Menggapai Harapan

Menggapai Harapan
Bab 69 Clara Cemas, Cindy Tidak Pulang


__ADS_3

Clara telah sampai di apartemen, namun ia tak meihat kehadiran kakaknya. Ia langsung menghubungi ponsel Cindy, namun ternyata tidak aktif. Ia sangat cemas karena ini sudah malam, ia heran kakaknya belum datang padahal sore tadi Cindy sempat sms dan mengatakan sedang dalam perjalanan pulang. Ia lantas turun ke bawah untuk bertanya kepada satpam, ternyata satpam mengatakan Cindy sudah pergi dari sekitar jam 10-11 an tadi dan belum kembali.


Tepat pukul 8 malam Clara makin gelisah, tidak biasanya kakaknya pergi tanpa kabar seperti ini. Ia mencoba menghubunginya kembali namun ponselnya tetap tidak aktif. Ia memutuskan untuk menghubungi kekasihnya, ia tahu pria itu pasti lelah namun untuk saat ini hanya dia yang bisa ia mintai tolong karena Jhony sedang menjenguk ibunya di kampung.


"Assalamualaim, Juan," sapanya setelah panggilannya di angkat.


"Waalaikum salam, ada apa Sayang? Kenapa kamu tidak istirahat, kamu pasti lelah kan setelah seharian kita pergi?" tanya Juan.


"Kak Cindy belum kembali juga, padahal ini sudah jam 8 malam. Tadi sore ia mengirim sms padaku katanya sedang dalam perjalanan pulang, tapi sampai sekarang ia belum datang," jelas Clara.


"Memangnya dia kemana, Sayang?" tanya Juan.


"Tadi pagi sih dia berkata Bima akan mengajaknya jalan, tapi tidak tahu kemana. Aku kuatir sekali, tidak biasanya dia pergi lama seperti ini. Sudah aku coba telepon berkali-kali tapi ponselnya tidak aktif," ucap Clara panik.


"Sabar, Sayang jangan panik. Tunggu sampai jam 9 malam, jika ia belum kembali juga kita pergi mencarinya ya, kamu terus kabari aku ya," balas Juan.


"Maaf ya aku merepotkanmu, harusnya kamu sudah bisa beristirahat. Tapi aku bingung mau minta bantuin kepada siapa lagi selain padamu, Sayang," ucap Clara tak enak hati.


"Kamu bilang apa sih, Cindy itu calon kakak ipar aku jadi semestinya aku juga ikut melindungi. Kamu sabar dulu, aku mau membersihkan badan dulu ya, assalamualaikum," balas Juan.


"Terima kasih, Sayang. Waalaikum salam," jawab Clara.

__ADS_1


Clara menghubungi Cindy kembali namun ternyata ponselnya masih belum aktif juga. Clara mencoba berpikir positif untuk menenangkan perasaannya.


***


Sementara di hotel Cindy tampak mulai sadar, dia membuka mata perlahan. Ia lupa dengan apa yang terjadi tadi, hanya saja seluruh tubuhnya terasa sakit, apalagi di **** ************* terasa nyeri sekali. Ia membelalak tatkala sadar tubuhnya telanjang hanya di balut selimut putih, ia menutup mulutnya agar tidak membangunkan pria di sampingnya.


Air mata segera membanjiri pipinya, ia tidak tahu mengapa bisa terjadi seperti ini. Ia menyingkap selimut dan segera mengambil pakaiannya yang berceceran di lantai dan kasur. Ia terpana melihat noda darah di seprei, ia tersadar keperawanannya telah di rampas Bima. Dengan sisa-sisa tenanganya ia berusaha turun ke kamar mandi membersihkan diri dan memakai pakaiannya kembali.


Cindy masih terus menangis, ia tidak menyangka Bima tega berbuat sekejam ini padanya. Entah apa yang akan di lakukan orang tuanya jika mereka sampai tahu hal ini, apa yang harus ia katakan pada Clara yang saat ini pasti sangat mengkuatirkan dirinya.


Cindy heran dengan sikapnya yang mau di ajak begituan oleh Bima, dia seperti tak sadar karena tiba-tiba badannya merasakan panas yang luar biasa dan setelahnya libidonya naik. Tentu saja ia tidak tahu jika Bima sudah memasukkan obat perangsang ke dalam minumannya.


Setelah memakai pakaian lengkap ia keluar mengambil tasnya, ia bergegas pergi meninggalkan Bima yang masih tertidur pulas. Mungkin ia kelelahan setelah melakukan pertempuran tadi. Cindy menatap benci kepada pria itu sebelum pergi meninggalkannya.


"Neng, kenapa nangis? Ada yang bisa saya bantu, Neng?" tanya sopir taksi ramah.


"Tidak apa-apa, saya hanya sedih saya, Pak," jawab Cindy di sela isak tangisnya.


"Lihat Neng, Bapak jadi ingat anak gadis bapak. Yang sabar ya, jika ada masalah selesaikan baik-baik, jangan sampai mengambil jalan pintas ya, Neng," ucap sopir taksi.


Cindy menatap sopir taksi itu, melihat usianya yang sepantaran bapaknya di kampung semakin membuat tangisannya pecah. Ia merasa sangat bersalah kepada keluarganya terutama kedua orang tuanya. Pak sopir yang tidak tega melihat Cindy menangis segera menepikan taksinya untuk menenangkannya.

__ADS_1


***


Sementara Clara dan Juan mulai mencari Cindy dengan mendatangi kediaman Bima. Orang tua Bima sangat terkejut melihat mereka, apalagi setelah menceritakan keberadaan Cindy yang tak kunjung pulang. Karena mereka mengatakan tidak tahu keberadaan putranya dan juga Cindy, mereka memutuskan untuk berkeliling mencari mereka sendiri. Orang tua Bima berjanji akan memberi kabar jika melihat mereka, Clara segera memberikan nomor ponselnya.


"Sayang, ini sudah jam 10 malam. Aku sangat kuatir sekali, sebenarnya kakak kemana," ucapnya mulai terisak.


Clara tidak dapat membendung kesedihannya lagi, ia menangis dalam pelukan kekasihnya. Mereka melanjutkan pencarian berkeliling tempat di Surabaya yang biasa Cindy kunjungi namun hasilnya nihil. Karena mereka juga sangat lelah, mereka memutuskan pulang saat hampir tengah malam. Besok mereka akan melakukan pencarian lagi jika Cindy belum kembali.


Juan menghibur Clara yang masih enggan turun dari mobilnya, padahal ia tahu kekasihnya itu sangat lelah.


"Sayang kamu harus istirahat, besok kita akan mencari lagi kalau perlu kita lapor polisi. Jika kamu sampai sakit bagaimana kita akan mencari Cindy," ucap Juan bijaksana.


"Baiklah, aku akan istirahat," kata Clara lalu turun dari mobil.


Juan tidak pergi dari sana sampai memastikan kekasihnya benar-benar masuk ke dalam apartemennya. Setelah yakin barulah ia beranjak pulang ke rumahnya.


Clara melangkah dengan malas, dia sedang memikirkan keadaan kakaknya. Dia di mana? Apakah baik-baik saja? Kenapa tidak memberi kabar? Semua pertanyaan menggema dalam kepalanya membuatnya tiba-tiba pusing. Ia mempercepat langkahnya karena takut tak bisa menahan sakit kepalanya dan justru pingsan di tengah jalan.


Ia bergegas membuka pintu kamar dan menjatuhkan diri di sofa ruang tamu. Beberapa saat ia beristirahat, setelah pusingnya agak reda ia minum segelas air putih. Karena merasa sangat lelah ia bergegas untuk tidur. Namun saat akan naik kasur ia melonjak kaget, ia melihat seseorang tidur di kasurnya. Dia mendekat perlahan untuk memastikan.


"Kakak? Kapan dia pulang?" tanya Clara terkejut melihat kakaknya tengah tidur.

__ADS_1


Clara tidak membangunkan Cindy, ia berpikir mungkin ia lelah, biarlah besok saja dia akan bertanya. Sebelum memutuskan tidur ia mengirim sms kepada kekasihnya, ia memberi tahu bahwa kakaknya ternyata sudah kembali dan tengah tidur di sampingnya. Menit kemudian Clara telah tertidur nyenyak karena kelelahan.


Cindy menatap Clara sambil menangis tertahan, iya sebenarnya hanya pura-pura tidur untuk menghindar dari pertanyaan adiknya. Bagaimana ia bisa tertidur setelah apa yang terjadi, ia benar-benar merasa kotor, jijik dengan dirinya sendiri. Ia meringkuk di dekat sofa ruang tamu, ia menangis semalaman sampai kelelahan dan tidur dengan sendirinya.


__ADS_2