
Keesokan paginya seperti biasa Clara terbangun karena suara alarm di ponselnya. Ia melihat kakaknya masih tertidur dengan lelap. Setelah menjalankan ibadah wajib ia mencoba membangunkan Cindy untuk shalat, namun Cindy tidak juga bangun. Clara membiarkannya kemudian menjalankan rutinitasnya memasak dan beres-beres apartemen.
Ia cemas setelah selesai mengerjakan semua kakaknya belum juga bangun, ia pegang kening kakaknya ternyata memang hangat, sepertinya dia sakit.
"Kak, Kakak bangun. Badan Kakak hangat, ayo sarapan dulu terus minum obat agar cepat sembuh," ucap Clara perhatian.
Tapi kakaknya tetap diam, Clara bingung harus berbuat apa. Dia memutuskan untuk mandi dan bersiap-siap ke kantor.
"Kak, tolong bangunlah. Kenapa Kakak seperti ini, apa marah padaku? Apa aku punya salah? Kakak kemarin kemana kok tidak pulang-pulang?" tanya Clara beruntun.
"Pergilah, Clara. Tolong tinggalkan aku sendiri, bukankah kamu akan berangkat bekerja," ucap Cindy lirih.
"Baiklah jika Kakak tidak ingin cerita sekarang, tapi tolong nanti Kakak harus makan dan minum obat ya. Aku pergi kerja dulu, nanti aku izinin ke HRD," ucap Clara kemudian berlalu.
Cindy termenung duduk di tepi ranjang, ia bingung harus berkata jujur kepada Clara atau lebih baik ia simpan sendiri masalah ini. Rasanya ia belum siap untuk bertemu siapapun, ia menganggap dirinya sudah hina dan tidak pantas bertemu orang lain.
***
Seminggu telah berlalu, Cindy masih sangat terpukul dengan nasibnya. Ia masih saja bungkam dan tidak ingin bercerita kepada siapapun. Clara sebenarnya curiga dengan sikap kakaknya yang tiba-tiba berubah pendiam bahkan nyaris tak mengajaknya bicara.
Bahkan sudah seminggu dia tidak masuk kantor dan terancam terkena SP1 karena manajer pengganti Andre sekarang lebih tegas. Dia seorang wanita seumuran Andre dan masih ada hubungan kekerabatan, dia di tugaskan Ayah Andre menggantikan posisi putranya di sana selama Andre di Sidney.
"Jadi Cindy itu kakakmu?" tanya Sandra ketus.
"Benar, Bu," jawab Clara.
"Sakit apa dia sampai seminggu tidak masuk kerja? Mana surat dokternya, hasil lab dan lainnya?" tanyanya lagi.
__ADS_1
Clara bingung di tanya begitu, pasalnya kakaknya tidak pernah mau ke dokter, keadaannya juga sebenarnya baik-baik saja. Namun entah kenapa Cindy tak mau ke kantor bahkan walaupun sudah di beri tahu bisa terkena teguran, ia tetap saja acuh. Clara diam tidak menjawab Sandra karena bingung.
"Tolong katakan pada kakakmu kalau kerja itu yang profesional, jangan seenaknya sendiri. Seminggu aku pegang perusahaan ini, belum pernah satu kali pun aku lihat batang hidungnya di kantor ini," ucap Sandra tegas.
"Aku tidak peduli dia pernah ada hubungan dengan Andre, yang jelas sekarang dia bukan siapa-siapa. Jangan keterlaluan jadi orang, sudah di beri kesempatan masih bisa bekerja di sini malah ngelunjak," umpatnya lagi.
"Maaf, Bu. Saya mewakili kakak saya mohon maaf sebesar-besarnya, nanti saya nasehati dia bu," balas Clara.
"Sudahlah, kalau sampai besok aku masih tidak melihatnya di kantor ini, suruh dia jangan pernah datang lagi. Sisa gajinya akan aku titipkan padamu," ucap Sandra serius.
Sandra merupakan sepupu Andre yang di tugaskan menggantikannya sementara. Sebenarnya dia baik, dia cukup dekat dengan Andre karena mereka menghabiskan masa kecil bersama. Sandra sebenarnya menaruh hati pada sepupunya bahkan pernah terang-terangan menyatakan cinta padanya, namun Andre menolaknya dengan alasan sudah terlanjur menganggapnya seperti adik kandung. Dia sangat geram kepada Cindy karena tega membuat Andre sakit hati, di tambah cara bekerja gadis itu yang tidak profesional membuatnya semakin tidak respect.
***
Sepulang kantor Clara memutuskan untuk berbicara serius dengan Cindy. Dia sudah tidak pernah keluar rumah, bahkan menolak bertemu Bima namun tidak mau bercerita tentang apa yang terjadi. Sekarang di tambah keputusan dari Bosnya itu, entah bagaimana nanti kakaknya nanti.
Sebelum pulang Clara mengajak Juan bertemu di kafe lantai bawah apartemen, ia bermaksud meminta saran kepada kekasihnya itu mengenai masalah Cindy.
"Kenapa jadi rumit begini ya, coba kamu tanya Cindy lagi, bujuk dia agar mau bercerita. Mungkin masalahnya berat, yakinkan dia jika kamu akan selalu ada untuknya apapun yang akan terjadi," ucap Juan memberi saran.
"Baiklah, nanti aku coba lagi," balas Clara.
"Sandra itu pernah menyukai Andre, semoga dia bisa bijak dalam mengambil keputusan dan tidak mencampur adukkan antara masalah pribadi dengan pekerjaan," jelas Andre.
"Oh, pantas saja dia terlihat marah sekali kepada kakak. Mungkin dia sudah tahu kakak pernah menyakiti Pak Andre," ucap Clara.
"Dia tahu semua yang berhubungan dengan Andre," jelas Juan.
__ADS_1
"Ya sudah aku pulang dulu, aku harus segera membujuk kakak. Hati-hati di jalan ya, Sayang," pamit Clara.
Clara segera naik ke atas untuk menemui Cindy. Ketika dia datang Cindy tengah menonton tv. Clara bergegas membersihkan diri dan segera bergabung dengan Cindy.
"Kak, sampai kapan Kakak akan terus begini? Apa Kakak tidak percaya padaku sehingga tidak mau berbagi denganku? Apa Kakak tidak menganggapku sebagai adik lagi?" tanya Clara sedih.
Ia menatap lekat kakaknya yang masih membisu, ia semakin sedih dengan perlakuan Cindy.
"Jika tidak demi aku, tolong ingat Ibu dan Bapak di kampung Kak. Karena sikap Kakak, Kakak terancam di pecat dari kantor. Kakak jadi tidak peduli dengan apapun, sejak waktu itu. Kakak bukan hanya merusak hidup Kakak, tapi juga mengecewakan semua orang yang menyayangi Kakak," ucap Clara mulai terisak.
Cindy tetap diam, namun netranya mulai berkaca-kaca. Tampaknya Clara sedikit bisa mempengaruhi perasaannya.
"Apa Kakak tidak ingat dengan harapan kita bertiga datang ke Kota ini, kita punya banyak harapan indah di sini. Sudah sejauh ini kita melangkah, tolong jangan pernah menyerah oleh keadaan," ucap Clara sambil memegang tangan Cindy.
Cindy mulai terisak, ia mengingat kali pertama datang ke kota ini, saat-saat indah yang mereka lalui bersama, bayangan orang tuanya, Andre, dan semua orang yang menyayanginya tergambar jelas dalam ingatannya. Tangisnya semakin keras tatkala mengingat kejadian itu bersama Bima, tiba-tiba ia berteriak histeris membuat Clara panik.
"Kak tenang, tolong tenang Kak," ucap Clara sambik memeluk Cindy erat.
"Maafkan aku, Clara. Aku sudah mengecewakan kalian semua. Aku sudah tidak seperti dulu, aku kotor. Aku benci pria itu, aku sudah tidak sanggup lagi," teriak Cindy
"Maksud Kakak apa? Aku tidak mengerti?" tanya Clara bingung.
"Kakak tenang dulu, baru cerita pelan-pelan. Aku janji akan selalu mendukung apapun yang terjadi," kata Clara meyakinkan Cindy.
Setelah Cindy mulai tenang dan berhenti menangis, ia perlahan bercerita.
"Aku sudah tidak suci lagi, Clara. Bima telah merenggut hal yang paling aku jaga selama ini. Dia benar-benar tega padaku, aku bencia dia. Harapanku telah hancur, Clara," jelasnya lirih, air matanya mulai mengalir deras lagi.
__ADS_1
Clara sangat shock mendengar cerita Cindy, ia tidak bisa membayangkan betapa sakit hati kakaknya. Tangisnya tidak bisa di bendung lagi, ia peluk kakaknya dengan erat, menangis bersama-sama meluapkan rasa sakit di hati mereka.