
Enam bulan kemudian.
"Kak Cindy tolong berhentilah berharap, ini sudah lebih dari setengah tahun dia tidak ada kabar. Mulailah buka hati untuk pria lain, Pak Andre sepertinya menyukai Kakak," kata Clara.
"Bagaimana aku akan membuka hati jika status ku dan Bima belum jelas? Bagaimana jika aku terlanjur membuka hati lalu tiba-tiba Bima datang, apa yang harus aku perbuat?" tanya Cindy, netranya mulai mengembun.
"Tapi sudah lama sekali dia tidak ada kabar, mungkin saja dia sudah melupakan Kakak dan memiliki gadis lain," kata Clara.
Dia merasa tak tega dengan Cindy, sudah berbulan-bulan Bima meninggalkannya tanpa kabar sedikit pun. Mereka sudah mencoba mencari tahu keberadaannya di kampus tempatnya kuliah, namun hasilnya nihil. Untuk alamat tempat tinggal di rahasiakan oleh kampus karena sifatnya pribadi, mereka terpaksa pulang dengan tangan hampa.
"Aku bingung Clara, mengapa dia tega membuatku begini. Hiks,hiks... kalau dia memang sudah tak mencintaiku kenapa dia tidak berterus terang saja, itu lebih baik daripada menggantung begini," ucap Cindy tak dapat menahan tangisnya lagi.
Clara memeluk Cindy, ia berusaha menenangkan kakaknya yang terus menangis. Sudah setengah tahun rasa ini ia pendam sendiri, sekarang semua meluap begitu saja.
"Sabar ya Kak, yang terjadi biarlah terjadi. Kakak tidak boleh seperti ini terus, Kakak juga berhak untuk bahagia. Cobalah membuka hati untuk pria lain, jalani hidup ini seperti air mengalir saja. Insyaallah Tuhan pasti memberi yang terbaik," kata Clara bijaksana.
"Mungkin kamu benar Clara, aku harus kuat dan tetap menjalani hidup ini. Aku pasrah dengan kehendak Tuhan," jawab Cindy sembari menyeka air matanya.
"Nah gitu dong, mumpung lagi libur kita jalan-jalan ayo Kak," ucap Clara senang.
"Kita mau pergi kemana?" tanya Cindy.
"Kita ke THR saja Kak, main sepuasnya berdua." jawab Clara memberi ide.
"Berdua? Kamu tidak mengajak yang lain?" tanya Cindy.
__ADS_1
"Tidak, aku ingin pergi berdua dengan Kakak. Selama berbulan-bulan aku sering meninggalkan Kakak sendirian, karena Kakak tidak mau pergi apalagi kalau Pak Andre ikut, Kakak seperti menghindarinya," jelas Clara
"Maaf ya, tapi lain kali aku tidak akan berbuat seperti itu lagi. Aku juga merasa tidak enak denga Pak Andre, selama ini dia sudah begitu baik dengan ku, tapi perlakuanku justru buruk kepadanya," ucap Cindy lirih, ia merasa bersalah.
"Yang penting sekarang Kakak sudah menyadarinya, semua pasti senang melihat perubahan Kakak. Ayo kita bersiap-siap." kata Clara menyemangati Cindy.
Setelah bersiap mereka bergegas memesan taksi dan berangkat ke THR, taman hiburan yang melegenda di Kota Surabaya. Mereka sudah lama sekali tidak pergi berdua, selain karena sibuk bekerja melihat Cindy bersedih pasca menghilangnya Bima, membuat mereka enggan berjalan-jalan mencari hiburan. Melihat Cindy bisa tersenyum kembali membuat Clara merasa sangat bahagia.
Sesampainya di sana mereka sangat gembira sekali melihat banyak wahana permainan. Terlahir dari keluarga kurang mampu membuat mereka tak pernah merasakan naik berbagai macam wahana seperti itu. Jangankan untuk naik wahana, berlibur hanya sekadar jalan-jalan ke taman atau makan di warung pinggir jalan saja mereka belum pernah. Mereka sangat menikmati hari libur kali ini. Banyak sekali wahana yang mereka coba mulai dari yang biasa sampai yang memacu adrenalin. Setelah lelah mereka pun pulang dengan hati bahagia.
***
Keesokan hari. Di kantor Adi Jaya Group.
"Pagi Cindy, Clara. Wajahnya cerah-cerah banget sih, sudah seperti matahari terbit saja," sapa Bella, meledek keduanya.
"Lah jangan salah justru sudah berbulan-bulan ini aku melihat wajahmu itu udah tertutup mega, sering gerimis lagi," kelakar Bella.
Ketiganya seketika tertawa terbahak-bahak sampai sakit perut. Bella dan Clara bahagia sekali melihat Cindy bisa tersenyum seperti itu. Mereka sangat memahami perasaan Cindy, rasanya seperti di tinggal pas lagi sayang-sayannya, nyesak banget pasti.
"Eh ada apa kok rame? Ada yang ulang tahun ya? Kok tidak ngajak-ngajak?" tanya Andre penasaran.
"Eh Pak Andre, tidak ada yang ulang tahun kok Pak. Kita lagi bercanda saja, terlalu senang melihat Cindy bisa tersenyum lagi. Sampai kelepasan ketawanya, maaf ya Pak sudah berisik," jelas Bella sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Andre menatap Cindy, membuatnya tertunduk malu. Jujur ia merasa senang melihat gadis itu kembali bisa tersenyum. Setelah selesai berurusan dengan Jessy waktu itu, entah mengapa ia merasa ada rasa berbeda kepada Cindy. Entah itu perasaan apa dirinya juga bingung, apakah rasa cinta atau sekadar rasa iba dia juga tidak yakin. Namun karena Cindy selalu berusaha menjauhinya membuatnya tidak ingin berharap lebih.
__ADS_1
"Kalau begitu untuk merayakan kembalinya senyum Cindy, pulang kantor kita jalan yuk. Terserah kalian mau kemana, mau makan, nonton, belanja juga boleh, semua aku yang traktir," ucap Andre membuat mata ketiga wanita di depannya membulat sempurna.
"Serius, Pak?" tanya Bella masih belum percaya.
"Tentu saja. Clara, Juan juga tolong kamu ajak ya. Nanti aku jadi yang paling cantik kalau sendirian," kelakar Andre membuat mereka semua tertawa.
"Siap, Bos," jawab Clara sambil memberi hormat, membuat suasana makin riuh.
"Terima kasih ya, Pak Andre," ucap Cindy lembut.
Andre meleleh mendengar kata-kata lembut serta tatapan bahagia Cindy.
"Sama-sama, aku senang melihatmu bisa tersenyum kembali," jawab Andre tulus.
Cindy makin merasa bersalah selama ini selalu mengacuhkan pria itu, dia berjanji mulai sekarang akan membuka hati dan memulai hidup baru.
Mereka sangat bersemangat bekerja hari ini, karena suasana hati sedang bahagia. Tak terasa waktu cepat berlalu, jam pulang kantor pun telah tiba. Sesuai rencana, mereka akan pergi bersama. Clara ikut mobil Juan, sedangkan Cindy dan Bella ikut bersama Andre. Mereka memutuskan untuk menonton bioskop.
"Waduh kenapa film nya yang diputar berbau gitu semua ya," kata Andre sambil melihat-lihat.
"Wah iya, masih ada yang belum cukup umur nih," sahut Juan.
Setelah melihat-lihat tidak ada yang cocok mereka saling lempar pandang.
"Bagaimana kalau kita ke tim3zone saja, hitung-hitung mengenang masa kecil. Bebas mau main apa saja, gimana?" tanya Andre menunggu persetujuan teman-temannya.
__ADS_1
Mereka semua mengangguk setuju. Mereka seolah kembali ke masa kecil. Semua permainan mereka coba. Walaupun baru kemarin Cindy dan Clara naik berbagai wahana namun di tim3zone tidak membuat mereka bosan, bermain ramai-ramai membuat kebahagian kian terasa. Setelah puas bermain aneka game mereka pun merasa lapar. Mereka mampir di foodcourt mall untuk mengisi perut. Tak terasa hari pun semakin malam, mereka memutuskan untuk segera pulang. Kebersamaan memang indah. Persahabatan adalah saling melengkapi bukan menghakimi, saling mendukung bukan bergantung, semoga selalu begitu.