
Dua minggu telah berlalu, rutinitas kembali seperti biasanya. Cindy masih bekerja di kantor Andre, Bima mengantar jemputnya setiap hari sekalian ia berangkat bekerja. Bila Bima di haruskan lembur maka Cindy menunggu suaminya menjemput di apartemen Clara.
Clara bersyukur ternyata pernikahan kakaknya sangatlah bahagia, mertuanya juga sangat baik kepadanya. Cindy telah menyerahkan seutuhnya jiwa rasanya kepada suaminya dan membuang jauh kenangan masa lalu.
"Kak makanlah dulu, suami mu juga pasti sudah makan di kantornya," pinta Clara.
"Aku tidak nafsu makan, dari pagi perut ku tidak nyaman, kepala ku juga terasa pusing, sepertinya aku masuk angin," ucap Clara.
"Kalau gitu aku kerokin ya, tapi setelah itu Kakak harus makan," balas Clara.
"Iya, baiklah," ucap Cindy.
Clara segera mengambil koin dan minyak kayu putih, perlahan ia mulai mengerok kakaknya. Warna merah segera tercetak di punggung Cindy, terlihat sangat kontras dengan kulitnya yang putih bersih.
"Sepertinya benar-benar masuk angin Kak, ini merah sekali," ucap Clara.
"Iya, mungkin aku kelelahan saja," balas Cindy.
"Ya sudah setelah ini aku buatkan teh hangat, biar perutnya terasa lebih nyaman," ucap Clara.
Setelah selesai, Clara segera menyiapkan kakaknya makanan. Tubuh Cindy terlihat sangat lemas, ia hanya berbaring di kasur. Clara membawakan makannya ke kasur, namun baru satu suap ia sudah merasa mual.
"Huek, huek..." Cindy muntah di kamar mandi.
"Clara perut ku rasanya sakit sekali, karena muntah-muntah. Bau makanan membuat aku mual," ucap Cindy sembari memegangi perutnya yang terasa sakit.
"Ya sudah tiduran saja," balas Clara merasa kuatir dengan kondisi Cindy.
"Apa aku antar ke rumah sakit saja, Kak?" tanya Clara.
"Tidak perlu, biar aku istirahat saja," jawab Cindy sambil memejamkan matanya.
"Ya sudah kalau begitu," Clara pergi menonton tv agar kakaknya bisa beristirahat dengan tenang.
Sekitar pukul 19.00 Bima datang untuk menjemput istrinya.
"Kak Cindy sepertinya masuk angin, perutnya katanya mual. Sekarang dia sedang istirahat, Kak Bima duduk dulu biar aku buatkan teh hangat," ucap Clara.
"Terima kasih ya Clara, maaf aku selalu merepotkan mu begini," balas Bima.
"Ah tidak apa-apa, aku justru senang kalau ada teman, karena setelah kakak pindah aku kesepian sendirian di sini," ucap Clara.
"Makanya kamu dan Juan segera menikah, biar bisa saling berbagi. Menikah itu menyenangkan pokoknya," balas Bima.
"Setelah kalian punya bayi, baru kami akan menikah," ucap Clara lalu meninggalkan Bima untuk membuat teh.
"Kenapa dia mau menikah setelah aku dan Cindy punya bayi ya?" tanya Bima bicara sendiri.
__ADS_1
"Ini di minum tehnya, aku bangunkan kakak dulu," Clara mempersilahkan.
"Kak, bangun itu kak Bima sudah datang," Clara membangunkan Cindy perlahan.
Cindy perlahan membuka matanya, namun masih enggan untuk bangkit karena masih lemas.
"Apa sudah mendingan?" tanya Clara.
Cindy hanya menggeleng pelan, wajahnya terlihat sangat pucat sekali.
"Sebaiknya Kakak periksa ke dokter, wajah Kakak pucat sekali," saran Clara.
"Aku panggil suami Kakak dulu, rebahan saja dulu," ucap Clara kemudian berjalan cepat ke ruang tamu.
"Kak Bima, dia pucat sekali sebaiknya langsung di bawa ke dokter saja," ucap Clara, membuat Bima terkejut.
"Benarkah, ayo kita lihat," ajak Bima tergesa-gesa.
"Sayang kamu kenapa? Wajah Kamu pucat sekali, apa kamu sakit?" tanya Bima cemas.
"Tidak apa-apa, sepertinya hanya masuk angin karena kelelahan," jawab Cindy.
"Sebaiknya kamu berhenti kerja saja, aku masih sanggup memberi kamu nafkah," ucap Bima.
"Aku akan bosan jika diam saja di rumah, apalagi ibu tidak memperbolehkan aku terlalu banyak mengerjakan pekerjaan rumah," balas Cindy.
"Kita bicarakan nanti saja, kepala ku masih terasa pusing," jawab Cindy.
"Baiklah, kita langsung ke dokter ya?" tanya Bima meminta persetujuan.
"Tidak perlu, aku hanya butuh istirahat. Kita langsung pulang saja ya," pinta Cindy.
"Apa kamu yakin?" tanya Bima masih ragu.
"Iya, aku sungguh tidak apa-apa. Jika memang nanti semakin parah, baru kita ke dokter," jawab Cindy.
"Baiklah, ayo kita pulang," ajak Bima sembari membantu istrinya turun.
Sepanjang perjalanan Cindy memeluk suaminya dengan erat, kepalanya masih terasa berdenyut. Angin malam membuat rasa mualnya kembali lagi namun berusaha ia tahan. Sesampai di rumah ia memilih langsung beristirahat, badannya terasa benar-benar kurang sehat.
***
Keesokan paginya Cindy bangun seperti biasanya, setelah beribadah ia membantu mertuanya menyiapkan sarapan untuk semuanya. Badannya sudah terasa lebih sehat sehingga ia mulai membersihkan rumah dan menyiram tanaman.
Setelah semua selesai ia segera bersiap untuk sarapan bersama keluarga suaminya. Hari ini ibu mertuanya masak rendang kesukaannya yang sangat menggugah selera. Namun baru saja ia menyuapkan nasi ke mulutnya perutnya terasa mual. Ia bergegas ke kamar mandi karena tidak ingin mengganggu yang lainnya.
"Huek... huek... huek..." Cindy tidak berhenti muntah di kamar mandi.
__ADS_1
"Sayang kamu kenapa? Apa masih sakit?" tanya Bima menghampiri istrinya.
"Aku tidak tahu, makan masakan tadi membuat aku ingin muntah," jawab Cindy sembari mengatur nafasnya.
"Bukankah itu masakan kesukaan mu, kenapa malah ingin muntah?" tanya Bima heran.
"Aku juga tidak tahu," jawab Cindy.
"Kamu kenapa Nak? Apa kamu sakit?" tanya Ibu mertuanya ikut menghampirinya.
"Tidak tahu Bu, saat makan tadi rasanya mau muntah," jawab Cindy.
"Jangan-jangan kamu hamil," ucap ibu mertuanya.
"Apa?" tanya Bima dan Cindy bersamaan.
"Iya, bisa jadi kamu hamil karena tanda-tandanya seperti orang sedang hamil," jelas ibunya.
Bima memapah istrinya untuk duduk di sofa, namun baru saja beberapa langkah Cindy tiba-tiba ambruk. Beruntung Bima sigap menangkapnya sehingga tidak jatuh ke lantai.
"Bu, kenapa Cindy malah pingsan. Bagaimana ini Bu?" tanya Bima panik.
"Ayo kita bawa langsung ke dokter saja," ajak ibunya.
"Ya sudah, ayo,"
Bima segera membopong tubuh istrinya ke mobil, ia takut terjadi apa-apa dengan Cindy. Dia menemani Cindy di belakang, sedang ibu dan ayahnya di depan. Setelah sampai rumah sakit mereka membawanya ke UGD. Mereka segera menjelaskan awal mula Cindy sampai pingsan. Dokter hanya manggut-manggut seraya tersenyum.
"Ya sudah silahkan tunggu di depan ya, biar saya periksa dulu," ucap Dokter.
"Baik, Dok," ucap Bima.
Bima sangat cemas, ia tidak bisa duduk dengan tenang.
"Duduklah Nak, jangan terlalu panik. Lebih baik kita sama-sama berdoa agar Cindy baik-baik saja," ucap Ayahnya.
"Aku sangat kuatir, Yah," balas Bima.
"Iya, kami juga kuatir. Tapi tidak boleh panik, harus tenang Nak," ucap ayahnya lagi.
Tiba-tiba dokter keluar.
"Istri saya sakit apa, Dok?" tanya Bima.
"Istri Bapak tidak sakit, dia baik-baik saja. Istri Bapak sedang hamil muda, ini memang wajar terjadi pada kehamilan untuk tiga bulan pertama. Tolong benar-benar di jaga istrinya ya, Pak," jawab dokter itu.
"Alhamdulillah," semua serempak mengucap syukur.
__ADS_1