Menggapai Harapan

Menggapai Harapan
Bab 48 Misteri penusukan Jhony terkuak


__ADS_3

"Halo, Sayang kamu di mana?" tanya Clara gemetaran.


"Masih di rumah, memang kenapa kok seperti ketakutan gitu sih, Sayang?" tanya Juan kuatir.


"Ternyata Jhony ditusuk bukan kecelakaan, tapi memang ada yang merencanakan. Hik... hiks..." jelas Clara tak mampu lagi menahan tangis.


"Jangan menangis Sayang, maksudmu bagaimana?" tanya Juan bingung.


"Aku sekarang di RS, cepat kamu kesini. Aku takut sekali, pria itu di kamar Jhony, hiks," jawab Clara masih terisak.


"Baik aku kesana sekarang," kata Juan lalu bergegas pergi.


15 menit kemudian, Juan sampai di rumah sakit. Ia bergegas ke kamar Jhony, namun tak ada seorang pun disana. Ia mencari Clara kemana-mana namun tidak ada, Dokter dan perawat pun mengatakan tidak tahu. Ia mencoba menelepon Clara, tapi ternyata nomornya tidak aktif.


"Halo, kamu dimana, Dre?" tanya Juan.


"Aku di rumah, Ada apa?" tanya Andre heran, tak biasanya Juan telepon sepagi ini.


"Clara hilang, tadi dia telepon katanya sedang di RS. Dia berkata kalau Jhony bukan kecelakaan tapi memang ada yang ingin membunuhnya. Aku bergegas kesini, tapi dia tidak ada." jelas Juan sangat panik.


"Tenang dulu, Juan. Clara gadis pintar, kamu harus berpikir positif. Tunggu aku kesana sekarang, jangan panik," kata Andre menenangkan.


"Ok, Dre. Cepat ya," jawabnya.


Dokter menghampiri Juan yang baru selesai menelepon.


"Selamat pagi, Pak Juan," sapa Dokter yang merawat Jhony.


"Selamat pagi juga, Dok." jawab Juan berusaha ramah walaupun hatinya sedang gundah.


"Saya di telepon 15 menit yang lalu oleh perawat yang bertugas. Tadi Jhony sempat kritis lagi, namun sebelum saya sampai mereka sudah berhasil menstabilkan kondisinya kembali. Bahkan jari tangannya tadi sempat bergerak, sepertinya beliau akan segera sadar. Tolong bantu doanya ya, Pak," jelas dokter itu.

__ADS_1


"Alhamdulillah kalau begitu dok, kita semua pasti selalu berdoa untuk kesembuhan Jhony. Tadi kata kekasih saya ada orang yang masuk ke ruangan Jhony pagi-pagi sekali. Sekitar 20 menit yang lalu dia menghubungi saya, makanya saya bergegas kesini." jelas Juan.


"Pak Jhony belum bebas di jenguk tanpa izin, kemungkinan orang itu menyelinap. Mohon maaf atas keteledoran kami ya, Pak. Nanti akan saya tegur petugas yang sedang berjaga." jawab dokter itu bijaksana.


"Kalau boleh saya ingin lihat CCTV sekitar ruangan Jhony dok, kekasih saya menghilang. Padahal dia tadi disini dan menyuruh saya segera datang," ucap Juan.


"Oh begitu ya, ayo saya antar ke petugas keamanan agar di bukakan rekaman CCTV nya," ajak dokter itu.


Merekapun bergegas keruang keamanan. Di rekaman itu terlihak pria dewasa yang penampilannya rapi masuk keruangan Jhony, tak lama terlihat Clara yang mengintip di luar pintu. Dari rekaman CCTV terlihat Clara pergi mengikuti pria itu pergi entah kemana. Juan segera minta rekaman itu untuk berjaga-jaga jika sesuatu terjadi pada Clara.


"Terima kasih, tolong titip Jhony ya Dok. Jika ada sesuatu segera hubungi saya," kata Juan kemudian bergegas ke parkiran.


Ternyta Andre telah tiba. Ia menceritaka semua kepada Andre.


"Coba kamu telepon Clara lagi," ujar Andre.


"Tersambung," kata Juan senang.


"Halo, Sayang kamu di mana? Kenapa tadi nomor kamu tidak aktif?" tanya Juan.


Lima menit kemudian terlihat Clara turun dari taksi. Juan spontan berlari dan memeluk kekasihnya. Ia begitu kuatir. Andre hanya tersenyum melihat pemandangan di depannya.


"Kamu kenapa nekad mengikuti pria itu? Bagaimana kalau ketahuan lalu dia berbuat jahat padamu?" tanya Juan sedikit kesal dengan Clara karena terlalu membahayakan dirinya sendiri.


"Maaf tadi aku spontan, tapi dari mana kamu tahu?" tanya Clara.


"Tadi aku kuatir sekali saat kamu menghilang, jadi minta rekaman CCTV rumah sakit ini," jelas Juan.


"Hei kalian jangan ngobrol di jalan begitu, lebih baik kita berbicara sambil sarapan. Aku yakin kalian semua pasti belum sarapan," kata Andre.


Mereka mengikuti saran Andre. Baru terasa perut mereka juga sudah mulai keroncongan. Bubur ayam menjadi pilihan mereka untuk mengisi perut. Sambil sarapan mengalirlah cerita Clara.

__ADS_1


"Aku yakin pria tadi yang menjadi dalang penusukan Jhony, walau pelan tapi suaranya jelas sekali mengatakan itu. Tapi sayang taksi yang aku tumpangi tidak dapat mengejar mobil pria itu. Aku kehilangan jejaknya," jelas Clara merasa kecewa.


"Aku pernah melihatnya di mall ketika dia jalan dengan Jhony, waktu itu aku di ajak Pak Andre mencari kado untuk adik perempuannya." imbuh Clara.


Clara memilih tidak mengatakan alasan pria itu membuat Jhony celaka, ia harus menyelidiki dulu kebenarannya.


"Berarti dia sangat mengenal Jhony, tapi apa motifnya melakukan ini semua ya? Sebaiknya ini harus di selidiki. Biar nanti aku suruh Bagas untuk membantu. Kamu tenang ya Sayang, kita pasti mendapat petunjuk," kata Juan menenangkan kekasihnya.


Setelah selesai sarapan dan mengobrol, mereka langsung bergegas ke kantor. Semua karyawan merasa heran karena Cindy tidak masuk. Sesuai rencana mereka mengatakan bahwa dia sudah berhenti bekerja. Mereka berharap rencana mereka berhasil dan tidak ada lagi teror yang membahayakan.


Jam 3 sore Indra menelepon Clara, ia mengatakan Jhony sudah mulai siuman. Clara merasa senang dan bersyukur sekali, dia tak sabar ingin segera menjenguknya sepulang kerja.


Jam 5 sore Clara, Andre serta Juan bergegas ke RS.


"Alhamdulillah Pak Jhony sudah sadar, sudah bisa berbicara walau keadaannya masih sedikit lemah. Tolong jika menjenguk jangan terlalu lama ya karena masih harus banyak istirahat," jelas Dokter kepada semuanya.


Disana hanya ada mereka bertiga karena Indra tadi pamit ada keperluan. Mereka masuk ke ruangan Jhony. Seketika Jhony tersenyum, raut wajahnya terlihat senang sekali melihat para sahabatnya datang.


"Sudah jangan banyak gerak dulu, Jhon. Lukamu masih belum terlalu sembuh," kata Juan perhatian.


"Terima kasih sudah datang, maaf ya aku jadi merepotkan kalian," kata Jhony merasa tak enak.


"Kita ini sudah seperti keluarga, kamu jangan sungkan. Kalau kamu sakit kita juga pasti merasakannya, kamu yang sabar ya, Jhon," kata Clara.


"Sayang, tolong kamu sama Andre ke kantin beliin aku camilan sama minum ya," kata Clara.


Juan mengernyit heran tak biasanya Clara menyuruhnya begini, tapi serelah menatapnya Juan baru sadar. Sepertinya Clara ingin berbicara berdua dengan Jhony, akhirnya ia mengajak Andre keluar. Clara bersyukur Juan sangat peka.


"Jhon, aku mau bicara serius. Apa kamu sudah kuat Jhon?" tanya Clara membuat Jhony penasaran.


"Bicaralah Clara, aku sudah mendingan kok," jawabmya.

__ADS_1


"Dulu waktu aku di ajak Pak Andre membeli jam tangan untuk kado adik pak Andre di mall, aku sempat bertemu kamu dengan seorang pria. Tadi pagi aku melihatnya disini. Aku mendengar dia berkata sambil memegang tanganmu. Dia bilang: Maafkan aku Tian, aku tidak bermaksud membuatmu begini. Aku hanya ingin kau menjauh dari laki-laki itu, aku sangat cemburu dengannya. Aku tak bisa melupakanmu. Begitu katanya, Jhon," jelas Clara.


Wajah Jhony memerah. Ia tak percaya dengan yang ia dengar. Benarkah Om Dion yang membuatnya begini? Ia juga malu dengan Clara, karena berarti dia mengetahui Om Dion menyukainya. Jhony tidak menjawab, ia bingung harus berkata apa.


__ADS_2