Menggapai Harapan

Menggapai Harapan
Bab 62 Cindy memilih Bima?


__ADS_3

"Clara apa kamu melihat Cindy? Aku sudah mencarinya kemana-mana tapi tidak ada, apa kamu tahu dia dimana?" tanya Andre.



"Saya juga sedang mencari, Pak. Terakhir tadi dia ikut pak satpam ke bawah, katanya ada tamu untuk kakak. Setelah itu dia belum kembali lagi sampai sekarang," jelas Clara.



"Ayo kita tanya satpam, Clara. Perasaanku tidak enak," ajak Andre.


"Ayo, Pak," balas Clara.


Mereka bergegas ke lantai bawah untuk bertanya kepada satpam perusahaan.


"Pak, apa benar tadi ada tamu untuk Cindy?" tanya Andre.


"Iya benar, Pak. Tadi ada ibu-ibu yang mencari non Cindy, beliau sampai nangis-nangis ketika berbicara. Tapi saya kurang begitu dengar pembicaraan mereka, saya takut di sangka menguping jika terlalu memperhatikan mereka." jelas satpam itu.


Andre dan Clara saling pandang, dalam hati mereka bertanya-tanya siapa wanita itu.


"Lalu kak Cindy kemana, Pak?" tanya Clara kuatir.


"Dia ikut pergi bersama wanita itu, Non." jawabnya.


"Apa? Mereka kemana, Joko?" tanya Andre tegas.


"Maaf, Pak. Saya kurang tahu, mereka pergi begitu saja tanpa berpesan apa-apa, sepertinya mereka buru-buru. Tadi saya sempat memanggil non Cindy, tapi sepertinya tidak dengar karena mereka terus melangkah pergi," jawab satpam itu.


"Coba tunjukkan rekaman CCTV saat itu, Joko!" perintah Andre.


"Baik, Pak," jawabnya segera memeriksa CCTV.


Mereka semua tampak menyimak rekaman itu. Mereka melihat wanita itu menangis dan memohon kepada Cindy, setelah itu terlihat mereka pergi dengan buru-buru.


"Clara, apa kamu mengenal wanita itu?" tanya Andre.

__ADS_1


"Saya tidak kenal, Pak. Saya juga bingung dia itu siapa," jawan Clara.


"Kalau kamu tidak kenal, kemungkinan Cindy sebelumnya juga tidak mengenal dia. Tapi kenapa wanita itu menangis? Lalu mereka pergi kemana ya?" tanya Andre penasaran.


"Saya juga telepon nomornya tidak aktif, Pak," ucap Clara.


"Aku juga dari tadi sudah mencoba berulang kali nomornya juga tidak bisa di hubungi," balas Andre tak kalah panik.


"Kita tunggu sampai pulang kantor, Pak. Kalau kakak belum kembali juga, nanti kita cari bersama-sama," ucap Clara.


"Iya, baiklah. Semoga Cindy tidak sedang ada masalah ya," kata Andre lalu kembali keruangannya.


"Assalamualaikum, Sayang. Apa kamu sedang sibuk?" tanya Clara.


"Waalaikum salam. Tidak juga, ada apa memangnya, Sayang?" tanya Juan merasa heran kekasihnya telepon saat jam kantor.


"Kak Cindy menghilang. Tadi ada ibu-ibu yang mencarinya ke kantor, dari rekaman CCTV terlihat dia menangis dan memohon kepada kakak. Lalu mereka pergi entah kemana dan sampai sekarang belun kembali. Aku baru saja melihat rekamannya bersama Pak Andre," cerita Clara.


"Kok aneh sih, bagaimana bisa Cindy pergi begitu saja tanpa pamit," ucap Juan.


"Sudah, tapi nomornya tidak aktif. Aku tidak tahu siapa dia, tapi aku curiga sesuatu," jelas Clara.


"Curiga bagaimana?" tanya Juan penasaran.


"Aku curiga ini ada hubungannya dengan Bima," jawab Clara.


"Kenapa bisa berprasangka begitu, Sayang?" tanya Juan bingung.


"Entahlah, tapi hatiku mengatakan begitu. Jika pekerjaanmu telah selesai tolong cepat kemari ya, kasihan Pak Andre sepertinya sangat kuatir," ucap Clara.


"Ok, Sayang. Secepatnya aku akan kesana, ini tinggal sedikit lagi," jawab Juan.


Mereka pun mengakhiri panggilan dan kembali bekerja.


***

__ADS_1


Di tempat lain Cindy tengah melihat keadaan Bima. Air matanya mengalir melihat pria yang pernah menjadi kekasihnya terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit. Beruntung dokter bisa menyelamatkannya tepat waktu, jika tidak mungkin yang bisa ia temui saat ini hanyalah jasadnya saja.


"Bagaimana keadaan Bima, Bu?" tanya Cindy ketika ibu Bima baru datang menemui dokter.


"Alhamdulillah sudah melewati masa kritis, tinggal pemulihan saja. Tapi kemungkinan akan lama sadarnya, aku mohon kamu jangan meninggalkannya, Nak. Dia pasti senang jika ketika sadar, kamu berada di sampingnya," jawab ibu Bima.


"iya, Bu. Aku akan menemaninya, tapi nanti sore aku harus pulang. Aku belum mengabari siapa-siapa saat kesini, mereka pasti sangat kuatir dan mencari keberadaanku," jawab Cindy.


"Kamu bisa menghubungi keluargamu dan memberi tahu keberadaanmu di sini Nak, agar mereka tidak panik," kata ibu Bima.


"Iya, Bu. Tapi nanti saja saya hibungi," jawabnya.


Cindy sengaja mematikan ponselnya, ia tahu Andre dan Clara pasti menghubunginya karena kuatir dengan kepergiannya. Namun saat ini ia ingin sendiri, ia ingin berpikir dan segera menentukan keputusan. Melihat kejadian yang menimpa Bima hatinya bergejolak.


"Apa ini yang namanya Cindy?" tanya seorang pria paruh baya saat baru datang.


"Iya, Pak. Saya Cindy," jawab Cindy sopan.



"Kamu cantik sekali, Nak. Terima kasih sudah mau menjenguk Bima. Bima sudah cerita pada ibunya bahwa kamu telah memiliki kekasih. Sebenarnya kita juga tidak ingin membuatmu berada di posisi yang sulit, Nak. Tapi sebagai orang tua kita pasti ingin yang terbaik untuk anak kita, Bima adalah anak tunggal. Selama ini aku terlalu keras padanya, aku baru sadar justru setelah ia merasa terpuruk pasca kecelakaan yang menimpanya. Dia sangat mencintaimu sampai tak bisa menerima kenyataan. Saya hanya berharap Nak Cindy bisa memikirkan ulang hubungan kalian, semoga masih ada cinta di hatimu untuk Bima putraku," kata ayah Bima, terlihat matanya mulai mengembun.


Cindy menghela napas dalam, ini benar-benar permintaan yang sangat sulit. Jika bisa ia ingin memilih dirinya saja yang berkorban untuk kedua pria yang mencintainya. Namun dia di haruskan untuk memilih saat ini.


"Akan saya pikirkan, Pak. Semoga keputusan saya nanti adalah yang terbaik," jawab Cindy.


"Bapak percaya, kamu orang yang bijaksana," balas ayah Bima seraya menyentuh bahu Cindy.


Cindy kembali tenggelam dalam pikirannya, di amatinya wajah pria yang berbaring di depannya. Dalam sekali tarikan napas ia telah mengambil keputusan.


Ya, Cindy akan meninggalkan Andre. Dia sangat mencintai pria itu, namun Bima lebih membutuhkan kehadirannya. Andre adalah pria yang sangat baik, dia tampan dan kaya pasti lebih mudah baginya melupakan Cindy dan mencari penggantinya. Sedangkan Bima sepertinya hanyalah Cindy harapannya, kondisi lahir dan batinnya tidak lagi kuat bahkan cenderung rapuh. Ia bahkan berpikir untuk meninggalkan dunia ini, ia benar-benar membutuhkan dukungan Cindy.


"Kamu harus kuat, aku akan menemanimu menghadapi dunia ini. Kita akan kembali bersama-sama seperti dulu. Berkeliling Surabaya, mengunjungi semua tempat yang dulu kita datangi. Berjuanglah, cepatlah bangun. Aku merindukan Bima yang dulu kuat, yang selalu melindungiku," bisik Cindy di telinga Bima.


Terlihat ada bulir-bulir air mata di mata Bima yang masih terpejam. Cindy menggenggam tangan Bima, di usapnya air mata itu dengan lembut. Namun masih belum ada pergerakan, Bima masih belum sadar.

__ADS_1


__ADS_2