Menggapai Harapan

Menggapai Harapan
Bab 93 Teman Kencan


__ADS_3

"Kita tidak bisa mendahului Tuhan, Cindy. kita harus percaya jika itu hanya semacam ramalan saja," ucap Bima.


"Ya aku tahu, aku juga tidak menganggapnya serius. Tapi kamu harus memberitahukan apa kata Bapak kepada orang tua mu," pinta Cindy.


"Tentu saja, sepertinya mereka tidak ada masalah. Karena Aku lihat selama ini mereka tidak sekolot itu, aku pasti segera mengatakannya.


Setelah mengatakan hal itu, Bima bertanya tentang acara lamaran. Dia menanyakan tentang keinginan Cindy. Cindy yang memang tidak terlalu suka membuat orang repot menyerahkan semua kepada Bima, ia ikhlas bagaimanapun acaranya.


***


Keesokan hari saat Clara dan Cindy baru datang terlihat Bella telah datang lebih awal. Wajahnya tampak berseri-seri tidak seperti biasanya.


"Wah Kak Bella wajahnya sumringah sekali, sedang jatuh cinta ya," goda Cindy.


"Iya nih, aku baru dapat kenalan pria dari aplikasi kencan," ucapnya sembari selalu tersenyum.


"Kakak itu cantik loh, kenapa harus pakai seperti itu untuk bertemu pria, padahal Kakak sangat menarik," ucap Clara.


"Aku minder Clara, aku tidak percaya diri jika berhadapan dengan pria. Dulu aku pernah dekat dengan seorang pria selama bertahun-tahun lalu saat aku kenalkan dia dengan sahabat ku, mereka malah selingkuh. Dia bilang sahabat ku lebih menarik, sejak itu aku takut untuk dekat dengan pria lagi," cerita Bella.


"Hih dasar pria memang tidak pernah bersyukur, benar orang bilang kalau rumput tetangga selalu lebih hijau. Tapi itu semua hanya untuk pria yang tidak bisa menghargai perasaan wanita," ucap Cindy geram.


"Ya mau bagaimana lagi, mereka berhak memilih, Cindy. Doakan semuanya lancar nanti ya, sepulang kantor kita janjian untuk ketemu," balas Bella antusias.


"Iya Kak, tapi hati-hati ya. Kakak kan belum tahu latar belakangnya dengan jelas, sekarang banyak pria yang selalu memanfaatkan keadaan," pesan Clara.


"Iya, terima kasih ya kalian sudah mengkuatirkan diri ku. Aku akan berusaha untuk selalu menjaga diri ku," ucap Bella.


"Sama-sama Kak. Kakak itu sudah kami anggap seperti saudara sendiri karena Kakak juga sangat baik kepada kita selama ini," balas Clara.


Akhirnya mereka melanjutkan pekerjaan mereka, Bella benar-benar terlihat gembira hari ini. Ia tidak bisa menutupi perasaannya yang sedang berbunga-bunga sepanjang hari. Selalu terukir senyum di sudut bibirnya yang sensual. Tentu saja mereka berdua mengerti bagaimana rasanya, karena mereka juga pernah jatuh cinta.


Waktu bergulir dengan cepatnya, tak terasa jam pulang kantor telah tiba. Bella bergegas siap-siap untuk pergi saat Cindy dan Clara kembali menggodanya.


"Ehem-ehem yang sedang jatuh cinta sampai buru-buru sekali," goda Cindy.


"Iya nih, dari tadi senyum terus. Mana bersenandung lagu cinta terus, sampai yang di samping merasa ingat saat awal-awal jatuh cinta juga," ledek Clara.


"Hahaha, tidak masalah kalau hanya ingat yang penting jangan sampai ingin jatuh cinta lagi karena kalian sudah punya pasangan," ucap Bella.

__ADS_1


"Ya sudah, aku duluan ya. Dia sudah menunggu ku," pamit Bella tanpa menunggu jawaban sudah hilang dari pandangan mereka.


***


Sementara itu Juan tampak serius berbicara dengan Bagas tentang Indra.


"Dia bisa membuat video p*rno itu dapat darimana? Apa memang punya artis untuk memerankannya?" tanya Juan penasaran.


"Jika di lihat dari hasilnya sepertinya bukan, karena pemberiannya beda-beda tidak selalu sama. Ada info jika dia dan anak buahnya sering memperdaya wanita, menjebak bahkan tidak segan menculik mereka," jelas Bagas.


"Berarti wanita-wanita itu korban, apa selama ini tidak ada yang melapor?" tanyanya.


"pernah ada yang melapor, tapi kasusnya justru malah di tutup. Sepertinya memang dia bekerja sama dengan oknum aparat," jawab Bagas.


"Dukungannya pasti kuat sampai bisa sejauh ini. Kasihan para korban, sebaiknya kamu selidiki siapa-siapa yang membantunya, jangan sampai musuh kita jadikan teman," ucap Juan.


"Iya, Mas," jawab Bagas.


Saat tengah asyik membahas Indra, ponsel Bagas berdering. Salah satu anak buahnya memberi laporan jika salah satu orang Indra sedang menjebak seorang gadis.


"Apa? Baiklah aku akan kesana sekarang," jawab Bagas lalu memutus panggilan.


"Anak buah Indra sedang memanfaatkan seorang wanita untuk menjadi pemeran video," jawab Bagas.


"Duh bejat sekali mereka, kamu harus menyelamatkan wanita itu, Gas," pinta Juan.


"Iya Mas, aku pergi dulu," pamit Bagas.


"Hati-hati," pesan Juan.


Bagas mengangguk kemudian berlalu pergi. Ia segera menuju hotel yang anak buahnya maksud. Sampai di sana anak buahnya telah siaga dan menyamar sebagai tamu hotel.


"Dimana wanita itu?" tanya Bagas.


"Itu Bos, dua meja dari kita. Tadi aku melihat pria yang bersamanya itu memasukkan sesuatu ke minuman wanita itu saat dia ke toilet," jelas Anak buahnya.


"Bagus, kita harus bisa menggerebek mereka sebelum gadis itu kenapa-kenapa," ucap Bagas.


Wanita itu mulai lemas dan pingsan, pria itu meminta pelayan untuk membawanya ke atas. Dari sini Bagas dapat menyimpulkan bisa jaga mereka juga bekerja sama dengan pihak hotel.

__ADS_1


"Bos, wanita itu sudah di bawa masuk," lapornya.


Bagas segera bergegas menyusul, ia sedang mencari cara untuk bisa masuk ke dalam. Tiba-tiba dia mendapat ide.


"Room service," teriaknya sambil mengetuk pintu.


"Saya tidak pesan makanan," ucap seorang pria yang hanya menggunakan handuk.


"Ini memang khusus dari hotel kami untuk anda, Pak," jawab Bagas mengarang.


"Wah tumben sekali, tapi bagus juga mungkin karena sudah langganan ya. Ayo bawa masuk," ucapnya.


Bagas terpana saat masuk ia melihat wanita itu nyaris tel*nj*ng, hanya pakaian dalam yang melekat di tubuhnya. Dalam keadaan darurat begini justru aura kejantanan Bagas memanas. Di dalam ruangan ternyata ada dua orang pria, kemungkinan satu aktor dan satunya yang mengambil rekamannya.


"Sudah tidak perlu tegang begitu, ini kan sudah biasa," ledek pria itu ketika melihat reaksi Bagas.


"Maaf," balas nya sembari menunduk.


"Sudah sana cepat keluar, letakkan makanan itu di sana saja," perintahnya.


"Baik," jawab Bagas.


Ia melangkah perlahan, sampai di pintu kamar ia segera memberi kode anak buahnya untuk menyerang mengikutinya.


Bagas berlari ke dalam dan segera menyelimuti wanita yang sedang tidak sadar itu. Sementara anak buahnya langsung menghajar dua orang pria itu. Karena tidak siap mereka dengan mudah di tangkap.


"Bos ini mau di bawa kemana?" tanya anak buahnya.


"Berikan kepada polisi," jawab Bagas.


Ia sengaja menyuruh mereka menyerahkan ke polisi untuk mengetahui mana lawan dan mana kawan. Sementara Bagas sibuk menyadarkan wanita yang sedang pingsan itu. Setelah beberapa lama akhirnya dia sadar.


"Siapa kamu? Apa yang kamu lakukan kepada ku? Kenapa aku begini?" tanya wanita itu sembari mengeratkan selimut yang menutupi tubuhnya, ia terlihat ketakutan.


"Tenang, aku hanya menyelamatkan mu dari teman pria mu yang berniat tak senonoh dengan mu," ucap Bagas.


Dia tampak mengingat kejadian sebelumnya, lalu menangis.


"Jangan menangis, segera pakai baju mu aku akan segera mengantar mu pulang. Siapa nama mu?" tanya Bagas sambil mencoba menghiburnya.

__ADS_1


"Nama ku, Bella," jawabnya.


__ADS_2