
Sementara di tempat lain.
"Sudah setengah tahun kamu tidak mau keluar, Nak. Kuliah mu terbengkalai, padahal tinggal sedikit lagi. Bangkitlah, jangan berlarut seperti ini. Bukankah kamu berkata ingin segera menikahi kekasihmu, Nak," kata ibunya iba melihat keadaannya.
Bima hanya menatap kosong, dalam sorot matanya tersimpan banyak kekecewaan. Kenangan bersama Cindy membayang di pelupuk matanya. Gelar sarjana yang tinggal selangkah lagi pun sekarang tak mampu ia genggam. Matanya mengembun, detik kemudian bulir-bulir air mata mengalir dalam kebisuan.
Masih teringat jelas dalam ingatannya, saat itu ia akan kembali ke Surabaya untuk menemui kekasihnya setelah satu bulan lamanya mengerjakan tugas kuliahnya di luar kota. Karena terlalu bahagia hingga ia kehilangan fokusnya saat berkendara, di persimpangan ketika akan memasuki Kota Surabaya tiba-tiba ada truk dari arah berlawanan ketika dia akan menyalip bus di depannya.
Brukk... Brukk...
Bima berusaha menghindar ke arah kanan jalan menghindari truk yang telah mendekat ke arahnya, namun naas ia menabrak pohon dan tubuhnya terpelanting kurang lebih 3 meter dari motornya. Orang-orang segera menolongnya dan membawanya ke rumah sakit terdekat. Beruntung semua identitasnya lengkap sehingga bisa menghubungi keluarganya di rumahnya, namun ponselnya rusak parah tidak bisa menyala kembali.
Dua bulan ia koma, tulangnya ada beberapa yang retak. Kakinya tak lagi sempurna, ia di nyatakan pincang seumur hidup. Tangannya juga patah sehingga perlu penangan serius. Wajahnya luka parah karena menabrak pepohonan di pinggir jalan, beruntung ia tak menabrak benda keras di bagian kepala. 6 bulan sudah berlalu keadaannya mulai pulih kembali, namun kakinya tetap pincang. Jalannya tidak bisa gagah seperti dulu, wajahnya masih tersisa bekas luka walaupun tinggal sedikit.
Bima tidak dapat menerima keadaannya, segera setelah ia sadar ia hanya mengurung diri tidak ingin bertemu siapa pun. Hatinya pedih menerima kenyataan hidup, namun keadaannya justru membuat hubungannya dengan keluarganya membaik. Keluarganyalah yang selama ini merawatnya dan selalu menguatkannya.
"Aku takut ia tidak bisa menerima keadaanku, Bu. Aku akan makin hancur jika itu terjadi. Biarlah aku menyimpan cinta dan angan-anganku untuk bersamanya, biarlah ia mengira aku pergi meninggalkannya. Aku tidak ingin melihatnya bersedih ketika melihat ku seperti ini," jawab Bima dengan air mata masih mengalir.
"Ya sudah istirahatlah, Nak. Jangan terlalu banyak pikiran agar kamu bisa segera sembuh total. Jika dia benar-benar mencintaimu dia akan selalu menerima apapun keadaanmu. Hanya kamu yang mengetahui bagaimana sifat kekasihmu itu, jangan sampai kamu menyesal ketika melihatnya dengan pria lain," kata ibunya memberi nasehat.
Bima termenung mendengar nasehat ibunya yang memang ada benarnya. Selama ini dia melihat ketulusan Cindy, mungkin dia bisa menerimanya apa adanya. Dia tidak ingin menyesal di kemudian hari, namun bukan saat ini. Dia masih membutuhkan waktu sedikit lagi untuk memantapkan hati agar bisa menerima keadaan apapun nanti yang akan terjadi.
'Aku minta maaf Cindy, selama ini tak pernah mengabarimu. Aku akan menemuimu, namun tidak sekarang. Tolong bersabarlah menungguku, semoga kamu dapat menerima kekuranganku' batin Bima. Ia bertekad untuk secepatnya sembuh.
***
__ADS_1
Sementara di desa, Clara dan rombongan tengah bersiap-siap untuk kembali ke kota.
"Jhon, ini dari kami tolong kamu terima ya. Memang tidak banyak tapi insyaallah bisa meringankan bebanmu," kata Clara sambil memberikan uang patungannya dengan Cindy.
"Tidak perlu, lebih baik kalian simpan untuk kebutuhan kalian. Juan dan Andre sudah memberiku banyak sekali, ini saja masih sisa banyak," jawab Jhony menunjukkan amplop yang masih sangat tebal.
"Udah terima saja, ini kan dari kami. Sahabat tertimpa musibah mana mungkin kita tidak membantu," sahut Cindy memaksa.
"Kalian itu sudah membantuku sangat banyak, jangan berkata begitu. Bukan tidak mau menerima tapi ini memang masih banyak, untuk berobat ibu serta kebutuhan rehab pasti juga masih lebih. Setelah pulih aku juga kan langsung kerja, jadi akan mendapat penghasilan kembali. Simpan saja untuk kalian," terang Jhony.
Clara melirik ke semuanya seakan minta pendapat. Semuanya menganguk, akhirnya ia menerima uang itu kembali.
"Tapi janji jika ada masalah apapun harus cerita ya, tidak boleh seperti kemarin," kata Clara tegas.
"Iya, janji," jawab Jhony serius.
***
Beberapa hari kemudian, tepat di hari sabtu sepulang dari kantor.
"Cindy nanti malam kita jalan ya bareng sama Juan dan Clara, kamu mau kan?" tanya Andre.
"Boleh, Pak," jawabnya malu-malu.
"Ok, nanti malam aku jemput ya," kata Andre tersenyum senang.
__ADS_1
Cindy pun merasa senang, kehadiran Andre berhasil membuatnya perlahan melupakan Bima. Niat baiknya yang secara tidak langsung menyatakan keseriusannya kepada orang tuanya kemarin, membuatnya dapat berharap kembali. Walau belum sepenuhnya Bima hilang dari ingatannya, tapi dia mulai membuka hati untuk cinta yang lain. Dia harus tetap melanjutkan hidup.
Sekitar pukul 7 malam, Andre dan Juan sudah tiba di apartemen. Mereka memutuskan membawa mobil sendiri walau akan pergi bersama, Juan dengan Clara dan Andre dengan Cindy. Mereka serasi sekali, sudah seperti Sang Putri dengan Pangerannya.
Sebuah cafe dengan suasana romantis mereka pilih menjadi saksi cinta mereka. Andre dengan Cindy tampak malu-malu berbeda dengan Juan dan Clara yang terlihat biasa karena memang telah lama menjalin hubungan cinta.
"Sudah Dre, jangan seperti ABG labil pakai acara malu-malu segala. Kalau suka langsung katakan, jangan pengecut gitu," bisik Juan meledek Andre.
"Sial4n kamu, tidak tahu apa jantungnya serasa mau copot ini," balasnya sambil terkekeh.
Juan hanya tertawa melihat sikapnya, karena dia juga pernah merasakan ketika pertama kali menyatakan cinta kepada Clara.
"Kita sendiri-sendiri saja ya duduknya, biar kalian lebih nyaman ngobrolnya," kata Juan kemudian meninggalkan mereka berdua.
"Sayang kamu itu iseng sekali sih, itu Pak Andre wajahnya sampai bersemu merah gitu masih kamu ledekin terus," kata Cinta mencubit pinggang kekasihnya gemas.
"Auw, sakit Sayang," jawab Juan sembari memegang pinggangnya yang di cubit Clara.
"Andre itu harus bisa berterus terang tentang perasaannya, agar hubungan mereka tidak menggantung. Dia itu susah jatuh cinta sama seperti aku, aku bersyukur dia membuka hati untuk Cindy. Mereka sama-sama orang baik, jadi sudah seharusnya kita dukung agar bisa bersatu. Kalau tidak kita tinggal, bagaimana mereka bisa berbicara dari hati ke hati, Sayangku," balas Juan seraya mencubit dagu kekasihnya.
"Ternyata kamu sangat bijaksana, Sayang. Aku kira tadi kamu iseng saja, ternyata...," Clara tak melanjutkan ucapannya. Ia menatap dalam mata indah kekasihnya.
"I love you, Juan," ucap Clara dengan tulus.
Wajah Juan bersemu merah merona mendengar kata-kata kekasihnya. Mata mereka bersitatap.
__ADS_1
"I love you to, Clara," balasnya.