
Pagi itu seperti biasa Clara dan Cindy bersiap untuk kerja. Mereka berangkat lebih awal agar tidak terlambat. Lalu lintas sangat ramai di hari senin itu.
"Clara, Cindy, awas!" teriak Andre memanggil kedua gadis itu.
Mereka menoleh ke arah datangnya suara, mereka tidak menyadari ada mobil sedang melaju ke arah mereka.
Tiba-tiba, Brukkk...
Seseorang tertabrak, dan mobil itu mencoba melarikan diri. Orang-orang berusaha menangkap mobil itu namun berhasil kabur.
"Pak Andre..." teriak Clara yang terjatuh karena di dorong ke pinggir.
"Pak Andre!" teriak Cindy juga.
Mereka berdua langsung berdiri, tidak merasakan lagi sakitnya tangan dan kaki mereka ketika jatuh terjerembab tadi.
"Siapapun tolong bantu!" teriak Cindy sembari memegang kepala Andre agar tak menyentuh aspal.
Orang-orang awalnya takut mendekat, namun setelah tahu yang tertabrak adalah bos Adi Jaya Group mereka ramai-ramai membantu. Kebanyakan mereka adalah karyawan Andre. Mereka langsung menghubungi Rumah sakit terdekat.
"Clara cepat telepon Juan." kata Cindy di sela-sela tangisnya.
"Iya, Kak," jawab Clara yang juga terisak.
"Halo, Juan. Cepatlah kesini, Pak Andre di tabrak mobil. Ia mengeluarkan banyak darah, tolong kasihan dia. Aku di jalan depan kantor, cepat kesini. Hiks... Hiks..." kata Clara kemudian menutup teleponnya.
"Kenapa ambulan lama sekali, kasihan Pak Andre. Hiks... Hiks... Dia begini karena menyelamatkan kita, Clara," ucap Cindy tak bisa berhenti menangis.
"Apa yang terjadi? Kenapa bisa begini? Apa sudah telepon rumah sakit?" tanya Juan panik, ia melihat sahabatnya banyak kehilangan darah.
"Dia menyelamatkan kami, harusnya tadi aku dan Kak Cindy yang tertabrak, hiks... hiks... Sudah telepon tadi belum datang juga." jelas Clara.
Juan tak banyak bertanya lagi, keselamatan sahabatnya yang terpenting saat ini.
"Taksi... Tolong ke Rumah Sakit Mitra ya Pak. Agak cepat ya Pak, saudara saya kehilangan banyak darah." kata Juan, segera membopong tubuh Andre ke mobil.
"Juan..." panggil Andre lirih.
__ADS_1
"Sudah, jangan bicara dulu ya. Kamu kehilangan banyak darah, istrirahatlah." kata Juan.
"Halo Kak Bella, Pak Andre kecelakaan, dia tertabrak mobil. Tolong Kakak jaga kantor ya Kak. Aku, Kak Cindy dan Juan sedang membawanya ke rumah sakit." kata Clara di telepon.
"Nanti saja aku ceritakan, Kak. Ini sudah sampai rumah sakit. Udah dulu ya," kata Clara lalu mengakhiri teleponnya.
Juan segera mengurus administrasi, Clara dan Cindy menemani Andre di UGD. Terlihat keduanya mondar mandir, mereka sangat kuatir.
"Bagaimana keadaan Andre?" tanya Juan setelah mengurus semua administrasi.
"Juan, dokter masih memeriksanya. Dia belum keluar, hiks..." jawab Clara langsung menghambur dan memeluk kekasihnya.
"Tenang ya Sayang, kita berdoa saja semoga tidak parah. Dia pasti baik-baik saja, Andre pria yang kuat." kata Juan menenangkan Clara.
"Keluarga Bapak Andre," panggil seorang Dokter.
"Ya, Pak. Kami keluarganya, bagaimana keadaannya Pak?" tanya Juan tetap tenang.
"Sepertinya benturannya cukup keras, kepala dan perutnya mengeluarkan banyak darah. Tetapi beliau sudah di rawat, sebentar lagi akan di pindahkan ke ruangan." jelas Dokter membuat mereka sedikit lega.
Mereka bertiga duduk di ruang tunggu, menunggu Andre di pindahkan. Juan terlihat menenangkan kedua gadis yang masih shock itu.
"Tadi kejadiannya bagaimana?" tanya Juan.
"Aku dan Clara sedang menyeberang ke kantor, saat sudah hampir sampai tiba-tiba Pak Andre berteriak. Kita menoleh ke arahnya, tidak tahu kalau ada mobil ke arah kita. Pak Andre mendorong aku dan Clara ke pinggir jalan. Kemudian aku sudah melihat dia tertabrak. Mobil itu berhasil kabur dari serangan orang-orang," jelas Cindy yang sudah mulai tenang.
Juan mengangguk, ia mendengarkan penuturan Cindy dengan seksama.
"Halo, Bagas. Andre baru saja di tabrak mobil di jalan depan kantornya, tolong kamu selidiki karena yang menabrak melarikan diri. Aku takut itu kesengajaan, sepertinya targetnya Clara dan Cindy. Kamu bisa mintak rekaman CCTV dari kantor Andre, karena dia pernah bercerita sudah mengaktifkan CCTV di kantornya," kata Juan di telepon.
"Bagaiman keadaannya, Mas? Apakah parah?" tanya Bagas yang juga mengenal sosok Andre.
"Dia mengeluarkan banyak darah tapi sudah di tangani, ini kita sedang menunggu dia di pindahkan ke ruangan," jelas Juan.
"Syukurlah kalau sudah membaik. Aku akan segera menyelidiki. Salam sama mas Andre ya, Mas," kata Bagas mengakhiri pembicaraan.
Mereka membawa Andre ke ruang VIP sesuai permintaan Juan. Andre masih tidur, mungkin pengaruh dari obat yang diberikan dokter. Mereka menemaninya dengan sabar.
__ADS_1
"Sayang apa kamu dan Cindy tidak periksa sekalian, bukannya tadi kalian juga terjatuh," kata Juan kuatir.
"Kita tidak apa-apa kok," jawab Clara.
"Kalian sepertinya sangat lelah, ini sudah siang. Kalian pulang saja, biar aku yang akan menemani Andre," kata Juan.
"Andre terluka karena kita, mana mungkin kita meninggalkannya," jawab Clara merasa bersalah.
"Kalian jangan begini, itu kecelakaan. Jadi jangan menyalahkan diri kalian seperti ini. Pulanglah, jika ada sesuatu aku akan menghubungi." kata Juan.
"Baiklah, tapi habis magrib nanti kita kesini lagi ya." kata Clara.
"Iya, aku sudah menyuruh sopirku mengantar kalian pulang. Dia menunggu di parkiran, cepatlah pulang," ucap Juan.
Mereka akhirnya pulang, walaupun sebenarnya enggan untuk meninggalkan orang yang telah menyelamatkan mereka.
"Halo, bagaimana, Gas?" tanya Juan di telepon.
"Sepertinya itu memang di sengaja Mas, dari rekaman CCTV mobil itu telah parkir cukup lama di dekat kantor. Ketika Clara dan Cindy menyeberang dan hampir sampai mobil itu bergerak cepat menuju ke arah mereka, kebetulan Mas Andre di dekat sana dan melihat itu. Dia spontan mendorong mereka ke pinggir, namun justru dia yang tertabrak. Ini sedang menyelidiki mobil itu milik siapa dan siapa yang mengendarai. Mas sabar dulu ya," cerita Bagas dengan detail.
"Ok, aku tunggu kabarmu." kata Juan, lalu menutup teleponnya.
"Aku dimana?" tanya Andre lirih, ia mulai membuka matanya.
"Kamu di rumah sakit, Dre. Gimana keadaanmu, mana yang sakit?" tanya Juan dengan lembut.
"Kepala dan perutku terasa sakit. Bagaimana keadaan mereka? Mereka tidak apa-apa bukan?" tanya Andre lagi.
"Mereka tidak apa-apa, terima kasih ya. Jika tidak ada kamu, pasti mereka yang menjadi korban," kata Juan, tulus.
"Tidak perlu berterima kasih, selain mereka karyawanku, mereka sudah ku anggap saudara." kata Juan sambil meringis.
"Apa kamu ingin sesuatu, biar ku bantu?" tanya Juan.
"Tidak, hanya saja kepalaku pusing. Aku ingin tidur saja," jawab Andre.
Ia memejamkan mata, kepalanya terasa berdenyut. Juan menemaninya dengan sabar, ia tertidur di kursi karena mengantuk. Juan telah menghubungi orang tua Andre, mereka dalam perjalanan ke Surabaya. Namun pesawatnya delay karena cuaca buruk.
__ADS_1