
"Halo, Sayang," Sapa Clara yang terlihat menghubungi Juan.
"Nanti malam ke apartemen ya, Jhony sudah kembali ke Surabaya. Ia ingin silaturahmi sekalian mau nanya kerjaan, Sayang,"
"Oh maaf, sepertinya aku tidak bisa kesana, Sayang. Ada hal penting yang harus aku lakukan. Tidak apa-apa Jhony kesana yang penting jangan sampai terlalu malam ya. Masalah kerjaan gampang, nanti aku kabari" jawab Juan.
"Oh, baiklah. Semoga urusannya lancar ya." kata Clara mengakhiri teleponnya.
Juan berniat bertemu mamanya nanti malam untuk mengetahui alasan pastinya ia ingin mencelakakan Clara.
"Halo, Ma. Nanti malam ada di rumah tidak?" tanya Juan.
"Memangnya kenapa, Juan," tanya mamanya.
"Aku ingin makan malam di rumah, aku rindu masakanmu ma. Bisakah mama memasak dan makan malam di rumah nanti?" tanya Juan lagi.
"Oh baiklah, Sayang. Mama akan masak dan menemani mu makan malam. Apa papa juga kamu ajak?" tanya mamanya sangat senang.
"Tidak perlu Ma, aku hanya ingin berdua denganmu." kata Juan.
"Baiklah, sampai ketemu nanti," kata Juan mengakhiri sambungan teleponnya.
Nyonya Danuarta bergegas ke supermarket, membeli bahan-bahan untuk memasak makanan kesukaan putranya. Ia sangat merindukan kebersamaan bersamanya, karena walaupun masih serumah mereka sudah jarang bertemu. Ia merasa sangat bahagia Juan mengajaknya makan malam, apalagi mengatakan rindu masakannya.
***
Di Mall Jhony masih asyik menikmati makanannya, namun sepertinya pria tadi masih menatapnya dari kejauhan. Ia tak berani menengok lagi, ia berusaha mengacuhkannya.
"Selamat sore, boleh aku duduk di sini?" kata pria itu.
Seketika Jhony menengadahkan kepalanya. Ia terkejut ternyata pria yang sejak tadi memandanginya berani menghampirinya. Dadanya bergemuruh kembali, namun ia berusaha bersikap biasa saja.
"Oh ya, silahkan saja," jawab Jhony dengan tenang.
"Perkenalkan namaku Indra," ucap pria itu sambil mengulurkan tangannya.
"Aku Jhony," katanya seraya menerima uluran tangan pria itu.
"Sejak tadi kamu sendiri saja, apa tidak mengajak pacar atau istrimu?" tanya pria itu tanpa basa basi.
"Aku tidak punya kekasih, apalagi istri. Usiaku masih muda," jawab Jhony jujur.
"Pantas saja, aku kira kamu memang baru lulus sekolah. Lalu sekarang sedang kuliah atau kerja," tanya Indra menyelidik.
__ADS_1
"Ini lagi mau cari pekerjaan, karena kemarin-kemarin sempat pulang kampung untuk menjaga ibu yang sedang sakit. Jadi terpaksa berhenti dari kerjaan sebelumnya." cerita Jhony.
"Wah kebetulan sekali, kalau kamu mau bisa ikut kerja di tempatku. Aku punya kafe yang sedang rame-ramenya dan saat ini perlu seseorang di bagian kasir," kata Indra memberi tawaran.
"Wah, benarkah?" tanya Jhony.
"Sungguh, aku serius." jawab Indra.
Jhony sekilas menatap Indra, penampilannya seperti pria normal, memakai celana jeans dan kaos oblong serta bertopi. Ia terlihat berbeda dengan om Dion yang parlente. Mungkin dia memang pria normal, prasangkanya tadi mungkin salah mengira Indra gay.
"Tapi aku hanya tamatan SMA, apa tidak apa-apa?" tanya Jhony sedikit ragu.
"Pendidikan tidak masalah kok, yang penting jujur dan niat bekerja," kata Indra sambil menepuk pundak Jhony.
"Baiklah, aku mau," jawab Jhony.
"Ya sudah ayo aku ajak melihat cafenya," ajak Indra.
"Tapi nanti malam aku ada janji dengan teman, jadi tidak bisa langsung bekerja sekarang,"
"Aku hanya ingin menunjukkan tempatnya, kerjanya mulai besok saja. Nanti di cafe aku kenalkan dengan yang lain, sekalian menjelaskan tentang pekerjaanmu." jelas Indra.
"Baiklah, ayo," ucap Jhony.
"Yaudah aku pergi dulu ya Mas Indra, udah janji mau main ke tempat teman. Besok aku akan datang sesuai jadwal." kata Jhony berpamitan.
"Aku antar ya Jhon," ujarnya menawarkan.
"Tidak perlu Mas Indra, dekat kok. Itu tempatnya di apartemen yang itu," kata Jhony menunjuk apartemen Clara yang terlihat dari kejauhan.
"Wah temanmu pasti kaya raya, itu kan termasuk apartemen mewah." sahut Indra.
"Sebenarnya itu pemberian kekasihnya, dia sangat mencintai temanku," jelas Jhony.
"Wah beruntung sekali temanmu. Ya sudah sampai ketemu lagi," kata Indra sambil melambaikan tangan.
Jhony bergegas ke tempat Clara agar bisa lebih lama bercerita dengan kedua sahabatnya. Ia melihat alamat Clara melalui sms yang Clara kirim. Ternyata benar kata Indra apartemen ini terbilang mewah, loby nya saja begitu luas.
"Jhony... Kita rindu sekali, ayo masuk," kata Cindy membukakan pintu.
"Wah beruntung sekali ya kalian bisa tinggal di tempat mewah seperti ini," kata Jhony merasa kagum.
"Ya Juan menurutku terlalu berlebihan, tapi dia tidak bisa di bantah. Apalagi alasannya untuk kebaikan kami." sahut Clara.
__ADS_1
"Di minum Jhon, kalau makan itu juga aku sudah masak tadi," kata Cindy.
Mereka berbincang menceritakan hari-hari mereka, Jhony sempat terkejut ketika Clara bercerita hampir tertabrak mobil. Jhony bercerita tentang pekerjaan barunya. Mereka tertawa, bercanda sambil mengingat kenangan-kenangan saat bersama.
***
Dirumah Juan Ibu Danu sudah menata masakan di atas meja, banyak menu yang ia masak. Semuanya adalah masakan kesukaan Juan.
"Wah wangi sekali Ma, terima kasih ya," ucap Juan sambil mencium kening mamanya.
"Sama-sama Sayang, ayo kita makan," ajaknya kepada putranya.
"Sudah lama tidak menikmati masakan Mama, rasanya memang sangat nikmat," puji Juan dengan tulus, ia sangat lahap menyantapnya.
Mamanya sangat bahagia melihatnya, putranya terlihat menyukai masakannya. Setelah makan Juan mengajak mamanya berbincang di ruang keluarga.
"Ma, apakah Mama masih menyayangiku?" tanya Juan memulai pembicaraan.
"Tentu saja Nak, mengapa kamu bertanya begitu?" tanyanya tak mengerti.
"Sebesar apa Ma? Apakah Mama bahagia jika melihatku bahagia?" tanya Juan lagi, suaranya sedikit bergetar.
"Sayang, Mama menyayangimu melebihi apapun. Akan mama lakukan apapun untuk kebahagiaanmu, Nak." katanya, ia menatap putranya yang tidak menoleh kepadanya.
"Mama bohong, Mama tidak menyayangiku lagi. Mama tidak ingin aku bahagia," kata Juan pelan, terlihat matanya mulai mengembun.
"Kenapa kamu berkata begitu, Juan. Akan ku serahkan nyawaku sekalipun untuk kebahagianmu," tegasnya.
Juan mengeluarkan rekaman yang di dapat dari Bagas, kemudian memutar rekaman itu. Seketika mamanya terkejut, raut wajahnya terlihat cemas. Dia akhirnya menangis.
"Maafkan mama, Juan. Hiks... Hiks..." kata mamanya, ia tak dapat menahan air matanya lagi. Ia merasa malu kepada putranya.
"Tapi kenapa Ma? Kenapa Mama tega akan merenggut kebahagianku?" tanya Juan, tertahan. Ia mulai menangis, hatinya begitu sakit.
Saat mereka bertangis-tangisan, Pak Danu datang. Dahinya mengernyit, matanya menatap keduanya mencari jawaban. Namun keduanya tetap membisu.
"Ada apa ini? Kenapa kalian berdua menangis?" tanya pria itu keheranan.
Juan memilih pergi meninggalkan mereka, ia enggan bertemu ayahnya. Ia memutuskan akan bertanya nanti kepada mamanya, setelah ayahnya pergi.
Mama Juan juga memilih pergi ke kamarnya, membuat suaminya kesal.
"Kenapa mereka itu, di tanya diam saja. Aku sudah mulai tidak dihargai." katanya, merasa sangat kesal.
__ADS_1