Menggapai Harapan

Menggapai Harapan
Bab 45 Jhony tertusuk


__ADS_3

Tak terasa sudah sebulan lebih Jhony bekerja di cafe. Setiap hari berinteraksi dengan Indra membuat mereka semakin dekat. Mulanya Jhony merasa biasa saja, namun lama kelamaan menjadi curiga. Awalnya sikap Indra seperti pria pada umumnya namun semakin hari perhatian dan tingkah lakunya kepada Jhony sudah tidak seperti teman, melainkan ketertarikan ke sesama jenis. Jhony merasa takut, Indra mempunyai kelainan seperti Om Dion. Pernah suatu ketika Jhony ketiduran di tempat istirahat untuk karyawan, ketika membuka mata Indra telah menatapnya dan meraba bagian dadanya. Sontak Jhony merasa kaget, namun Indra berdalih tadi ada kecoa dan dia berniat mengusirnya.


Hari ini Jhony bekerja seperti biasa, saat makan siang ia memilih pergi ke warung untuk sengaja menghindar dari Indra yang biasanya selalu mengajaknya makan bersama. Saat perjalanan pulang tiba-tiba ada beberapa pria seperti preman menghadangnya. Ada 3 motor dengan 6 pengendara langsung merampas dompet dan ponselnya. Jhony mencoba melawan, namun dia bukan tandingan mereka. Karena banyak orang berdatangan hendak meolong tapi Jhony tetap saling menarik dompetnya dengan preman itu membuat mereka panik, salah seorang dari mereka nekat menusuk perut Jhony dengan belati sebanyak 2x.


"Akh... tolong..." ucap Jhony lirih.


Dia berhasil mempertahankan dompetnya, namun ponsel berhasil mereka rampas.


"Ayo cepat tolong pria itu, dia di tusuk preman. Cepat telepon ambulan." kata seorang ibu-ibu merasa kuatir.


"Wah lukanya parah itu darahnya banyak sekali," sahut yang lain.


Mereka berkerumun mengelilingi Jhony, belum ada yang berani menolong.


"Ada apa itu ramai-ramai, Pak?" tanya Indra pada seorang ibu yang berlari dari kerumunan.


"Itu ada pria yang di tusuk preman, barangnya di ambil. Tapi dompetnya berhasil dipertahankan," jelas ibu itu.


Indra berlari untuk melihat.


"Astaga, Jhony," kata Indra kaget.


"Kalian ini bagaimana sih, ada orang terluka cuma dilihatin bukannya ditolong. Punya hati nurani tidak sih," ucapnya kesal.


"Maaf, Pak. Kita hanya takut merusak TKP," jawab seorang pemuda.


"Kalau dia sekarat karena tidak ada yang membantu bagaimana? Sudah ayo tolong bawa ke mobilku, aku bawa ke rumah sakit, dia temanku," kata Indra.


Mereka bergeming, setelah Indra berteriak kesal baru semua membantu.


"Sabar ya, Jhon. Kamu harus kuat, aku akan selalu menemanimu," kata Indra mulai terisak.


Dari tadi ia menahan untuk tidak terlihat cengeng, namun ketika tidak ada orang ia menumpahkan kesedihannya.


"Tolong, Dok. Ada yang kena tusuk," katanya, ia berlari memanggil perawat.


"Ayo, ada yang terluka. Cepat," kata petugas itu.


Jhony segera di bawa ke UGD, dia mengeluarkan banyak darah. Lukanya sangat dalam, ia mendapatkan 25 jahitan yang tersebar di perut, kepala dan tangan. Tadi selain penusukan memang terjadi pemukulan menggunakan benda tumpul.

__ADS_1


Indra sangat setia menunggu Jhony. Ia merasa bingung harus menghubungi siapa, karena ponsel Jhony berhasil di rampas. Namun ia tidak keberatan untuk menjaganya sepanjang waktu.


***


Tiga hari sudah berlalu, Jhony belum juga sadar dari koma. Indra sangat setia menemaninya. Hari ini iya bertekad mencari teman Jhony yang menurut Jhony tinggal di apartemen mewah dekat sana.


"Permisi, Pak. Saya mau tanya," sapa Indra kepada satpam apartemen.


"Silahkan,Pak. Mau bertanya apa?" tanya satpam.


"Teman saya ditusuk preman beberapa hari yang lalu dan sampai sekarang belum sadarkan diri. Ponselnya dirampas, saya takut keluarganya kuatir dia tidak ada kabar. Saya tidak punya nomor keluarganya, tapi dulu ia sempat bilang sahabatnya yang sudah dia anggap keluarga tinggal di apartemen ini, Pak," jelas Indra.


"Oh begitu, namanya siapa sahabatnya yang tinggal disini?" tanya satpam.


"Saya juga lupa, ini teman saya yang di tusuk Pak," jawab Indra sembari menunjukkan foto Jhony.


"Wah agak susah kalau tak tahu namanya, begini saja foto temannya ditinggal disini saja. Jika ada info nanti saya kabari, tolong catat nomor ponselnya di balik foto saja." jawab Pak satpam.


"Oh baik, sebentar saya tulis. Terimakasih sekali atas bantuannya ya, Pak," kata Indra tulus. Tak lama ia berpamitan karena kuatir meninggalkan Jhony terlalu lama.


***


Tring... tring... Terdengar notifikasi sms di hp Clara.


Clara terkejut mendapat sms dari Jhony, ia langsung mencoba menelepon nomornya. Berkali mencoba tapi tidak di angkat.


[Jangan menelepon, disini ramai. Ada polisi juga. Keluarga korban mendesak ganti rugi. Jika ada tolong kirim ke nomor rekening keluarga korban. BC4 2164876××× atas nama Komar Syamsudin. Terimakasih]


Nomor Jhony kembali mengirim sms.


Clara masih bingung ini benar atau tidak, karena tidak biasanya Jhony di telepon tapi tidak di angkat.


Tut... tut... terdengar panggilan terhubung.


"Assalamualaikum, Sayang," sapa Juan.


"Juan ini dari tadi nomor Jhony sms, katanya dia nabrak orang. Dia butuh uang, keluarga korban minta ganti rugi. Tapi aku telepon dia tidak mau angkat," jelas Clara.


"Loh, kok sama sih. Ini tadi juga ada sms dari nomor Jhony, tapi baru sempat baca barusan saja sebelum kamu telepon. Tapi ini bilangnya dia di tanggap polisi karena ada yang menjebaknya dengan obat-obatan terlarang, dia juga minta di kirim uang." jawab Juan.

__ADS_1


"Kok berbeda-beda ya alasannya, aku jadi curiga. Apa jangan-jangan itu bukan Jhony yang mengirim sms, tapi orang lain ya Juan?" tanya Clara mulai ragu.


"Sepertinya begitu, eh ini Kak Cindy bilang juga dapat sms dari Jhony. Intinya juga hampir sama, ini pasti ada yang tidak beres, Sayang," kata Clara beropini.


"Sudah jangan kita tanggapi dulu, sejauh mana orang itu mau menipu kita. Jangan pernah mentransfer jika tidak berbicara dengan Jhony langsung , ingat itu Sayang." pesan Juan.


"Baiklah, aku mau keluar dulu ya. Tiba-tiba ingin makan bakso dekat apartemen." kata Clara.


"Iya, Sayang. Hati-hati ya, assalamualaikum," ucap Juan.


"Waalaikum salam," jawab Clara.


Ia bergegas turun, dari siang sudah ngiler ingin makan bakso yang super pedas.


"Malan Non Clara, tumben jam segini keluar kamar?" tanya pak satpam apartemen dengan ramah.


"Eh Bapak, ini mau beli bakso. Dari siang sudah ngiler. Dikasih sambal yang banyak, hmm... pasti mantap, Pak," jawab Clara.


"Wah benar sekali, saya juga suka sekali sama bakso. Ya sudah hati-hati ya, Non," katanya.


"Terima kasih, Pak" jawab Clara, lalu pergi.


Dua puluh menit kemudian Clara kembali ke apartemen, dia berhenti di tempat satpam tadi.


"Pak, ini buat Bapak. Dimakan ya Pak, enak sekali baksonya," kata Clara sembari memberikan bungkusan.


"Wah terimakasih ya Non, semoga rezekinya selalu lancar," jawab pak satpam tulus.


"Amin, saya naik dulu ya Pak," pamit Clara.


"Eh Non, tunggu," katanya mencegah Clara.


"Ada apa, Pak?" tanya Clara heran.


"Barangkali Non kenal dengan orang ini. Tadi ada temannya kesini bilang kalau orang di foto ditusuk preman, ponselnya di rampas. Sampai saat ini dia belum sadar, sudah beberapa hari di rumah sakit." jelas pak satpam sembari menunjukkan foto.


"Astaga, Jhony. Ini teman saya Pak. Bagaimana keadaannya sekarang ya." jawab Clara panik.


"Oh syukurlah dari tadi saya tanya penghuni yang lain tidak ada yang kenal. Itu ada nomor ponsel temannya di balik foto, Non bawa saya foto itu," kata Pak satpam.

__ADS_1


"Iya, Pak. Terima kasih sekali," jawab Clara kemudian bergegas naik.


Perasaannya tak karuan. Ia sudah bisa menduga siapa yang mengirimi mereka sms tadi. Ia sangat kuatir dengan keadaan Jhony.


__ADS_2