
Mereka baru sampai di desa saat hari sudah malam. Orang tua mereka pasti terkejut melihat kedatangan mereka yang tanpa memberi kabar terlebih dahulu.
"Assalamualaikum,"
"Waalaikum salam, loh kalian. Kok tidak memberi kabar jika mau pulang. Aduh cucu ku bertambah satu lagi"
Bu Dina segera menyuruh mereka masuk dan sibuk dengan cucunya yang baru lahir.
"Axel mana Bu?" tanya Clara.
"Sedang di ajak Bapak ke rumah saudara sebentar," jawab bu Dina.
"Memangnya bapak sudah sehat ya kok sudah keluar rumah?"
"Ya begitulah Nak, tapi kadang ya kambuh kalau kecapean. Kalian makan dulu sana biar mereka ibu yang jaga, namanya siapa ini Cindy?"
"Belum aku beri nama, Bu,"
Ibunya menatapnya heran, sudah beberapa hari lahir kok terasa aneh jika belum mempunyai nama.
"Kalian makan dulu baru nanti cerita, ibu tahu kalian sedang ada masalah,"
Mereka menuruti perkataan ibunya. Mereka langsung menuju dapur karena memang lapar.
☆☆☆
"Bu, nanti tambah satu kamar lagi di samping ya. Nanti akan aku beri uang supaya bisa cepat di kerjakan," ucap Clara.
"Memangnya kenapa kok mo bangun kamar lagi, Nak?" tanya bu Dina.
"Ya kita semua kan sudah punya anak, kasihan jika harus ada yang tidur di luar. Apalagi kak Cindy akan menetap di sini," jawab Clara.
"Menetap bagaimana maksudnya? Apa Cindy dan Bima akan pindah kemari?" tanya bu Dina bingung.
Clara menatap ke arah kakaknya agar dirinya menjelaskan.
"Aku akan segera berpisah dengan Bima Bu, dia sudah mengkhianati ku," jawab Cindy.
"Astagfirullah, kamu serius Nak? Apa kamu sudah membuktikannya? Jangan sampai itu hanya prasangka mu saja.
"Kakak benar, aku dan Jhony lihat dengan mata kepala kita sendiri Bima di hotel dengan bos nya," sahut Clara.
"Ya Allah begitu teganya dia, apa tidak ingat perjuangannya dulu mendapatkan diri mu penuh rintangan,"
Cairan bening mulai turun dari sudut matanya yang menua.
"Assalamualaikum,"
Pak Jarwo datang bersama Axel.
"Waalaikum salam," jawab semuanya.
__ADS_1
"Bapak, anak ku,"
Clara menyalami pria tua itu lalu memeluknya. Kemudian beralih menggendong dan menciumi putra semata wayangnya. Lama tidak berjumpa Axel menatapnya dengan tatapan aneh. Seolah dirinya adalah orang asing. Awalnya dia sedikit menjaga jarak namun sepertinya ikatan batin dan rasa rindu Clara akhirnya membuat mereka semakin akrab.
Mereka melanjutkan pembicaraan tentang Cindy, pak Jarwo sangat terkejut mengetahui apa yang terjadi. Mereka mendukung apapun keputusan putrinya itu.
"Ya sudah Nak, kamu tinggal di sini saja sama kami. Kita rawat anak-anak sama-sama," ucap pak Jarwo.
Karena hari sudah malam, mereka pun beranjak tidur.
"Clara, kamu dan Axel tidur di dalam saja bersama ibu mu. Biar bapak tidur di kursi depan," titah ayahnya.
☆☆☆
Keesokan harinya.
Clara menemani Axel yang sedang bermain bersama Damar, sementara Cindy sibuk dengan bayinya. Ibunya tampak membantunya merawat dirinya serta anaknya. Ia merasa kasihan melihat mereka, beruntung kedua adiknya selalu dapat di andalkan untuk menemani anaknya bermain.
"Bu, apa sebaiknya aku mencari pengasuh untuk Axel ya? Ibu dan bapak pasti kerepotan karena bertambah dua lagi anak kecil di rumah ini?" tanya Clara meminta pendapat.
"Tidak perlu Nak, kedua adik mu sesudah pulang sekolah tidak pernah keluyuran kok, mereka selalu membantu kami," jawab bu Dina.
"Baiklah, tapi jika nanti memang kerepotan ibu bilang saja ya," ucap Clara.
"Tidak repot Clara, tetangga kita semua ikut membantu menjaga anak mu. Mereka juga sayang kok sama Axel,"
Clara merasa lebih tenang mendengarnya. Selama di desa ia habiskan waktu bersama anaknya itu.
***
Kesedihan kembali menyelimuti hati Clara, ia harus meninggalkan putra dan keluarganya kembali. Beruntung masih ada Jhony di sampingnya yang menemani. Mereka kembali ke kota karena pekerjaan mereka sudah menanti. Sepanjang perjalanan mereka gunakan untuk istirahat.
"Non bangun, ini sudah sampai,"
Clara dan Jhony segera terbangun. Setelah mengucapkan terima kasih mereka masuk ke dalam rumah dan istirahat di kamar masing-masing.
Keesokan harinya mereka sudah terbangun pagi-pagi sekali. Mereka membantu ART menyiapkan sarapan.
"Wah, rajin sekali kalian,"
Mami Sita menyapa mereka yang sedang menata sarapan di meja makan.
"Iya Mi, tidurnya berkualitas jadi bisa bangun pagi dan bantuin mbak," jawab Clara.
"Bagaimana kabar keluarga kalian di desa?" tanya Mami Sita.
"Alhamdulillah baik semua, Mi," mereka berdua kompak menjawab.
"Alhamdulillah kalau begitu, ayo kita sarapan,"
Mereka menikmati sarapan sembari bercerita.
__ADS_1
***
"Ayo Clara, kita segera berangkat," ajak Jhony.
"Iya, sebentar. Tunggu di bawah saja," teriak Clara dari dalam kamarnya.
Selesai berdandan Clara segera turun ke bawah.
"Wah, penampilan mu beda sekali hari ini Clara. Aku suka sih, berani tampil beda," puji Dinda.
"Apa tidak terlalu menor itu?"
Sepertinya Jhony tidak sependapat dengan kekasihnya.
"Tidaklah Jhon, yang lain malah parah. Clara masih enak di pandang, hanya sedikit lebih terlihat dewasa," sahut Dinda.
***
"Eh dengar-dengar gadis di sini cantik-cantik loh, sapa tahu ada yang masih single,"
"Walaupun single kalau udah bekas orang lain memangnya kalian mau?"
Para pejabat perusahaan yang sedang mencari hiburan setelah lelah bekerja membanjiri klub malam. Namun dua orang pria tampaknya tidak tertarik dengan semuanya, mereka lebih memilih menjaga jarak dari mereka.
"Kamu kenapa mau sih di ajak kesini? Aku tidak betah, baru pertama aku masuk ke tempat begini. Kalau mau mabuk mending pilih bar biasa saja," ucap Juan.
"Ya bagaimana lagi, tidak enak dengan mereka semua. Kliennya minta kesini merayakan kerja sama kita, masa iya aku nolak," balas Andre.
Juan dan Andre terpaksa menuruti klien mereka. Mereka sedang merayakan keberhasilan kerjasama mereka dalam sebuah proyek besar.
"Tuan-tuan sekalian, agar malam anda semakin hangat kita menyediakan para ladies untuk menemani anda untuk sekadar minum atau berkaraoke. Sebentar lagi mereka akan datang,"
Seorang wanita setengah baya dengan dandanan menor mendatangi mereka. Para pria mulai riuh mendengar kata ladies.
"Pak Juan dan pak Andre, ayo silahkan. Kita mengalah kepada yang masih single," goda seorang pria.
Keduanya hanya tertawa. Tentu saja mereka tidak tertarik. Hati mereka masih belum bisa move on.
Beberapa orang gadis cantik dengan pakaian minim dan tubuh seksi mulai mendatangi mereka. Dari yang bodinya bak model sampai yang bahenol ada di antara mereka. Para pria itu mulai saling menggoda.
"Diandra, kamu kok telat sih. Itu banyak bos kakap di depan, cepat kesana. Room 17 ya,"
seseorang menegur Clara, di tempat ini ia memang memakai nama itu.
"Ok. Kak Dinda tidak ikut?" tanya Clara.
"Tidak Clara, aku sudah ada yang booking. Hati-hati ya,"
Clara segera menuju ruangan yang di maksud. Hatinya selalu berdebar-debar tiap akan memasuki ruangan tersebut. Perlahan ia membuka pintu, walaupun suasana di dalam ramai namun tetap tidak bisa menyamarkan kedatangannya. Semua mata menatap kedatangannya, kecuali dua orang pria.
"Astaga, bukankah itu..."
__ADS_1
Mata Clara membulat sempurna. Ia merasa sedang bermimpi.