
"Hei apa yang kamu lakukan kepada Jhony? Jangan pernah mengancamnya atau aku laporkan kamu ke polisi," ucap Juan lalu menonjok Indra.
"Heh kalian stres ya, Jhony tidak ingin berteman dengan kalian lagi. Sebaiknya kalian pergi dari sini, jangan membuat kacau di kafe ku," usir Indra sambil meringis kesakitan.
Semua mata saat ini tertuju kepada mereka. Jhony bingung harus berbuat apa, dia harus membuat sahabatnya itu segera pergi dari sini agar tidak berbuntut panjang. Indra adalah orang yang nekad, ia tidak mau sampai membahayakan mereka.
"Dia benar, aku tidak ingin melihat wajah kalian lagi. Cepat kalian pergi tinggalkan tempat ini segera!" hardik Jhony sembari menarik Indra menjauhi mereka.
Mereka terpana tidak percaya dengan apa yang Jhony perbuat. Akhirnya mereka memutuskan meninggalkan kafe itu karena Jhony sendiri telah mengusir mereka.
"Sebenarnya Jhony kenapa ya, dia terlihat berbeda saat ada Indra dan tidak ada?" tanya Cindy heran.
"Jelas sekali dia dalam tekanan Cindy, dia kelihatan takut sekali tadi saat melihat kita datang," jawab Januar beropini.
"Iya, sepertinya dugaan Januar benar. Oh ya kita main ke apartemen dulu yuk Januar, kamu kan belum pernah berkunjung, nanti kalau sedang dekat sana kan bisa mampir sewaktu-waktu," ucap Juan.
"Wah boleh, selama ini aku terlalu sibuk mengurus pesanan sampai tidak sempat liburan atau sekadar jalan-jalan," jawab Januar mengiyakan.
Beberapa saat kemudian mereka telah tiba di apartemen. Januar sangat mengagumi tempat itu, apalagi saat sampai di dalam dia sampai terpana melihat semua fasilitasnya.
"Wah ini sih keren, beruntung kalian bisa tinggal di sini. Juan memang orang yang baik," pujinya.
"Ya alhamdulillah," ucap Clara bersyukur.
Mereka segera menyambut kedatangan Januar yang memang belum pernah kesana. Mereka menyiapkan minum dan camilan serta memasakkan masakan spesial untuknya.
"Ayo kita makan, kami sudah menyiapkan masakan spesial untuk mu," ajak Cindy.
Mereka segera menuju meja makan, masakan Cindy dan Clara selalu enak. Dulu ketika masih ngontrak bersama mereka selalu memasakkan Januar dan Jhony setiap hari. Rasanya ia rindu masa-masa itu.
"Wah pasti enak, aku rindu makan masakan kalian. Oh ada ayam bakar, lalapan, sambal teri, telur balado, sama kare ayam ya. Banyak sekali, apa kalian akan membuat aku tidak bisa jalan karena kekenyangan," ucap Januar mengabsen semua menu yang terhidang di meja makan.
Sontak semua tertawa mendengar ocehan Januar.
"Ayam bakar dan sambel teri khusus kita buat untuk mu, kalau telur balado dan kare ayam itu kami masak tadi pagi. Kamu jarang kesini, ayo makan semua masakan kami, nanti bawa pulang juga buat di rumah ya," ucap Cindy.
"Wah baiklah aku tidak akan menyia-nyiakannya," jawab Januar.
__ADS_1
Mereka semua begitu lahap menyantapnya, Juan dan Januar begitu menikmati masakan yang sangat memanjakan lidah mereka itu. Setelah selesai mereka bersantai sambil nonton tv.
"Kita harus mencari cara untuk membantu Jhony," ucap Juan memecah kesunyian.
"Juan benar, jika di biarkan berlarut-larut dia pasti akan kembali seperti dulu. Susah payah kita membantunya waktu itu, jangan sampai dia kembali lagi," balas Cindy.
"Tapi bagaimana caranya?" tanya Januar.
"Itu yang harus kita pikirkan, jika ada yang punya ide katakan saja," jawab Juan.
Mereka semua tampak berpikir, mencari cara untuk segera membantu Jhony agar bisa segera keluar dari jeratan Indra. Namun sepertinya masih buntu, belum mendapat ide.
"Ini sudah sore sebaiknya kita pulang dulu ya, nanti kita bisa berhubungan lewat ponsel untuk membantu Jhony," ucap Juan.
"Juan benar, kalian harus beristirahat agar besok segar ketika bekerja. Jika pesanan tidak terlalu banyak insyaallah aku akan mampir kesini," balas Juan.
"Ya sudah kalian juga butuh istirahat, sampai jumpa lagi," ucap Cindy.
Mereka pun pamit, Juan segera pulang setelah mengantarkan Januar ke kontrakannya.
Sekitar pukul 20.00 Ayah mereka menelepon.
"Alhamdulillah semua baik, apa kalian di sana juga baik-baik saja?" tanyanya.
"Alhamdulillah, kami juga baik-baik saja. Apa sudah dapat tanggal baiknya, Pak?" tanya Cindy.
"Ini baru tadi bisa ketemu Kyai, insyaallah besok atau lusa baru dapat jawaban, Nak," jawab pak Jarwo.
"Nanti tolong kabarin jika sudah ada jawaban ya, Pak," ucap Cindy.
"Pasti, Nak," jawab Pak Jarwo.
"Oh iya, Jhony pernah telepon bu Tini tidak Pak?" tanya Cindy tiba-tiba teringat Jhony.
"Kemarin dia telepon, bapak sedang di teras jadi tidak sengaja mendengar," jawab pak Jarwo.
"Apa katanya, Pak? Mungkin bapak dengar yang mereka bicarakan?" tanya Cindy penasaran.
__ADS_1
"Ya jelas dengar ponselnya kan di loud spkeaker, maklum orang tua kan tidak terlalu dengar," jawabnya.
"Apa katanya, Pak?" tanya Cindy lagi.
"Cuma nanya keadaan ibunya, terus bilang kalau sudah dapat perkerjaan. Terakhir katanya mau transfer saat itu ke rekening budenya," jelas Pak Jarwo.
"Memangnya Jhony itu kerja di mana sih Nak, kok baru kerja sebentar sudah punya banyak uang? Pasti kerjaannya enak dan bayarannya besar ya?" tanya pak Jarwo.
"Di cafe, Pak. Mungkin bosnya baik, doakan saja kita semua di sini sehat dan di jauhkan dari segala hal yang buruk ya, Pak," jawab Cindy tidak bercerita yang sebenarnya agar bapaknya tidak merasa kuatir.
"Amin, kita semua di sini selalu berdoa buat kalian agar sehat, panjang umur, murah rezeki serta dijauhkan dari hal-hal buruk," ucap Pak Jarwo.
"Amin, sudah dulu ya Pak, kami mau istirahat," balas Cindy.
"Iya, Nak. Kalian cepat tidur, assalamualaikum,"
"Waalaikum salam,"
Cindy menceritakan apa yang ayahnya katakan tentang Jhony saat menelepon ibunya. Mereka bisa memastikan jika Indra yang memberi Jhony uang untuk mengirim bu Tini. Karena sangat lelah mereka akhirnya tertidur dengan pulas.
Saat tengah malam Clara mendengar suara benda jatuh dari ruang tv, karena penasaran dia bangun untuk melihatnya. Dia tidak melihat apapun di sana dan memutuskan kembali ke kamar, namun saat akan berbalik ada seseorang yang membekap mulutnya.
Entah berapa lama Clara tidak sadar. Saat mulai sadar ia telah terikat kaki dan tangannya, kepalanya terasa sangat pusing.
"Kak Cindy, kakak di mana?" tanyanya lirih.
Tidak ada sahutan, namun tiba-tiba terdengar seseorang menyeringai dengan tawanya yang keras. Clara berusaha menajamkan penglihatannya yang tidak begitu jelas. Matanya terbelalak melihat siapa orang itu.
"Indra kenapa kamu di sini, apa yang kamu lakukan kepada kami," teriak Clara sangat ketakutan melihat Indra dan empat anak buahnya kemudian mengelilinginya.
"Ini akibatnya jika kamu ingin bermain-main dengan ku, hahaha," tawanya membahana membuat bulu kuduk merinding.
"Di mana Kakak ku? Kamu apakan dia hah?" tanya Clara emosi.
Mereka semua menepi ke arah kasur, memberi kesempatan pada Clara untuk melihat lurus ke depan.
"Akh..." terdengar teriakan histeris dari Clara di susul tangisan yang memilukan darinya.
__ADS_1
Di atas kasur tampak Cindy terikat dengan sekujur tubuh penuh luka, wajahnya tampak terdapat sayatan-sayatan benda tajam yang masih mengeluarkan darah segar. Clara tidak kuat melihatnya hingga ia jatuh pingsan.