Menggapai Harapan

Menggapai Harapan
Bab 143 Perubahan Clara


__ADS_3

Beberapa bulan kemudian.


Jhony dan Dinda telah menjalin hubungan, mereka tampak begitu bahagia. Keduanya masih tetap menjalankan pekerjaannya seperti biasa, namun semenjak bersama Jhony wanita itu lebih bisa mengontrol agar tidak sampai mabuk. Menjadi pelayan di klub malam dan LC memang bukanlah hal yang baik, tapi itulah pilihan hidup. Terkadang kita tidak bisa menolak takdir dan tetap mengikuti arus pun juga dengan mereka.


"Kak Dinda, pekerjaan LC itu sebenarnya apa saja sih?" tanya Clara saat sedang santai di kamar wanita itu.


"Sebenarnya LC itu kan pemandu lagu, jadi ya kita menemani tamu bernyanyi. Tapi kadang ada juga yang bisa di bawa, itu tergantung wanitanya juga sih," jawab Dinda.


"Tapi kalau kita menolak apa tidak ada yang marah? Terus juga kita apa wajib minum alkohol, Kak?" tanyanya lagi.


"Biasanya kita ada mami, dia yang mengawasi LC di sana. Mami sudah tahu kebiasaan anak-anaknya, mana yang sekedar nemenin tamu dan mana yang bisa di bawa. Bisa minum itu adalah nilai plus yang lebih di sukai tamu, tapi kalau misalnya tidak mau ya tidak apa-apa,"


"Kok tumben kamu tanya-tanya tentang pekerjaan LC?"


Clara terdiam cukup lama, dia agak ragu untuk menjawab.


"Sebenarnya aku sedang butuh uang banyak saat ini Kak, aku ingin mencoba menjadi seperti Kakak," jawab Clara jujur.


"Uang banyak untuk apa, Clara?" tanya Dinda.


"Banyak Kak, bapak ku sedang sakit. Adik-adik ku juga butuh uang untuk sekolah, belum lagi kebutuhan anak ku. Terkadang aku juga ingin membantu kakak ku yang juga sedang kesulitan ekonomi," jawab Clara.


"Ehm... begitulah tuntutan hidup, terkadang kita memang tidak bisa memilih yang terbaik. Kamu ingin mencoba di mana? di tempat mu sekarang atau di tempat ku? Sebaiknya coba kamu bicarakan dengan Jhony juga, mungkin dia punya saran,"


"Dia pasti tidak setuju, tapi aku tidak punya pilihan lain,"


"Jadi kamu serius? Apa hati mu sudah benar-benar mantap?"


Clara mengangguk cepat, ia sudah memikirkan selama seminggu ini. Ternyata menjadi single parent tidaklah mudah, apalagi bapaknya juga sudah tidak bisa menjadi tulang punggung keluarga semenjak sakit. Otomatis dia harus membantu kehidupan keluarganya, apalagi kakaknya juga sudah lama tidak bisa membantu orang tuanya.


"Ya sudah, kalau kamu memang serius ayo ikut aku. Kita harus sedikit melakukan perubahan,"


Dinda segera mengajak Clara keluar, mereka bergegas pergi setelah taksi pesanan mereka datang.


"Kak, kita mau kemana sebenarnya?" tanya Clara dalam perjalanan.


"Sudah, nanti kamu juga tahu,"

__ADS_1


Clara akhirnya menurut saja, walau dia begitu penasaran namun memilih diam sembari terus memperhatikan jalan. Ternyata mereka berhenti di sebuah salon kecantikan, Dinda segera membawanya menemui pemilik salon itu.


"Wah pagi cantik, tumben kesini jam segini. biasanya juga masih tidur jam segini, apa semalam tidak kerja?" tanya seorang waria yang ternyata pemilik salon langganan Dinda.


"Kebetulan libur semalam. Eh ini ada teman aku, tolong di make over ya. Dia anak baru, jadi masih polos sekali,"


Dinda mengenalkan Clara kepada waria itu, pria setengah wanita itu memandang Clara dari bawah sampai atas sembari tersenyum.


"Wah ini sih gampang, benturannya sih udah cantik dan ngemil jadi tinggal poles sedikit saja. Ini mau perawatan apa saja?"


"Paket lengkap masih keburu sepertinya, ini kan masih jam 10,"


"Ok deh, siap,"


Mereka segera di bawa ke ruang perawatan. Awalnya Clara mau protes, karena dia tahu melakukan perawatan di salon pasti menghabiskan biaya yang tidak sedikit, namun Dinda berhasil meyakinkan gadis itu jika ini semua demi kebaikannya. Dinda juga bersedia membayar semua biaya perawatan mereka di salon itu.


Setelah beberapa jam perawatan akhirnya semua selesai. Mereka menyuruh Clara melihat tampilannya di cermin. Betapa terkejutnya Clara melihat tampilannya di cermin, rambutnya telah berganti warna menjadi coklat keemasan. Model rambutnya juga lebih dewasa, sesuai dengan bentuk wajah serta warna kulitnya yang kuning langsat.


"Perfect, Kamu cantik sekali. Semua pria pasti akan terpana, apalagi di tambah gaun yang seksi," puji waria itu.


"Apa ini benar aku, kenapa bisa beda sekali ya?"


"Terima kasih, Kak Dinda,"


Setelah membayar mereka kembali pulang, Dinda kembali membawa Clara ke kamarnya untuk memilih-milih baju.


"Ini semua untuk kamu, sepertinya gaun-gaun ini akan sangat pas kamu pakai,"


Dinda memberikan beberapa potong gaun untuk Clara, gadis itu segera melihat-lihatnya.


"Seksi sekali ya Kak, apa akan cocok di badan ku nanti?"


"Sepertinya akan sangat bagus kamu pakai. Sekarang tinggal kamu putuskan ingin bekerja di mana?"


"Menurut Kakak bagaimana baiknya?"


"Di tempat Rico juga nyaman, tapi kalau ingin suasana baru ya di tempat ku saja,"

__ADS_1


Dinda memberikan pendapatnya, sepertinya ia akan mencoba di tempat Dinda saja. Dia tidak nyaman jika Rico melihatnya sebagai LC di klub malam miliknya, mengingat ia pernah menolak profesi itu dulunya.


"Ya sudah, aku bekerja di tempat Kak Dinda saja,"


"Apa kamu yakin?"


"Iya, sepertinya aku butuh suasana baru,"


"Baiklah, aku telepon mami dulu ya. Kapan kira-kira kamu siap memulai?"


"Secepatnya, Kak,"


"Kalau nanti malam?"


Clara mengangguk setuju, ia harus segera mengumpulkan uang. Lebih cepat bekerja lebih baik menurutnya. Entah apa pandangan orang tuanya jika sampai tahu pekerjaan yang akan ia lakoni sekarang, mereka pasti marah sekali. Namun saat ini Clara sedang tidak punya pilihan lain.


"Ok Clara, aku sudah menelepon mami. Nanti kita berangkat bersama. Malam ini aku akan merias mu, selanjutnya kamu bisa mencoba sendiri. Aku lihat kamu cukup pandai berdandan, jadi rasanya itu tidak akan sulit untuk mu," ucap Dinda.


"Terimakasih kasih ya Kak, aku gugup sekali. Aku takut akan ada kejadian yang tidak mengenakkan yang bisa aku timbulkan nanti," balas Clara.


"Tenang saja, aku dan mami akan menjaga mu. Kamu harus berani, jika ada yang berbuat kurang ajar kamu lawan saja. Kerja malam memang penuh resiko, tapi selama kita bisa menjaga diri semua akan aman,"


"Aku akan selalu ingat kata-kata Kata,"


Tok... tok... tok...


"Dinda, apa kamu dan Clara di dalam?"


Terdengar suara Jhony memanggil mereka, Clara merasa sedikit takut. Ia tahu sahabatnya itu takkan setuju dengan pilihannya ini, selama ini Jhony selalu berusaha melindunginya. Entah bagaimana tanggapannya setelah tahu Clara justru mendekati masalah yang ia pilih sendiri.


"Iya, sebentar,"


Dinda segera membuka pintu untuk kekasihnya.


"Kalian sedang apa sih sampai mengunci pintu segala?" tanya Jhony.


Pandangannya langsung tertuju kepada wanita di dalam kamar Dinda, ia berusaha mengalihkan pandangannya namun Jhony sudah terlanjur melihatnya.

__ADS_1


"Apa-apaan kamu, Clara?"


__ADS_2