Menggapai Harapan

Menggapai Harapan
Bab 21 Juan Cemburu


__ADS_3

Pagi itu Clara bangun lebih awal dari biasanya. Dia akan ke kantor teman Juan, seperti yang Juan janjikan kemarin. Setelah selesai beres-beres dan memasak, ia mulai bersiap-siap. Hari ini ia menggunakan rok plisket warna ungu di bawah lutut, dipadu dengan kemeja motif bunga dengan dasar warna ungu, dengan aksen pita di dada. Rambutnya yang lurus dan panjang ia ikat tinggi, dengan poni dibuat miring ke kanan. Sangat imut dan manis. Tak lupa ia memakai sepatu ber hak tinggi serta tas tangan yang warnanya senada dengan pakaian yang ia kenakan. Riasan yang ia gunakan sangat natural bak bintang-bintang k-pop. Ia terlihat anggun dan elegan. Ia sedikit berbeda karena kali ini posisi yang ia lamar adalah pekerja kantoran, ia rasa harus bisa menempatkan diri.


"Masya Allah... cantik benar adik kakak ini," puji Cindy saat melihat Clara sedang memoles dirinya.


"Ah yang benar, Kak?" tanya Clara dengan wajah merah merona menahan malu.


"Tentu saja, coba kamu liat tampilan kamu di cermin," kata Cindy sambil menghadapkan Clara ke cermin.


"Kamu harus hati-hati nanti Clara, di sana pasti banyak pria yang menyukaimu. Bahkan teman Juan juga bisa mengagumimu, kamu harus jaga diri. Juan begitu mencintaimu, jangan membuatnya terluka ya," pesan Cindy kepada Clara. Ia merasa adiknya sangat menarik, pasti akan menjadi rebutan banyak pria.


"Kakak tahu aku orangnya setia, apalagi Juan sangat baik kepadaku, jadi tidak mungkin aku mengkhianatinya," jawab Clara dengan sungguh-sungguh.


"Aku tahu, aku hanya kuatir kamu terjebak Clara. Kamu begitu menarik, akan membuat pria melakukan apapun untuk mendapatkanmu," imbuh Cindy.


"Tenang saja Kak. Aku akan selalu berusaha menghindar, terima kasih untuk perhatianmu Kak. Kakak adalah pengganti ibu di sini, tegur aku jika aku salah ya," kata Cindy, lalu memeluk kakaknya.


"Yaudah aku sama Jhony berangkat dulu ya. Kamu tunggu Juan di dalam saja, takutnya banyak pria iseng yang lewat menggoda kamu," pesan Cindy sebelum berangkat kerja.


"Masya Allah Clara," seru Jhony tiba-tiba.


"Ada apa, Jhon?" tanya Clara terkejut.


"Kamu cantik sekali sih, aku kira artis darimana," puji Jhony tulus.


"Ah Jhony kirain ada apa, udah sana berangkat jangan godain aku terus," kata Clara sambil mendorong mereka ke pintu.


Mereka hanya tertawa melihat tingkah gadis itu, pasalnya mereka memang tulus memuji Clara sesuai dengan realita yang ada.


Setengah jam kemudian pintu di ketuk, Juan datang. Clara segera membuka pintu setelah tahu kekasihnya yang datang.


"Juan," panggil Clara semesra biasanya.

__ADS_1


Juan mematung. Bagaikan melihat bidadari dari surga hatinya bergetar. Terekspos jelas keindahan yang paripurna di hadapannya. Mata bulat indah yang selalu ia rindukan. Bibir ranum yang rasanya ingin ia kecup. Semua dalam diri Clara begitu indah ia pandang, iblis pun berusaha merusak keimanannya. Jiwa kelelakiannya terjaga melihat itu semua, ingin rasanya segera menghalalkan Clara agar bisa menikmati segala keindahan itu. Beruntung Clara segera menyadarkankannya dari lamunan itu.


"Sayang kenapa kamu diam?" tanya Clara yang dari tadi tidak mendapat respon.


"Kita tidak jadi ke kantor temanku. Kamu tidak perlu kerja." putus Juan, membuat Clara bingung.


"Apa? tapi kenapa?" tanya Clara.


Juan diam tak menjawab.


"Sayang, kenapa aku tidak boleh kerja?" tanya Clara lagi, penasaran.


"Aku tidak rela pria lain memandangimu," jawab Juan jujur, ia sangat kuatir banyak pria menggoda kekasihnya.


"Hah?" ucap Clara spontan, ia tak percaya dengan pendengarannya.


"Jangan begitu Juan, aku butuh pekerjaan. Aku tidak ingin bergantung kepadamu, tolong mengertilah," kata Clara memohon.


"Pakaianku kan tertutup, Juan," jawab Clara polos.


"Tidak harus berpakaian terbuka untuk membuat pria tertarik padamu Sayang. Kamu cantik, baik, ramah, apa adanya, kamu sangat menarik Clara. Apa kamu tidak sadar itu." kata Juan teguh dengan pendiriannya.


Clara menghela nafas, ia tidak tahu harus membujuk kekasihnya itu dengan cara apalagi. Kakaknya tadi juga sudah berpesan yang aneh, sekarang bahkan Juan tidak mengizinkannya bekerja.


"Jadi kamu masih belum percaya kepadaku, Juan?" tanyanya dengan rasa kecewa.


"Aku percaya kepadamu, tapi aku tidak akan pernah percaya pria-pria itu." jawab Juan.


"Juan, perasaan itu antara dua orang. Tidak akan bisa tumbuh jika sendirian. Jika hatiku telah kuserahkan kepadamu seluruhnya, bagaimana bisa aku membaginya?" tanya Clara serius.


"Jika tidak ada rasa percaya di antara kita, apa artinya hubungan ini." imbuh Clara.

__ADS_1


"Justru aku yang harusnya lebih kuatir. Kamu tampan, pendidikanmu tinggi, jabatanmu bagus, keluargamu bermartabat dan bergelimang harta. Wanita mana yang tidak menginginkanmu? Tapi karena aku yakin kamu mencintaiku dengan tulus, maka aku percaya padamu." jelas Clara membuat Juan tercenung memikirkan kata-kata kekasihnya. Dia merasa bersalah kepada Clara.


"Maafkan aku sayang, aku begitu takut kehilanganmu," kata Juan. Ia tersadar kesalahannya yang terlalu pencemburu.


"Aku tahu, tapi tolong percaya kepadaku Juan. Aku akan jaga diri baik-baik," jawab Clara tulus.


"Tapi kamu harus berangkat dan pulang kerja selalu bersamaku, maukah kamu berjanji Sayang?" tanya Juan memberikan Clara persyaratan.


"Iya, baiklah aku berjanji. Terima kasih sudah memberiku kepercayaan ya Sayang," ucap Clara bersyukur.


"Iya Sayang, ayo kita berangkat." kata Juan menggandeng tangan Clara.


Di dalam perjalanan mereka lebih banyak diam, mereka larut dalam pikiran masing-masing.


Mereka telah sampai di PT. Adi Jaya Group. Kantornya cukup besar, dengan arsitektur bergaya minimalis. Terdiri dari 5 lantai, Lantai tertinggi khusus untuk pejabat-pejabat perusahaan, termasuk direktur dan para pemegang saham.


Mereka langsung menuju lantai 5. Beberapa karyawan yang telah mengenal Juan memberinya salam saat berpapasan. Beberapa pasang mata menatap pasangan ini, pasalnya Juan tidak pernah terlihat bersama wanita selama ini. Mereka berbisik-bisik, namun Juan tidak terlalu perduli. setibanya di depan ruangan Andre temannya, ia lantas mengetuk pintu.


"Masuk," kata Andre saat pintu di ketuk.


"Halo Juan, apa kabar? Sudah lama kamu tidak kesini. Aku sedikit kaget kemarin kamu meneleponku," kata pria itu senang temannya datang. Ia merangkul Juan.


"Ayo duduk, anggap kantor sendiri," katanya lagi seraya tertawa memperlihatkan gigi putihnya yang berderet rapi.


Andre adalah Direktur utama di perusahaan ini, ia pemilik 60% saham di sana. Terkenal sebagai pribadi yang baik dan dermawan. Usianya lebih tua setahun dari Juan. Ia belum menikah, tunangannya meninggal sekitar 2 tahun yang lalu karena kecelakaan, saat pergi berlibur ke Bali dengan pria selingkuhannya. Kejadian itu membuatnya trauma untuk mempercayai seorang wanita kembali.


"Alhmdulillah baik bro, apalagi setelah ada dia. Kamu sendiri gimana kabarnya, sepertinya belum banyak yang berubah ya," jawab Juan sembari melirik Clara.


"Ya begitulah seperti yang kamu lihat. Ini pasti yang namanya Clara. Pantas saja bikin Juan klepek-klepek, bening banget," kata Andre terus terang.


"Eits, jangan macam-macam! Dia milikku!" seru Juan sambil mengepalkan tangannya, membuat Andre terpingkal-pingkal.

__ADS_1


Diakuinya Juan pandai memilih kekasih. Tadinya dia berpikir gadis desa yang di ceritakan Juan akan terlihat kampungan dan tidak sepadan dengannya, namun nyatanya ia salah. Clara terlihat berkelas dengan penampilannya saat itu, pantas saja Juan rela menentang orang tuanya demi gadis itu.


__ADS_2