Menggapai Harapan

Menggapai Harapan
Bab 153 Akhir Kisah Kita


__ADS_3

Juan dan Andre segera menemui mami di tempat itu. Mereka bertanya tentang Diandra. Mami mengatakan jika Diandra berhenti bekerja karena harus pulang kembali ke Manado, karena salah satu keluarganya meninggal dunia. Tentu saja mereka tidak percaya begitu saja dan memutuskan mencari tahu sendiri.


☆☆☆


Clara menceritakan semua yang terjadi kepada Jhony saat sampai di rumah. Clara menangis sedih saat bercerita.


"Lalu kita harus bagaimana sekarang? Aku yakin Juan dan Andre akan mencari Diandra,"


Jhony terlihat panik juga.


"Sebaiknya kita pulang ke desa, Jhon. Cepat atau lambat mereka pasti tahu tempat ini. Kita harus meminta bantuan mami Sita sekarang juga," ucap Clara.


Mereka berdua menceritakan kisah mereka yang belum pernah mami Sita tahu sebelumnya. Wanita itu tidak menyangka jika selama ini dirinya menampung istri dari seorang Juan Danuarta. Setelah kurang lebih satu jam bercerita mereka memutuskan untuk segera berkemas dan pamit dari sana.


"Kita pamit dulu ya Mi, terima kasih sudah baik terhadap kami selama ini. Tolong jaga rahasia kami ya, Mi,"


Keduanya memeluk mami Sita untuk terakhir kalinya. Kesedihan tidak dapat di tutupi dari raut wajah mereka. Sopir segera memasukkan barang-barang mereka ke dalam mobil. Perjalanan mereka di kota sepertinya sudah usai.


Mereka menatap mami Sita dan rumahnya untuk terakhir kalinya. Banyak kenangan dalam rumah ini yang sulit mereka lupakan. Perlahan mobil meninggalkan rumah mewah itu. Perjalanan terasa sunyi karena mereka hanya terdiam dan sesekali saja berbicara.


"Jhon, bagaimana dengan kak Dinda?" tanya Clara.


"Tenang saja, kalau jodoh tidak akan kemana kok," jawab Jhony.


Lalu keduanya pun terdiam lagi.


***


Sementara itu di tempat lain, Juan dan Andre mulai mengerahkan kekuasaan mereka untuk menemukan wanita bernama Diandra itu.


"Cari semua informasi tentang gadis bernama Diandra itu, aku tunggu secepatnya,"


Andre menutup teleponnya. Ia menatap sahabatnya yang mulai kehilangan arah kembali setelah bertemu wanita yang mirip istrinya itu.


"Dre, aku sangat yakin yang bersama ku semalam di kamar itu adalah istri ku Clara. Memory tentang dia sangat melekat dalam ingatan ku, aku tidak mungkin salah,"

__ADS_1


Juan masih bersikukuh dengan pendiriannya. Andre bisa memaklumi hal itu karena Diandra memang sangat mirip dengan Clara.


Saat sedang mengobrol ponsel Andre berdering. Ternyata anak buahnya yang menghubungi.


"Halo, bagaimana?" tanya Andre.


"Gadis itu tinggal di rumah mewah milik mami Sita. Wanita ini juga mempunyai tempat kos untuk wanita malam di sebelah rumah mewahnya. Kalau hubungannya dengan mami Sita katanya sebatas teman. Saya kirim alamatnya lewat pesan ya Bos,"


"Ok, terima kasih. Kirim segera ya,"


Andre menunggu pesan dari anak buahnya itu. Setelah menerima pesannya ia segera mengajak Juan ke tempat mami Sita.


***


"Kamu yakin kita akan bertamu malam-malam begini?" tanya Juan.


"Ya daripada penasaran. Aku juga tidak mau melihat mu terpuruk lagi," jawab Andre.


Mami Sita menerima tamunya dengan ramah. Ternyata dugaan Clara benar, suaminya datang mencari Diandra ke rumahnya. Mami Sita menjawab sesuai karangan Dinda kepada mami di tempat mereka bekerja. Keduanya pulang dengan tangan hampa dan rasa kecewa yang mendalam.


***


Keesokan harinya.


Di pagi hari yang cerah, ketika semuanya sudah sarapan mereka duduk bersama di ruang tamu.


"Jadi kenapa kamu pulang tiba-tiba Nak? Semua barang juga kamu bawa, apa kamu tidak akan kembali lagi ke kota?" bu Dina bertanya dengan lembut.


Clara berlutut di kaki orang tuanya, ia meminta maaf karena telah mengambil jalan pintas untuk mendapatkan uang banyak dengan cepat. Ia bercerita tentang pekerjaannya, ia juga menceritakan pertemuannya dengan Juan kembali hingga membuatnya memutuskan untuk pulang ke desa.


Orang tuanya dan juga Cindy sangat shock dan tidak percaya. Mereka sangat marah terhadap Clara.


"Lebih baik bapak sakit Nak, jika tahu uang yang kamu hasilkan itu uang haram. Uang seperti itu tidak akan berkah, justru akan mendatangkan malapetaka," ucap Pak Jarwo.


Hati Clara terluka mendengarnya, namun apa yang di katakan pak Jarwo memang benar. Clara hanya bisa meminta maaf dengan air mata berlinang.

__ADS_1


"Sudah Pak, aku yakin dia sudah tidak punya pilihan lain. Mungkin ini jalan Allah untuk membuatnya sadar dan kembali kepada kita. Ibu juga sangat kecewa, tapi bagaimanapun dia putri kita. Jangan sampai hanya karena perbuatan buruknya kita melupakan segala kebaikannya yang jauh lebih besar," sahut bu Dina.


Pak Jarwo menghela napas dengan kasar, ucapan istrinya memang benar. Jika bukan karena dirinya yang tidak bisa menafkahi keluarganya, putrinya tidak harus mengorbankan dirinya seperti ini.


"Maafin bapak juga ya, ini juga semua salah bapak yang tidak bisa membahagiakan kalian. Ini pembelajaran untuk kita semua supaya ke depannya tidak bertindak gegabah," ucap Pak Jarwo.


Mereka berpelukan. Clara senang mereka bisa memaafkan dirinya walaupun pada awalnya semuanya begitu marah kepadanya.


"Selamat datang di rumah, Clara. Kita akan berjuang bersama-sama membesarkan anak-anak," ucap Cindy.


"Terima kasih ya, Kak," Clara memeluk Cindy sangat erat.


"Lalu rencana mu apa setelah ini, Nak?" tanya bu Dina.


"Rencananya aku ingin membuka usaha, Bu. Nanti aku akan bekerja sama dengan Jhony dan kak Cindy. Kita tinggal mencari ide bisnis yang sesuai di tempat ini untuk kita kembangkan. Semoga semua bisa berjalan dengan lancar," jawab Clara.


"Amin," semua mengamini ucapan Clara.


☆☆☆


Sore harinya.


Clara, Jhony dan juga Cindy sedang menemani anak-anak bermain di teras rumah.


"Tidak menyangka ya semua akan berakhir begini. Semua harapan yang ingin kita gapai dengan datang ke kota sudah pupus. Bukannya kehidupan kita membaik, justru penderitaan yang selama ini kita dapat," ucap Jhony.


"Aku juga tidak menyangka harus menjanda di usia semuda ini. Semoga saja aku bisa bertahan untuk menghidupi anak-anak," sahut Cindy.


"Manusia hanya bisa berencana, namun tetap Allah yang mempunyai takdir. Seberapapun kerasnya kita berusaha jika Dia tidak menghendaki maka tidak akan pernah terjadi," ucap Clara.


Semuanya menghela napas dengan kasar.


"Kita harus sabar, kita harus yakin jika takdir Allah itu indah untuk kita. Setiap ada hujan yang turun akan ada pelangi yang menghiasi. Setiap orang pasti akan bahagia, cepat atau lambat," imbuh Clara.


Semua memory tergambar jelas dalam ingatan mereka. Dari awal mereka menuju kota, bekerja di pabrik, bertemu jodoh, jatuh dalam kubangan dosa, semua berputar dalam kepala mereka. Mereka bersyukur bisa kembali ke tempat asal mereka. Memang benar sebuah ucapan yang mengatakan, sejauh-jauh kita melangkah hanya rumah orang tualah tempat kita kembali.

__ADS_1


__ADS_2