
"Kenapa? Kalian kaget?" tanya Jenny.
"Dasar wanita licik," maki Jhony.
"Hahaha... kalian pikir sudah cukup pintar ya, beruntung tadi anak buah ku mengetahui kedatangan kalian. Aku ingat kedua orang ini, kita pernah bertemu di hotel. Ternyata kalian sekongkol," ucap Jenny.
"Kamu wanita tidak tahu malu, sudah bersuami tapi masih mengejar suami orang lain. Apa tidak bisa kamu mencari pria lain sehingga dengan mudahnya menyodorkan tubuh mu kepada suami ku," balas Cindy kesal.
"Suami mu sendiri yang menginginkan diri ku, dia merasa sangat puas dengan pelayanan ku. Sebaiknya kamu relakan saja, kalian masih bisa hidup bersama dan berkecukupan dari uang yang aku beri. Kamu hanya cukup diam dan berpura-pura tidak tahu saja," ucap Jenny.
"Cuih... aku tidak sudi berbagi suami dengan wanita lain. Lebih baik aku menjadi janda daripada harga diri ku sebagai seorang wanita di injak-injak,"
***
Sementara itu di lantai bawah.
"Stella, aku harus segera pergi. Tolong jika ada tamu suruh menunggu dulu, aku hanya sebentar," ucapnya.
"Maaf Pak Roby, bukankah tadi tamunya sudah menuju ke lantai 4 sesuai yang Bapak suruh," balas Stella.
"Aku tidak menyuruh begitu, aku bahkan tidak tahu jika ada tamu untuk ku. Memang siapa tamunya?" tanya Roby.
"Ehm... saya tidak tahu, hanya saja wanita itu bilang ini penting menyangkut rumah tangga Bapak," jawab Stella.
"Tadi siapa yang menyuruh mereka ke lantai 4?"
"Anak buahnya bu Jenny, Pak Darma,"
"Ya sudah aku akan menyusul mereka, jangan sampai ada yang tahu. Jika ada yang bertanya, katakan saja aku sedang keluar,"
Pria itu segera menuju lift dan naik ke lantai 4. Hatinya penuh tanda tanya, siapa sebenarnya orang itu? dan mengapa anak buah Jenny itu tidak memberi tahu dirinya jika ada tamu.
Sesampai di lantai 4 suasana masih sama, agak lengang dan hanya beberapa orang yang tampak. Ia segera melangkah ke ruangan istrinya.
Tap... tap... tap...
Suara langkah kakinya memenuhi koridor, ia segera membuka pintu ruangan istrinya itu.
"Jenny..."
Wanita yang di panggil itu begitu terkejut dengan kedatangan suaminya, padahal anak buahnya telah memastikan jika pria itu sedang keluar. Mengapa bisa ada di ruangan ini?
__ADS_1
"Sayang, aku sedang ada tamu. Nanti saja kita bicaranya,"
Wanita itu menarik tangan suaminya untuk meninggalkan tempat itu, sementara Cindy dan lainnya masih terpaku di tempatnya.
"Tunggu dulu Jenny,"
Pria itu melepaskan pegangan istrinya dari tangannya.
"Tadi Stella berkata jika ada tamu untuk ku, tapi anak buah mu justru membawa mereka ke ruangan mu? Apa maksudnya itu dan siapa tamu untuk ku?"
Wajah Jenny seketika menjadi pucat pasi, ia takut perselingkuhannya akan ketahuan. Maka tamatlah riwayatnya.
"Maaf Pak, apa Anda pemilik perusahaan ini?"
Cindy mendekat dan menyela pembicaraan mereka.
"Sayang, sebaiknya kita segera pergi karena wanita ini gila dan suka membual,"
Jenny segera menarik lengan suaminya untuk keluar, namun pria itu menolaknya dengan kasar.
"Aku ingin mendengarkan dia bicara, pergi saja sana. Kalian itu siapa dan apa tujuan kalian datang kesini?"
Jenny makin gemetar, sementara Clara dan Jhony mendekati Cindy untuk menguatkannya.
"Diam Jenny, biarkan mereka bicara," bentak suaminya.
"Saya datang hanya ingin membuka tabir kebusukan istri dan karyawan anda yang bernama Bima. Pria itu adalah suami sah saya tapi berselingkuh dengan istri anda, ibu Jenny," ucap Cindy.
"Dia bohong Sayang, aku tidak berselingkuh," balas Jenny.
"Apa kamu tahu jika tuduhan kamu itu sangat serius, aku bisa membuat mu di penjara jika saja itu tidak benar," ucap suami Jenny.
"Tentu saja, saya pernah membaca pesan mesra mereka berdua. Bau parfum istri anda sering menempel di baju suami saya. Bahkan adik dan sahabat saya pernah memergoki mereka berdua di hotel,"
Cindy segera menunjukkan rekaman yang berhasil Clara ambil waktu itu.
"Video ini memang tidak menunjukkan saat mereka melakukan hubungan badan. Tapi kita sama-sama dewasa, anda bisa menyimpulkan apa yang di lakukan dua orang berlainan jenis di ruangan tertutup hanya mengenakan pakaian minim seperti itu,"
Cindy berkata dengan berlinang air mata, sungguh betapapun ia berusaha untuk menahan perasaannya namun tidak bisa menutupi kenyataan jika hatinya benar-benar terasa pedih mengatakan itu semua.
Plakkk...
__ADS_1
Sebuah tamparan yang sangat keras mendarat di pipi mulus Jenny, bahkan sudut bibirnya berdarah karena kerasnya tamparan yang ia terima. Suaminya menatap nyalang ke arahnya, kedua matanya memerah menahan kemarahan.
"Keterlaluan kamu, setelah semua yang aku berikan berani sekali kamu bermain api di belakang ku. Dasar wanita ******," umpat suaminya.
"Jangan berteriak kepada ku! Ini semua salah mu, kamu terlalu sibuk dengan pekerjaan sehingga tidak memperdulikan keinginan ku. Aku kesepian, aku butuh belaian seorang pria," teriak Jenny.
"Kamu memang wanita yang tidak bersyukur, aku bekerja keras untuk diri mu. Untuk memenuhi keinginan mu yang selalu ingin barang-barang mewah. Harusnya jika kamu memang gatal, pergi saja mencari gig*l*. Bukan merusak rumah tangga orang lain, apa kamu tidak melihat wanita ini masih memiliki bayi,"
Dengan penuh emosi pria itu menunjuk-nunjuk istrinya.
"Pergi kamu dari sini, hari ini juga aku talak tiga kamu Jenny,"
Dengan perasaan kesal dan malu Jenny segera meninggalkan tempat itu, ia tidak memperdulikan beberapa karyawan yang menyapanya.
"Maaf, nyonya Bima..."
"Nama saya Cindy, sebentar lagi saya akan segera menggugat cerai suami saya. Saya kesini hanya ingin membuka mata anda, agar anda tahu jika sudah memelihara ular di kantor ini. Sungguh saya tidak ada maksud lain, sekarang tujuan saya telah selesai. Kami permisi,"
Mereka melangkah melewati pria itu namun segera di cegahnya.
"Tunggu sebentar saja di sini ya,"
Mereka saling pandang, namun menuruti permintaan pria yang menurut mereka baik itu. Beberapa saat kemudian seorang karyawannya datang dan memberikannya tas kerja pria itu.
"Bu Cindy, saya minta maaf sekali karena Jenny anda memutuskan untuk menjanda. Tolong terima ini, memang tidak banyak tapi saya harap bisa membantu kehidupan anda dan anak anda kedepannya,"
Pria itu menyerahkan segepok uang, namun dengan sopan ia menolaknya. Karena mereka sama sekali tidak mau menerima, ia juga tidak bisa memaksa. Mereka pun segera pamit untuk melanjutkan perjalanan ke desa.
"Lepaskan aku, kalian tidak bisa mengusir ku begitu saja,"
Terdengar suara keributan saat mereka tiba di lantai satu.
"Pak Roby sudah memecat kamu karena sudah ketahuan selingkuh dengan bu Jenny, cepat pergi dari sini," teriak seseorang.
Ternyata pria itu Bima, yang sedang di usir dari kantor itu. Mereka mengacuhkannya dan terus melangkah keluar. Bima mengenali istrinya.
"Sayang, kenapa kamu berada di sini?" tanya Bima.
"Aku akan pulang ke rumah orang tua ku, sebentar lagi kamu akan segera menerima surat gugatan cerai dari ku. Semoga kamu dan Jenny bisa bahagia,"
Cindy melangkah pergi, sementara Bima mencoba menghalanginya. Jhony yang merasa kesal mendorong pria itu hingga tersungkur.
__ADS_1
Apa yang kita tanam itu juga yang kita tuai, jangan karena kenikmatan sesaat sampai menghalalkan segala cara. Ingat, waktu tidak akan pernah kembali. Jangan sampai menyesal dengan keputusan yang kita pilih.