
Sementara Andre dan Cindy masih merasa canggung, mereka tidak pernah berduaan sebelumnya apalagi dengan suasana yang romantis seperti sekarang.
"Cindy, apa kamu menyukai tempat ini?" tanya Andre memulai obrolan.
"Ia, Pak. Saya suka," jawabnya.
"Jangan panggil Pak dong, panggil nama saja ya," balas Andre.
"Saya tidak enak, bagaimanapun Bapak atasan saya," jawab Cindy.
"Tapi jangan panggil Bapak, itu terlalu formal dan membuat usiaku terasa tua sekali," protes Andre.
Cindy diam sejenak, ia memikirkan panggilan yang tepat untuk pria di depannya. Panggilan yang sopan, pantas tapi lebih akrab.
"Boleh panggil Mas Andre saja tidak?" tanya Cindy.
"Nah itu lebih baik, terus pakai aku kamu saja kalau bicara ya, biar lebih akrab," jawab Andre setuju.
Keduanya tiba-tiba diam, mereka bingung kehabisan topik obrolan. Andre sedang merangkai kata untuk menyatakan perasaannya. Dia sebenarnya sudah berlatih namun entah mengapa saat bertemu orangnya langsung lidahnya menjadi kelu. Dengan segenap keberanian ia mulai berbicara serius.
"Cindy, kita mengenal sudah lumayan lama. Suka duka sering kita lewati bersama, aku tahu kamu pernah kecewa terhadap pria, aku pun pernah merasakan hal yang sama. Jujur aku mulai merasa ada rasa yang berbeda terhadapmu, sepertinya aku mulai menyayangimu," ucap Andre sambil menggenggam tangan Cindy.
"Apakah kamu mempunyai rasa yang sama dengan ku? Apakah kamu bersedia menjadi warna dalam hari-hariku? Menjadi terang dalam gelap ku? Menjadi asa dalam harap ku? Bersediakah kamu menjadi separuh nafas ku?" tanya Andre menatap lekat netra Cindy yang mulai mengembun.
Cindy merasa terharu, ia sama sekali tidak menyangka Andre bisa seromantis ini. Kata-kanya begitu menyejukkan hati.
"Mas, aku paling tidak bisa merangkai kata. Jadi maaf aku tidak membalas kata-kata indahmu. Tapi aku berjanji akan selalu setia. Aku bersedia, Mas Andre," jawab Cindy dengan tulus.
Andre tidak dapat menutupi kebahagiaannya, ia mencium kedua tangan Cindy dengan lembut. Mereka berdua tenggelam dalam kebahagiaan.
"Wah sepertinya ada yang baru jadian nih," Goda Juan tiba-tiba membuat mereka terkejut.
"Duh kamu sudah sepeti hantu saja tiba-tiba muncul, membuat orang terkejut saja," gerutu Andre.
"Hahaha, gitu saja kaget. Besok hari minggu kita kemana ini, merayakan yang baru saja jadian?" tanya Juan masih terus menggoda.
"Besok aku ada acara penting, minggu depan saja ya kita jalan-jalannya," jawab Andre.
Mereka terus mengobrol dengan santai, terdengar saling ledek antara Juan dan Andre membuat suasana segera mencair. Juan merasa sangat bahagia melihat sahabatnya telah menemukan kebahagiaannya, apalagi dia sangat yakin Cindy wanita yang baik sama seperti kekasihnya.
__ADS_1
***
Hari senin tiba, Andre tidak sabar untuk bertemu kekasihnya. Ia telah menyiapkan hadiah untuk Cindy, ia berharap dia mau menerimanya. Hari ini ia berangkat lebih awal demi secepatnya bertemu dengan Cindy.
"Clara, aku pinjam Cindy sebentar ya," kata Andre sembari menarik Cindy ke ruangannya.
Clara tak menjawab karena mereka telah masuk ke dalam, ia pun bergegas keruangannya.
"Mas Andre, tolong kalau di kantor profesional ya, jangan begini. Aku tidak ingin reputasimu hancur karena hubungan kita," kata Cindy ketika berada dalam ruangan.
"Ketika aku memilihmu berarti aku sudah siap dengan segala konsekuensinya. Jangan pernah mendengarkan perkataan orang lain yang membuatmu terluka, kita yang menjalani jadi hanya kita yang tahu betapa bahagianya hati ini," balas Andre.
"Tolong terimalah ini, agar bila kita rindu bisa saling menghubungi," ucapnya sembari menyerahkan ponsel yang yang ia beli kemarin.
"Kenapa repot-repot, jangan terlalu boros. Aku takut orang akan berprasangka buruk, baru saja menjadi kekasihmu sudah kamu belikan barang mahal begini," balas Cindy merasa tak enak.
"Aku tidak peduli perkataan orang lain, aku yang lebih mengenalmu daripada mereka jadi pasti tahu bagaimana sifatmu. Tolong jangan menolak ya," kata Andre meyakinkannya.
"Baiklah, terima kasih hadiahnya," balas Cindy sambil tersenyum manis.
"Aku kembali ke ruanganku dulu ya ,Mas," pamit Cindy.
"Iya, Sayang. Nanti makan siang di ruanganku ya, aku ingin berdua denganmu," pinta Andre.
"Kenapa Pak Andre memanggilmu, Kak?" tanya Clara ketika Cindy datang.
Cindy menunjukkan ponsel barunya.
"Wah ponsel baru, pasti di kasih Pak Andre ya?" tanya Clara.
"Sutt, jangan keras-keras," ucap Cindy sambil menaruh jari telunjuk di bibirnya.
"Hah? Memang kenapa, Kak?" tanya Clara heran.
"Aku belum siap jika semua tahu hubunganku dengan Mas Andre," jawab Cindy.
"Cie... cie... sekarang manggilnya Mas ya," goda Clara tak bisa menahan tawanya.
"Clara jangan terus menggodaku, aku malu," balas Cindy yang wajahnya telah bersemu merah merona.
__ADS_1
"Hahaha... Kakak lucu, aku senang melihat Kakak bisa tersenyum bahagia seperti ini lagi," ujar Clara tulus.
"Dia mengajakku makan siang berdua di ruangannya nanti, Clara. Apa kamu tidak apa-apa?" tanya Cindy merasa sungkan dengan Clara.
"Tentu saja tidak masalah, Kak. Aku bisa makan dengan Kak Bella atau dengan yang lainnya. Berhentilah selalu memikirkan aku, Kakak juga harus memikirkan kebahagiaan Kakak juga," balas Clara sangat bijaksana.
Saat tengah asyik berbicara, Bella datang dan menyapa mereka berdua.
"Wah bahagianya Kak Bella, pagi-pagi sudah ada yang memberi bunga," goda Clara tatkala melihat sahabatnya itu membawa bunga.
"Eh bukan, ini untuk Cindy bukan untukku. Tadi pak satpam yang nitip, katanya ada kiriman untuk Cindy," jelas Bella sambil memberikan bunga dan sebuah kartu ucapan kepada Cindy.
"Aku ke toilet dulu ya, sudah tidak tahan," kata Bella lalu bergegas pergi.
Cindy dan Clara saling pandang. Pasca kejadian paket yang di kirim Jessy waktu itu mereka sedikit trauma, mereka takut pemberian itu berbahaya. Namun setelah berkali-kali mengamati tidak ada yang mencurigakan. Cindy mulai membuka kartu ucapan itu.
Kau adalah lentera penerang hidup ku
Kau adalah putih dalam gelap ku
Kau adalah senyum dalam tangis ku
Kau adalah kuat dalam lemah ku
Kau adalah segalanya
Kau wanitaku...
Semoga kamu tidak pernah melupakan aku. Aku selalu mencintaimu sampai kapanpun.
Cindy tertegun setelah membacanya. Clara segera merebut kartu ucapan itu dan membacanya, ia memandang Cindy penuh tanda tanya.
"Dari siapa ini, Kak?" tanya Clara penasaran.
"Aku juga tidak tahu, tidak ada nama pengirimnya," jawabnya.
"Apa mungkin Pak Andre yang ingin memberi kejutan, romantis juga dia ternyata," kata Clara mengambil kesimpulan.
"Kenapa Kakak diam saja, Kakak tidak suka?" tanya Clara heran dengan sikap Kakaknya yang diam mematung.
__ADS_1
"Clara, bagaimana jika itu bukan Andre yang mengirim melainkan Bima?" tanya Cindy datar.
Clara terkesiap mendengar ucapan Cindy, ia akhirnya mengerti mengapa mengapa Cindy tiba-tiba terdiam.