
"Tidak apa-apa, aku di sini Clara," kata Andre menenangkan Clara yang tetap terisak.
"Maaf, Pak Andre." ucap Clara setelah tersadar dia memeluk Bosnya itu.
"Tidak apa-apa, peluklah jika kamu masih membutuhkan sandaran," kata Andre lembut.
Clara mengusap air matanya, dia berusaha menenangkan diri. OB datang membawa minuman dan camilan. Andre memberikannya minum agar lebih tenang.
"Kenapa kamu sampai pingsan di toilet, Clara?" tanya Andre perlahan.
"Maaf ya, Pak. Saya takut gelap, apalagi dalam ruangan tertutup. Dada saya rasanya sesak dan tiba-tiba kepala saya pusing. Setelah itu saya tidak ingat lagi." jelas Clara, membuat kening Andre mengernyit.
"Ruangan tertutup? Gelap? Maksudnya bagaimana, Clara?" tanyanya beruntun.
"Tadi saya ke toilet, ketika mau keluar pintunya tiba-tiba terkunci. Sudah saya dorong-dorong tapi tidak bisa terbuka. Setelah itu tiba-tiba lampu padam. Saya panik, Pak," kata Clara.
"Mana mungkin seperti itu, selama ini pintu tidak pernah macet, apalagi lampu sampai padam begitu. Biar nanti aku suruh periksa. Tapi kamu tidak apa-apa?" tanya Andre.
"Sudah tidak apa-apa, tadi hanya takut saja, Pak." jawab Clara.
"Saya kembali ke ruangan saya ya, Pak," kata Clara segera bangkit.
"Sudah istirahat di sini dulu, kerjaanmu sudah aku minta Bella menghandlenya," ucap Andre.
"Tapi...." ucap Clara berusaha membantah.
"Sudah Clara, istirahlah dulu." kata Andre memotong ucapan Clara.
Akhirnya Clara menurut. Ia termenung sejenak, kemudian terlihat mengagumi interior ruangan Andre. Andre sering mencuri pandang sembari tetap berkutat dengan pekerjaannya. Pria itu terlihat tidak fokus.
"Clara, tolong jangan bercerita dulu tentang masalah ini kepada Juan ya. Biar aku selidiki dulu," katanya memohon.
"Iya, saya tidak akan bercerita, Pak," jawab Clara.
Clara menatap pria yang sedang bekerja itu. Andre sadar, namun tak berani melihatnya. Akhirnya dia tidak kuasa untuk tidak melihat, mata mereka bersitatap. Clara tersenyum kepadanya, membuat jantung pria itu berdegup kencang.
__ADS_1
"Kenapa Bapak belum menikah?" tanya Clara tiba-tiba. Ia melihat Andre pria yang baik dan ramah, sikapnya tidak sedingin Juan. Pasti banyak wanita yang ingin mendampinginya. Namun entah mengapa ia masih terlihat sendiri.
"Aku belum siap, Clara. Belum ada yang membuat hatiku bergetar. Sekalinya ada, dia sudah menjadi milik orang lain," kata Andre dengan mimik sedih.
"Oh sayang sekali ya, Pak. Tapi jangan sampai patah semangat, tetap membuka hati untuk orang baru. Karena kalau jodoh pasti di pertemukan, cepat atau lambat." kata Clara bijaksana.
"Amin," ucap Andre.
"Apakah kamu sudah baikan, Clara?" tanyanya.
"Bukankah dari tadi saya katakan, saya baik-baik saja, Pak," jawab Clara.
"Kalau begitu kamu kembali saja, aku tidak fokus bekerja jika kamu di sini. Hahaha," kata Andre menertawai dirinya yang tidak bisa mengontrol dirinya.
Clara pun terkekeh mendengarnya.
"Baik, saya pergi ya, Pak." kata Clara, kemudian berlalu.
"Aduh kenapa kamu tidak bisa berkompromi sih," kata Andre seraya memegang dadanya yang masih berdetak kencang.
"Clara, apa kamu baik-baik saja? Kenapa sampai pingsan di toilet sih?" tanya Bella ketika melihat Clara kembali.
"Terimakasih ya Kak, sudah membantu handle pekerjaanku," jawab Clara.
"Iya, sama-sama," kata Bella tetap menatap Clara, menunggunya bercerita.
"Tadi waktu mau keluar dari toilet pintunya tiba-tiba tidak bisa terbuka, kemudian lampunya juga tiba-tiba padam. Aku takut gelap, apalagi ruang tertutup. Aku panik, Kak. Aku pusing lalu tidak ingat apa-apa lagi." jelas Clara, terlihat Bella benar-benar menyimak.
"Kok bisa sih? Selama ini tidak pernah ada kejadian begini. Sepertinya ini sabotase deh, mungkin orang yang membencimu yang melakukannya," kata Bella sambil memberi kode melihat kearah Riska.
"Ah Kakak, jangan menuduh begitu. Tidak baik Kak, mungkin memang kesalahan sistem," jawab Clara berpikir positif.
"Tidak mungkin, Clara. Pasti mak lampir itu yang berulah." kata Bella begitu yakin.
"Sudahlah, Kak. Biar Pak Andre yang menyelidiki, tadi dia bilang akan menyelidikinya," kata Clara lagi.
__ADS_1
"Tempo hari file-filemu hilang, hari ini kamu terkurung di toilet. Entah apalagi yang akan terjadi nanti, sepertinya ada yang tidak menyukaimu, Clara. Ini tidak boleh dibiarkan, harus di selidiki." kata Bella setengah berteriak, ia sengaja agar Riska mendengarnya.
"Jangan keras-keras, Kak. Iya nanti di selidiki." kata Clara merasa tidak enak dengan karyawan lain yang sedang bekerja.
"Kamu tuh baik sekali sih, Clara," ucap Bella merasa gemas.
Riska terlihat keluar ruangan, mungkin ia jengah mendengar kata-kata Bella.
"Ini buat kamu. Awas kalau sampai ketahuan, hilang pekerjaanmu." kata Riska kepada seorang OB. Kemudian ia melenggang pergi dengan senyum kemenangan.
"Suruh siapa menentang seorang Riska Amelia, rasakan itu." kata Riska lirih.
***
Di Apartemen, Om dion dan Jhony sangat kelelahan. Mereka terlihat ketiduran, Om Dion di kasur dan Jhony lebih memilih tidur di sofa. Mereka sangat nyenyak sekali.
"Om bangun, aku pulang dulu ya Om," kata Jhony.
"Memangnya sudah jam berapa ini, Tian? Nyenyak sekali aku tadi tidurnya." kata Om Dion.
"Sudah hampir magrib, aku capek sekali mau istirahat lagi di rumah. Tidak apa-apa kan aku pulang sekarang?" tanya Jhony.
"Iya tidak apa-apa, aku mengerti. Terima kasih ya sudah membuatku senang. Aku sudah transfer ke rekening yang aku berikan tempo hari, mungkin kamu butuh untuk keluargamu. Jangan lupa besok pagi kesini, besok hari terakhir aku di Indonesia." kata Om Dion dengan setengah mengantuk.
"Sama-sama Om, terima kasih juga ya. Aku pulang dulu," kata Jhony, lalu melangkah pulang.
Sebelum pulang ia sempatkan mengecek rekening dari Om Dion di ATM. Betapa terkejutnya ia mendapat uang yang lumayan dari Om Dion. Menurutnya Om Dion baik, mungkin hanya karena keadaan dia menjadi seperti itu. Sayang waktunya dengan pria itu hanya 3 hari, kalau banyak Jhony berencana membantunya untuk bertaubat dan menata hidupnya kembali. Menjadi seorang laki-laki tulen.
***
Clara dan Juan sedang mencari kontrakan, dekat dengan kantor Clara. Ternyata mencari kontrakan yang cocok tidak segampang yang dibayangkan. Sudah beberapa tempat yang mereka lihat, namun belum ada yang cocok menurut Juan. Ya, memang Juan seleranya tinggi. Kalau bagi Clara yang mana saja tidak masalah.
"Juan, menurutku yang tadi itu sudah bagus loh. Bahkan lebih baik dari rumah Januar, kenapa kamu menolaknya?" tanya Clara berusaha protes.
"Kamu tidak lihat di sekitarnya, banyak warung kopi, cafe begitu. Banyak laki-laki yang menatapmu tadi. Padahal di sampingmu ada aku, bagaimana kalau tidak ada? Mereka pasti mengganggumu. Ayo kita cari makan dulu, aku lapar." kata Juan sembari menggandeng kekasihnya.
__ADS_1
Clara tidak berani protes, ia tahu Juan pasti memberikan yang terbaik untuknya. Ia menurut saja ketika Juan mengajaknya makan.