Menggapai Harapan

Menggapai Harapan
Bab 12 Menikahlah Denganku, Clara


__ADS_3

"Lebih baik kamu berbicara dengan Juan, agar dia bisa mencari solusi Clara," kata Cindy seraya mengusap rambut adiknya yang agak kusut.


"Aku tidak berani Kak, bagaimana jika Juan dan David bertengkar karena aku? Aku tidak akan memaafkan diriku sendiri," kata Clara menangis di pangkuan Cindy.


"Sekarang jujurlah kepada dirimu sendiri, sebenarnya hatimu untuk siapa, Clara?" tanya Cindy.


"Aku nyaman bersama Juan, tapi aku harus mencari uang agar bisa membantu ayah dan ibu, Kak," jelas Clara.


"Pak David hanya memberi waktu 3 hari untuk menjawab, Kak," terang Clara lagi.


"Sudahlah kamu istirahat saja, jangan terlalu memikirkan hal itu dulu ya, agar kamu cepat sembuh," kata Cindy


"Baiklah, aku istirahat dulu ya Kak, kepalaku masih pusing," jawab Clara seraya tidur kembali.


Diam-diam Cindy mengambil hp Clara, ia menunggu Clara tertidur lalu menyelinap keluar kamar. Ia menutup pintu dengan perlahan agar tidak membangunkan Clara.


Tut... tut... tut... Nada tersambung namun tidak di angkat. Cindy hilir mudik di ruang TV, dia bimbang harus meneruskan menelepon atau batal saja. Ia kaget tiba-tiba ponsel Clara berdering, karena takut Clara terbangun ia langsung mengangkat ponsel itu.


"Halo sayang, belum juga sehari udah kangen ya," kata Juan, menyangka yang tadi menelepon adalah Clara.


"Maaf Pak Juan, ini Cindy," jawab Cindy, salah tingkah.


"Oh maaf, aku kira Clara yang menelepon," kata Juan merasa malu.


"Saya mau bercerita, tapi tolong Pak Juan jangan terbawa emosi dulu ya, apa Bapak mau berjanji?" tanya Cindy dengan nada serius.


"Iya Cindy, aku berjanji, katakanlah," kata Juan dengan tidak sabar.


"Jadi tadi pagi Pak David memanggil Clara ke ruangannya Pak, beliau sudah tahu rahasianya. Clara mengatakan Pak David akan menjaga rahasianya agar bisa tetap bekerja asal..." cerita Clara, namun tak melanjutkan kata-katanya.


"Asal apa? Katakanlah Cindy," tanya Juan penasaran.


"Asal Clara mau menjadi kekasihnya, Pak," jelas Clara membuat Juan sangat emosi.

__ADS_1


"Kurang aj*r, apa maunya orang itu," umpat Juan sambil mengepalkan tangannya.


"Dia memberi waktu Clara 3 hari untuk menjawab Pak, saat ini Clara sakit karena terlalu memikirkan masalah itu. Dia tidak ingin berpisah dengan Pak Juan, namun dia juga sangat membutuhkan pekerjaan ini untuk membantu orang tua kita di desa," kata Cindy berterus terang.


"Saya menelepon tanpa sepengetahuan Clara, dia sebenarnya tidak ingin memberi tahu, karena tidak ingin mengganggu pekerjaan Bapak," kata Clara berkata jujur.


"Dia memang gadis baik, masih memperhatikan orang lain disaat seperti ini. Cindy tolong jaga dia dulu ya, jangan biarkan dia masuk besok, aku akan menyelesaikan semua pekerjaan hari ini. Besok aku akan menemuinya," kata Juan.


"Iya, saya pasti menjaganya, maaf sudah mengganggu ya, Pak," ujar Cindy merasa bersalah, namun dia merasa tak ada pilihan lagi untuk menyelamatkan Clara.


"Tidak Cindy, aku yang seharusnya berterima kasih, kamu telah mempercayaiku untuk menjaga Clara. Sampai ketemu besok ya," ucap Juan, kemudian mengakhiri pembicaraan. Dia bergegas menyelesaikan pekerjaannya agar besok bisa bertemu Clara.


Cindy mengembalikan ponsel Clara pelan-pelan. Dia menatap adiknya yang tertidur pulas, ia merasa kasihan di usianya yang masih muda, adiknya sudah harus menderita seperti ini. Air matanya mulai mengalir, cepat-cepat ia menyekanya takut ketahuan Clara.


***


"Aku baik-baik saja, biarkan aku masuk kerja, waktuku hanya 3 hari untuk mencari uang," rengek Clara kepada Jhony dan Cindy.


"Clara kamu belum sembuh betul, besok saja kamu masuk, aku akan memintakanmu izin," kata Cindy.


"Kalau kamu tetap begitu, akan aku telepon Pak Juan," ancam Cindy agar membuat Clara menurut.


"Baiklah, aku di rumah saja," jawab Clara akhirnya mengalah.


"Kamu jangan banyak bergerak dulu, nanti istirahat kita akan datang menjengukmu," kata Jhony.


"Maaf, sudah membuat kalian repot," ujar Clara seraya menundukkan kepalanya.


"Berhenti terus meminta maaf, kita ini semua adalah saudara, sedihmu adalah sedih kita semua Clara," kata Jhony menambahkan.


"Kita kerja dulu ya, kamu kunci semua pintu dan jangan membuka pintu untuk orang asing, jika Pak David kesini lebih baik temui di teras saja," pesan Jhony sebelum berangkat.


Sepeninggal mereka berdua Clara hanya berbaring di kamar. Ingin rasanya dia menelepon Juan, namun takut mengganggu pekerjaan pria itu. Clara merasa merindukan kehadiran Juan, ia merasa tersiksa menahan rindu.

__ADS_1


Tok... tok... tok... Terdengar suara pintu di ketuk. Clara merasa ketakutan, dia takut yang datang preman yang tempo hari mengganngu Cindy, atau David. Dia mengintip ke arah pintu. Betapa terkejutnya dia melihat bayangan di balik pintu.


"Juan...." kata Clara, tanpa sadar dia memeluk pria itu begitu erat. Rasa gengsi itu hilang seketika, pudar bersama rasa rindu yang teramat sangat.


"Aku di sini, Clara," kata Juan membalas pelukan Clara. Hatinya teramat senang, perasaannya rupanya berbalas. Ia merasakan bahwa Clara juga mencintainya.


"Bagaimana kamu bisa di sini? Bukankah kamu pergi selama 3 hari?" tanya Clara. Dia merasa penasaran kenapa pria itu tiba-tiba di sini.


"Bukankah hati kita sudah terikat, bagaimana mungkin aku tidak datang saat kekasihku sedang bersedih," ucap Juan, seraya memandangi wajah pucat kekasihnya.


"Ah kamu bisa saja," kata Clara seraya memukul dada Juan dengan manja, pipinya bersemu merah.


"Duduk di sini saja ya, tidak ada orang di rumah soalnya" kata Clara yang sangat menjunjung ajaran agama, dia takut khilaf.


"Kenapa kamu sampai sakit, aku tadi ke pabrik katanya kamu tidak masuk kerja karena sakit?" tanya Juan sambil menatap mata gadis itu. Dia berbohong karena ingin mendengar cerita yang sebenarnya dari Clara langsung.


Clara yang sudah merasa percaya dengan Juan akhirnya bercerita. Apa yang David katakan ia ceritakan semua, tidak di lebihkan atau di kurangi.


"Lalu apa pilihanmu, Clara?" tanya Juan saat gadis itu selesai bercerita.


"Haruskah aku jawab Juan? Apakah kamu tidak mengerti?" tanya Clara sedikit kesal karena ternyata Juan tidak tahu perasaannya.


"Aku ingin mendengarnya dari bibirmu yang indah ini, katakanlah Clara," kata Juan dengan sungguh-sungguh.


"Aku akan mencari pekerjaan lain, aku tidak sanggup berpisah denganmu," kata Clara dengan malu-malu namun tulus.


"Aku tahu akan sulit bagiku yang tidak memiliki ijazah untuk mencari pekerjaan, tapi jika aku berusaha pasti akan dapat juga," kata Clara menyemangati dirinya sendiri.


Juan terharu mendengar kata-kata Clara, dia menatap gadis itu dengan lembut. Mata coklatnya mulai berkaca-kaca. Di genggamnya kedua tangan gadis itu, lalu di kecupnya dengan lembut.


"Menikahlah denganku, Clara," kata Juan dengan sungguh-sungguh.


"Apa?" tanya Clara antara terkejut dan tidak percaya.

__ADS_1


Dia berusaha menyelami mata coklat pria itu untuk mencari kebenaran. Namun hanya ketulusan yang dia lihat, tidak ada kebohongan.


__ADS_2