 2x dering terdengar sahutan dari seberang.
"Bagaimana keadaan mu, apa sudah membaik?" tanya Cindy.
"Alhamdulillah sudah mendingan," jawab Bima.
"Maaf ya, aku belum menjenguk mu lagi," ucap Cindy.
"Tidak apa-apa, jarak kita kan cukup jauh, apalagi kamu juga bekerja aku bisa memakluminya," balas Bima.
"Ini masalah pernikahan kita, tadi bapak menelepon ku dan sudah menetapkan tanggalnya," ucap Cindy.
"Benarkah? Lalu kapan tanggalnya?" tanya Bima penasaran.
"Kata bapak hari yang baik jatuh pada hari jumat tanggal 24 januari, sekitar dua bulanan dari sekarang," jawab Cindy.
"Wah alhamdulillah, kita akan segera menjadi suami istri dan tinggal bersama," ucap Bima begitu senang.
"Apa kamu benar-benar ingin menikah dengan ku? Apakah kamu sudah sangat yakin?" tanya Cindy memastikan.
"Tentu saja, kamu sendiri tahu aku sampai nekad agar bisa segera menikah dengan mu," jawab Bima.
"Tapi tadi bapak juga berkata jika dalam hitungan jawa kita tidak cocok, ketemunya pegat atau cerai. Jadi jika di paksa bersatu kemungkinan akan cerai," jelas Cindy perlahan.
__ADS_1
"Apa? Lalu apa pendapat mu, apa kamu percaya semua hal itu?" tanya Bima serius.
"Sebenarnya aku tidak percaya karena jodoh hanya Allah Yang Maha Mengetahui, tapi jujur ini membuat ku juga kepikiran," jawab Cindy lirih.