Menggapai Harapan

Menggapai Harapan
Bab 115 Juan Dan Clara Menikah


__ADS_3

Dua hari kemudian.


"Sayang apa kamu sudah meminta izin cuti?" tanya Juan.


"Iya, tapi aku meminta cuti dari besok agar bisa lebih lama bersama mu saat kita telah menikah," jawab Clara.


"Ah manis sekali sih Sayang, jadi tidak sabar bisa tinggal di apartemen bersama mu," ucap Juan.


"Benarkah, apa kamu akan membantu ku memasak dan bersih-bersih jika tinggal di apartemen?" tanya Clara menggoda Juan.


"Jangankan itu, aku pun rela mencuci baju mu Sayang," jawab Juan.


"Hahaha... mana mungkin aku setega itu sih, aku akan melayani kebutuhan mu karena itu tugas ku sebagai istri mu," ucap Clara.


"Terima kasih ya Sayang. Bapak dan Ibu kapan ke tempat mu?" tanya Juan.


"Katanya nanti malam kak Bima akan mengantar mereka kesini," jawab Clara.


"Apa kamu sudah hapal ijab kabulnya?"


"Insyaallah sudah, semoga besok lancar ya,"


"Bismillah, lancar,"


***


Malam hari Bima datang mengantar mertuanya ke apartemen Clara.


"Masuk dulu Kak Bima, biar aku buatkan teh atau kopi dulu," pinta Clara.


"Tidak perlu Clara, terima kasih. Aku harus segera pulang karena Cindy sendirian di rumah, orang tua ku sedang menjenguk saudara yang sakit," tolak Bima.


"Oh baiklah, salam sama Kak Cindy ya," ucap Clara.


"Terima kasih ya Nak Bima, titip Cindy dan Damar ya," ucap Pak Jarwo.


"Iya Pak, itu sudah kewajiban saya. Saya pulang dulu ya, assalamualaikum," pamit Bima.


"Waalaikum salam,"

__ADS_1


Setelah Bima pergi, Clara bercerita kepada orang tuanya tentang rencana pernikahannya besok.


"Jadi besok siapa saja yang datang Nak? Terus acaranya jam berapa?" tanya ibunya.


"Kalau dari pihak Juan kemungkinan di hadiri paman dan keluarganya yang jadi saksi serta Bagas dan orang tuanya mungkin, aku juga tidak tahu pasti Pak," jawab Clara.


"Oh yang datang waktu pertunangan kalian itu ya?" tanya pak Jarwo.


"Iya benar, mereka tidak pernah melihat seseorang karena harta atau jabatannya, jadi mereka setuju-setuju saja dengan pernikahan ini, besok jam 10 acaranya," jawab Clara.


"Syukurlah jika begitu, paling tidak ada keluarga dekat Juan. Oh ya apa ibunya tidak akan hadir ya, bukankah dia baik dan menerima hubungan kalian?"


"Entahlah Pak, aku tidak tahu. Sepertinya suaminya tidak akan mengizinkannya datang,"


"Sabar ya Nak, lebih baik sekarang kita tidur lebih awal agar besok bangun badan lebih segar," ucap Pak Jarwo.


Mereka semua lalu beristirahat, Clara dan ibu bapaknya tidur di depan tv, sedangkan kedua adiknya tidur di atas kasur.


***


Pagi harinya mereka bangun saat adzan subuh berkumandang, setelah beres-beres rumah dan memasak mereka segera sarapan.


"Ini kan baru jam 6 pagi, Sayang," jawab Clara.


"Iya maaf aku salah tanya, maksud ku apa sudah bangun semua, hehehe," ucap Juan terkekeh sendiri.


"Ya tentu saja setiap hari kan bangunnya dari subuh. Kamu kenapa sih kok aneh dari tadi pertanyaannya, apa kamu gugup?" tanya Clara.


"Sepertinya, semalam aku sudah tidur karena memikirkan hari ini," jawab Juan.


"Ya sudah kalau begitu kamu istirahat dulu walau sebentar, acaranya masih 4 jam lagi," ucap Clara.


"Mana bisa aku istirahat. Perias jam 7 akan datang ke apartemen,walaupun hanya menikah secara agama kamu tetap harus di rias walau tidak tebal," balas Juan.


"Iya, terserah kamu saja," ucap Clara.


Panggilan pun di akhiri karena mereka masih akan sibuk. Namun tak berapa lama ponsel Clara berdering lagi. Jhony yang meneleponnya.


"Apa Jhon kamu sudah hampir sampai di sini?" tanya Clara.

__ADS_1


"Iya, tapi aku akan berhenti di tempat Januar dulu. Kita langsung menghadiri pernikahan kamu di masjid nanti," jawab Jhony.


"Sebenarnya kamu tidak datang aku juga pasti mengerti, jujur peristiwa kemarin masih meninggalkan trauma. Aku takut Indra mengetahui kedatangan mu kesini dan menculik mu lagi," bisik Clara karena takut orang tuanya mendengar.


"Tenang aku akan lebih hati-hati, aku hanya sebentar di sini. Setelah menghadiri pernikahan mu aku dan Januar akan menjenguk Cindy dan bayinya. Besok pagi aku akan kembali ke desa," jelas Jhony.


"Ya sudah hati-hati, Jhon," pesan Clara.


Pukul 07.00 perias sudah datang, ia merias Clara dan keluarganya sampai hampir pukul 09.00.


"Sayang, sopir akan menjemput kalian sekitar pukul 09.30 karena jarak masjidnya dekat sekali. Aku dan yang lain akan menunggu mu di sini ya,"


"Iya Sayang, ini sudah selesai semua di rias. tinggal aku ganti kebaya saya. Ya sudah kalau begitu,"


Clara segera berganti pakaian, ia terlihat sangat anggun memakai kebaya berwarna putih yang penuh bordiran di padu dengan jarit (kain) berwarna keemasan. Rambutnya di sanggul dengan juntaian bunga melati yang menghiasi. Sekitar pukul 10.30 mereka berangkat menuju masjid untuk melangsungkan pernikahan.


Sampai di sana ternyata lumayan banyak yang menjadi menghadiri. Paman Juan beserta istri dan juga David, Bagas dan ayah ibunya serta Bella, Bima dan ayahnya karena Cindy belum boleh keluar rumah. Ada juga Jhony dan Januar serta beberapa tamu yang lain.


Tepat pukul 10.00 acara segera di mulai, acaranya sederhana namun sangat khidmat. Pak Jarwo sebagai wali mulai membaca mas kawin yang akan di berikan kepada Clara nanti, ia sangat terkejut karena baginya semua itu sangat banyak. Ia hanya bisa berdoa agar ayah Juan bisa segera merestui pernikahan mereka nanti.


"Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau Ananda Juan Hartono Bin Danuarta Hartono dengan anak saya yang bernama Clara Devanti dengan maskawinnya berupa seperangkat alat shalat, uang tunai senilai delapan puluh delapan juta delapan ratus delapan puluh delapan rupiah, emas murni seberat 20 gram dan sebuah apartemen dibayar tunai,"


"Saya terima nikahnya dan kawinnya Clara Devanti binti Jarwo Sastro Wardoyo dengan mas kawinnya yang tersebut, tunai,"


"Bagaimana saksi, sah?"


"Sah, sah," semua yang hadir bersahutan menjawab.


"Alhamdulillah," ucap Juan sangat bersyukur.


Clara mencium tangan pria yang telah menjadi suaminya itu, mereka berpandangan terlihat kebahagian dalam sorot matanya. Setelah itu mereka bersalaman kepada semuanya.


"Selamat ya Nak, kalian sudah resmi menjadi suami istri secara agama. Pesan bapak, kalian harus saling mengerti dan menghargai satu sama lain. Patuhlah kepada suami mu selama itu dalam kebaikan," ucap Pak Jarwo sembari memeluk putrinya.


Para hadirin banyak yang terharu dan menitikkan air mata, apalagi yang mengetahui lika liku perjalanan cinta mereka. Mereka memang tidak pernah bertengkar namun cobaan mereka lebih kepada orang ketiga, keluarga dan orang yang menyukai mereka.


Tring.. tring.. ponsel David berdering pria itu segera menjauh dan mengangkat teleponnya.


"Maaf Om aku tidak bisa kesana, aku sedang menghadiri pernikahan Juan dan Clara, ups..." David segera menutup mulutnya yang keceplosan.

__ADS_1


__ADS_2