Menggapai Harapan

Menggapai Harapan
Bab 133 Selamat Datang Juan Junior


__ADS_3

Bu bidan segera mengerahkan perawat untuk membantunya, Clara merasakan perutnya semakin sakit.


"Akh, sakit Bu," rintih Clara.


"Tahan ya, sebentar lagi bayinya akan keluar," hibur bu Bidan.


Bu bidan segera membuka kedua paha Clara agar lebih leluasa, ia menyuruh Clara mengejan dan mengatur napas agar kuat saat mengejan.


"Ayo semangat, jangan di angkat pantatnya agar tidak robek ya," pinta bu bidan.


Clara menurut, ia mengejan beberapa kali. Air ketubannya juga sudah pecah, ia merasakan cairan hangat membasahi pahanya. Yuni dan pak Kholil menunggu dengan perasaan gelisah. Pak Kholil menyayangkan sekali tidak ada keluarga yang mendampingi Clara melahirkan, tiba-tiba ia ingat kepada pak Iman yang sudah menganggap Clara seperti anaknya. Ia segera mengambil ponselnya.


"Halo, assalamualaikum Pak Iman," sapanya.


"Waalaikum salam, ada apa Pak Kholil, tumben sekali telepon biasanya langsung ke rumah?" tanya pak Iman.


"Ini saya sedang di klinik, Nak Clara mau melahirkan. Ini saya sedang menunggu, dia sedang dibantu bu bidan," jawab pak Kholil.


"Alhamdulillah, saya segera kesana Pak. Tolong di temani ya, kasihan di sini dia tidak ada keluarga,"


Pak Iman bergegas pulang ke rumah untuk menjemput istrinya, beruntung ia tadi mengantar penumpang tidak jauh dari tempatnya tinggal jadi bisa segera menyusul ke klinik.


"Terus Bu, terus. Itu kepalanya sudah keliatan," teriak perawat dengan semangat 45.


"Akh..." Clara berteriak panjang.


"Oek, oek, oek..."


Tangisan bayi menggema memenuhi ruangan, semua yang mendengar sangat bersyukur persalinan berjalan lancar dan cepat. Gurat kelelahan dan kesakitan yang tadi terpancar dari wajah Clara berganti dengan senyum kebahagiaan. Buah cinta dengan suaminya telah lahir ke dunia ini. Bulir-bulir air mata kebahagian memenuhi netranya.


"Selamat ya, anaknya laki-laki dan sehat sekali. Lahir pukul 11.45 dengan berat 3,4 kilo dan panjang 52 cm," ucap bu bidan.

__ADS_1


"Terima kasih, bu," balas Clara tulus.


"Sama-sama,"


Bidan menaruh bayinya di dada Clara, terlihat ia sedang mencari-cari putingnya untuk menyusu. Clara begitu menikmati momen intim ini bersama bayinya. Ia mengusap rambut bayinya dengan lembut, hari ini dia telah berhasil menjadi seorang wanita seutuhnya.


"Anaknya saya mandikan dulu ya, biar ari-arinya saya keluarkan dulu,"


Bidan memberikan bayinya kepada perawat untuk di urus, sementara ia masih sibuk dengan Clara. Inilah perjuangan seorang ibu ketika melahirkan, penuh kesakitan bahkan bertaruh nyawa. Sakit di saat mengandung, saat melahirkan dan pasca melahirkan.


Bayangan ibunya yang kesakitan saat melahirkan dirinya melintas dalam angannya, wajah seluruh keluarganya dan suaminya silih berganti memenuhi imajinasinya.


Beruntung sekali ari-arinya juga mudah di keluarkan, ia tidak harus merasakan sakitnya di jahit. Allah mempermudah segala sesuatunya, mungkin karena keadaannya yang jauh dari keluarga.


"Alhamdulillah semua berjalan lancar, semua sudah selesai. Sekarang coba susui bayinya lagi ya," ucap Bu bidan.


Ia membantu Clara duduk, Yuni dan pak Kholil juga sudah diperbolehkan masuk. Mereka gemas sekali melihat bayi Clara yang montok dan tampan. Saat mereka melihat bayi di dalam box, keluarga pak Iman datang.


"Terima kasih, semua membuat ku terharu. Beruntung sekali mengenal orang-orang baik seperti kalian semuanya," ucap Clara.


Atas permintaan Clara pak Iman segera mengadzani bayinya. Setelah di adzani, Clara mulai menyusui bayinya. Pak Iman dan pak Kholil menunggu di luar demi kenyamanan Clara.


Demi apapun bayi itu milik sekali dengan Juan, matanya berwarna coklat seperti ayahnya. Hidungnya dan rambutnya juga menurun pada Juan, hanya bibir, dagu dan bulu matanya yang menurun Clara.


"Putra mu tampan sekali, Mbak. Dia mirip sekali dengan ayahnya," puji Yuni.


"Memangnya kamu tahu seperti apa wajah suami ku, Yun?" tanya Clara heran.


"Ya tahunya dari foto yang Mbak tunjukkan waktu itu, saat ada masalah di kos itu Mbak," jawab Yuni.


"Oh, kirain pernah ketemu," ucap Clara.

__ADS_1


"Mau di beri nama siapa Mbk, si kecil yang menggemaskan ini?" tanya Yuni yang tak henti menciumi bayi Clara.


"Aku akan memberinya nama, Axel Juanra Putra. Di panggil Axel," jawab Clara.


Nama ini sudah di siapkannya saat dokter memberitahunya jenis kelamin bayinya.


"Wah keren, apa artinya Mbak?" tanya Yuni penasaran.


"Axel artinya kedamaian, Juanra adalah gabungan nama ku dan ayahnya. Jadi dia adalah putra dari Juan dan Clara yang di harapkan kehadirannya akan membawa kedamaian," jelas Clara.


"Amin," semua di ruangan serentak mengamini arti nama bayinya yang bermakna sangat baik.


Pak Kholil pamit terlebih dahulu, karena kosan tidak ada yang menjaga. Sementara yang lain tetap tinggal di sana untuk membantu Clara.


"Nak ini ari-arinya harus segera di kuburkan, biar bapak yang mengurus semuanya ya. Kamu tidak keberatan kan jika ari-ari ini di kubur di depan rumah bapak?" tanya pak Iman.


"Ya Allah, terima kasih Bapak baik sekali. Tentu saja boleh, maaf saya sudah merepotkan ya," jawab Clara.


"Kita sudah menganggap mu seperti anak sendiri, kamu tidak perlu sungkan," sahut istrinya.


Sekarang hanya tinggal istri dan anak pak Iman serta Yuni, mereka bergantian membantu Clara mengurus bayinya dan juga Clara yang masih lemah.


"Saya tidak tahu bagaimana nasib saya jika tidak bertemu dengan orang sebaik kalian," ucap Clara.


Mereka memeluk Clara seolah mengerti apa yang dia rasakan. Mereka dengan sabar merawatnya seperti keluarga sendiri, masalah yang terjadi di kos waktu itu membuat dia semakin dekat dengan Yuni. Selama ini gadis itulah yang membantunya jika membutuhkan sesuatu, usia mereka yang tidak berbeda jauh membuat mereka saling mengerti.


"Nak, sepulang dari sini langsung pulang ke rumah ibu saja ya. Sekarang ada bayi yang harus kamu urus, usia mu masih sangat muda pasti belum berpengalaman. Biarlah nanti ibu yang membantu mengurus bayi mu, ibu ikhlas kok," ucap bu Rina.


"Tapi Bu, saya tidak enak. Biarlah saya akan mengurusnya sendiri di kos, saya harus belajar menjadi seorang ibu," tolak Clara karena tidak ingin merepotkan.


"Iya ibu tahu, tapi biar ibu ajari dulu. Jika sudah bisa kamu boleh kembali ke kos, sebenarnya ibu tidak masalah kalau kamu tinggal dengan kami. Di rumah juga masih ada kamar kosong, ibu tidak tega membiarkan mu tinggal berdua hanya dengan Axel,"

__ADS_1


Clara tidak bisa menolak lagi, bu Rina dan keluarga sangat tulus menyayanginya dan Axel. Ia meminta Yuni untuk mengambilkan perlengkapannya di kos, ia akan tinggal dengan bu Rina untuk beberapa hari ke depan. Besok pagi Clara telah di diperbolehkan pulang, Ia meminta tolong Yuni mengambilkan tasnya di kos karena semua uang dan kartu ada di sana.


__ADS_2