
Delapan bulan kemudian.
Juan berhasil bangkit dari keterpurukan, semua tidak lepas dari bantuan Andre yang selalu menguatkannya. Kedua pria itu sama-sama merasakan sakitnya patah hati, mereka bersama-sama saling mendukung untuk tetap melanjutkan hidup. Juan kembali kepada dirinya sebelum mengenal Clara, dingin dan kaku.
Selama berbulan-bulan ia habis-habisan mencari istrinya, ia menyuruh anak buahnya memantau di tempat-tempat yang di mungkinkan Clara akan pulang. Ia memantau selama 24 jam di rumah Clara di desa, tempat Januar, rumah Bima dan Cindy serta di rumah Bella. Baru sekitar sebulan ini ia sudah menarik kembali semua anak buahnya, ia mulai mengikhlaskan kepergian istrinya. Satu yang melekat dalam benaknya, jika masih jodoh mereka pasti akan di pertemukan kembali, dan ia tidak pernah berhenti berharap untuk itu.
"Juan, nanti malam akan ada acara makan malam. Kamu harus datang, acara ini untuk memperkenalkan mu dengan calon istri mu," ucap ayahnya.
"Istri ku hanya Clara, sekarang dan sampai kapanpun! Jangan pernah menjodohkan aku dengan siapapun." balas Juan kemudian pergi.
"Kurang ajar sekali putra mu itu, wanita sudah meninggalkannya sekian lama masih juga dianggap istrinya. Kamu harus membujuknya," titahnya kepada istrinya.
"Tidak mudah melupakan orang yang di cintai, harusnya Papa mengerti itu. Aku sudah lelah, aku saksi betapa terpuruknya anak ku ketika kehilangan istrinya. Jangan kira aku tidak tahu jika semua ini perbuatan mu," balas istrinya.
Istrinya juga segera berlalu meninggalkannya, semua orang sekarang berani membantahnya.
"Akh... kurang ajar, semuanya sudah berani membantah," teriaknya geram.
♥︎♥︎♥︎
Sementara itu di kosan yang sempit, Clara sedang berbaring di tempat tidurnya. Perutnya sudah sangat buncit, membuatnya sedikit kesusahan untuk melakukan aktivitas seperti biasanya. Karena hari perkiraan lahir bayinya tinggal beberapa hari, ia memutuskan untuk berhenti bekerja.
"Halo, ada apa Pak?" tanya Clara.
"Tidak apa-apa, Bapak hanya kuatir karena ini sudah mulai masuk perkiraan kelahiran anak mu. Jika kamu merasakan kontraksi segera hubungi Bapak ya," jawab pak Iman.
"Ya Allah, terima kasih Bapak baik sekali. Saya pasti ingat pesan Bapak," ucap Clara.
"Ya sudah, kamu kembali istirahat saja,"
__ADS_1
Setelah telepon di tutup, Clara mencoba tidur kembali. Bayinya bergerak makin aktif membuatnya tidak bisa tidur, ia elus perutnya perlahan agar bayinya tenang. Sebenarnya hari ini adalah waktunya kontrol, namun Clara masih merasa malas. Mungkin nanti sekitar pukul 09.00 saja dia ke bidan.
Ingin rasanya ia menghubungi orang tuanya, memberi tahu bahwa dirinya akan segera melahirkan. seperti biasa ia menghubungi mereka memakai private number.
"Assalamualaikum," sapa Clara.
"Waalaikum salam," jawab bu Dina.
"Ibu... Ibu apa kabar semua keluarga di sana?" tanya Clara.
Demi apapun, mata bu Dina spontan mengeluarkan air mata. Sekian lama tidak mendengar kabar tentang putrinya membuatnya tidak mampu berkata-kata karena terlalu bahagia. Setelah mampu mengendalikan perasaannya barulah ia menjawab.
"Sayang, ini benar kamu Clara. Ibu sangat rindu, Nak. Kita semua di sini baik, ibu harap kamu dan bayi mu di sana juga sehat," ucap bu Dina.
"Kamu berada di mana sekarang, Nak? Apa kamu sudah melahirkan? Aku tidak takut dengan ancaman mertua mu, yang penting bisa bertemu dengan mu. Tolong katakan kamu di mana, Clara?" tanya bu Dina tidak sabar.
Clara menjadi sedih, ia tahu luka hati ibunya yang sangat merindukan kehadirannya. Mungkin memang ini saatnya ia kembali kepada keluarganya, sepertinya Juan dan yang lain tidak mungkin mencarinya lagi.
"Kamu tidak bersalah, mungkin memang ini yang terbaik. Kita selalu berdoa untuk mu dan bayi mu. Kamu telepon saja jika mau pulang, biar kita jemput,"
Setelah saling melepas rasa rindu, mereka mengakhiri panggilan. Clara berjalan sebentar mengitari kamarnya beberapa kali sesuai saran dokter. Perkiraan lahirnya sekitar 3 hari lagi, ketika di usg bayinya sudah mencapai 3,2 kilo gram. Dokter menyuruhnya untuk tidak makan yang manis-manis agar bayinya tidak semakin besar, agar tidak menyulitkan ketika melahirkan.
Pukul 09.00 Clara berangkat ke bidan, beruntung hari ini pasiennya tidak banyak jadi dia bisa cepat di tangani. Tensi darah normal, berat badannya naik 10 kilo. Semua data yang di perlukan segera di isi petugas.
"Apa ada yang di keluhkan, Bu?" tanya bu bidan.
"Alhamdulillah tidak ada, hanya saja gerakannya semakin aktif," jawab Clara.
"Justru itu bagus, tandanya bayinya sehat,"
__ADS_1
Bu bidan memberi gel di perut Clara untuk mendengarkan detak jantung bayinya. Detak jantung bayinya menurut bidan sangat baik.
"Ini posisi bayinya sudah bagus, lebih sering berhubungan dengan suaminya akan memperlancar saat proses lahiran nanti. Selain itu bisa dengan cara mengepel lantai sambil berjongkok,"
Clara menyimak ucapan bu bidan dengan seksama. Perkiraan bidan jika tidak ada kendala lain maka ia bisa melahirkan secara normal, karena selama ini setiap kontrol hasilnya selalu bagus.
Setelah semua selesai, ia segera membayar. Kali ini ia sudah tidak di beri obat dan vitamin karena sisa kontrol kemarin masih ada. Mengendarai motor bebek yang ia beli delapan bulan yang lalu, ia kembali ke kosan.
"Nak Clara, datang dari bidan ya?" tanya pak Kholil saat Clara memarkirkan motornya.
"Iya Pak, alhamdulillah hasilnya bagus," jawab Clara.
"Kalau mulai merasakan sakit panggil bapak saja ya, nanti biar bapak yang antar. Kalau ingin sesuatu juga bisa minta tolong siapa saja yang ada di kos, saya kok takut lihat perutnya sudah besar begitu masih keluar naik motor sendiri," ucap pak Kholil.
"Terima kasih Pak, alhamdulillah saya masih kuat,"
Baru saja berkata begitu, perutnya terasa sakit.
"Akh..." rintih Clara.
"Kenapa Nak? Apa mau melahirkan?" tanya pak Kholil panik.
"Sudah tidak, mungkin kontraksi palsu Pak,"
Clara segera pamit untuk beristirahat. Namun rasa sakit itu kembali menyerang membuatnya mengaduh kesakitan. Rasa sakit yang tadinya timbul tenggelam kini makin sering ia rasakan. Ia terkejut ketika hendak buang air kecil keluar darah dari kemal*annya. Ia segera berganti dan mengenakan pembalut.
"Yun, yuni, tolong aku," Clara mengetuk pintu kamar Yuni.
"Kenapa Mbak? Apa sudah mau melahirkan?" tanya Yuni kuatir.
__ADS_1
Clara hanya mengangguk, ia sudah tidak kuat menjawab karena perutnya semakin sakit. Yuni segera memanggil pak Kholil, mereka membawa Clara ke bidan.
"Ini sudah pembukaan lengkap,"