Menggapai Harapan

Menggapai Harapan
Bab 120 Kado Mengerikan


__ADS_3

Keesokan harinya adalah waktu untuk mereka kembali pulang. Karena jadwal penerbangan mereka masih pukul 12.00 mereka menyempatkan untuk berjalan-jalan di sekitar hotel sambil membeli buah tangan untuk teman dan sanak saudara. Setelah puas berbelanja mereka kembali ke hotel. Pukul 10.30 mereka menuju bandara Ngurah Rai, mereka makan siang sembari menunggu pesawat lepas landas.


Clara tertidur di bahu Juan selama di atas pesawat, tampaknya ia kelelahan. Juan mengelus pipi istrinya dengan lembut, ia begitu menyayangi gadis itu. Hari-harinya penuh kebahagiaan semenjak bersamanya, walaupun terkadang bayangan ibunya muncul dalam angannya, namun sifat keras ayahnya telah membuat jarak di antara mereka.


Pukul 14.30 mereka telah tiba di apartemen. Setelah membersihkan diri dan apartemen mereka lanjut beribadah. Setelah semua selesai mereka bersantai menonton film, Juan tidur di pangkuan sang istri.


"Sayang, kamu pasti bahagia ya bisa tidur di pangkuan ibu mu?" tanya Juan.


"Tentu saja, waktu dulu aku sekolah selalu tidur siang di pangkuan ibu bersama kakak. Ibu duduk menjahit pakaian yang sobek, kita tidur di pangkuannya. Angin sepoi-sepoi dan rasa lelah setelah sekolah membuat kita mengantuk, apalagi jika ibu mengusap-usap rambut kami pasti cepat terlelap," jelas Clara.


"Aku tidak pernah merasakannya," ucap Juan.


"Kebahagiaan seseorang beda-beda Sayang, tidak perlu membandingkan dengan hidup orang lain. Cukup kita bersyukur, insyaallah selalu bahagia," balas Clara.


"Kenapa kamu dewasa sekali, padahal usia mu selisih jauh dengan ku? Mengapa kamu selalu bisa menerima apapun yang terjadi di dalam hidup mu, sepahit apapun itu? Mengapa kamu tidak pernah mengeluh, Sayang?" tanya Juan bertubi.


"Keadaan yang membuat ku menjadi lebih dewasa. Jika kita menolak takdir Allah apa akan membuatnya berubah? Tentu tidak bukan, berusahalah untuk membuat takdir itu berubah karena Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum jika mereka tidak mengubahnya sendiri. Aku selalu mengeluh jika merasa tidak sanggup, tapi aku akan mengeluh kepada Allah," jawab Clara.


"Jika mengeluh kepada manusia belum tentu kita mendapat solusi, bisa jadi justru hinaan atau doa buruk jika orang tersebut ternyata tidak menyukai kita. Setiap ada masalah jangan pernah berhenti berusaha dan berdoa selebihnya biarkan Allah yang menangani," imbuh Clara.


Juan terpana mendengar kata-kata istrinya yang menurutnya sangat benar dan begitu dalam maknanya. Selama ini ia memang hampir tidak pernah mengobrol dengan topik berat semacam ini, ia baru sadar istrinya benar-benar bijaksana. Dia benar-benar istri idaman Juan, Clara baginya sangat komplit dan fleksibel. Hampir tidak ada yang Clara tidak bisa selama bersamanya.


"Aku semakin mencintai mu Sayang, aku sangat berterima kasih orang tua mu telah melahirkan gadis yang nyaris sempurna untuk ku. Jangan pernah meninggalkan aku ya," ucap Juan serius.


"Mana mungkin aku meninggalkan orang yang sangat aku cintai," balas Clara.


Saat tengah asyik mengobrol ada ketukan dari luar pintu. Juan segera membukanya.


"Permisi Pak, ada paket. Tolong tanda tangan di sini," ucap kurir paket.

__ADS_1


"Ok, terima kasih" Juan segera tanda tangan.


Juan membawa paket itu ke dalam, ia melihat nama pengirim tapi tidak ada. Namun ada tulisan: Selamat Menempuh Hidup Baru Juan dan Clara.


"Siapa, Sayang?" tanya Clara.


"Kurir yang mengantar paket ini," Juan menunjuk paket yang ia bawa.


"Kado dari siapa itu?"


"Entahlah tidak ada pengirim, tapi ada ucapan selamat buat kita,"


"Hati-hati, aku masih trauma dengan kejadian yang menimpa kak Cindy dulu,"


"Kalau begitu apa lebih baik kita buang saja?"


"Sebaiknya di buka, tapi jangan dekat-dekat," Clara memberi saran, karena takut memang kado dari kenalan mereka.


"Berani sekali, ulah siapa ini?" tanya Juan geram.


"Kenapa? Apa isinya?" tanya Clara penasaran.


Juan mendekat dan menunjukkan kepada Clara. Ada kue tart pengantin dengan foto Clara dan Juan yang berumuran darah, foto mereka di sobek jadi dua bagian.


"Astaga, apa maksud semua ini?" tanya Clara terkejut.


"Yang tidak menyukai hubungan kita selama ini hanya ayah ku, pasti ini ulahnya," ucap Juan kesal.


"Tidak boleh menuduh begitu Sayang," balas Clara.

__ADS_1


"Kenapa kamu masih membelanya, sedangkan dia tidak menyukai mu. Jangan terlalu baik kepada orang Sayang, mereka bisa memanfaatkan mu," ucap Juan yang merasa istrinya terlalu naif.


"Aku tahu kamu hanya ingin menjaga hubungan antara ayah dan anak, agar tidak semakin memburuk. Dia menghina mu tapi kamu hanya diam tidak membalas, semua itu kamu lakukan demi kita. Tapi ayah ku tidak akan pernah mau tahu, karena apapun yang kamu lakukan akan tetap dipandang salah di matanya," imbuh Juan.


Clara mulai menangis, ia tidak menyangka selama ini Juan mengetahui semuanya. Juan segera memeluk istrinya untuk menenangkannya.


"Aku tidak apa-apa Sayang, sungguh aku baik-baik saja," Clara masih terisak walau berusaha tersenyum.


"Menangislah jika itu membuat semua beban mu lepas, aku tidak akan pernah membiarkan siapapun lagi menghina mu walau ayah ku sendiri," ucap Juan.


Clara makin menenggelamkan wajahnya ke dalam dada bidang suaminya, ia merasa tenang dengan keberadaan Juan di sampingnya.


"Tolong jangan bertengkar hanya karena ini, selama ayah mu tidak menyakiti aku berjanjilah kalian tidak akan bertengkar," pinta Clara.


"Tapi Sayang..." Juan berusaha menolak namun telunjuk gadis itu telah berada di bibirnya.


"Jangan memperpanjang masalah ini, jangan merusak masa-masa indah ini dengan marah-marah ya," Clara mulai beraksi agar Juan melupakan amarahnya.


Dia mulai mencium bibir suaminya dengan lembut, namun Juan melepaskannya.


"Jangan coba membujuk ku dengan cara ini, aku tidak akan tergoda," ucap Juan acuh tak acuh.


"Yakin tidak akan tergoda?" tanya Clara dengan pose menggoda.


Juan bergeming dan hanya menatap istrinya penuh arti. Clara segera duduk di pangkuan suaminya, ia lingkaran tangan di leher suaminya. Ia mulai membuka pakaian Juan dan pakaiannya sendiri. Ia segera menciumi seluruh wajah Juan dan berhenti di bibirnya. Awalnya dia tidak mau membalas, namun gerakan Clara yang semakin agresif membuatnya tidak tahan. Apalagi mendengar ******* lembut istrinya semakin membuat libidonya naik.


"Katanya yakin tidak akan tergoda, tapi kok terasa ada yang membesar ya," ledek Clara.


"Bagaimana tidak tergoda jika bidadari yang menggodanya agresif sekali seperti ini," jawab Juan.

__ADS_1


Ia segera menciumi bibir Clara dengan sedikit brutal membuat bibirnya seperti di suntik silikon. Puas dengan itu Juan beralih ke leher istrinya, lalu beralih lagi menciumi gunung kembar Clara. Banyak hasil karya yang ia tinggalkan di sana. Juan bangga melihat hasil karyanya di tubuh istrinya. Jangan tanya lagi apa yang selanjutnya terjadi. Mereka bergumul sepanjang malam. menghabiskan hari libur terakhir sebelum besok mulai bekerja kembali.


__ADS_2