Menggapai Harapan

Menggapai Harapan
Bab 129 Salah Paham


__ADS_3

"Kalian dengar sendiri, suami ku sudah mengakui semuanya," ucap ibu itu penuh kemenangan.


"Kenapa Bapak berbohong, saya tidak kenal dengan Anda dan tidak pernah merasa menerima anda di kosan ini," kata Clara sedih.


Wajah pria itu pucat pasi, ia hanya menunduk dan tidak menjawab sepatah katapun. Clara benar-benar tidak mengerti mengapa pria itu tega menfitnahnya, padahal ia tidak merasa menyakiti siapapun saat berada di tempat ini.


Pak Kholil dan Yuni tampak tidak percaya, selama ini yang mereka tahu Clara tidak pernah aneh-aneh apalagi sampai memasukkan pria ke dalam kamarnya.


"Dasar kamu pelakor, mengaku sudah menikah tapi masih gatal dengan suami orang,"


Ibu itu berteriak sambil menghampiri Clara, tanpa di duga ia menjambak rambut panjang Clara. Clara meringis kesakitan, ia berusaha melepaskan diri dari ibu yang barbar itu.


"Rasakan ini," Ibu itu terus menarik rambut Clara.


"Lepaskan, sakit," pinta Clara.


Semua beramai-ramai membantu Clara agar bisa lepas dari wanita itu, bahkan suaminya turut melerai. Tenaga ibu itu begitu kuat, setelah berusaha keras akhirnya bisa terlepas juga. Namun Clara jatuh tersungkur, dia segera memegangi perutnya.


"Saya sedang hamil muda, jika sampai bayi saya kenapa-kenapa saya akan menuntut kalian," teriak Clara begitu emosi.


"Oh jadi suami ku sudah berhasil menanam benih di perut mu itu ya! Hebat memang kalian, seharusnya aku tendang perut mu tadi," ucap ibu itu menatap penuh emosi.


"Diam kamu! Sudah cukup dari tadi aku sabar, karena menghormati usia mu yang lebih tua dari ku. Tapi semakin lama kamu semakin menginjak-injak harga diri ku! Suami ku masih muda dan tampan, ia sanggup menafkahi aku lebih dari cukup. Untuk apa aku lebih merendahkan harga diri ku dengan berselingkuh dengan suami mu," Clara berteriak penuh emosi.


Sembari masih memegang perutnya yang terasa nyeri, ia bangkit dan mulai menghampiri pasangan itu.

__ADS_1


"Dan kamu, aku sama sekali tidak mengenal mu kenapa kamu ingin menfitnah ku. Berapa orang membayar mu untuk membuat nama ku tercemar, katakan saja jika tidak ingin aku laporkan kepada polisi. Jangan kira karena aku seorang gadis yang hidup sendiri di sini kalian bebas menghina ku!"


Clara menunjuk-nunjuk pria itu, matanya merah menahan emosi. Sudut matanya mulai mengembun, rasa rindu kepada suami dan keluarganya serta rasa sakit hatinya karena di hina dan di fitnah menimbulkan rasa sakit luar biasa di hatinya. Semua orang yang melihat sampai terpana, mereka sama sekali tidak menyangka gadis lembut seperti Clara bisa semarah itu.


"Maaf, tapi aku tadi belum selesai bicara," balas suami ibu itu.


"Maksud mu apa, katakan saja semuanya. Lihat wanita pelakor itu berani sekali membentak ku, mana ada suami menafkahi lebih dari cukup tapi dia tinggal di kosan," ucap istrinya masih tidak mau kalah.


Clara melangkah masuk menuju kamarnya, dengan sedikit merintih menahan sakit di perutnya ia tetap berjalan. Ternyata ia mengambil tumpukan uang dan kemudian melemparnya ke arah ibu itu.


"Lihat ini, kamu pikir aku berkata bohong. Maaf, tapi aku bukan seperti kalian yang sukanya menfitnah orang lain. Suami ku memang memberi ku nafkah lebih dari cukup, tapi aku tetap bekerja karena aku bukan tipe wanita yang suka bergantung kepada orang lain bahkan suami ku sendiri,"


Gepokan uang itu terbang bebas menimpa tubuh ibu itu, dia hanya bisa melongo melihat banyak uang berserakan. Semua orang juga terkejut, karena selama ini Clara walaupun wajahnya tidak terlihat kumat seperti orang miskin tapi dia selalu hemat dan tidak pernah membeli sesuatu yang mahal.


"Mbak tidak apa-apa?" tanya Yuni.


"Perut ku sakit," jawab Clara.


"Tolong jangan membuat anak kos saya susah, kasihan dia sampai kesakitan begitu. Sebaiknya segera katakan apa maksud ucapannya tadi," ucap Pak Kholil tegas.


"Bisa saja uangnya dari hasil melac*r, bukan di beri suaminya," ucap ibu itu masih belum mau kalah.


Plak...


Suaminya menamparnya dengan keras sampai pipinya merah, spontan ia memegang pipinya dan meringis kesakitan.

__ADS_1


"Cukup Bu, jangan mempermalukan aku lagi karena tingkah mu ini. Dengarkan dulu jika ada orang mau bicara, jangan selalu kamu potong begitu saja," ucap suaminya tegas.


"Pak, kamu berani menampar aku hanya karena gadis ini? Apa yang sudah ia berikan hingga kamu bisa begitu tega pada ku? Apa dia lebih penting dari aku dan anak mu?" tanya istrinya mulai terisak.


"Makanya diam dulu, biarkan aku menjelaskan agar tidak terjadi salah paham. Dari tadi kamu bicara saja tanpa henti sudah seperti kereta kehilangan kendali," jawab suaminya.


Istrinya terlihat memonyongkan mulutnya, ia tidak suka mendengar ucapan suaminya yang cenderung menyudutkannya. Semua orang tampak menunggu penjelasannya.


"Apa kamu ingat sekitar 4 hari yang lalu anak kita sedang sakit?" tanya suaminya.


"Ya tentu saja aku ingat, tidak perlu tanya hal-hal yang tidak ada kaitannya dengan masalah ini, Pak," jawab istrinya.


"Justru ini ada hubungannya, uang yang aku buat untuk membawa anak kita ke rumah sakit itu adalah pemberian mbak ini," suaminya menunjuk ke arah Clara.


"Oh, jadi karena dia memberi mu uang kemudian ingin menjadikannya selingkuhan begitu?" tanyanya sangat marah.


"Sudah ku bilang diam dulu, biarkan aku selesai bicara. Nanti kamu bisa bicara sepuas mu setelah ini," jawab suaminya.


Clara mulai mengingat kejadian beberapa hari yang lalu, saat itu ada seorang pengendara motor yang jatuh karena tidak fokus menyetir. Kebetulan pria itu hampir saja menabraknya, tapi karena segera sadar ia melajukan motornya ke pinggir jalan dan jatuh. Setelah Clara tanya ternyata ia sedang memikirkan biaya pengobatan anaknya yang sedang di rawat di rumah sakit sehingga tidak menyetir. Setelah menasehati agar lebih berhati-hati ia memberinya uang untuk berobat anaknya.


"Dia ini yang sudah membantu membiayai anak kita dan dia tulus melakukannya, kita juga tidak pernah bertemu lagi setelah kejadian itu,"


"Lalu untuk apa kamu malam-malam berada di depan kamar wanita ini?"


"Aku hanya sedikit kuatir, aku hanya ingin membalas budi baiknya. Tidak sengaja aku melihatnya dari puskesmas dengan wajah pucat, aku hanya ingin tahu keadaannya, aku mengikutinya ke kosan ini. Malamnya aku datang untuk melihat keadaannya, tapi aku bingung harus berkata apa karena kita tidak saling kenal. Setelah memastikan dia baik-baik saja di dalam, aku kembali pulang,"

__ADS_1


__ADS_2