Menggapai Harapan

Menggapai Harapan
Bab 14 Ajakan Bima


__ADS_3

"Kapan kita bisa menemui orang tuamu, Clara?" tanya Juan sambil menunggu pesanan mereka datang.


"Apa? Untuk apa menemui orang tua ku?" tanya Clara dengan sangat polos.


"Astaga Sayang, tentu saja meminta restu mereka, apa kamu pikir aku tidak serius mengatakan akan menikahimu?" tanya Juan sambil mengeryitkan dahinya.


"Bukan, maksudku apa tidak terlalu cepat? Bantu aku cari kerja dulu, aku tidak ingin mengecewakan mereka Juan, aku mohon," kata Clara dengan wajah memelas.


"Baiklah, kamu ingin bekerja apa Sayang? Apa kamu jadi asistenku saja? Kita bisa bisa bersama tiap hari," kata Juan sambil tersenyum jahil.


"Pekerjaan seperti apa itu?" tanya Clara yang memang baru mendengar jenis pekerjaan itu.


Juan terkekeh geli, begitu polos gadis yang ia cintai itu. Timbul ide jahilnya untuk mengerjainya lagi.


"Pekerjaannya mudah sekali, kamu cukup mendampingiku kemana saja aku pergi, melayani kebutuhanku, bagaimana?" kata Juan mengerling nakal kepada Clara.


"Jadi pembantu mu maksudnya?" tanya Clara salah mengartikan.


Juan terbahak-bahak, perutnya sampai kram mendengar kata-kata Clara tadi.


"Sayang, apa menurutmu aku tega menjadikanmu pembantu? Seburuk itu kah penilaianmu kepadaku?" tanya Juan berpura-pura merajuk.


"Duh, salah lagi," kata Clara, menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Berbicaralah yang aku mengerti Juan, aku hanya tamatan SMP, bukan orang berpendidikan sepertimu," ucap Clara, lalu menundukkan kepalanya.


"Maafkan aku sayang, aku hanya bercanda, nanti aku kabari jika ada pekerjaan ya," hibur Juan merasa telah mempermaikan perasaan Clara.


"Iya tidak apa-apa," kata Clara sambil tersenyum.


Mereka menghabiskan hari itu berdua, menikmati kuliner, jalan-jalan, mengelilingi kota Surabaya yang selalu ramai. Tak terasa sudah hampir magrib, Juan pun mengantar Clara kembali ke rumah.


"Sayang, aku pulang dulu ya, salam sama semuanya," kata Juan berpamitan.


"Iya, hati-hati di jalan ya," jawab Clara sambil melambaikan tangan.


***


"Kamu bagaimana sih, sudah satu pabrik dengan Juan, masih tidak bisa menjaganya," kata Pak Danuarta memarahi David.


"Aku sudah berusaha memisahkan mereka Om, bahkan aku sudah menekan gadis itu, tapi tidak berhasil," jelas David


"Kenapa kamu tidak menceritakannya dari awal, Juan kan tidak mungkin begitu saja dekat dengan wanita itu," kata Pak Danuarta.


"Maaf Om, saya kira Juan tidak serius, saya kira dia hanya kasihan dengan gadis itu," jawab Juan lagi.

__ADS_1


"Aku ingin bicara dengan gadis itu, secepatnya bawa kepadaku!" perintah ayah Juan dengan tegas.


"Baik, Om," jawab David, lalu bergegas pergi dari sana.


David berpikir akan beralasan apa kepada Clara, agar dia mau bertemu ayah Juan. Sebenarnya dia takut, Pak Danuarta akan menyakiti Clara. Bagaimanapun dia mencintai gadis itu. Kenapa orang yang dia cintai harus berurusan dengan keluarga Danuarta yang sering memandang rendah orang yang tidak sederajat dengan mereka.


***


"Hari ini mereka hanya makan dan berjalan-jalan keliling Surabaya, Bos," ucap pria suruhan ayah Juan.


"Ok, terus awasi mereka setiap hari!" perintah Pak Danuarta, lalu mematikan telepon.


"Baik, Bos," jawab pria itu.


"Apa sebenarnya kelebihan gadis itu? Banyak gadis cantik dan kaya yang mengejarnya, tapi dia tidak pernah tertarik! Aku harus segera bertemu dengannya," batin ayah Juan.


"Halo ma, mama di mana?" tanyanya.


"Sedang di pertemuan amal, ada apa, Pa?" tanya


"Juan saat ini sedang dekat dengan seorang gadis, tapi gadis itu dari kalangan bawah, tidak sederajat dengan kita, Ma," jelas Pak Danuarta kepada istrinya.


"Apa? Apa hubungan mereka sudah sangat dekat?" tanya mama Juan.


"Sepertinya belum, maka dari itu aku akan bertemu dia segera, dia pasti hanya menginginkan uang," jawabnya.


"Mana mungkin gadis desa seperti dirinya tidak menyukai uang! Sudahlah biar papa yang urus, Mama cepat carikan gadis yang sederajat dengan kita untuk Juan," kata Pak Danuarta memutuskan.


"Baiklah Pa, sampai ketemu di rumah," jawab mama Juan, lalu menutup teleponnya.


***


Tok... tok... tok... terdengar pintu rumah diketuk. Clara membukakan pintu, karena yang lain sedang sibuk.


"Permisi, Cindy ada?" tanya Bima ketika Clara membukakan pintu.


Clara tidak langsung menjawab, dia memandangi pria itu dari bawah ke atas. Dia bertanya-tanya dalam hati, siapa pria ini dan kenapa menanyakan kakaknya?


"Maaf, apa Cindy ada?" tanya Bima lagi, karena tidak mendapat respon dari Clara.


"Oh maaf, anda siapa ya?" tanya Clara ingin memastikan.


"Saya Bima, temannya Cindy," jawab Bima dengan sopan.


Clara sedikit berpikir, lalu ingat cerita kakaknya tempo hari.

__ADS_1


"Oh jagoan yang menyelamatkan Kak Cindy tempo hari ya, mari silahkan masuk," kata Clara dengan gembira.


"Iya terimakasih," jawab Bima lalu duduk.


"Saya panggil Kak Cindy dulu ya," kata Clara, di jawab anggukan Bima.


"Kak ada tamu tuh," kata Clara yang melihat kakaknya sudah selesai salat.


"Siapa?" tanya Cindy seraya mengerutkan kening.


"Itu Pangeran kakak," jawab Clara, tersenyum penuh arti.


"Pangeran siapa? Jangan berteka teki dong, Clara," kata Cindy, sambil buru-buru melipat sajadahnya.


"Bima Sang Penyelamat itu loh, Kak," kata Clara seraya menunjukkan otot lengannya, menirukan binaragawan.


Cindy tertawa melihat tingkah Clara, ia tahu Clara sedang menggodanya.


"Oh dia, yaudah aku temuin dulu," katanya lalu keluar kamar.


"Tumben, ada angin apa membawamu kesini lagi? Aku kira sudah hilang di telan bumi, tidak ada kabarnya," kata Cindy menggoda Bima, membuat pria itu salah tingkah.


"Jangan begitulah, masa iya punya teman di lupakan. Kemarin-kemarin lagi sedikit sibuk saja," kata Bima menjelaskan.


"Iya Bima, aku bercanda kok," jawab Cindy.


"Ini Kak, silahkan di minum ya," kata Clara, membawa 2 gelas minuman serta sedikit camilan untuk mereka.


"Terimakasih," kata Bima.


"Ini adikku, namanya Clara, Clara ini Bima," kata Cindy memperkenal mereka satu sama lain.


"Kak Bima hebat ya, aku sudah mendengar ceritanya, 3 orang Kakak libas dengan mudah," kata Clara seraya mengacungkan 2 jempolnya kepada Bima.


"Ah biasa saja kok, Clara," katanya tersipu malu.


"Itu luar biasa loh Kak. Ya sudah di lanjutin saja, Clara ke dalam dulu" ucap Clara, memberi kesempatan mereka berdua.


"Cindy, besok malam minggu kamu ada acara tidak?" tanya Bima saat sudah berdua.


"Ehm, tidak ada sih, memang kenapa?"


"Di kampusku ada acara, aku juga ikut tampil. Kamu mau dateng tidak? Boleh mengajak adik atau teman kamu juga kalau kamu mau," kata Bima menjelaskan maksudnya. Sebenarnya dia hanya ingin berdua, tapi tidak enak mengatakannya. Takut Cindy akan salah paham.


"Ok, insyaallah aku datang ya," jawab Cindy mengiyakan.

__ADS_1


"Terima kasih ya, kamu sudah mau datang," kata Bima sangat gembira.


Berhari-hari tidak bertemu dengan Cindy, membuatnya tersadar bahwa dia mulai menyukai gadis itu. Beberapa kali dia mencuri pandang di dekat pabrik tempat Cindy bekerja, namun tidak ada keberanian untuk menemuinya. Kebetulan malam minggu besok ada acara di kampusnya, menurutnya ini momen yang tempat untuk mengajak Cindy pergi. Akankah perasaan Bisa berbalas? Simak terus ceritanya ya.


__ADS_2