
Dua hari kemudian.
"Assalamuaikum, ada apa sayang?" tanya Clara
"Waalaikum salam. Aku lupa memberi tahu, nanti malam ada pertunangan teman bisnis aku. Aku ingin kamu ikut, kamu mau kan?" tanya Juan.
"Hmm, apa tidak apa-apa aku ikut? Takutnya aku mengganggu." tanya Clara.
"Tentu saja tidak apa-apa, justru aku senang kalau kamu mau ikut. Selama ini kamu tidak pernah mau aku ajak ke acara apapun, padahal aku selalu berharap kamu bisa mendampingi aku kemana pun, Sayang," jawab Juan lembut.
"Aku bukan tidak mau, hanya saja aku takut kamu malu dengan adanya aku," ucap Clara jujur.
"Ya Allah Sayang, orang tua ku saja aku tidak ambil pusing, apalagi hanya orang lain aku tidak peduli mereka akan mengatakan apa. Kamu itu bagaikan nafas ku, jika kamu pergi aku pun akan mati," kata Juan serius.
"Juan... jangan berkata tentang kematian. Aku akan ikut dengan mu nanti," putus Clara.
"Terima kasih, Sayang. Jam 7 malam aku jemput ya. Oh ya Andre sudah mengajak Cindy belum?" tanya Juan.
"Sepertinya belum," jawab Clara.
"Kira-kira Cindy mau tidak ya kalau Andre mengajaknya ke pesta pertunangan teman bisnis?" tanya Juan.
"Sepertinya mau, karena kakak kan sudah berjanji akan mulai membuka hati," jawab Clara.
"Semoga deh, ya sudah selamat bekerja. Sampai ketemu nanti ya, Sayang, Assalamualaikum," katanya mengakhiri panggilan.
"Waalaikum salam." jawab Clara.
Clara menghampiri Cindy, tapi Cindy hanya tersenyum. Berarti Andre belum mengajaknya karena dia tidak bercerita apa-apa kepada Clara.
"Cindy, kamu di suruh ke ruangan Pak Andre. Sekarang," kata Bella yang baru saja mengantar laporan ke ruangan Andre.
"Ok, Kak. Terima kasih," jawabnya sopan.
"Permisi, Bapak memanggil saya? Ada yang bisa di bantu, Pak?" tanya Cindy.
"Duduklah, Cindy," perintahnya.
__ADS_1
Cindy segera duduk, menunggu Andre yang masih berkutat dengan gadgetnya. Jantung Cindy berdegup kencang, wajahnya pias menahan malu tatkala Andre menatapnya lekat.
"Cindy, apakah nanti malam kamu ada acara?" tanyanya lembut.
"Tidak ada, Pak. Memangnya ada apa?" tanya Cindy berusaha tenang.
"Nanti malam ada acara pertunangan teman bisnis, Juan mengajak Clara menghadiri pesta itu," kata Andre.
"Maukah kamu mendampingi ku menghadiri acara itu?" tanya Andre.
Cindy terdiam sesaat, ia sedikit ragu untuk memutuskan. Tapi karena Clara juga menghadiri acara tersebut dengan Juan, ia memutuskan menerima ajakan Andre.
"Baiklah, saya bersedia," jawab Cindy seraya tersenyum.
Andre senang Cindy menerima ajakannya, ingin rasanya ia berteriak untuk mengekspresikan kebahagiaannya. Tapi dia harus tetap menjaga wibawanya, ia hanya tersenyum dan mengucapkan terima kasih.
"Terima kasih, nanti aku jemput jam 7 ya," kata Andre.
"Sama-sama, Pak. Saya kembali keruangan saya ya, Pak." ujarnya.
"Ok, Cindy," jawabnya.
"Yes," kata Andre setelah Cindy benar-benar pergi.
***
Setelah shalat magrib kedua bersaudara itu memutuskan untuk segera bersiap-siap.
"Kenapa akhirnya kamu mau di ajak Juan menghadiri acara ini, Clara? Biasanya kamu selalu menolak kan?" tanya Cindy penasaran.
"Sebenarnya aku hanya takut dia di olok-olok temannya jika hadir bersamaku, tapi aku sadar jika ini sudah menjadi pilihanku maka aku harus melewatinya bukan menghindarinya," jawab Clara bijaksana.
"Kamu benar, aku masih sering mengingat Bima. Janji manisnya, kenangan saat bersamanya. Tapi aku sadar tidak bisa terus hidup dalam khayalan, aku harus kuat menghadapi kenyataan. Aku beruntung memiliki orang-orang yang tulus menyayangiku di sekitarku," ucap Cindy.
"Kakak benar, banyak orang berkata jika orang baik pasti akan bertemu dengan orang baik. Makanya kita harus selalu berbuat baik agar di kelilingi orang-orang baik juga," sahut Clara.
"Oh ya besok kita ke kos Jhony ya, sudah lama dia tidak ada kabar. Kamu sms dan telepon juga tidak di jawab," kata Cindy memberi ide.
__ADS_1
"Ide bagus, Kak. Aku juga kuatir dengannya, tidak biasanya dia menghilang tanpa kabar." jawab Clara mengiyakan saran kakaknya.
Setelah selesai bersiap, mereka segera turun. Juan dan Andre telah menunggu mereka di parkiran apartemen. Andre dan Juan sama-sama membukakan pintu mobil untuk wanitanya. Juan lebih dulu berangkat, disusul mobil Andre kemudian.
Sesampainya di sana acara akan segera di mulai, tamu undangan telah banyak yang hadir. Setelah acara sambutan dan doa selesai, lanjut ke acara pertunangan.
"Selamat ya Johan, selamat ya Ana," ucap Juan menyalami rekan bisnisnya.
"Wah Juan, terima kasih sudah datang. Segera menyusul ya," jawabnya sambil melirik ke arah Clara.
"Iya, kita akan segera menyusul. Doakan saja ya," sahut Juan sambil menggandeng tangan Clara.
Clara hanya menatap Juan tajam, lalu tersenyum ke arah Johan dan Ana.
"Hei Andre, akhirnya setelah sekian tahun bisa membuka hati juga ya," kata Johan menatap Andre dan Cindy.
"Apaan sih, doain saja semoga cepat menyusul ya. Oh ya selamat ya, di tunggu undangan pernikahannya," sahut Andre.
"Terima kasih ya, pasti aku doain. Kamu dan Juan itu sudah pantas menikah, jadi cepatlah mengakhiri masa lajang," katanya sambil tertawa lebar.
Setelah mengucapkan selamat kepada penggagas pesta mereka pun berbaur dengan para tamu undangan, sedikit berbasa-basi kemudian memisahkan diri sambil memakan hidangan yang tersedia.
"Juan, itu sepertinya Pak David ya yang melihat ke arah kita? Apa dia sudah bebas?" tanya Clara sembari matanya menunjuk ke arah jam 12. Juan segera menoleh, benar saja ia melihat David sedang menatap ke arah mereka.
"Ah biarlah jangan di lihat, yang penting dia tidak mengganggu. Pasti orang tuanya atau papa yang membantunya bebas. Awas saja sampai dia berbuat macam-macam denganmu lagi, akan aku habisi dengan tangan ku sendiri," jawab Juan tegas.
"Sayang, kamu jangan begitu. Aku tidak mau kamu menghabisi siapa-siapa, jangan sampai masa depanmu rusak karena hal kriminal begitu. Berpikirlah panjang sebelum melakukan sesuatu hal, berjanjilah padaku," ucap Clara.
"Hmm, aku berjanji," jawabnya sembari mengusap rambut kekasihnya dengan lembut.
"Clara, ayo kita bertunangan," ajak Juan tiba-tiba.
"Apa?" tanya Clara terkejut.
"Sudah hampir satu tahun kita bersama, aku ingin ke jenjang yang lebih serius. Sebenarnya aku ingin menikahimu tapi aku tahu kamu pasti menolak karena usiamu masih terlalu muda, tapi kalau hanya bertunangan kamu tidak keberatan kan?" tanyanya serius.
Clara menatap dalam pria tampan di depannya, ia mengingat kebersamaan mereka selama hampir satu tahun ini. Tidak pernah sekali pun pria ini menyakitinya, dia selalu ada dalam suka dan duka bersamanya. Melindunginya dengan segenap jiwa raganya.
__ADS_1
"Iya, aku bersedia, Sayang." kata Clara, mantap.
"Alhamdulillah, kita kabari orang tuamu besok. Kita minta pendapatnya kapan baiknya pertunangan kita di laksanakan. Aku juga akan memberi tahu mama dan papa, entah apa tanggapan mereka nanti. Yang pasti kita akan tetap bertunangan," sahut Juan tak dapat menutupi rasa bahagianya.