
Sekitar pukul 05.00 terdengar Cindy merintih, membuat Andre segera terbangun.
"Haus, haus," kata Cindy mulai membuka matanya.
"Iya, segera aku ambilkan air," jawab Andre segera mengambil air di atas meja kemudian membantu Cindy minum.
Dahi Cindy mengernyit bingung, ia menatap Andre lama sekali.
"Ada apa, Cindy? Mana yang sakit?" tanya Andre kuatir.
"Maaf, kamu siapa? Kenapa aku disini?" tanya Cindy bingung.
Degh... Andre terkejut, Cindy benar-benar Amnesia. Walaupun dokter telah menjelaskan keadaannya, tetap saja Andre merasa tidak menyangka akan separah ini.
"Kamu kecelakaan, ini aku Andre. Apa kamu tidak ingat sama sekali?" tanya Andre serius.
Cindy hanya menggeleng.
"Apa kamu kekasihku atau keluargaku? Tadi kamu memanggilku Cindy, apa itu namaku?" tanyanya lagi.
"Kita sudah seperti saudara, Aku menyayangimu, Clara adikmu dan juga Juan kekasih adikmu. Benar namamu Cindy, aku panggil dokter dulu ya karena kamu sudah sadar." jelas Andre.
Cindy mengangguk lemah, seluruh tubuhnya masih terasa sakit. Terutama di bagian kepala masih suka nyeri.
"Alhamdulillah Ibu Cindy sudah sadar, saya periksa sebentar ya," kata Dokter itu ramah.
"Kondisinya sudah membaik, tolong Pak Andre dibantu Ibu Cindy agar segera kembali ingatannya. Pelan-pelan ya jangan terlalu di paksa, kepalanya akan terasa sangat sakit jika terlalu keras mengingat," jelas Dokter.
"Baik Dok, terimakasih," jawab Andre.
Andre menyuapi Cindy dengan sabar. Cindy menurut walau sama sekali tidak mengingat Andre, namun Cindy merasa Andre pasti orang yang baik. Dia sudah menjaganya, mengurusi segala keperluannya tidak mungkin dia orang jahat, begitu pikirnya.
Tidak berapa lama Clara dan Juan tiba.
"Kakak... kakak sudah siuman ya, alhamdulillah," kata Clara langsung menghambur memeluk Cindy.
"Alhamdulillah, Cindy sudah sadar," kata Juan turut gembira.
Cindy tidak membalas pelukan Clara namun tidak juga menolak.
"Kalian siapa?" tanya Cindy menatap Clara dan Juan.
Clara dan Juan menoleh ke arah Andre seoalah mencari jawaban. Andre pun menyadarinya.
"Sabar, Cindy sedang kehilangan ingatan. Tapi kita akan segera membantunya untuk pulih kembali," jelas Andre.
__ADS_1
"Kasihan Kak Cindy, sampai kapan dia begini?" tanya Clara sedih.
"Sabar Sayang, kita semua akan membantu untuk kesembuhan Cindy. Oh ya apa kamu sudah mengabari Bima tentang Cindy?" tanya Juan.
"Aku tidak punya nomornya, dua hari yang lalu Kak Cindy bilang ia sedang riset selama satu bulan di daerah Bandung," jawab Clara.
"Ya sudah tidak apa-apa, nanti kita yang jaga dia," jawab Juan.
"Kita gantian ya jaga Cindy. Hari ini biar Clara yang jaga, urusan kantor biar aku dan Bella yang handle," kata Andre.
"Terima kasih Pak, Bapak pasti capek sudah menjaga semalaman. Hari ini juga masih mengurusi pekerjaan kantor, maaf sudah merepotkan ya Pak. Terimakasih atas kebaikannya," kata Clara tulus.
"Jangan begitu, kita ini sudah seperti saudara. Jadi jangan sungkan ya. Aku pamit ke kantor dulu ya, ada baju ganti disana jadi tidak perlu pulang," jawabnya sambil berpamitan.
"Ok, Dre. Terimakasih ya," ucap Juan.
Pukul 10.00 Juan juga berpamitan karena harus ada meeting penting. Tidak lama kemudian Jhony datang menjenguk. Begitulah mereka setiap hari bergantian menjaga Cindy.
***
Seminggu telah berlalu, Cindy perlahan mengingat Clara. Mungkin karena dari kecil mereka telah bersama, sehingga ikatan batin mereka cukup kuat. Namun dengan Juan atau Andre dia belum mengingatnya.
Karena keadaannya sudah membaik dokter memperbolehkannya pulang, namun tetap harus rajin kontrol.
Andre telah mengecek rekaman CCTV berkali-kali dan menurutnya memang tidak ada yang aneh, itu murni kesalahan Cindy yang menyeberang tidak memperhatikan lampu lalu lintas.
"Halo, nomor siapa ini?" tanya Andre ketus.
"Halo Mas Andre apa kabar?" tanya seorang wanita.
"Jangan ketus-ketus gitu dong, nanti tidak laku-laku loh. Hahaha..." imbunya sembari tertawa mengejek.
"Kurang aj*r, mengganggu saja," jawab Andre ingin memutus panggilan.
"Tunggu dulu, jangan emosi. Gimana kekasihmu itu, apa sudah mengingatmu? Sayang ya dia cuma hilang ingatan, harusnya dia mati supaya tidak bisa bersamamu lagi." katanya setengah berteriak.
"Apa maksudmu? Kamu bicara apa?" tanya Andre bingung.
"Aku sudah mengatakan akan membalasmu, karena sudah menolakku dan membuatku sakit hati. Ini baru saja dimulai, setelah ini aku pastikan akan membuat kalian menderita. Jika aku tidak bisa memilikimu, maka wanita lain juga tidak bisa." jelasnya dengan berapi-api.
Andre berusaha mencerna kata-kata wanita itu, dan kemudian ia teringat.
"Astaga, kamu Jessy?" tanyanya.
"Ternyata Mas Andre ingat juga ya sama aku," ucap Jessy.
__ADS_1
"Apa maksud kata-katamu tadi, aku sungguh tidak mengerti?" tanya Andre masih merasa bingung.
"Aku yang menyuruh orang menabrak kekasihmu, tapi sayang dia cuma amnesia. Harusnya dia mati." teriak Jessy.
Andre merinding mendengarnya, ia sama sekali tidak menyangka Jessy dalang semuanya. Kejadiannya terlihat begitu alami, sama sekali tidak terlihat unsur kesengajaan. Ia merasa bersalah kepada Cindy, karenanya dia menjadi amnesia. Ternyata Jessy benar-benar melakukan ancamannya.
"Kenapa kamu tega sekali, Jes. Cindy tidak punya salah terhadapmu. Harusnya kamu marah kepadaku, jangan libatkan dia. Kamu wanita jahat." kata Andre tegas.
"Aku suka melihatmu merasa bersalah kepada kekasihmu itu, suruh siapa kamu menolakku," jawabnya.
"Cinta tidak bisa di paksakan, Jes. Hentikan semuanya, jika sampai dia terluka lagi karenamu aku tidak segan-segan membuatmu di buih." ancam Andre.
"Aku tidak takut, Mas. Nyawa pun akan aku pertaruhkan. Tunggu kejutan selanjutnya dariku, Hahaha..." kata Jessy langsung memutus panggilan.
"Dasar wanita gil*" kata Andre kesal.
Ia segera menemui Clara.
"Clara, Cindy sendirian di apartemen ya? Apa boleh aku menjenguknya, aku ingin memberikan sesuatu untuknya?" tanya Andre
"Iya, Pak. Silahkan tidak apa-apa, Kak Cindy pasti senang," jawab Clara.
"Terimakasih, Clara," ucapnya kemudian bergegas pergi.
Andre merasa sangat kuatir dengan Cindy, ia takut Jessy memanfaatkan kesendirian Cindy untuk melanjutkan aksinya. Ia baru menyadari betapa liciknya wanita itu, membuat kecelakaan benar-benar terlihat alami.
Ting tung...
"Eh, Pak Andre," sapa Cindy ramah.
"Apa kabar Cindy?" tanyanya.
"Alhamdulillah, silahkan masuk, Pak." katanya.
"Terima kasih, ini ada makanan dan kue untuk mu," kata Andre sambil menyerahkan buah tangan.
"Wah repot-repot sih, Pak. Bapak datang kesini saya sudah senang." ucap Cindy sumringah.
"Apa kamu sudah mengingatku? Kenapa gaya bicaramu berubah?" tanya Andre heran.
"Belum, tapi Clara sudah banyak cerita. Pak Andre katanya bos di tempat kerja saya, maaf kemarin-kemarin saya tidak tahu," katanya lugu.
"Panggil Andre saja, seperti kemarin saja. Pakai aku kamu lebih dekat rasanya, jangan terlalu formal." jawab Andre.
"Baik," jawab Cindy.
__ADS_1
"Cindy aku ingin bicara serius. Jika kamu sendiri di sini, jangan pernah membukakan pintu untuk orang asing. Dengan alasan apapun, jangan pernah mau ya. Aku hanya kuatir kepadamu, jadi tolong ikuti saranku." kata Andre serius.
Cindy mengangguk, ia merasa Andre begitu perhatian. Ia mulai menyukai sosok Andre. Dia belum ingat dengan Bima kekasihnya, justru merasa nyaman dengan kehadiran Andre yang sering menemaninya selama sakit, selain Juan dan Jhony yang selalu datang.