
Siang itu, di pabrik.
"Cindy bagaimana kabar Clara? Tadi aku mampir kerumah kok tidak ada orang?" tanya David saat bertemu di kantin.
"Alhamdulillah baik. Clara sudah bekerja, Pak," jawab Cindy.
"Oh ya, bekerja di mana?" tanya David semakin penasaran.
"Saya lupa nama perusahaannya. Tapi Pak Juan yang merekomendasikan di kantor temannya, Pak," jawab Clara.
"Oh, terimakasih infonya ya," ucap David.
"Sama-sama, Pak." jawab Cindy, lalu segera bergegas pergi. Ia takut di tanya lebih jauh, takut salah bicara.
"Halo Om Danu, aku mau ngasih kabar nih," kata David mulai menelepon.
"Ada apa lagi kamu? Kamu sama saja dengan Juan." jawab pria itu ketus.
"Sebenarnya aku juga tidak ingin Juan bersama Clara, karena sejujurnya aku sangat menyukai gadis itu." ucap David.
"Kalau memang benar harusnya kamu membantuku memisahkan mereka," kata Pak Danu.
"Sudah aku bilang, aku sudah berusaha namun gagal. Saat ini Clara telah di pindah kerjakan dari sini. Menurut Kakaknya dia dapat rekomendasi Juan untuk bekerja di kantor temannya, kira-kira di mana ya Om?" tanya David lebih lanjut.
"Ah pasti di salah satu perusahaan Andre, dia orang yang paling dekat dengan Juan selama ini. Aku akan coba menghubunginya." jawab Pak Danu, lantas mematikan ponsel. Lalu menekan nomor ponsel Andre.
"Halo, Andre." katanya saat teleponnya dijawab.
"Ya, Om. Ada yang bisa Andre bantu?" tanya Andre sopan.
"Apa benar gadis yang bernama Clara itu bekerja di kantormu?" tanyanya tanpa basa basi.
"Oh kekasih Juan, benar dia bekerja di sini. Memang kenapa ya, Om?" tanya Andre pura-pura tidak tahu.
"Aku tidak akan pernah merestui hubungan mereka! Tolong kamu bantu Om memisahkan mereka ya," pintanya.
"Maaf Om, Andre tidak bisa. Om tahu sendiri Juan sudah aku anggap saudaraku sendiri, mana mungkin aku tega merusak kebahagiannya." kata Andre cukup tegas.
"Dre dia itu gadis kampung, pasti mendekati Juan hanya untuk mengejar hartanya. Apa kamu ingin melihat Juan terluka, gadis itu pasti akan pergi setelah mendapat apa yang dia mau." tutur Pak Danuarta tak kalah sengit.
"Sejauh ini Andre lihat dia wanita baik, Om. Bahkan dia mau bekerja, padahal Juan sudah menyuruhnya di rumah saja. Dia tidak pernah memanfaatkan pemberian Juan." sanggah Andre.
"Ah kamu itu sama saja dengan Juan, tidak bisa berpikir jernih. Percuma aku menghubungimu." katanya langsung menutup telepon.
__ADS_1
Andre menghela napas, dia sepertinya sudah menabuh perang dengan pemilik Infomedia Sejahtera itu. Namun itu sudah konsekuensinya untuk melindungi Juan.
"Clara, ayo kita makan siang. Bella ikut saja kalau mau bergabung." ajak Andre kepada dua wanita yang sedang membereskan meja kerjanya.
"Oh terimakasih Pak, tapi kebetulan hari ini ada janji di luar," kata Bella menolak dengan halus.
"Baiklak, besok tidak boleh menolak loh," kata pria itu lagi.
"Ya, baiklah Bos." jawab Bella. Dia heran mengapa bos nya sekarang menjadi lebih baik.
Sebenarnya Andre tidak ingin ada kesalahpahaman dengan selalu terlihat berdua dengan Clara. Ia takut ada pihak-pihak yang ingin merusak hubungan persahabatan mereka, apalagi Pak Danuarta tidak merestui mereka sejauh ini. Pasti banyak cara yang akan dia lakukan untuk menyulut pertengkaran.
"Clara hari ini aku pilihkan menu untukmu ya, dijamin kamu akan menyukainya." kata Andre sambil melihat menu.
"Baiklah, tapi jangan aneh-aneh ya Pak. Lidah saya lidah orang kampung," jawab Clara terkekeh.
"Justru itu aku ajari kamu, supaya Om Danu tidak selalu menghinamu." kata Andre, membuat Clara mengernyitkan dahinya.
"Pak Andre, tahu?" tanyanya.
"Iya Juan sudah cerita, tapi aku sudah mendengar sendiri dari Om Danu jika dia tidak merestui hubungan kalian. Tadi dia meneleponku." cerita Andre.
"Aku tidak akan pernah meninggalkannya, jika bukan dia sendiri yang memintaku pergi," kata Clara, netranya mulai berkaca-kaca.
"Kamu harus kuat, Clara. Aku akan selalu membantu kalian. Juan pantas mendapatkan kebahagiaan." ucap Andre dengan serius.
"Terimakasih, Pak Andre," ujarnya tulus.
***
"Cindy, aku akan berhenti bekerja. Hari ini merupakan hari terakhirku di sini. Besok aku akan bekerja di tempat lain," cerita Jhony saat makan siang hampir berakhir.
"Kenapa mendadak? Apa tidak bisa menunggu setelah gajian?" tanya Cindy terkejut.
"Tidak bisa. Bosnya menyuruhku bekerja mulai besok. Tadi aku sudah ke Pak David." jawab Jhony.
"Memang kamu bekerja di mana dan sebagai apa Jhon?" tanya Cindy.
"ehm... nanti kamu juga tahu Cindy. Aku butuh uang banyak, ibuku di kampung sedang sakit. Semalam ada yang ngabarin. Mungkin dalam wktu dekat ini aku akan pulang dulu menengok ibu," ujar Jhony dengan raut wajah sedih.
"Semoga beliau cepat sehat ya, Jhon. Salam sama semuanya, nanti sekalian titip uang buat orang tuaku ya. Kamu pulangnya masih nunggu kita gajian kan?" tanya Cindy lagi.
"Amin, terimakasih Cindy. Iya setelah terima upah, aku pulang. Kalian jaga diri baik-baik ya, sementara aku tidak bisa bersama kalian. Setelah ibu membaik aku akan segera kembali.
__ADS_1
Sebenarnya masih banyak yang ingin Cindy tanyakan, namun waktu istirahat telah berakhir. Ia menyimpannya dan akan bertanya setelah pulang kerja.
***
"Aduh kok kerjaanku tadi hilang ya? Padahal aku ingat betul tadi sudah aku simpan," kata Clara sambil mengotak ngatik komputernya.
"Ada apa, Clara?" tanya Bella yang melihat Clara seperti kebingungan.
"Ini Kak Bella, file-file tadi yang sudah aku kerjakan tiba-tiba hilang. Padahal aku yakin tadi sudah menyimpannya." kata Clara sangat panik.
"Dasar karyawan baru, begitu saja tidak becus. Wajah saja cantik, tapi tidak bisa bekerja," kata Riska tiba-tiba menyambar.
"Maksudmu apa Riska?" tanya Bella ketus.
"Memang benar kok, buktinya itu pekerjaan sampai hilang begitu. Berarti dia tidak becus bekerja." jawab Riska tak kalah sengit.
"Alah jangan-jangan kamu yang menyabotase." kata Bella tak mau kalah.
"Enak saja menuduh orang sembarangan tanpa bukti, jangan asal ngomong ya," ujar Riska.
"Kamu lihat saja, dari awal bulan Pak Andre sudah memasang CCTV di seluruh kantor ini. Nanti pasti ketahuan siapa yang salah." ancam Bella.
"Siapa takut." kata Riska menantang.
Sebelumnya dia telah bertanya tentang CCTV kepada bagian teknisi kantor ini, dan menurut mereka masih belum aktif digunakan. Makanya dia tidak takut mendengar ancaman Bella. Dia tidak tahu jika ulahnya itu justru semakin mendekatkan Clara dan Andre.
"Sudah tidak apa-apa buat ulang saja, nanti aku temani kalau harus lembur," kata Bella menenangkan Clara.
"Iya Kak, terimakasih Kak Bella selalu mau membantuku." ujar Clara terharu.
"Sama-sama. Aku keruangan Pak Andre dulu ya," kata Bella.
"Ok, Kak." jawab Clara sembari melanjutkan pekerjaannya.
Bella melaporkan kejadian file hilang itu kepada Andre. Ia merasa curiga Riska adalah pelakunya, pasalnya ia melihat sendiri Clara telah menyimpan file itu. Dari awal Riska memang terlihat tidak menyukai Clara.
"Sebenarnya saya mau menemani Clara lembur Pak, tapi sehabis magrib saya harus mengantar ibu kontrol," jelas Bella.
"Kamu pulang saja, kasihan ibumu. Biar aku yang membantu Clara jika lembur," kata Andre bijaksana.
"Terimakasih Pak, saya permisi dulu," ujarnya, lalu kembali ke ruangannya.
'Gadis itu sangat baik, ramah, sederhana, apa adanya dan banyak kelebihan lainnya. Tapi mengapa banyak yang tidak suka padanya, seolah ingin menyingkirkannya' batin Andre merasa iba dengan Clara.
__ADS_1