Menggapai Harapan

Menggapai Harapan
Bab 137 Pertemuan Yang Mengharukan


__ADS_3

"Jika kamu tidak betah, kamu boleh langsung berhenti nanti," ucap Rico.


"Kamu yakin, Clara?" tanya Jhony ragu.


"Iya Mbak, apa Mbak yakin?" tanya Yuni juga.


"Iya, tapi aku akan sambil mencari kerja yang lain. Jika dapat yang lebih baik, aku berhenti," jawab Clara.


Kali ini dia sudah memikirkannya, ia harus segera bekerja karena banyak yang bergantung kepadanya. Toh Rico juga sudah mengizinkan dia berhenti kapan saja, jadi tidak masalah rasanya untuk mencoba.


"Kamu akan memulainya hari ini?" tanya Rico.


"Besok saja ya, hari ini aku akan mengunjungi kakak ku setelah dari sini," jawab Clara.


"Lalu apa ada pekerjaan untuk ku, aku tidak mungkin membiarkan dia sendiri di sini?" tanya Jhony.


"Kamu bisa belajar menjadi bartender atau jika menjadi pelayan seperti Clara juga tidak masalah," jawab Rico.


"Baiklah, aku akan berusaha. Terima kasih ya, Bang Rico" ucap Jhony.


Setelah memberi tahu tentang jam kerja, gaji pokok dan lainnya mereka segera berpamitan. Mereka berpisah dengan Yuni, karena Clara dan Jhony masih mau mampir ke rumah Cindy. Perjalanan mereka cukup jauh, karena rumah Cindy dan tempat mereka berada di kota berbeda walau masih bertetangga. Setelah menempuh perjalanan kurang lebih satu jam akhirnya mereka sampai.


"Sudah jam setengah 9 Jhon, semoga Kak Cindy belum tidur. Cepat telepon dan suruh keluar tanpa yang lain tahu, aku hanya ingin bertemu kakak. Terlalu beresiko jika suami dan keluarganya tahu keberadaan ku,"


Tanpa menunggu Clara mengulangnya Jhony segera menelepon Cindy.


"Halo Jhony, tumben sekali kamu telepon," sapa Cindy.


"Cindy keluarlah sebentar dan jangan sampai yang lain tahu, aku sekarang berada di depan rumah mu. Ingat ya jangan sampai yang lain tahu,"

__ADS_1


Jhony langsung mematikan teleponnya, sementara Cindy masih merasa bingung. Ia masih berusaha mencerna kata-kata Jhony barusan, banyak pertanyaan di kepalanya. Tapi dia tetap mengikuti arahan Jhony tadi, dia keluar perlahan agar tidak menimbulkan suara yang menarik perhatian anggota keluarga yang lain.


Clara dan Jhony menunggu dengan sabar, pandangan mereka tidak lepas dari pintu rumah Bima. Mereka sengaja berhenti di pinggir jalan agar tidak ada yang tahu. Setelah melihat Cindy yang membawa kresek Jhony melambaikan tangannya.


"Jhon, kenapa kamu ada di sini? Kenapa juga harus sembunyi dan tidak langsung masuk saja sih?" tanya Cindy yang belum mengetahui keberadaan Clara.


Demi apapun Clara sangat bahagia mendengar suara kakaknya, setelah hampir setahun berpisah kini mereka bisa bertemu kembali. Sepasang kakak beradik yang selalu bersama dalam suka dan duka, selalu mendukung satu sama lain kini di pertemukan kembali. Clara segera menghambur memeluk Cindy dengan penuh kerinduan, membuat Cindy sangat terkejut.


"Kakak, aku sangat merindukan mu," ucap Clara sembari tak melepas pelukannya.


"Benarkah ini kamu, Clara? Aku tidak sedang bermimpi bukan?"


Cindy segera mencubit Clara, membuatnya berteriak kesakitan. Lalu mereka tertawa bersama. Cindy menciumi Clara, ia sama rindunya dengannya.


"Kak maaf ya kita tidak bisa lama-lama, nanti kita lanjut di telepon. Tolong kakak rahasiakan pertemuan ini dan anggap tidak pernah bertemu dengan ku, aku janji akan cerita nanti,"


Cindy masih bingung dengan ucapan Clara, namun ia menurutinya. Pasti yang terjadi bukanlah hal yang sederhana, ia tahu Clara tidak akan bertindak gegabah. Hampir setahun ia menghilang, waktu yang tidak singkat namun adiknya mampu hidup sendiri, Clara benar-benar wanita yang kuat.


"Sebenarnya aku juga rindu keponakan ku, perut kakak juga sudah besar ya. Nanti kapan-kapan kita jalan-jalan ya, aku rindu saat bersama dulu,"


Clara mengelus perut Cindy yang sudah membesar, kehamilannya sudah memasuki bulan kelima. Karena kehamilan ini yang kedua membuat perutnya lebih besar dari kehamilannya yang pertama.


"Aku juga ingin bercerita banyak, Clara. Nomor mu sudah lama tidak aktif, jadi aku hanya bisa menelan sendiri masalah ku,"


"Mengapa kamu tidak menghubungi aku, Cindy?"


"Aku tidak kepikiran Jhon, semua yang terjadi membuat aku shock. Apalagi saat Clara menghilang, aku merasa benar-benar sedih,"


Cindy menunduk, jelas sekali jika dia juga punya banyak sekali masalah.

__ADS_1


"Maaf ya Kak, aku sudah membuat mu kuatir. Nanti Kakak pasti mengerti jika sudah aku ceritakan. Aku sudah melahirkan seorang putra Kak, saat ini dia di rawat ayah dan Ibu di desa,"


Clara kembali mengingat putranya yang sangat di rindukannya. Bayi mungil yang tampan dan menggemaskan, penyemangat hidupnya selama ini. Cindy begitu terkejut dengan penuturan adiknya.


"Apa, jadi kamu sudah melahirkan? Berarti kamu pergi dalam keadaan hamil ya? Lalu apa Juan tahu?"


Begitu banyak pertanyaan yang Cindy lontarkan, ternyata banyak kejadian yang Clara alami selama mereka berpisah. Hidupnya sangat berat, ia salut Clara bisa bertahan sejauh ini.


"Clara ayo cepat, takutnya ada yang keluar," ucap Jhony mengingatkan.


"Nanti saja aku ceritakan ya Kak, ini ada sedikit untuk keponakan ku. Doakan rejeki ku lancar, insyaallah nanti aku akan memberi lagi,"


Clara memberikan segepok uang kepada Cindy, ia tahu kakaknya sedang kesulitan ekonomi. Cindy menatap uang itu, ia tidak percaya adiknya memberinya uang sebanyak itu.


"Clara, ini banyak sekali. Kamu juga membutuhkan uang, apalagi sekarang kamu sudah punya anak, apa tidak sebaiknya kamu simpan saja,"


Cindy merasa tidak enak menerimanya, Clara berjuang sendiri tentu lebih sulit untuknya mengumpulkan uang. Dia masih ada suami yang menafkahinya, jadi setiap bulannya sudah pasti ada penghasilan walau terkadang tidak cukup. Tapi Clara menolaknya, ia memaksa Cindy menerimanya.


"Kakak jangan kuatir, besok aku dan Jhony sudah mulai bekerja. Aku juga masih ada simpanan uang, jadi tolong jangan menolak ya. Aku harus segera pergi sebelum keluarga Kak Bima curiga," ucap Clara.


Mereka menyuruh Cindy segera masuk ke dalam rumah, setelah memastikan semuanya aman mereka pun bergegas pulang. Kesedihan segera menjalari sekujur tubuh Clara, entah sampai kapan ia harus hidup sembunyi-sembunyi seperti ini. Walaupun kejadian itu sudah lama, namun ketakutan masih menyelimuti hati Clara.


Jhony terus mengendarai motor menembus ramainya kota Surabaya. Suasana yang berbanding terbalik dengan hati Clara yang sepi. Namun gadis itu merasa bersyukur karena saat ini tidak lagi sendiri, ada Jhony yang selalu menemaninya. Ia tahu Jhony akan selalu melindunginya, seperti waktu dulu.


"Jhon kita berhenti makan dulu ya, sungkan jika harus makan di rumah pak Iman lagi. Besok kita cari kos saja agar tidak merepotkan mereka," ucap Clara.


Jhony menurut saja apa kata Clara, gadis itu memang sudah di tangganya saudara sendiri. Pukul sebelas malam mereka baru tiba di rumah.


"Pak maaf ya kita pulang sampai malam, tadi mampir di rumah saudara. Insyaallah besok kita juga sudah mulai bekerja," ucap Clara saat pak Iman membukakan pintu.

__ADS_1


"Tidak apa-apa Nak, alhamdulillah jika sudah dapat pekerjaan. Bekerja di mana, Nak?"


Clara dan Jhony saling pandang, bingung untuk menjawabnya. Ia takut pak Iman akan salah paham dengan pekerjaannya.


__ADS_2