Menggapai Harapan

Menggapai Harapan
Bab 103 Malam Pertama Yang Tertunda


__ADS_3

Juan mennggeliatkan badannya dengan malas, namun matanya membelalak tatkala melihat di luar sudah sangat terang. Dia segera bergegas membersihkan diri di kamar mandi. Saking asyiknya mengobrol semalam ia baru tidur pukul 02.00 dini hari, sehingga bangun kesiangan.


Dia mencari Jhony dan bu Tini, namun rumah itu kosong tidak ada seorangpun di rumah itu. Ia memutuskan untuk pergi ke rumah Clara.


"Pak, Clara kemana ya?" tanya Juan ketika melihat calon mertuanya.


"Dia sedang ke pasar diantar Jhony. Sudah dari tadi, sebentar lagi juga pasti datang, Nak," jawabnya.


"Sini ngopi sama Bapak," ajak pak Jarwo.


"Iya, Pak," jawab Juan.


Cindy segera membuatkan kopi untuk Juan dan suaminya yang sedang di kamar mandi. Mereka mengobrol bersama. Tidak lama kemudian benar saja Clara dan Jhony baru datang dari pasar.


"Sayang kamu sudah bangun ya, aku tadi mau minta antar ke pasar tapi kamu masih tidur," jelas Clara.


"Iya, maaf ya. Terima kasih sudah mengantar Clara ya, Jhon," ucap Juan.


"Seperti sama siapa saja sih," balas Jhony yang juga ikut bergabung ngopi bersama mereka.


Clara segera memanggil Juan untuk berbicara. Ia menceritakan apa yang ia lihat tadi pagi ketika Cindy bangun.


"Apa yang harus kita lakukan untuk membantu mereka ya, Sayang?" tanya Clara.


"Yang pertama mungkin Cindy belum siap, yang kedua mungkin karena tempatnya. Mereka takut jika menimbulkan suara yang lain bisa mendengar, otomatis mereka merasa tidak enak dan pastinya malu juga," jawab Juan.


"Iya, mungkin juga begitu ya," ucap Clara.


"Aku punya ide, aku akan memberikan mereka tiket penginapan. Ayo ikut aku untuk membelinya," ajak Juan.


"Tapi hotel adanya di kota, Sayang," ucap Clara.


"Tidak apa-apa, biar Bima membawa mobil ku nanti. Yang penting malam ini mereka merasa nyaman, siapa tahu dengan begitu mereka tidak merasa canggung lagi," balas Juan.


"Baiklah, ayo," ajak Clara.

__ADS_1


Mereka segera berangkat menuju hotel untuk melakukan reservasi. Di kota ini hanya ada hotel bintang tiga belum ada hotel bintang lima, Juan memilihkan hotel yang tidak terlalu jauh dari rumah, yang penting mereka bisa menghabiskan malam berdua tanpa gangguan.


Setelah memesan mereka segera kembali ke rumah. Mereka tidak sabar untuk segera memberikan kejutan ini kepada mereka, semoga saja mereka senang.


"Sayang sebenarnya aku sudah membelikan mereka kado tapi belum sempat aku berikan, nanti sekalian aku berikan dengan ini ya," cerita Juan saat perjalanan pulang.


"Ya tidak apa-apa Sayang. Kamu sudah memberikan uang kepada Ibu untuk membantu pernikahan kakak, seharusnya tidak perlu memberi kado lagi," ucap Clara.


"Tidak apa-apa, Cindy kan kakak ipar ku ya pasti aku bantu," balas Juan.


"Memang kamu mau memberi apa, Sayang?" tanya Clara penasaran.


"Ini," Juan menunjukkan sesuatu yang ada di dalam tote bag di samping tempat duduknya.


"Sayang, ini pasti sangat mahal," ucap Clara terkejut.


"Tidak apa-apa, mereka bisa menjualnya jika terdesak," balas Juan.


"Terima kasih, kamu memang orang yang baik," ucap Clara tulus.


Tidak lama kemudian mereka telah sampai di rumah. Mereka semua sedang mengobrol santai di ruang keluarga.


"Kak, Juan ingin memberikan sesuatu," ucap Clara.


"Oh kalian sudah datang, ayo duduk dulu," balas Cindy.


"Ini kado pernikahan untuk kalian Dari aku dan Clara, semoga kalian suka ya," ucap Juan sambil menyodorkan tote bag tadi.


"Wah kalian repot-repot sekali, terima kasih ya," ucap Bima.


"Buka saja, Kak," pinta Clara.


"Ini apa?" tanya Cindy melihat selembar kertas bertuliskan nama hotel.


"Itu tiket penginapan untuk kalian, itung-itung bulan madu aku memesannya untuk dua malam. Semoga kalian suka," jawab Juan.

__ADS_1


Cindy dan Bima saling berpandangan, Bima merasa Juan orangnya benar-benar sangat pengertian. Cindy lalu membuka kado yang satunya, betapa terkejutnya ia melihat bongkahan emas yang sangat besar. Ia memandang Clara dan Juan tidak percaya. Semua yang ada di ruang tamu jadi tercengang melihat isi kado Juan.


"Juan ini terlalu berlebihan, kamu sudah membantu banyak untuk pernikahan ku sekarang di tambah ini, akan sulit bagi ku untuk mengembalikannya," ucap Cindy.


"Aku ikhlas kok, tidak butuh kalian kembalikan. Yang penting kalian bahagia, pernikahan kalian langgeng. Lupakan semua masa lalu dan bukalah lembaran baru," balas Juan bijaksana.


Mereka sangat terharu dengan sikap Juan, ia selalu tulus membantu siapapun. Setelah selesai mereka menyuruh Bima dan Cindy untuk segera ke hotel agar memiliki waktu lebih panjang untuk berduaan.


Mereka pun segera berkemas, membawa pakaian seadanya saja. Cindy tidak lupa membawa baju dinas malam yang di berikan Clara, dia menuruti saran Juan untuk membuka lembaran baru bersama suaminya.


Sesampai di hotel Cindy segera membersihkan tubuhnya bergantian dengan Bima. Saat Bima di kamar mandi Cindy berdandan sedikit dan mengenakan baju dinas malamnya lalu berbaring di kasur.


Bima sangat terkejut melihat istrinya sudah sangat cantik dan seksi menunggunya di kasur. Juniornya spontan terbangun melihat pemandangan yang mengundang syahwat di depan matanya. Perlahan ia mulai mendekati istrinya.


"Sayang, apakah kamu sudah siap?" bisiknya di telinga Cindy, membuat bulu kuduknya berdiri.


"Iya, tolong lakukan pelan-pelan ya," ucap Cindy tersipu malu.


"Iya, Sayang," jawab Bima.


Bima mengusap wajah Cindy dengan lembut, ia mengendus rambut Cindy yang begitu wangi. Di ciuminya wajah istrinya perlahan lalu di lum*tnya bibirnya dengan lembut sembari tangannya menjelajah bebas di perut ramping istrinya.


Cindy terlihat menikmati perlakuan suaminya, tubuhnya mulai meliuk merasakan sentuh*n demi sentuh*n yang ia berikan. Puas dengan bibir istrinya ia mulai menjelajahi leher jenjang istrinya sembari merem*s gunung kemb*r yang kenyal itu. Desah*n Cindy membuat Bima semakin bern*fsu.


Cindy mulai berani melingkarkan tangannya di leher suaminya, mereka berci*man hingga terengah engah. Des*han Cindy semakin keras saat Bima mulai mengh*sap kedua bukit kembarnya.


"Akh... ehm..." hanya itu yang terdengar dari keduanya.


Bima mulai mer*ba bagian paling sensitif istrinya yang terasa telah basah. Awalnya Cindy tidak mau membuka kedua p*hanya, namun r*ngsangan dari suaminya membuatnya semakin pasrah. Keduanya kini sudah tel*nj*ng bulat. Gesekan demi gesekan permukaan kulit membuat syahwat mereka semakin membara.


Bima mulai mem*s*kkan s*nj*ta miliknya, bibir mereka saling berpagutan, tangannya masih betah meremas bukit Cindy.


"Akh..." pekik Cindy tatkala suaminya benar-benar berhasil mem*s*ki tubuhnya.


Plak... plak... plak...

__ADS_1


Suaranya terdengar merdu bagi kedua insan yang sedang di mabuk cinta. Akhirnya malam pertama yang sempat tertunda bisa mereka nikmati dengan sempurna.


__ADS_2