
"Bu jangan di angkat pantatnya jika mengejan ya, supaya tidak terjadi robek yang lebih besar," pinta dokter.
"Iya Dok, sakit sekali perut saya," jawab Cindy meringis.
"Ya sabar ya Bu, Silahkan mengejan tapi jangan di paksakan Ya biar ibu tidak kehilangan tenaga berlebihan," ucap dokter memberi petunjuk.
Ibu Bima memilih menunggu di luar, ia tidak tahan melihat menantunya kesakitan. Ia mondar mandir di depan pintu karena gelisah.
"Bu, Cindy di mana?" tanya Bima yang baru saja datang.
"Dia di dalam, ibu tidak tega melihatnya jadi menunggu di luar," jawab ibunya.
"Aku boleh masuk tidak ya Bu?" tanya Bima.
"Tidak tahu, tapi sepertinya boleh. Coba kamu tanyakan kepada perawat," jawab ibunya.
Baru akan melangkah untuk bertanya kepada perawat, terdengar suara bayi dari dalam ruangan Cindy.
"Alhamdulillah," ucap keduanya penuh syukur.
"Bu, aku sudah menjadi seorang ayah," ucap Bima sangat gembira, ia terharu sampai menangis.
"Iya Nak, ibu juga sudah menjadi nenek," balas ibunya penuh rasa syukur.
Mereka saling berpelukan dan menangis karena terharu. Mereka segera mengetuk ruangan dan bertanya bolehlah jika mereka masuk. Namun dokter melarang mereka karena masih harus mengurus Cindy, dia harus mendapatkan beberapa jahitan. Ari-arinya tidak mau keluar sehingga dokter harus mengambilnya secara manual yang membuat robekannya agak lebar.
"Mohon tunggu di luar dulu ya, kita harus menjahit v*gin* pasien dulu dan melakukan beberapa tindakan. Setelah bayi di mandikan nanti bapak bisa segera meng-adzani putranya," jawab dokter itu.
"Kenapa istri saya harus di jahit, bukannya katanya tadi keadaannya normal?" tanya Bima.
"Iya Pak, tadi ari-arinya tidak mau keluar jadi harus di ambil secara manual sehingga menyebabkan robekannya melebar dan memerlukan beberapa jahitan,"
"Baiklah Dok, kita tunggu di luar,"
Mereka menunggu dengan tidak sabar. Setelah sekitar sepuluh menit perawat memberikan bayinya untuk segera di adzani. Bima menggendong putranya untuk pertama kali, sangat kaku dan perlu pengarahan dari perawat. Setelah selesai mengadzani ia menciumi putranya yang sangat menggemaskan itu. Ia menggendong bergantian dengan ibunya, namun tidak berapa lama perawat membawanya kembali.
Cindy melahirkan seorang putra secara normal dengan berat 3,5 kilo gram dan panjang 52 cm. Mereka menamainya Damar Putra Bima. Sesuai arti namanya mereka ingin bayi ini menjadi sumber cahaya bagi semua orang.
Bima segera memberi kabar kepada semuanya, ayahnya yang sedang di luar kota, mertuanya, Juan dan juga Clara. Dia sangat senang kembali dengan kehadiran Domar putranya, sekarang ia telah resmi menjadi seorang ayah.
__ADS_1
Sekitar sejam kemudian mereka sudah di diperbolehkan masuk. Cindy terlihat lelah dari wajahnya namun ketika melihat sang buah hati wajahnya menjadi sangat gembira.
"Aku ingin menggendongnya," ucap Cindy.
"Kamu jangan terlalu banyak bergerak dulu, biar aku letakkan di sebelah mu saja Ya," balas Bima sembari meletakkan Samar di samping ibunya.
"Selamat ya Sayang, kamu sudah menjadi seorang ibu," ucap Bima.
"Aku akan membantu menjaganya Nak, bayi kalian sangat lucu," ucap mertuanya.
"Terima kasih, Bu," balas Cindy.
"Sayang apa kamu keberatan jika aku menamai anak kita Damar Putra Bima, agar dia bisa menjadi sumber cahaya?" tanya Bima.
"Damar? Nama yang bagus, aku menyukainya," jawab Cindy.
"Syukurlah kalau begitu. Aku harus pulang dulu untuk menguburkan ari-arinya setelah itu aku akan kembali lagi, biar ibu yang menemani mu di sini ya," ucap Bima.
"Iya," Cindy masih asyik menciumi putranya yang masih tertidur.
"Jika kamu menginginkan sesuatu katakan saja ya, Nak," ucap mertuanya setelah Bima pergi.
"Iya Bu, terima kasih ya. Dia sangat menggemaskan, tapi kenapa dia tidur terus ya Bu?" tanya Cindy yang memang belum berpengalaman.
Kedua wanita itu sangat asyik bersama Damar. Seorang perawat datang untuk mengingatkan Cindy agar menyusui putranya. Cindy belajar menyusui di bantu perawat dan juga mertuanya. Ternyata Damar pintar sekali dan suka sekali menyusu. Cindy merasa geli pada awalnya namun kemudian menikmatinya, konon menyusui akan lebih mempererat hubungan batin antara anak dan ibunya, makanya Cindy akan berusaha untuk memberinya asi selama 2 tahun sesuai anjuran dokter.
Sekitar pukul lima sore Clara dan Juan serta Bella dan Bagas datang menjenguk mereka. Semua tampak senang dan gemas melihat Damar.
"Selamat ya Bima dan Cindy sekarang sudah menjadi orang tua," mereka memberi selamat satu persatu.
"Terima kasih ya semuanya untuk doa dan kehadiran semuanya di sini," ucap Cindy.
"Iya Kak, sama-sama. Kadonya menyusul ya keponakan tante yang tampan," balas Clara sembari menciumi Damar.
"Putra ku sudah lahir, kalian cepatlah menyusul," kata Bima kepada mereka berempat.
Mereka berempat saling lempar pandang menanggapi ucapan Bima. Mereka semua sebenarnya juga ingin cepat menyusul, namun menikah bukanlah masalah yang gampang, terutama bagi Juan dan Clara yang masih terhalang restu ayahnya sampai saat ini.
"Ya, kita pasti segera menyusul," ucap Juan.
__ADS_1
"Ya, kami juga pasti menyusul kalian, ini masih sedang persiapan," sahut Bagas.
"Syukurlah, jadi anak kita nanti tidak selisih jauh usianya dan bisa bermain bersama," ucap Bima.
"Kamu itu kita saja belum menikah, sudah memikirkan anak kita bermain bersama," balas Juan.
"Tidak apa-apa, itu adalah dukungan secara tidak langsung agar kalian cepat bergerak, hahaha," ucap Bima tertawa senang.
"Kapan Kakak boleh pulang ke rumah?" tanya Clara.
"Belum tahu, dokter masih belum berkata apapun. Masih fokus dengan keadaan ku dulu sepertinya, padahal aku merasa baik-baik saja," jawab Cindy.
"Itu karena kehadiran Damar, membuat kakak semangat dan tidak merasakan lagi rasa sakit," ucap Clara.
"Iya, sepertinya begitu," balas Cindy tersenyum bahagia.
"Oh iya apa Kakak sudah telepon Bapak? Aku lupa mengajari mereka karena terlalu senang, jadi pulang kantor langsung kemari," tanya Clara.
"Sudah sih tadi aku yang menelepon," sahut Bima.
"Coba kamu telepon lagi Sayang, kapan mereka kesini biar di jemput sopir," pinta Juan.
"Baiklah," ucap Clara langsung menghubungi pak Jarwo.
"Assalamualaikum," sapa Clara.
"Waalaikum salam," jawab pak Jarwo.
"Pak, Kak Cindy sudah melahirkan bayi laki-laki namanya Damar. Bapak kapan akan kemari?" tanya Clara.
"Sepertinya dua hari lagi baru bisa kesana, ini tadi pagi bude Sri anaknya meninggal kecelakaan. Adik mu juga baru selesai ujian hari sabtu, setelah mereka pulang kita semua akan kesana," jawab pak Jarwo.
"Innalillahi wa innalillahi rajiun, salam sama bude ya Pak," ucap Clara.
"Iya Nak, nanti bapak sampaikan. Tolong katakan kepada kakak mu kita tidak bisa langsung kesana ya, bapak minta maaf," balas Pak Jarwo.
Juan memberi kode jika ia ingin berbicara.
"Iya tidak apa-apa, kakak pasti mengerti kok. Ini Juan ingin berbicara kepada Bapak," ucap Clara sembari memberikan ponselnya kepada Juan.
__ADS_1
"Iya Nak, ada apa?" tanya pak Jarwo.
"Pak, nanti jika bapak dan ibu kesini, kami juga sekalian minta restunya ya," jawab Juan.