
Hari ini Cindy dan Jhony berangkat kerja seperti biasa, sedangkan Clara tinggal di rumah karena sudah tidak bekerja lagi. Waktu terasa lama sekali baginya yang sendirian di rumah. Semua pekerjaan rumah telah selesai ia kerjakan, mulai menyapu, mengepel, mencuci baju, menyetrika, dll. Bahkan Kakaknya tidak boleh mengerjakan pekerjaan rumah satu pun, dengan alasan dia akan mengerjakannya sendiri agar tidak bosan. Setelah semua selesai ia menonton tv sendirian.
Tok... tok... tok... suara pintu depan diketuk. Clara melompat girang, ia sangka Juan yang datang. Namun ternyata dugaannya salah.
"Pak David, ada apa?" tanya Clara merasa sangat terkejut.
"Bolehkah aku duduk dulu, Clara?" tanya David.
"Oh iya Pak, kita duduk di teras saja ya, tidak ada orang soalnya," jawab Clara mengajak David ke teras.
"Iya, tidak apa-apa," ucap David, lalu duduk.
"Surat pengunduran dirimu sudah aku buatkan, tinggal kamu tanda tangan nanti aku serahkan ke kantor. Untuk upahmu akan di bayarkan sesuai tanggal gajian dari kantor ya, tidak apa-apa kan," kata David menjelaskan kedatangannya.
"Iya Pak tidak apa-apa, terimakasih dan maaf sudah merepotkan," jawab Clara seraya membungkukkan badannya.
"Tidak masalah Clara, maaf untuk waktu itu ya, aku sudah menyulitkanmu," kata David.
"Sudah saya maafkan kok, maaf juga tidak bisa membalas perasaannya ya, Pak," jawab Clara penuh ketulusan.
"Apakah kamu benar-benar mencintai Juan? Apakah tidak ada sedikitpun tempat di hatimu untukku Clara?" tanya David, sambil memandang lekat wajah gadis itu.
Clara terperangah mendengar pertanyaan David, dia bingung untuk menjawab. Ia takut melukai hati pria di depannya, namun tidak mungkin juga memberi harapan palsu kepadanya.
"Jujur saja Clara, tidak perlu takut aku terluka, aku sudah terbiasa kalah dari Juan," kata David seolah mengerti kekuatirannya.
"Maksud Pak David?" tanya Clara merasa bingung dengan ucapannya.
"Sebenarnya aku masih bersaudara dengan Juan, ayahku adalah adik kandung papanya Juan," kata David mulai bercerita.
__ADS_1
"Dari kecil aku selalu kalah darinya. Keluarganya sangat kaya sedang keluargaku biasa saja. Dia lebih pintar dariku dalam segala hal, dia selalu di sanjung, semua wanita menyukainya. Bahkan dirimu, wanita yang aku sukai ternyata mencintainya," kata David lagi.
Sorot matanya penuh kepedihan, seperti menahan rasa sakit yang teramat sangat. Clara yang mendengar ceritanya serta melihat langsung mimik pria itu merasa tersentuh. Seandainya dia bisa, pasti akan memilih pria itu. Namun perasaan tidak dapat dipaksakan. Tidak mungkin bersamanya sedangkan hatinya telah tertambat kepada Juan. Ada rasa bersalah di hati Clara. Namun apalah daya, dia tidak dapat merubah keadaan. Dia sedikit terkejut mendengar kedua pria yang menyukainya itu masih ada hubungan keluarga.
"Maafkan saya ya Pak, saya tidak bermaksud melukai hati Bapak," kata Clara merasa begitu menyesal.
"Aku hanya takut kamu akan tersakiti, orang tuanya tidak akan pernah merestui kalian bersama", kata David, menghela napas dengan kasar.
"Tinggalkan dia Clara, pergilah dengan ku! Akan aku lawan dunia, asal kamu bersamaku," kata David memandang lurus netra Clara.
Clara hanya diam tidak merespon. Namun pikirannya menari-nari. Dia sadar apa yang dikatakan David mungkin saja benar. Namun tidak ada keinginan dalam hatinya untuk mundur. Dia telah menambatkan hati kepada seorang Juan, ia sadar konsekuensinya. Dia tidak akan membuat Juan kecewa. Dia hanya akan pergi jika Juan menyuruhnya untuk pergi.
"Maaf Pak, Saya tidak bisa meninggalkannya," jawab Clara dengan lirih.
"Baiklah terserah padamu, tapi jika kamu terluka datanglah kepadaku," kata David mengalah.
"Oh ya Clara, Om Danuarta ingin bertemu denganmu, beliau papanya Juan." katanya menambahkan.
"Aku juga tidak tahu, mungkin ingin bicara dari hati kehati," jawab David sekenanya.
"Baiklah, tolong antarkan saya kepada beliau ya," kata Clara menyetujui tanpa berpikir panjang.
"Ok, nanti waktu makan siang aku jemput. Sebaiknya kamu tidak memberi tahu Juan dulu, itu saranku," kata David menyarankan.
"Baik, terima kasih Pak David untuk bantuannya," kata Clara sambil menyalami David, agar dia cepat pergi.
"Jangan sungkan, aku pamit dulu ya," kata David, lalu pergi dari sana.
Clara memutuskan mengikuti saran David untuk tidak mengabari Juan tentang hal ini. Biarlah setelah bertemu dia akan bercerita, begitu pikirnya. Dia tidak sabar menunggu waktu makan siang. Dia segera ingin tahu apa yang ingin dibicarakan pak Danuarta kepadanya. Hatinya berdebar-debar memikirkan itu.
__ADS_1
"Apa kamu sudah siap, Clara?" tanya David yang telah menjemputnya siang itu.
"Ya, Pak David," jawab Clara.
"Panggil saja David, kita bukan atasan dan bawahan lagi Clara." kata David merasa sedikit keberatan dipanggil bapak.
"Tapi Bapak lebih tua dari saya, saya harus menghormati Bapak." jawab Clara tak mau kalah.
"Panggil saja David, bukankah kamu memanggil Juan dengan nama saja," katanya lagi.
"Baiklah, David," ucap Clara, memperlihatkan senyumnya yang manis. Dia tidak ingin berdebat lagi.
Mereka pun pergi ke PT. Infomedia Sejahtera menemui Pak Danuarta. Sebelumnya David telah menelepon om nya untuk memberitahu bahwa Clara bersedia menemuinya. David mengendarai mobilnya pelan, bukan karena macet. Tapi karena pikiran kedua orang di dalam mobil sedang berkecamuk, mereka-reka apa yang akan terjadi nanti di sana.
Saat itu Juan menelepon berkali-kali, namun Clara tidak mengangkatnya. Dia berpikir akan meneleponnya nanti, setelah pertemuan ini selesai. Clara tidak tahu bahwa Juan sangat kuatir ketika teleponnya tidak diangkat. Dia langsung ke rumah Clara, tetapi tidak ada seorang pun. Dia memanggil Cindy di ruangan produksi, namun Cindy ternyata juga tidak tahu menahu keberadaan Clara. Dia merutuki dirinya sendiri yang terlalu sibuk bekerja, sehingga tidak menghubunginya. Juan bingung harus mencari gadis itu kemana, dia menyetir tak tentu arah. Kota surabaya di kelilinginya, untuk mencari keberadaan Clara.
"Clara, apakah kamu benar-benar mau menemui om Danuarta?" tanya David memecah kesunyian.
"Memangnya kenapa? Apa beliau sangat menakutkan?" tanya Clara.
"Dia tidak merestui kalian, dia pasti akan melakukan apapun untuk memisahkanmu dengan Juan." ungkap David dengan jujur.
"Apa dia akan membunuhku?" tanya Clara, bergidik ngeri membayangkan kata-kata David.
"Yang aku tahu beliau tidak sekejam itu. Hanya saja aku belum tahu rencananya, dia tidak mengatakan apa-apa. Dia hanya berkata ingin bertemu denganmu secepatnya." cerita David.
Clara menghela napas, ia sudah memantapkan hatinya. Dia akan menerima segala konsekuensinya.
"Semoga aku kuat menerima apapun, karena aku telah memilih Juan. Aku harus bertahan demi dia," kata Clara membuat David kian cemburu.
__ADS_1
Di tempat kerjanya Pak Danuarta telah menunggu kedatangan Clara. Dia telah merencanakan semua. Dia yakin orang miskin seperti Clara dengan mudah bisa ia singkirkan.