
Waktu kerja telah berlalu, semua karyawan bersiap pulang. Andre menghampiri Clara di ruangannya, lalu pergi bersama sesuai kesepakatan tadi pagi. Mereka pergi ke Tunjungan Plaza Mall untuk mencari kado untuk adik perempuan Andre.
"Clara kita makan dulu ya, aku sudah lapar sekali," kata Andre sembari memegang perutnya yang dari tadi sudah bernyanyi minta di isi.
"Baiklah," kata Clara menyetujui.
"Kamu mau makan apa?" tanya Andre.
"Bebek goreng madura, sepertinya enak," jawab Clara, menahan air liurnya.
"Wah tidak menyangka gadis seperti kamu suka juga yang berlemak ya, hehehe," kata Andre setengah menggoda.
"Memangnya kenapa, Pak?" tanya Clara bingung.
"Biasanya wanita itu kan takut badannya jadi gemuk kalau makan yang kolesterol begitu," jelas Andre.
"Benarkah? Tapi saya dan Kakak makan apa saja, tidak pernah pilih-pilih. Kecuali tidak sesuai dengan lidah, seperti makanan-makanan eropa begitu," jawab Clara.
"Berarti kalian itu spesial. Ayo aku juga suka sekali makan bebek," ajak Andre.
Mereka memilih menu, lalu bersantap dengan riang. Menurut mereka Bebek madura memang tiada duanya. Saat tiba waktu salat Clara berpamitan sebentar, Andre menunggu dengan sabar. Terlihat ia sedang menelepon Juan untuk memberi kabar.
"Kamu harus memberiku oleh-oleh yang tidak ternilai harganya, karena aku sudah menjaga kekasihmu dengan baik," kata Andre bercanda.
"Baiklah, kamu ingin apa?" tanya Juan memganggap serius.
"Apa yang sangat berharga untukmu selain orang tuamu?" tanya Andre mulai berteka teki.
"Apa? Ya tentu saja, Clara," jawab Juan tanpa ragu.
"Ya sudah, berarti Clara saja kamu berikan untukku," kata Andre tertawa nakal.
"Bunuh aku dulu, kalau itu yang kamu inginkan, dasar gil*." jawab Juan kesal.
Andre tertawa bahagia, ia senang melihat Juan marah-marah. Ia sangat senang menggoda sahabatnya itu. Namun mereka sama-sama tahu jika itu hanya bercanda. Dari jauh ia melihat Clara telah kembali.
"Clara, Juan ingin bicara denganmu nih," kata Andre seraya memberikan ponselnya.
"Ya, Juan," jawab Clara.
__ADS_1
"Setelah selesai langsung pulang, jangan mau diajak Andre pergi-pergi lagi," kata Juan dingin, seolah sedang cemburu.
"Iya, iya Juan," jawab Clara.
"Ya sudah aku pergi dulu, nanti malam aku telepon ya," kata Clara, lalu menutup telepon setelah mendengar jawaban Juan.
"Kekasihmu itu cemburuan sekali ya, sepertinya dia benar-benar mencintaimu, Clara," kata Andre serius.
"Ya begitulah Juan itu," jawab Clara tersenyum senang.
"Ayo kita jalan, menurutmu kita belikan adik ku apa ya?" tanya Andre.
"Banyak pilihannya Pak, bisa kasih tas, sepatu, baju, jam tangan atau make up juga bisa," jawab Clara memberi saran.
"Nah kalau jam tangan bagaimana, dia suka sekali jam tangan. Ayo kita cari." kata Andre lalu menarik tangan Clara mencari toko jam.
"Eh itu Clara, tolong kamu pilihkan ya. Aku melihat-lihat sebelah sana ya," kata Andre.
Clara melihat-lihat etalase paling depan. Cantik-cantik sekali, membuatnya bingung. Saat tengah asyik memilih tidak sengaja ia melihat sosok yang ia kenal.
"Eh itu, sepertinya Jhony. Sama siapa ya," kata Clara melihat ke bagian belakang.
"Clara kenapa kamu mengendap-ngendap begitu?" tanya Andre membuatnya terkejut.
"Pak Andre... tidak apa-apa, tadi sepertinya saya melihat teman saya," katanya lirih sambil mengedarkan pandangan keseluruh ruangan. Ternyata Jhony sudah pergi, ia bernafas lega.
"Ada teman ditegur dong, kok malah sembunyi," ujar Andre yang tidak mengerti.
"Sudah pergi kok, ayo kita cari lagi, Pak." kata Clara, ia menarik tangan Andre.
Andre diam saja, ia menurut saja kemana Clara membawanya. Saat ini tiba-tiba jantungnya berdegup lebih kencang, tiba-tiba terasa susah bernafas. Clara menunjukkan pilihannya, sebuah jam cantik berbentuk lingkarangan yang mungil berwarna emas dengan rantai seperti gelang. Namun Andre tetap mematung, memandang Clara. Sampai Clara menyentuh bahunya untuk menyadarkannya.
"Pak Andre kenapa? Apa sedang sakit?" tanya Clara, lalu refleks memegang kening pria itu.
"Tidak panas. Tapi justru agak berkeringat, padahal di sini dingin," kata Clara lagi merasa aneh.
"Ehm aku tidak apa-apa, Clara. Mungkin hanya kecapean. Oh ini ya, ya ini bagus. Aku bayar dulu kamu tunggu di sini saja ya," jawab Andre sedikit salah tingkah.
"Baik," jawab Clara sedikit kebingungan, karena pria itu belum melihat pilihannya tapi sudah langsung setuju.
__ADS_1
Setelah membayar, mereka bergegas pulang. Dalam perjalanan pulang suasana lebih senyap dari biasanya, Andre masih belum dapat menenangkan hatinya. Ia merutuki dirinya, mengapa mempunyai rasa sepert ini untuk kekasih sahabatnya. Ia takut khilaf. Jujur ia merasa sangat nyaman bersama Clara. Gadis sederhana tapi selalu bisa membuat suasana menjadi istimewa. Tak terasa mereka telah sampai.
"Clara, tunggu," cegah Andre, ketika Clara hendak turun dari mobil.
"Iya Pak, ada apa?" tanya Clara.
"Tolong terima ini, sebagai rasa terima kasihku sudah mau menemaniku," kata Andre sambil menyodorkan sebuah tas belanja.
"Apa ini? Jangan begitu, saya ikhlas membantu. Bapak sudah banyak menolong saya, tidak sepadan dengan yang saya lakukan," jawab Clara, menolak pemberian Andre.
"Ya sudah kalau kamu tidak mau menerima pemberianku ini, aku tidak mau pulang. Aku akan berada di sini, sampai kamu menerimanya," kata Andre mengancam.
"Aduh, kenapa Bapak jadi seperti Juan sih. Suka sekali mengancam orang. Baiklah, saya terima," kata Clara, akhirnya dia mengalah.
"Nah gitu dong, Clara," kata Andre tersenyum penuh kemenangan.
"Mulai besok sudah tidak bisa dekat dengan kamu lagi, pawang kamu sudah datang. Hahaha," kata Andre, membuat Clara tertawa juga.
"Bapak mau mampir?" tanya Clara sopan.
"Aku langsung pulang saja ya, sampai ketemu besok, Clara." jawab Andre kemudian berlalu.
Clara bergegas masuk ke dalam rumah.
"Kok baru pulang, Clara?" tanya Cindy saat melihat Clara datang.
"Ia Kak, tadi pergi sama Pak Andre dulu. Mencari kado ulang tahun adik perempuannya." jawab Clara.
"Kok Kakak sudah pulang, katanya mau pergi dengan Kak Bima?" tanya Clara.
"Sudah kok, cuma sebentar. Dia sedang sibuk mengejar ketinggalan kuliahnya agar cepat bisa wisuda," jelas Cindy.
"Oh... sepertinya dia benar-benar berubah demi Kakak," kata Clara lagi.
"Ya, aku berharap seperti itu," jawab Cindy seraya mengulas senyum.
"Aku berharap kita sama-sama bisa merasakan kebahagiaan ya, Kak," ucap Clara, lalu merangkul Cindy.
"Amin," jawab Cindy seraya membalas pelukan adiknya.
__ADS_1