
"Halo ma, gadis itu menolak uang pemberian ku! Dia pergi begitu saja, dia gadis yang keras kepala." kata Pak Danuarta bercerita kepada istrinya di ponsel.
"Apa Mama yang coba bicara dengannya, mungkin sesama wanita bisa saling mengerti," tambahnya.
"Ya baiklah, coba Mama pikirkan dulu rencananya agar gadis itu tidak bisa menolak! Apa Papa memiliki nomer ponsel gadis itu, bukankah Papa bilang Juan membelikannya ponsel," tanya istrinya.
"Nanti aku tanyakan suruhanku, Ma," kata pria itu.
"Ok, nanti sms saja. Mama sedang menyetir ini," jawabnya.
"Ok, Mama jangan ngebut-ngebut loh," kata Pak Danuarta penuh perhatian.
"Iya honey, jangan sampai telat makan nanti maagnya kumat loh," kata istrinya tak mau kalah.
"Iya Sayang ku, sampai ketemu nanti," kata Sang Suami sebelum mengakhiri teleponnya.
***
"Juan teman kak Cindy sedang ada acara di kampusnya, dia mengundang Kita semua datang malam minggu nanti," kata Clara setelah kesalahpahaman tadi terselaikan.
"Apa dia kekasih kakak mu?" tanya Juan menyelidik.
"Sepertinya belum, tapi aku bisa melihat kalau kak Bima itu menyukai kakak ku," jelas Clara penuh kegembiraan.
"Kamu begitu peka terhadap orang lain, tapi kenapa dulu tidak peka dengan perasaanku," kata Juan dengan wajah dibuat cemberut.
"Maaf, aku hanya sadar diri. Aku terlalu takut berharap," jawab Clara lirih.
__ADS_1
"Sayang aku hanya bercanda, kita berangkat bersama-sama saja nanti ke acara Bima itu ya," kata Juan membuat Clara gembira.
"Ah benarkah, kak Cindy pasti senang," katanya dengan mata berbinar.
"Yaudah aku pergi dulu ya, nanti malam aku jemput. Janji ya Sayang, jangan menghilang seperti tadi lagi," ucap Juan dengan serius, menatap lurus ke dalam netra Clara.
"Ya, maafkan aku," jawab Clara, dengan memegang kedua telinganya. Juan gemas di buatnya.
Ia menatap kepergian pria itu dengan senyum tersungging. Lambaian mesra tak lupa ia berikan, melepas kepergian Sang kekasih. Dalam hati ia berdoa agar semua kebahagiaan ini menjadi nyata.
***
Bruk... terdengar pintu di buka kasar. Juan melebarkan pandangan keseluruh penjuru ruangan, tidak ada yang dia cari. Ternyata Pak Danuarta sedang meeting.
"Katakan pada Papa aku berada di ruangannya!" perintah Juan kepada sekretaris ayahnya.
Juan memandang tajam wanita itu, dia tidak ingin dibantah. Wanita itu lari terbirit-birit melihat tatapan tuannya. Segera ia sampaikan kepada Pak Danuarta yang sedang meeting. Juan memang terkenal dingin dan cuek dikalangan mereka, Pak Danuarta lebih di anggap manusiawi karena masih bisa tersenyum kepada orang lain. Sebenarnya Ayah Juan memang bukan orang jahat, hanya saja dia memang tidak suka anaknya bersanding dengan gadis yang bukan dari kalangan yang sama.
"Ada apa Juan? Tidak biasanya kamu mengunjungi ku disini?" tanyanya saat melihat Juan di ruangannya.
"Apa tidak boleh aku berkunjung, Pa?" tanya Juan, dingin.
"Pasti ada yang penting, biasanya kamu tidak pernah peduli dengan ku, bahkan dengan mamamu sekalipun." katanya membuat Juan jengah.
"Jangan mengada-ngada, aku sudah sendiri bahkan saat aku masih kecil! Kalian hanya sibuk dengan pekerjaan dan hal-hal yang menyangkut uang saja!" tegas Juan.
Sedari kecil keluarga Juan memang sangat kaya, karena mereka adalah pekerja keras. Mereka adalah pebisnis yang ulet. Segala macam peluang bisnis selalu mereka coba, walaupun diantaranya ada yang gagal. Mulai bisnis dibidang kuliner, properti, saham, wisata, travel bahkan SDM (Sumber Daya Manusia) telah mereka lakoni. Namun di balik harta yang melimpah ada sesosok anak manusia yang merindukan mereka, haus kasih sayang. Hanya pengasuh dan para pekerja di rumah yang di anggapnya benar-benar mencintainya. Pasalnya mereka benar-benar merawat Juan kecil dengan penuh kasih sayang, walau Juan sadar mereka mendapat upah untuk menjaganya. Namun ia tidak peduli, yang ia tahu hanya mereka yang ada setiap saat untuknya.
__ADS_1
Juan segera menepis bayangan masa kecilnya itu, luka yang tak pernah kering baginya. Ia tidak ingin anak-anaknya kelak mengalami apa yang pernah ia rasakan. Kemunculan Clara yang begitu keibuan menurutnya, membuatnya ingin segera melepas masa lajangnya.
"Kamu selalu mengungkit masalah itu, kita begitu memangnya untuk siapa? hanya untuk kebahagianmu, agar dapat memberikan apa saja yang kamu inginkan." kata ayah Juan tak kalah tegas.
"Memang Papa dan Mama tahu yang aku inginkan? bertanya padaku saja tidak pernah, bagaimana kalian akan tahu?" tanya Juan mulai berteriak.
"Aku tidak butuh uang kalian, tidak butuh harta kalian! Aku hanya ingin hidup seperti orang lain... dibuatkan bekal oleh Mama, diantar sekolah oleh Papa, dan hal- hal lainnya yang menurutku sangat indah. Tapi...." katanya lagi, netranya mulai memerah menahan rasa sakit yang telah lama mengisi relung hatinya yang hampa.
Pria setengah baya itu menghela napas dalam, hatinya bergetar mendengar penuturan putra semata wayangnya. Ia tak pernah menyangka Juan sangat membencinya, padahal dia merasa harusnya putranya bangga dengan pencapaiannya selama ini. Ia tak merasa ada yang salah dengan caranya. Menurutnya Juan terlalu mendramatisir keadaan saja.
"Sudahlah... Apa tujuanmu kesini hanya untuk menyalahkanku atas masa lalu?" tanya Pak Danuarta berusaha tidak terbawa arus. Dia tidak ingin bertengkar dengan putranya.
"Apa yang Papa lakukan kepada Clara? kenapa Papa bertemu dengannya?" tanya Juan tanpa basa basi lagi.
"Oh, gadis itu mengadu rupanya," jawabnya.
"Dia tidak berkata apa-apa, hanya berkata David mengantarnya bertemu denganmu." jelas Juan kepada ayahnya.
"Tapi aku tahu dari wajahnya bahwa dia tidak baik-baik saja, apa yang Papa katakan?" tanya Juan.
"Aku menyuruhnya meninggalkanmu. Dia terlalu muda dan hanya gadis miskin! Dia tidak pantas untuk putra dari seorang Danuarta Hartono!" tegas ayah Juan terus terang.
"Lalu wanita seperti apa yang menurut Papa pantas untuk ku? Yang kaya raya, punya banyak bisnis? Punya banyak acara sampai-sampai tak pernah pulang kerumah, begitu?" tanya Juan sinis.
"Jangan samakan kriteriaku mencari seorang istri denganmu Pa! Kita berbeda, jadi jangan pernah campuri urusanku dengan Clara lagi! Jika Papa lakukan lagi, berarti Papa harus bersiap kehilangan aku." ucap Juan dengan sangat serius. Ia berlalu dengan membanting pintu.
"Ahk... kurang aj*ar." umpat Pak Danuarta.
__ADS_1
Klotak... klotak.. Terdengar suara benda berjatuhan dari meja Pak Danuarta. Dia kesal bukan main, kini ruangannya telah berantakan dibuatnya. Juan memiliki sifat keras kepala sepertinya, jadi ia tahu Juan tidak main-main dengan kata-katanya tadi. Sudah sekian lama mereka tidak berbincang lama, saat ini malah ada kejadian begini. Bisa di pastikan hubungan mereka akan kian memburuk. Satu-satunya harapannya adalalah istrinya, ia harus berhasil membuat gadis miskin itu pergi jika tidak ingin kehilangan putranya. Putra yang raganya selalu dekat, namun hatinya selalu jauh darinya.