Menggapai Harapan

Menggapai Harapan
Bab 54 Tertangkap Basah


__ADS_3

Keesokan hari.


"Kak Cindy, aku mau cerita nih," kata Clara.


Cindy yang sedang bersiap-siap untuk bekerja menoleh ke arahnya.


"Bicara saja, sepertinya serius ya?" tanya Cindy.


Clara mengangguk, ia seperti berpikir darimana harus memulainya.


"Semalam Juan berkata untuk segera bertunangan, sebenarnya aku merasa ini terlalu cepat. Tapi menunda hal baik juga sangat di sayangkan, menurut Kakak bagaimana?" tanyanya serius.


"Wah alhamdulillah itu, jika seorang pria sudah mengajak ke jenjang yang lebih serius berarti dia sedang tidak main-main Clara. Kamu harus bersyukur, niat baik harus di segerakan. Ayah dan ibu pasti senang mendengar berita ini." jawab Cindy bersemangat.


"Iya Kakak benar, makanya aku setuju. Berarti kita harus menyempatkan diri pulang, tidak mungkin berkirim surat kan. Aku ingin membelikan ponsel untuk di rumah Kak, jadi jika rindu atau ingin bicara dengan mereka lebih gampang," jawab Clara.


"Sabtu sepulang kerja saja kita pulang, seperti waktu itu. Iya, kita patungan saja nanti beli ponselnya ya," ucap Cindy.


"Ok. Ayo cepat Kak udah jam segini, nanti telat. Oh ya nanti jadi ke kos Jhony tidak?" tanyanya.


"Sepulang kerja saja kita mampir, aku takut dia kenapa-kenapa. Aku kuatir, beberapa kali aku bermimpi dia teriak-teriak memanggil kita. Tapi tangannya ada yang menarik, akhirnya suaranya makin jauh dan lalu menghilang," jelas Cindy.


"Hmm, semoga tidak terjadi apa-apa dengannya ya, Kak. Amin." sahut Clara


Merekapun bergegas menuju kantor.


***


Sepulang kantor mereka naik becak ke kosan Jhony. Kos Jhony memang tidak terlalu jauh dari tempat mereka, makanya mereka memutuskan naik becak saja sambil menikmati pemandangan kota di sore hari. Ramai sekali kendaraan berlalu lalang, apalagi di jam pulang kantor begini. Terlihat lalu lintas padat merayap.


Mereka berusaha mengingat jalanan ke kos Jhony, karena memang mereka baru sekali kesana, itu pun Juan yang mengantar. Setelah 2x mereka terlihat salah membelok, akhirnya sampai juga di depan kosan Jhony. Kosannya lumayan besar dengan ukuran 4m x 6m, ada dapur kecil dan kamar mandi di dalamnya.


"Kok sepi ya, apa Jhony sedang kerja?" tanya Cindy.


"Entahlah, dia sangat sulit di hubungi. Jika tidak ada kita langsung ke kafe tempatnya bekerja ya, perasaan ku benar-benar tidak enak, Kak," jawab Clara.

__ADS_1


"Iya, kamu benar. Dia selalu menjaga kita selama ini, tiba-tiba tidak ada kabar kemungkinan dia sedang ada masalah," ucap Cindy.


Clara hanya menangguk, ia segera mengetok pintu.


"Assalamuaikum, Jhony kamu ada di dalam tidak?" kata Clara.


"Assalamualaikum, Jhon." panggil Cindy.


Tidak ada jawaban sama sekali, suasananya lengang. Tampak lampu juga tidak menyala, apa Jhony mungkin memang tidak ada. Tapi ada beberapa pasang sandal di depan kamar kosnya.


"Kak awas ada kecoa itu," teriak Clara menunjuk seekor hewan yang akan menuju ke arah kaki Cindy.


"Kecoa, ih jijik." serunya.


Brukkk...


Cindy terjatuh, badannya membentur pintu kamar kos Jhony. Terdengar pintu berderit, membuat keduanya menoleh ke arah pintu.


"Kok tidak terkunci, Kak? Apa jangan-jangan dia di dalam ya?" tanya Clara.


"Bagaimana, Kak? Masuk tidak?" tanya Clara meminta pendapat Cindy.


"Niat kita kan baik, takut Jhony sakit atau kenapa-kenapa. Kita masuk saja, sambil coba panggil lagi, barangkali dia ketiduran." jawab Cindy.


"Jhon, Jhony," panggil keduanya sambil melangkah pelan.


"Ahhhh..." teriak Clara sambil menutup wajah dengan tangannya.


"Ada apa?" tanya Cindy terkejut.


Clara bergeming dia terlihat shock. Dia memang langsung masuk ke dalam tadi, sedang Cindy hanya mengamati ruang depan yang terlihat berantakan.


"Ada apa, Clara?" tanya Cindy lagi, penasaran.


"Kakak jangan masuk, itu tak pantas di lihat." kata Clara lirih, terlihat ia sangat sedih.

__ADS_1


Cindy sangat penasaran, ia tak mengindahkan peringatan Clara.


"Astagfirullah, Jhony bangun! Apa yang kamu lakukan, kamu sudah gila ya." teriak Cindy.


Ia menatap nanar melihat pemandangan di sekitarnya. Ada botol minuman berserakan, obat entah obat apa, yang paling menjijikkan terlihat kond*m bekas pakai. Disebelah Jhony ada Indra, mereka hanya mengenakan CD saja. Jhony terlihat kaget mendengar teriakan Cindy, namun terlihat susah bangun, sepertinya dia sedang teler.


Kesabaran Cindy sudah habis, ia segera ke kamar mandi. Dengan geram ia menyiram Jhony dan Indra. Sontak air yang dingin membuat keduanya tersadar, mereka terlihat sangat terkejut melihat Cindy melotot ke arah mereka.


"Aku tunggu penjelasan kalian di depan," teriak Cindy lalu meninggalkan mereka berdua yang masih setengah sadar.


Cindy duduk di sebelah Clara, terlihat ia menenangkan adiknya yang masih shock. Netra keduanya sekarang telah basah oleh air mata. Mereka kembali teringat akan tujuan mereka ke kota, melihat keadaan Jhony seperti tadi membuat keduanya kecewa dan tak habis pikir. Jhony telah kehilangan jati dirinya, pantas saja selama ini dia sangat sulit di hubungi.


Menit kemudian tampak Jhony dan Indra menghampiri mereka, keduanya tertunduk tidak berani menatap Clara dan Cindy.


"Aku minta maaf sama kalian," kata Jhony, suaranya bergetar menahan tangis.


Indra hanya menunduk dan tak berani berkata apa-apa.


"Suruh dia pulang Jhon, aku hanya ingin berbicara dengan mu!" perintah Cindy, masih dengan tatapan tajam.


Jhony menatap ke arah Indra, indra pun mengerti. Ia segera meninggalkan mereka.


"Dimana pikiran kamu Jhon, kamu ingat tujuan kita kesini untuk apa? Kenapa kamu jadi tersesat begini? Apa Indra itu yang membuatmu begini?" tanya Cindy dengan suara sedikit bergetar, ia menahan tangis dan juga amarah.


"Maaf, aku salah. Tolong maafkan aku, Cindy, Clara," ucapnya sambil menangis, menatap kedua sahabatnya bergantian.


"Kamu itu sudah gila ya, apa saja yang kamu lakukan selama ini. Aku lihat ada botol minuman dibelakang, trus obat apa itu sejenis n4rkob4? Yang paling menjijikkan aku melihat ada kond*m bekas pakai, mau buat anak gadis orang hamil kamu hah?" tanya Cindy geram.


"Iya, aku ngaku salah. Aku minum, aku ngobat, tapi aku tidak menghamili anak orang. Maafkan aku," jawab Jhony lirih.


"Benar sudah gila kamu, Jhon. Aku benar-benar tidak menyangka, selama ini kamu yang selalu mewanti-wanti kami untuk selalu menjadi orang baik, menjadi orang yang bisa menjaga harga diri dan martabat keluarga. Tapi mengapa justru kamu yang sekarang membelot! Kalau kamu memang sudah kebelet, ya nikah! Bagaimana kalau pengam4nnya bocor terus gadis itu hamil? Udah zina dapat dosa, malunya juga sekeluarga yang menanggung bukan hanya kamu sendiri!" kata Clara meluapkan kekesalannya yang sejak tadi dia tahan.


"Aku minta maaf, aku benar-benar terpuruk. Tapi aku pastikan dia tidak akan hamil, karena aku melakukannya dengan Indra," jawab Jhony lirih.


Jedder....

__ADS_1


Cindy dan Clara ternganga, mata mereka membeliak mendengar penuturan jujur dari sahabatnya. Bahkan keduanya sudah tidak dapat menutupi kekecewaannya. Seketika keduanya lemas, air mata terus mengalir dalam kebungkaman mereka.


__ADS_2