
"Kenapa kamu diam saja, Sayang?" tanya Juan saat dalam perjalanan.
"Tidak apa-apa, hanya saja sebenarnya aku dan kak Cindy berniat patungan untuk membeli ponsel, agar bisa berkabar dengan keluarga di rumah. Tapi melihat keadaan Jhony lebih baik aku berikan uang itu untuk membantunya," jelas Clara yang di iyakan Cindy.
"Tidak apa-apa, Clara. Sekarang yang lebih penting adalah membantu Jhony, nanti kita bisa nabung lagi," sahut Cindy.
"Sudahlah jangan terlalu di pikirkan, sekarang kita lebih baik fokus dulu dengan masalah rehab Jhony dan rencana pertunangan kita. Kalian itu jangan terlalu banyak pikiran, harus tetap menjaga kesehatan," kata Juan.
"Ya, Sayang. Kamu benar," jawab Clara.
Setelah mengantar Cindy dan Clara, Juan bergegas ke kantornya. Mereka berusaha tetap profesional dalam bekerja, walaupun banyak hal yang sedang mereka pikirkan namun berusaha tetap fokus.
Sepulang bekerja semua menjenguk Jhony, termasuk Andre.
"Wah sepertinya kamu sudah baik-baik saja, wajahmu kelihatan segar sekali, Jhon," sapa Andre.
"Alhamdulillah sudah jauh lebih baik, ini semua berkat kalian. Terima kasih sudah peduli denganku, aku tidak tahu harus membalas kebaikan kalian dengan apa," jawab Jhony terharu.
"Sudahlah kita ini keluarga, sudah sepantasnya saling membantu," ucap Andre.
"Kalau kamu masih sakit, tidak perlu ikut pulang Jhon kamu bisa tinggal disini dulu. Kita mau menjenguk ibumu, lalu mau membicarakan rencana pertunanganku dengan Clara," jelas Juan.
"Aku sudah baikan, aku ingin ikut kalian. Aku senang sekali akhirnya kalian akan segera bertunangan, semoga kalian selalu bahagia ya," ujar Jhony tulus.
"Amin, terima kasih ya Jhon. Ayo kita berangkat, tapi mampir ke apartemen dulu ya Juan," ucap Clara.
Setelah semua siap mereka pun segera berangkat. Andre juga memutuskan ikut bersama mereka, sudah lama ia merindukan suasana desa yang asri. Kali ini Juan tidak membawa sopir, ia bergantian dengan Andre untuk menyetir.
Andre takjub melihat pemandangan di sepanjang perjalanan. Setelah setengah perjalanan dia membangunkan Juan untuk bergantian menyetir. Sekitar tengah malam mereka pun tiba di desa, Andre dan Juan menginap di rumah Jhony.
***
Keesokan harinya.
"Jhon ini kamu ambil, bawa ibumu kontrol. Nanti kalau mau pulang aku ambilkan lagi di atm, kamu berikan kepada tantemu biar selama kamu di kota ibumu tetap bisa kontrol." kata Juan sambil menyerahkan amplop.
"Aku tidak tahu lagi bagaimana membalas kebaikanmu, Juan. Terima kasih banyak ya," ucapnya dengan rasa haru.
"Jhon, ini dari aku kamu ambil juga ya. Semoga bisa membantu meringankan bebanmu," sahut Andre.
__ADS_1
Jhony seketika menangis, ia merangkul kedua temannya itu. Ia mengucap terima kasih berulang kali.
"Kamu mau aku antar? Kalau tidak mau kamu bawa saja mobilku,"
"Terima kasih sekali lagi ya, aku janji tidak akan salah melangkah lagi," janji Jhony.
Setelah Jhony berangkat, Juan dan Andre bersiap menuju ke rumah Clara untuk membicarakan rencana pertunangannya.
"Pak Andre, Juan, ayo masuk orang tua ku masih keluar sebentar," kata Cindy mempersilahkan.
"Begini rumah kami di kampung, Pak. Terima kasih sudah berkenan mampir di rumah kami yang sederhana ini," imbuh Cindy.
"Justru aku senang suasana di sini, Cindy. Tenang dan jauh dari polusi udara, masih bagus untuk kesehatan," jawab Andre.
"Ayo di minum dulu, kue nya juga di makan. Maaf adanya hanya ini," ucap Clara seraya membawa nampan berisi minuman dan camilan.
"Kalau belum sarapan, makan dulu di belakang," imbuh Cindy.
"Kalian ini seperti aku dan Juan tamu agung saja, kita ini keluarga jangan seperti ini, aku jadi sungkan," jawab Andre malu-malu.
"Tidak apa-apa tamu harus di hormati, apalagi tamu jauh." kata Cindy.
"Ehem... sepertinya sebentar lagi akan ada yang menyusul pertunangan kita nih, Sayang," ujar Juan seraya melirik Andre dan Cindy.
"Wah benarkah, semoga saja di aminin malaikat. Aku senang jika kakak ku berjodoh dengan orang baik," jawab Clara gembira.
Wajah Cindy dan Andre makin merah mendegar candaan mereka. Keduanya masih sama-sama belum berani menyatakan perasaannya, walaupun mereka saling menyukai.
"Oh ya, Sayang. Ini untuk mu," Juan memberikan bungkusan yang ia bawa.
"Apa ini ?" tanyanya sambil membuka bungkusan itu.
"Itu ponsel buat orang tua mu, supaya jika ada apa-apa mudah untuk mengabari," jelas Juan.
"Terima kasih ya, mereka pasti senang bisa mendengar suara kami sewaktu-waktu," ucap Clara tak dapat menutupi rasa senangnya.
Menit kemudian Bu Dina dan Pak Jarwo datang, setelah meletakkan barang-barang belanjaan mereka ikut bergabung dengan mereka di depan.
"Bagaimana kabarnya kalian semua?" tanya Pak Jarwo.
__ADS_1
"Alhamdulillah kita semua baik, Pak. Bapak sekeluarga bagaimana kabarnya?" tanya Juan sopan.
"Seperti Nak Juan lihat, alhamdulillah kami semua juga sehat,"
"ini siapa ya, waktu kemarin datang sepertinya tidak ikut?" tanyanya.
"Saya Andre, Pak. Teman mereka semua, saya sudah menganggap mereka seperti keluarga saya," jawab Andre sopan.
"Insyaallah, calon menantu juga Andre ini, Pak," Juan menimpali.
Andre dan Cindy semakin salah tingkah, apalagi saat semua mata menatap kepada mereka berdua.
"Saya belum berani berjanji, Pak. Mengingat saya dan Cindy pernah sama-sama terluka. Sementara kita jalani saja dulu. Saya tidak ada niat mempermainkan anak Bapak, hanya saja masih butuh waktu untuk memantapkan hati,"
Andre menghela napas.
"Insyaallah saya serius, namun saya belum tahu apakah niat saya ini akan berbalas," ucap Andre tenang.
"Alhamdulillah kalau niat serius, saya bagaimana anak-anak saja. Dengan siapa pun pilihan mereka selama itu baik, insyaallah saya merestui," jawab pak Jarwo bijak.
"Clara, sepertinya kita sudah di dahului Andre untuk berbicara serius dengan Bapak," kata Juan sambil mengaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Eh, maaf. Hehehe..." ucap Andre sambil tertawa.
"Sebenarnya tujuan saya kesini untuk membicarakan tentang pertunangan, Pak. Saya berniat melamar anak Bapak, mungkin kalau menikah Clara belum siap. Jadi sementara saya ingin bertunangan saja dulu, untuk membuktikan keseriusan saya. Menurut Bapak bagaimana enaknya?"
"Kalau misal Bapak setuju, bagaimana kalau pertunangannya di adakan 2 bulan lagi, tepat di hari jadi kita yang pertama?" tanya Juan.
"Alhamdulillah hari ini ada 2 kabar bahagia dari anak-anak saya. Bapak setuju saja, Nak. Rencana baik harus di dukung, apapun keputusan kalian kita akan merestui jika tujuannya untuk kebaikan," jawabnya senang.
"Alhamdulillah," ucap semuanya kompak.
"Pesan Bapak sebagai orang tua, kalian harus bisa menjaga diri sampai kalian syah. Apalagi hidup di kota besar pergaulan bebas merajalela, kalian harus saling menjaga. Jangan sampai kalian masuk ke dalam perangkap setan. Nak Juan, Nak Andre, titip anak-anak Bapak ya, jangan segan memarahi mereka jika memang salah," pesan Pak Jarwo.
"Insyaallah kita akan selalu menjaga mereka, Pak," jawab Andre.
"Dengan sepenuh jiwa raga kita akan menjaga mereka, Pak," sahut Juan.
Mereka semakin asyik bercengkrama melepas rindu. Pak Jarwo dan Bu Dina sangat berterima kasih sudah dibelikan ponsel, sehingga bisa menghubungi putrinya kapan saja. Clara mengajari mereka menggunakannya seperti cara menelepon dan menerima, ia juga mengajari mereka cara sms.
__ADS_1