
Dua hari kemudian.
Suasana sudah nyaman seperti biasa. Walaupun Clara masih merasa trauma tapi dia adalah wanita yang kuat, ia yakin akan segera melupakannya.
"Semua file sudah aku taruh di ruangan Pak Andre, ayo kita siap-siap pulang" kata Cindy.
"Iya, Kak. Ini kerjaan ku juga sudah selesai semua," jawab Clara.
"Kak Bella, kita duluan ya," kata Cindy.
"Sampai ketemu besok, Kak," kata Clara sambil tersenyum.
"Ok, hati-hati semuanya," jawab Bella.
Mereka pun segera turun. Sesampai depan kantor ada penjual es pisang ijo, Clara menelan saliva membayangkan betapa segarnya es itu.
"Kak, tunggu sebentar aku mau beli es pisang ijo dulu ya," pamit Clara.
"Ok, aku tunggu disini saja kalau begitu." jawabnya.
Clara bergegas membeli es itu. Cindy memandangi suasana jalan raya yang ramai baik oleh kendaraan yang lalu lalang, para pedagang, serta pejalan kaki. Ia menoleh kepada Clara yang masih antri membeli es.
Tiba-tiba ada anak kecil yang lewat di depannya, anak itu masih berusia sekitar 4 tahunan. Dia terlihat mau menyeberang. Walaupun lampu lalu lintas masih menunjukkan warna hijau untuk pejalan kaki, namun ia kuatir melihat anak itu tidak ada yang mendampingi. Ia memandang kesekitar namun tampaknya tidak ada seorangpun yang peduli kepada anak tersebut.
"Dik kamu mau kemana?" tanyanya dari kejauhan.
Ank itu hanya memandang Cindy tidak menjawab sembari bermain di jalanan, dia masih di sisi jalan namun sudah agak ke tengah. Cindy begitu kuatir takut lampu lalu lintas segera berubah warna.
"Dik, kalau mau menyeberang jalan agak cepat ya, takutnya lampunya segera berubah," teriak Cindy.
Anak itu tetap tak mengindahkan ucapan Cindy. Lampu pejalan kaki berubah merah. Cindy panik lalu segera berlari ingin menggendong anak itu ke pinggir.
Bruk... ciiitt... bruk...
Terdengar suara tubrukan di susul suara rem mobil, lalu terdengar sesuatu jatuh.
Suasana jalan raya langsung ramai, Clara segera berlari tatkala tidak melihat kakaknya di tempat tadi menunggu, ia kuatir kakaknya yang tertabrak. Masih teringat jelas ketika ia hampir tertabrak yang justru membuat Andre terluka parah.
__ADS_1
"Woi jangan lari, tanggung jawab. bruk, bruk, bruk," kata seorang pria sambil memukul-mukul mobil yang menabrak.
"Mas, saya tidak salah. Wanita itu tiba-tiba berlari ke tengah saat lampu pejalan kaki sudah merah," jawab pengendara itu.
"Benar Mas, tadi memang mbk itu yang salah sih," ujar seorang pengendara motor.
"Walaupun begitu kan kasihan, harusnya di tolongin. Jangan main kabur saja," jawab pria tadi.
"Maaf Mas, saya buru-buru istri saya mau melahirkan. Saya tidak ada waktu, maaf ya," kata pria yang menabrak, ia segera berlalu.
Mereka akhirnya membiarkannya karena banyak yang melihat memang Cindy yang salah. Mereka beegegas membopong Cindy ke pinggir. Clara sudah tak hentinya menangis melihat kakaknya tertabrak.
"Kak, bangun. Kenapa jadi begini sih kak," katanya sambil terisak.
Tiba-tiba ambulance datang, nampaknya ada orang yang sengaja memanggil tadi. Cindy segera di angkat di temani Clara. Ia berusaha berbicara dengan Cindy namun tidak ada respon.
Banyak darah di pelipis Cindy, Clara semakin panik.
'Tuhan kenapa ujianmu tiada henti, berikan kesabaran Ya Robb' batin Clara.
Ia merogoh tasnya, mencari ponselnya.
"Sayang kamu kenapa? Kenapa menangis?" tanya Juan panik.
"Kak Cindy, hiks... hiks..." jawabnya sambil terisak.
"Ambik napas dalam-dalam agar tenang dulu, baru bicara," kata Juan.
Clara melakukan saran Juan, setelah agak tenang dia mulai bercerita.
"Kak Cindy kecelakaan, sekarang aku sedang di ambulan, mau ke rumah sakit," katanya sedih.
"Astafirullah, kenapa bisa terjadi? Ya sudah aku menyusul sekarang, nanti sms saja posisimu ya, Sayang" kata Juan langsung memutus panggilan.
"Dre, Kamu dimana? Ayo ikut ke rumah sakit, Cindy kecelakaan kata Clara." ajak Juan.
"Astaga, kok bisa. Aku di kantor. Ya sudah ketemu disana saja, rumah sakit mitra kan tempatku dulu dirawat ya," kata Andre terkejut.
__ADS_1
"Iya, ok ketemu disana," jawab Juan, lalu bergegas menyusul Clara.
Keduanya segera berangkat, pikiran mereka berkecamuk. Ada banyak pertanyaan serta dugaan dalam batin mereka.
***
Setelah tiba Cindy segera di bawa ke ruang UGD. Clara menunggu sambil berdoa agar kakaknya tidak parah. Dia bingung harus bercerita apa dengan orang tuanya di kampung jika sampai ada apa-apa dengan Cindy.
Ketika Dokter keluar, terlihat Juan dan Andre baru tiba dan menghampiri mereka.
"Bagaimana kondisi kakak saya, Dok?" tanya Clara.
"Benturan di kepalanya cukup parah, namun kita sudah berhasil menanganinya. Namun sepertinya Ibu Cindy akan mengalami amnesia sementara waktu." jelas Dokter itu.
Mereka bertiga terperangah mendengar penjelasan Dokter, sama sekali tak menyangka akan separah itu. Seketika tubuh Clara lemas, untung Juan segera menangkapnya agar tidak terjatuh.
"Namun itu hanya perkiraan saja, nanti kita lihat ketika pasien sadar. Kakinya juga ada retak sehingga sementara pakai kursi roda dulu ya." imbuhnya.
Clara semakin lemas mendengarnya, Juan segera memapah Clara agar duduk.
"Pukul 19.00 pasien akan segera di pindahkan ke ruangan, tolong segera urus semua administrasinya ya Pak. Saya mau memeriksa pasien yang lain dulu." kata Dokter itu.
"Baik, Dok. Terima kasih." jawab Juan, sopan.
"Dre, tolong urusin administrasi dulu ya, nanti aku ganti. Aku mau bawa Clara ke apartemen dulu biar dia nyiapin baju buat nemenin Cindy disini sekalian mandi dan istirahat sebentar. Titip Cindy dulu ya," kata Juan.
"Apaan sih pakai bilang diganti segala, kita kan keluarga. Gini saja hari ini biar aku yang nemenin dan mengurus keperluan Cindy disini. Sebaiknya kamu ajak Clara istirahat di apartemen, kasihan dia juga bisa sakit kalau tetap disini." kata Andre.
"Tapi aku kuatir dengan kak Cindy," jawab Clara lirih.
"Sayang, aku percaya Andre akan menjaga Cindy dengan baik. Benar katanya kamu perlu istirahat juga agar tidak sakit, besok pagi kita kesini lagi ya," bujuk Juan.
Clara terlihat berpikir, kemudian mengangguk pelan. Mereka meninggalkan rumah sakit menuju apartemen.
Andre segera mengurus segala keperluan Clara, mulai dari administasi, infus dan segera perlengkapan yang dibutuhkan nanti. Beruntung saat waktunya dipindahkan ke ruangan, ia telah selesai mengurus semuanya. Ia memilih kelas VIP agar Cindy bisa beristirahat dengan tenang.
"Semoga ini bukan rencana seseorang lagi, aku pasti menyelidikinya," kata Andre ketika melihat Cindy terlihat lemah.
__ADS_1
"Halo Joko, tolong kamu periksa CCTV di sekitar depan kantor. Tadi ada yang tertabrak di sana, coba lihat apa ada hal yang mencurigakan. Misalnya seperti kesengajaan menabrak begitu. Kejadiannya sepulang kerja. Kalau sudah segera hubungi aku ya," Kata Andre lalu memutus panggilannya.
Menurut Dokter kemungkinan Cindy baru akan bangun besok pagi jadi dia memutuskan untuk beristirahat juga di sofa. Sebelum tidur ia menyetel udara ruangan agar tidak terlalu dingin, tak lupa ia menyelimuti Cindy. Setelah itu baru dia bisa beristirahat dengan tenang.