Menggapai Harapan

Menggapai Harapan
Bab 26 Rahasia Jhony 2


__ADS_3

Tepat jam 8 malam, sebuah taksi berwarna biru berhenti di pelataran. Clara dan Cindy mengintip di dekat pintu. Ternyata Jhony yang datang, mereka lantas membukakan pintu. Terlihat ia menenteng banyak sekali tas belanjaan.


"Jhony, darimana saja kamu? Apa saja yang kamu bawa, banyak sekali?" tanya Clara menatap ke arah Jhony.


"Ini buat kamu Clara, yang ini buat kamu Cindy," jawabnya sembari memberikan tas belanja kepada mereka berdua.


"Aku tadi bertemu bosku, dia baik sekali. Aku di beri ponsel sebagai fasilitas, serta uang untuk membeli pakaian dan perlengkapan untuk bekerja besok," jawab Jhony berbohong.


"Hah baik sekali dia, memang kamu bekerja sebagai apa Jhon?" tanya Cindy menyelidik.


"Namanya Asisten Pribadi. Kerjanya membantu mengatur jadwal, mengurusi keperluan bos, dan semacamnya. Maklum orang kaya untuk seperti itu saja butuh bantuan orang lain,hehehe," jelas Jhony berusaha tenang, agar tidak ketahuan.


"Oh syukurlah kalau kamu dapat pekerjaan yang lebih baik. Katanya Ibumu sakit ya Jhon, sakit apa?" tanya Clara kuatir.


"Iya, katanya kadar gula ibu tinggi sekali. Paru-parunya juga sedikit bermasalah, harus di cek lebih lanjut. Makanya aku cari kerja lain yang bayarannya lebih banyak, agar dapat membawa ibu berobat dengan baik," jelas Jhony terlihat sedih.


"Kenapa kamu tidak cerita pada Juan, dia pasti dengan senang hati membantu." kata Clara memberi ide.


"Jangan Clara, aku tidak ingin merepotkan. Selama ini dia sudah terlalu banyak membantu. Aku ingin berdiri dengan kakiku sendiri. Tolong hargai keputusanku ya," kata Jhony.


"Iya baiklah, terserah kamu. Kalau ada apa-apa kamu jangan sungkan bercerita, kita sudah seperti keluarga selama ini," ujar Clara seraya menyentuh pundak Jhony, untuk menguatkan.


Sebenarnya ide Clara untuk meminta bantuan Juan itu sangat bagus. Namun dia sudah terlanjur menerima tawaran Om Dion, bahkan sudah membelanjakan uang yang pria itu berikan.


"Harusnya kamu tidak perlu membelikan kita baju juga Jhon, lebih baik kamu simpan untuk tambahan berobat ibumu," kata Cindy yang sedang membuka pemberian Jhony.


"Tidak apa-apa, selama ini kan kita selalu berbagi. Ayo kita makan, aku belikan kalian juga di jalan tadi." ajak Jhony.


"Baiklah, aku ambil piring dulu," ujar Clara lalu bergegas ke dapur.


Mereka bersantap bersama. Jhony memilih menu ayam bakar untuk mereka bersama. Satu bungkus ia sisakan untuk Januar yang belum pulang. Sehabis bekerja, Januar akan bekerja sampingan lagi. Dia pulang selalu diatas jam 9 malam. Iya bekerja keras untuk orang tuanya di kampung. Memiliki nasib yang hampir sama membuat mereka saling mengerti.

__ADS_1


Tak terasa sudah beberapa kebohongan Jhony lakukan. Padahal selama ini tak satu rahasiapun dapat ia sembunyikan dari Cindy dan Clara. Namun untuk kali ini dia merasa sangat malu untuk mengungkapnya. Dia takut mereka takkan mau mengenalnya lagi. Akhirnya ia lebih memilih memendam sendiri, menyimpan rapat-rapat entah sampai kapan.


Di tengah malam tiba-tiba ponsel Jhony berdering. Dia menatap layar ponselnya, tertera nama Om Dion di sana. Ia sedikit panik, ia memilih keluar agar tidak mengganggu Januar yang sedang terlelap.


"Halo, ada apa Om?" tanya Jhony lirih, takut yang lain mendengar.


"Ya Sebastian, apakah kamu sudah tidur?" tanya Om Dion di buat manja, membuat Jhony tergidik jijik.


"Iya, tadi sudah tidur. Apa ada yang penting, Om?" tanya Jhony setengah mengantuk.


"Aku merindukanmu, Sebastian," kata pria itu mesra.


Deg... Mata Jhony membelalak, rasa kantuknya seketika hilang. Kerongkongannya tiba-tiba tercekat. Ia bingung harus membalas apa. Ingin rasanya dia berteriak dan memaki. Tiba-tiba terlintas bayangan ibunya yang sedang membutuhkan pengobatan. Ia berusaha tenang dan mengatur napasnya kembali.


"Oh, bukankah baru tadi bertemu Om," jawab Jhony setenang mungkin.


"Entahlah dari tadi selalu terbayang-bayang kamu," katanya menggombal.


"Baiklah, kamu istirahat saja. Sampai ketemu besok ya, Sayang," kata Om Dion lalu memutus teleponnya.


Oh Tuhan kenapa jadi seperti ini, pikir Jhony. Ia butuh teman berbagi, tapi tidak mungkin bercerita kepada teman-temannya. Terlalu malu rasanya jika sampai mereka semua tahu. Ia lalu mengambil wudu menggelar sajadahnya, mungkin Tuhan akan memberikannya jalan. Mungkin orang akan berpikir dia munafik, tapi siapa yang paling memahami manusia selain penciptanya.


***


Pagi hari seperti biasa semua berkutat dengan kesibukan masing-masing. Jhony, Cindy dan Januar berangkat kerja bersama-sama. Mereka menumpang taksi yang di pesan Jhony, karena memang searah. Tinggal Clara sendiri karena masuk kerjanya memang lebih siang.


"Jadi kamu kapan pulang, Juan?" tanya Clara. Ia terlihat tengah menelepon kekasihnya.


"Nanti, penerbangan malam Sayang. Jadi besok aku sudah bisa mengantarmu. Kamu sudah rindu ya?" tanya Juan, menggoda Clara.


"Tentu saja Juan," jawab Clara malu-malu.

__ADS_1


"Kamu ingin oleh-oleh apa?" tanya Juan.


"Tidak perlu, cukup kamu kembali baik-baik saja, aku sudah senang." jawab Clara, membuat Juan makin merindukannya.


"Ya sudah aku berangkat ke kantor dulu ya sayang, habis ini ada meeting penting dengan klien besar. Sebentar lagi Andre pasti menjemputmu," kata Juan berpamitan.


"Iya, hati-hati di jalan. Semoga meetingnya lancar ya," jawab Clara lalu menutup ponselnya.


Tidak berapa lama Andre datang, terdengar deru mobilnya di pelataran. Clara segera menyambar tasnya, lalu menyambut Andre di depan. Seperti biasa penampilan Clara selalu berhasil membuatnya terpana. Jika tidak ingat Clara adalah kekasih Juan, dia pasti sudah mendekatinya. Ia mempersilahkan Clara masuk.


"Clara bolehkah aku meminta tolong padamu?" tanya Andre memulai pembicaraan.


"Kalau saya bisa, pasti saya bantu Pak," jawabnya sopan.


"Begini, lusa kan adik perempuanku ulang tahun. Aku ingin kamu menemaniku mencari kado untuknya. Usianya hampir sama denganmu, jadi aku rasa pasti kamu bisa membantu," jelas Andre.


"Oh boleh, tapi bagaimana jika dia tidak suka pilihan saya, Pak?" tanya Clara mulai ragu.


"Aku lihat kamu itu modis, selera kamu bagus. Jadi sepertinya dia pasti suka deh," jawab Andre jujur.


"Baik Pak, saya setuju," kata Clara senang.


"Nanti sepulang kerja saja, bagaimana? Kamu tidak ada janji bukan?" tanya Andre memastikan.


"Iya Pak, tidak apa-apa. Kebetulan Kak Cindy akan pergi dengan Kak Bima. Sedangkan Jhony dan Januar akan pulang malam," jawab Clara.


"Wah kebetulan sekali kalau begitu, jadi nanti kita tidak perlu buru-buru. Bisa sekalian jalan-jalan." ujar Andre sangat senang.


"Pasti menyenangkan," kata Andre lagi.


Ia sangat bersemangat. 1,5 tahun bukan waktu yang sebentar untuknya melupakan kekasihnya. Seseorang yang telah hadir menghiasi hari-harinya selama 5 tahun terakhir. Dia begitu terpukul saat mendapatkan kabar kekasihnya meninggal di tempat saat kecelakaan. Kepedihannya semakin menjadi saat tahu dia bersama pria yang tak lain adalah selingkuhannya, selama 2 tahun terakhir. Ia mengetahui semuanya setelah melakukan penyelidikan lebih lanjut. Beruntung Juan membantunya untuk bertahan, terus menyemangatinya tanpa henti. Setengah tahun ini dia telah kembali bangkit. Di tambah lagi dengan kehadiran Clara yang membangkitkan rasa percayanya lagi. Dia tersadar bahwa tidak semua wanita adalah penghianat.

__ADS_1


__ADS_2