Menggapai Harapan

Menggapai Harapan
Bab 127 Menghubungi Keluarga


__ADS_3

Keesokan hari.


Clara baru saja membuka mata saat mentari mengintip dari balik tirai di dalam kamarnya, ia menggeliat mengikuti gerakan tubuhnya. Matanya sembab karena semalam ia tertidur saat masih menangis. Hari ini badannya sudah terasa membaik walaupun perutnya masih terasa sedikit sakit.


Setelah shalat ia membuat susu untuk nutrisi buah hatinya sembari sarapan roti yang kemarin ia beli. Ia semangat sekali hari ini untuk bekerja, ia harus berjuang untuk menghidupi anaknya. Sebenarnya uang tabungannya masih banyak, bahkan uang mahar pemberian suaminya belum ia sentuh sama sekali. Ia harus bisa menabung untuk kehidupan anaknya kelak, ia harus kuat menghidupinya sendiri.


Sebenarnya ia masih sangat mencintai suaminya, namun ia sudah bertekad untuk tidak akan kembali kepadanya, ia takut ayah Juan benar-benar menghabisi keluarganya. Clara benar-benar tidak ingin mengambil resiko dan memilih mengalah.


"Clara, kenapa kamu sudah masuk kerja? Apa kamu sudah merasa sehat?" tanya bu Ina penuh perhatian.


"Alhamdulillah, saya sudah merasa baik Bu,"


"Memangnya kamu sakit apa? Apa kelelahan karena tidak biasa bekerja keras seperti ini?"


"Saya tidak sakit Bu, setelah di periksa kemarin ternyata saya positif hamil,"


Clara bercerita dengan malu-malu, ia yakin setelah ini pasti bu Ina akan bertanya lebih lanjut.


"Apa ibu tidak salah dengar? Apa kamu sudah menikah, Clara?" tanya bu Ina penuh selidik.


"Panjang ceritanya, Bu,"


Clara duduk di dekat bu Ina, wanita itu terlihat menatap Clara penuh tanda tanya.


"Saya baru menikah kurang lebih hampir satu bulan, pernikahan kami sangat bahagia walau tanpa restu orang tua suami saya. Perbedaan derajat kami membuat ayahnya tidak pernah merestui hubungan kami, namun kita tetap bertahan dengan harapan mereka akan melunak. Puncaknya sebelum saya memutuskan pergi dan bertemu pak Iman, ayah mertua saya mengancam akan menghabisi seluruh keluarga saya jika saya tidak pergi meninggalkan putranya. Saya tidak punya pilihan, karena dia mengawasi saya setiap saat,"


Clara menghela napas panjang, ia kembali mengingat keluarga dan suami yang sangat ia cintai. Bu Ina tampak menyimak ceritanya dengan sungguh-sungguh.


"Beruntung saya bertemu pak Iman yang baik hati, beliau menawarkan untuk tinggal di rumahnya untuk sementara sampai saya punya tujuan untuk pergi. Karena saya sungkan beliau mencarikan kos yang masih dekat rumah beliau dan akhirnya saya bisa bekerja di sini. Begitulah cerita saya, Bu,"

__ADS_1


Clara mulai menitikkan air mata, bu Ina spontan segera memeluknya untuk menguatkannya.


"Maaf ya sudah membuat mu sedih kembali, seharusnya ibu tidak bertanya. Tapi ibu terkejut mendengar kamu hamil, karena ibu kira kamu belum menikah,"


"Tidak apa-apa, saya sudah mulai terbiasa kok,"


Setelah tahu Clara sedang hamil, bu Ina lebih memperhatikannya. Ia mengingatkan untuk makan, minum susu dan istirahat karena Clara sering lupa waktu jika sedang bekerja. Ia memberi saran agar Clara setidaknya memberi tahu orang tuanya bahwa dia baik-baik saja, supaya mereka tidak kuatir. Bu Ina menyuruh Clara tidak lembur karena hamil muda, apalagi anak pertama itu sungguh riskan.


Pukul 17.00 Clara di antar pulang oleh bu Ina, sebenarnya Clara sudah menolak namun karena niatnya baik akhirnya Clara bersedia. Setelah memastikan Clara sampai dengan selamat bu Ina segera kembali.


Clara bergegas mandi dan beristirahat sembari menunggu adzan magrib. Setelah shalat ia memutuskan menuruti saran bu Ina untuk menghubungi orang tua mu.


"Assalamualaikum," sapa Clara.


"Waalaikum salam, ini seperti suara Clara," tebak pak Jarwo.


"Benar pak, ini Clara. Maaf aku baru menelepon, bagaimana keadaan bapak dan semua di sana?" tanya Clara.


"Alhamdulillah baik, aku rindu kepada semuanya,"


"Sama Nak, kita semua juga rindu sekali. Semua panik mencari mu, anak buah suami mu beberapa kali kesini. Bapak sebenarnya kasihan, Juan begitu terpukul sampai tidak punya semangat hidup. Dia datang beberapa hari yang lalu, badannya lebih kurus dan matanya cekung sekali sepertinya kurang tidur dan sering menangis,"


Hati Clara terasa tersayat sembilu, ia tidak menyangka keadaan suaminya begitu parah. Kehilangan dirinya membuat pria itu kehilangan arah, rasanya Clara begitu merindukannya.


"Aku harus bagaimana Pak, aku tidak tega melihatnya begitu. Tapi aku juga tidak mau membahayakan hidup keluarga ku,"


Clara tidak tahan untuk tidak menangis walaupun ia telah berusaha sekuat tenaga untuk tidak terlihat bersedih.


"Bapak juga bingung, seharusnya kalian hidup bersama dan bahagia. Aku sangat menyayangkan sikap ayah mertua mu itu,"

__ADS_1


"Saat ini aku sedang hamil, kata bu bidan sudah sekitar 4 mingguan. Juan pasti sangat senang jika mengetahuinya,"


"Alhamdulillah, tapi bagaimana kamu akan merawatnya jika sendiri? Apa kamu pulang saja ke desa, Nak?"


"Tidak Pak, aku akan di sini dulu. Mungkin aku akan pulang saat mendekati lahiran, aku takut mereka akan mengambil bayi ku,"


"Tapi bapak kuatir dengan keadaan mu yang sedang mengandung, sebenarnya kamu ada di mana Clara?" tanya pak Jarwo kuatir.


"Bapak jangan kuatir, semua sangat baik di sini. Doakan saja aku selalu kuat, dan tolong jagalah rahasia ini kepada siapapun," pinta Clara.


"Iya Nak, tapi tolong sering-seringlah mengabari bapak tentang keadaan mu dan bayi mu ya," ucap Pak Jarwo.


"Baik Pak, sudah dulu ya aku mau istirahat. Besok pagi aku harus bekerja, assalamualaikum,"


"Iya Nak, waalaikum salam,"


Sebelum tidur Clara membuat susu agar calon bayinya selalu sehat, besok ia berencana membeli buah. Mungkin ini yang namanya ngidam, semenjak pulang kerja tadi mulutnya ingin yang seger-seger namun karena pulangnya di antar bu Ina ia sungkan meminta untuk mampir-mampir.


Segelas susu hamil rasa coklat telah bersarang di dalam perutnya, ia segera berbaring di tempat tidur. Matanya begitu mengantuk namun pikirannya masih melayang kepada suaminya. Entah bagaimana keadaannya sekarang, Clara merasa sangat bersalah telah meninggalkan dirinya begitu saja.


"Maafkan aku Sayang, sampai kapanpun aku akan selalu mencintai mu. Aku berjanji akan menemui mu nanti, jika aku sudah siap," ucap Clara sembari mencium foto suaminya.


Tok... tok... tok...


Tiba-tiba pintu kamarnya di ketuk dengan keras.


"Buka, buka pintunya," teriak seorang wanita membuat Clara tersentak.


"Cepat buka pintunya sebelum aku dobrak!" wanita itu terus menggedor pintu kamarnya.

__ADS_1


Karena merasa terganggu, Clara bangkit untuk segera membuka pintu dan melihat siapa yang menggedor pintunya dengan keras. Saat ia membuka pintu, para penghuni kos lainnya tampak menonton kejadian itu tanpa berusaha menghentikan wanita itu.


"Oh jadi kamu selingkuhan suami ku ya, dasar pelakor (perebut laki orang),"


__ADS_2