
"Cepat bawa teman kalian dari sini, dia sudah melecehkan pegawai ku," usir Rico tegas.
"Maafkan teman kami, dia sedang mabuk. Kami akan segera pergi,"
Para pria itupun segera berlalu, mereka adalah langganan di sini dan baru sekarang kejadian ini terjadi.
"Kamu tidak apa-apa, Clara?" tanya Rico.
"Sepertinya aku tidak cocok bekerja di sini," ucap Clara masih ketakutan.
Rico membawa Clara ke ruangannya agar lebih tenang, ia menyodorkan sebotol air putih kepada Clara. Ia segera meminumnya hingga tersisa setengah, kejadian tadi benar-benar menguras emosi dan tenaganya.
"Dunia itu keras Clara, hanya yang kuat yang mampu bertahan. Apalagi bekerja di dunia malam seperti ini, jangan pernah memperlihatkan sisi lemah mu, jika tidak maka orang lain akan menginjak-nginjak mu. Baik boleh, tapi lemah jangan. Aku tidak masalah jika kamu ingin berhenti, pesan ku hanya satu untuk mu, di manapun kamu berada jangan biarkan orang menganggap mu lemah dan bisa di manfaatkan,"
Kata-kata Rico benar-benar mengena Di hati Clara, benar katanya jangan sampai memperlihatkan sisi lemah kepada orang lain, karena di situ orang lain akan memperalat mu. Ia harus mengalahkan kelemahannya agar tetap bisa bertahan. Kelemahannya dulu telah memisahkannya dengan suami yang ia cintai, ia tidak mau menjadi lemah lagi.
"Aku akan tetap bekerja, maaf ya karena aku tadi tempat mu kehilangan tamu,"
"Tidak masalah, mereka itu langganan di sini jadi pasti datang lagi,"
Setelah merasa tenang Clara segera kembali untuk bekerja, ia bertekad untuk berubah, ia harus menjadi wanita yang kuat agar pria tidak semena-mena dan melecehkannya. Tepat pukul 12 malam Clara mulai mengantuk, matanya terasa sangat berat. Namun tamu semakin malam justru makin berdatangan.
"Kamu kenapa, Clara? Mengantuk?"
Pertanyaan Rico segera menyadarkan Clara.
"Maaf ya, di desa jam 9 biasanya sudah tidur. Aku harus membiasakan diri mulai sekarang," jawab Clara.
"Hari ini adalah hari pertama mu, kamu sudah berusaha sangat keras. Pulanglah dengan Jhony, aku bisa mengerti kalian masih butuh beradaptasi,"
"Ah tidak apa-apa, tinggal beberapa jam lagi. Aku masih kuat kok,"
__ADS_1
Clara merasa segan, tadi sudah membuat kerusuhan sekarang justru di suruh pulang karena mengantuk, ia benar-benar merasa tidak enak kepada Rico.
"Sudahlah jangan terlalu memaksakan, aku tidak mau pegawai ku sakit setelah bekerja di hari pertama. Pulang lah bersama Jhony, masih banyak yang lain di sini,"
Walaupun Clara sudah meyakinkan bahwa dirinya masih kuat namun Rico tidak mau mendengar, pria itu tahu Clara hanya merasa segan kepadanya. Akhirnya Clara dan Jhony pamit pulang lebih dulu.
"Ya ampun Jhon, ternyata tidak semudah dugaan ku. Rasanya lelah sekali, sampai rumah ingin cepat tidur," ucap Clara saat di perjalanan.
"Makanya itu dari awal aku bilang cari yang lain saja, aku takut kamu tidak kuat. Mana godaannya banyak, hari pertama saja sudah ada yang kurang ajar kepada mu,"
"Iya sih, itu karena aku terlalu lemah sehingga orang lain bisa semena-mena. Aku harus berubah, aku harus jadi wanita yang kuat agar tidak mudah di remehkan,"
Pak Satpam membukakan mereka pagar, mereka sudah membawa kunci rumah jadi tidak perlu membangunkan pembantu. Suasana rumah tampak lengang, sepertinya semua orang telah terlelap karena hari telah lewat tengah malam. Keduanya segera membersihkan diri dan langsung tidur nyenyak karena lelah.
***
Keesokan hari.
"Halo Jhony, maaf mengganggu mu pagi-pagi. Aku mau minta nomor ponsel Clara yang baru, karena sampai saat ini dia belum juga menghubungi ku," ucap Cindy to the point.
"Oh iya akan segera aku kirim, tapi sepertinya sekarang dia masih tidur. Karena semalam kita bekerja sampai larut,"
"Memangnya kalian bekerja apa?"
"Biar nanti Clara saja yang cerita, ini akan segera ku kirim nomornya,"
Jhony segera mengirim nomor Clara dan lanjut tidur. Cindy penasaran dengan pekerjaan yang mereka lakukan sampai larut malam.
Pukul 10.00 pagi Cindy baru menghubungi Clara, tepat dugaannya jika adiknya sudah bangun. Mereka janjian untuk bertemu di sebuah cafe di dekat rumah Cindy.
"Mami kita pamit dulu ya, mau bertemu kakak ku di Surabaya,"
__ADS_1
"Kalau begitu di antar sopir saja jangan naik motor, panas-panas seperti ini. Kalian jangan menolak, mami itu tulus kepada kalian,"
Mereka tahu mami Sita memang tulus, mereka bahkan tidak boleh melakukan pekerjaan apapun di rumah karena semua tugas pembantu. Bagaikan mimpi di siang bolong bisa bertemu orang sebaik dirinya di antara kejamnya dunia ini. Mereka segera menyalami mami untuk berpamitan, mami mencium kening Clara dan mengelus kepala Jhony dengan lembut, memperlakukan mereka seperti anak kandung sendiri.
Setelah sekitar satu jam mereka sampai di tujuan, tampak Cindy sudah menunggu di pojokan. Mereka saling berpelukan melepas rindu.
"Kenapa ponaan ku tidak di ajak sih Kak, aku kan rindu?"
"Aku ini pamit kontrol, jadi tidak mungkin membawanya,"
"Kakak baik-baik saja bukan? Wajah kakak terlihat pucat?"
"Iya Cin, apa kamu sedang sakit?"
Semua terlihat mengkuatirkan Cindy, namun Cindy justru berkata baik-baik saja. Cindy lalu bertanya dengan masalah Clara sampai harus menghilang. Walaupun bercerita akan membuka kembali lukanya namun ia harus jujur kepada Cindy. Kakaknya harus tahu kejadian sebenarnya agar tidak salah paham.
"Jadi begitu ceritanya Kak, aku harap Kakak bisa merahasiakannya dari siapapun juga. Walaupun sekarang aku sudah sedikit tenang, namun aku sudah tidak mau berurusan dengan ayah Juan lagi. Biarlah cinta ini aku kubur dalam-dalam, sekarang aku akan fokus membesarkan Axel saja," ucap Clara.
"Kamu memang wanita hebat Clara, setelah perjalanan sulit yang kamu lalui kamu masih bisa berdiri tegak seperti saat ini. Tapi sepertinya aku tidak sekuat diri mu, aku terlalu rapuh menghadapi semua masalah," balas Cindy sedih.
"Kamu juga hebat kok Cin, kalau ada masalah lebih baik kamu cerita supaya lega," sahut Jhony.
"Sejauh ini aku masih kuat menghadapi semua, jika sudah waktunya aku pasti akan bercerita. Aku sangat bosan di rumah dan ingin bertemu kalian, aku sangat penasaran dengan cerita Clara. Jujur aku sangat kasihan dengan Juan, ia sama menderitanya dengan mu Clara, terakhir dia ke rumah keadaannya sangat memprihatinkan,"
"Aku tahu Kak, karena aku pun merasakan hal yang sama. Tolong jangan cerita apapun tentang dia lagi Kak, aku benar-benar ingin melupakannya,"
Mereka sama-sama terdiam, terhanyut dalam kesedihan masing-masing.
"Sebenarnya aku curiga Bima bermain api di belakang ku, sikapnya banyak berubah. Tapi aku masih belum menemukan bukti, tolong jangan bilang siapa-siapa dulu sebelum pasti ya,"
"Apa? Bima selingkuh?"
__ADS_1